Bab 4 Wanita Simpanan Bos

1123 Words
Pagi ini pesan grup kantor dihebohkan dengan dua kabar yang mampu mengejutkan semua orang terutama Kalea, karena hal itu pasti berkaitan dengan dirinya. Ya, Kalea mendapatkan kabar kalau wanita yang kemarin menyatakan perang terhadapnya di toilet kemarin sudah dipindahkan ke divisi lain, yaitu divisi penjualan yang di mana Selly akan terjun langsung ke lapangan. Tentu wanita itu sudah tahu siapa yang berani mengambil keputusan seperti itu kalau bukan sosok Genta. “Ta, kenapa sih kamu pindahin Selly ke divisi lain?” omel Kalea. Wanita itu masuk tanpa permisi ke ruangan Genta dan mendapati pria itu memang sudah berada di kantor sedang menikmati secangkir teh. “Ya ampun Kal, kamu tuh hampir buat aku tersedak loh,” keluh Genta sambil mengeringkan bibirnya dengan tangannya dan tangannya yang lain meletakkan kembali cangkir itu di atas meja. Sebenarnya Genta tadi memang hampir tersedak, walau sebelumnya sudah menyiapkan diri kalau pagi ini ia akan diamuk oleh Kalea karena sudah membuat keputusan yang bisa dibilang besar. Kalea masih diam dengan kedua tangannya yang sudah dilipat, ditambah bibirnya yang mengerucut serta tatapan matanya yang sinis. Pria itu menarik napas panjang lalu membuangnya dan menatap Kalea. “Kal, bisa enggak kita obrolin hal ini sambil kamu duduk di sini?” Genta menepuk sisi sofa di sebelahnya karena di sana masih ada cukup ruang untuk duduk bersama. Wanita itu membuang napas kasar, lalu melangkahkan kakinya mendekat ke arah sofa tapi duduk bersebrangan dengan Genta. Tapi ketika pria itu hendak membuka mulutnya Kalea sudah lebih dulu bicara. “Aku enggak suka deh kalau kamu ikut campur urusan aku, Ta.” “Kal, sorry tapi kali ini apa yang terjadi antara kamu dan Selly itu udah jadi urusan aku, So wajar ‘kan kalau aku ambil keputusan ini untuk kebaikan kalian? Apalagi nama aku juga terseret ke dalam pertengkaran kalian kemarin.” Memang tidak ada yang salah dengan jawaban yang diberikan pria itu tapi tetap saja bukan hal itu yang diharapkan oleh Kalea. Malah keputusan Genta saat ini dianggap Kalea, seolah membenarkan kalau dirinya memang seorang wanita simpanan sih bos. “Kamu tuh enggak ngerti, Ta.” “Enggak ngerti bagaimana sih, Kal?” Dahinya berkerut. “Kamu ambil keputusan seperti ini sama saja membenarkan apa yang dikatan Selly sama aku yaitu menjadi simpanan bos besar di kantor ini, dan aku yakin 100% kalau mereka mengira aku yang meminta kamu buat mindahin wanita itu ke divisi lain.” “Aku enggak masalah kok, kalau dibilang punya simpanan apalagi wanitanya secantik kamu,” goda Genta yang berusaha mencairkan suasana yang sedang memanas. Tapi hal itu rasanya percuma karena Kalea saat ini benar-benar sangat marah hingga wanita itu bangkit dari sofa. “Oke, kalau kamu memang khawatir dengan penilaian semua orang terhadap kamu, aku bisa kok buat klarifikasi pagi ini agar ka—“ “Cukup, Ta!” potong Kalea yang berhasil membuat pria itu menutup mulutnya rapat. “Hal apapun yang kamu lakukan sekarang akan semakin memperkeruh masalah, bahkan bisa aja menyeret kita semakin jauh, jujur aku enggak mau dianggap memanfaatkan hubungan persahabatan kita yang udah terjalin sangat lama hanya untuk bekerja di sini.” “Enggak kok, kamu memang dari awal bekerja di sini karena kerja keras kamu, prestasi kamu bukan karena koneksi dari aku.” “Kalau kamu bilang begitu sama aku, mungkin aku bakalan percaya tapi enggak sama yang lain,” balas Kalea yang kali ini kedua matanya terlihat sudah berkaca-kaca. Hal itu pun berhasil membuat d**a Genta sesak hingga timbul sebuah penyesalan atas keputusan yang sudah diambil olehnya. Memang setelah mendengar hal itu, Genta sangat marah sekali. “Ta, mulai hari ini lebih baik kita jaga jarak aja di kantor.” “Tapi Kal...” “Ini demi kebaikan kita bersama, aku mau kita bersikap profesional mulai hari ini,” potong Kalea sambil menatap wajah pria itu sebentar, lalu melangkahkan kakinya pergi. Saat itu Genta sadar kalau keputusannya sudah membuat wanita yang disayanginya semakin jauh dan bukan terkesan seperti yang ada dipikirannya sebelumnya. “Kal, aku minta,” lirihnya. Kalea sempat mendengar ucapan permintaan maaf itu tapi wanita itu buru-buru menutup pintu dan sempat bersandar sebentar ketika air matanya sudah membasahi wajahnya. Beruntung sekretaris pria itu belum sampai di kantor. Rasanya akan semakin sulit bagi wanita itu untuk bekerja dengan nyaman dan tenang di kantor, Kalea sendiri bisa membayangkan kalau wanita itu pasti akan menyebarkan gosip buruk tentangnya lagi, bahkan lebih berkali-kali lipat seperti sindirannya di pesan grup kantor pagi ini. *** Pagi itu selain berita kepindahan Selly ke divisi lain, ada seorang pria yang juga baru saja dipindahkan ke divisi mereka dari kantor cabang lain. Nama pria itu adalah Juan Pratama, parasnya yang tampan berhasil memikat hati kaum hawa termasuk Dena dan juga Dinda. Jangan tanya soal Kalea, wanita itu malah sedang menyibukkan diri dengan pekerjaannya ketika sesi perkenalan Juan, walau sebenarnya pikirannya sudah malang melintang entah ke mana-mana. “Kal, Kalea...” panggil Dinda sambil menggoyangkan tubuh sahabatnya hingga wanita itu menoleh ke arahnya. “Hah? Ada apa, Din?” “Lo dipanggil tuh sama Pak Eko.” Kalea pun langsung menoleh ke arah sang kepala divisi keuangan tersebut, sampai situ barulah wanita itu sadar kalau ada sosok Juan di sana. “Iya Pak, ada apa ya?” “Tolong bantu Juan di bagian akuntasi ya karena dia baru saja bergabung dengan kita untuk menggantikan tugas Mas Agy,” kata Pak Eko. “Baik, Pak.” Kalea menganggukkan kepalanya. “Juan, kamu bisa duduk di kubikel depan Kalea dan nanti kamu bisa tanya-tanya langsung jika ada hal yang sekira sulit dan juga berbeda dari tugas di kantor cabang.” “Baik, Pak.” Pria itu melangkahkan kakinya menuju kubikel tempat di mana meja kerjanya berada. Sesampainya di sana saat hendak berkenalan dengan Kalea wanita itu sudah lebih dulu menyodorkan secarik kertas. “Itu password di laptop Mas Agy tapi lo bisa kok ganti password-nya kalau mau,” kata Kalea yang dijawab dengan anggukan kepala. Tapi yang terjadi dengan Juan, pria itu merasa tampak familiar dengan wajah Kaela yang sepertinya memang sudah ditemuinya sebelumnya. Namun ketika pria itu sedang mengingatnya, Kalea mengibaskan tangannya tepat di hadapan pria itu. “Hei, lo bisa coba nyalain laptopnya sekarang buat login?” “Eh iya, bisa kok.” Juan memutuskan untuk duduk lalu mulai menyalakan laptop yang memang sudah ada di atas meja kerjanya. Pria itu mulai mengikuti apa yang tadi diperintahkan oleh Kalea. Setelah itu Kalea mulai menjelaskan kembali tentang tugas dan juga tanggung jawab pria itu yang berada di bagian yang sama dengannya. Beruntung, apa yang disampaikan wanita itu mudah dimengerti oleh Juan sehingga hanya perlu merefresh saja karena memang tidak beda jauh dengan apa yang dilakukannya di kantor pusat. Tapi satu hal yang mengganjal pikriannya adalah di mana pria itu pernah melihat Kalea masih menjadi pertanyaan besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD