Wanita itu mendorong pintu toilet dengan sangat keras hingga keduanya sempat tersentak kaget bercampur takut dan kompak mundur satu langkah. Tapi ketika Selly melihat wajah Kalea, raut wajah wanita itu langsung berubah menjadi sangat menyebalkan seolah sedang menantang musuh yang ada di hadapannya.
“Mulut lo tuh emang bener-bener racun banget ya karena dengan mudah bikin gosip yang enggak bener!”
Ingin sekali rasanya Kalea mendaratkan tinjunya ke arah wanita itu tapi dengan segala kewarasannya saat ini, ia harus menahannya.
“Syukur deh kalau lo udah denger semuanya tapi apa yang gue katakan tadi itu adalah fakta dan bukan sekedar gosip.”
Sama sekali tidak terlihat sebuah penyesalan di raut wajah Selly yang sudah ketangkap basah sedang menjelekkan Kalea. Malah, yang ada wanita itu merasa puas karena sudah berhasil membangunkan jiwa macan yang sudah lama tertidur panjang dalam diri Kalea.
“Mau lo tuh apa sih? Kenapa lo tega nyebar gosip yang enggak bener soal makanan yang udah gue kasih ke kalian?”
“Gue ‘kan udah bilang tadi kalau gue cuman mau menyampaikan fakta, bukan sekedar gosip.” Selly menggelengkan kepalanya pelan di akhir kalimat sambil tersenyum mengejek. “Lagian, gue enggak mau tuh yang lain sampai jadi tumbal dari makanan persemba—“
“Selly, stop!” teriak Kalea yang merasa kalau batas kesabarannya sudah habis.
“Gue jadi curiga kalau makam yang selama ini didatengi sama lo itu bukan makam pacar tapi makam keramat.”
Selly semakin menyulutkan api ke arah wanita itu agar semakin terbakar dengan ucapannya yang terdengar pedas serta panas. Dan benar saja, peringatan Kalea yang sempat ia berikan tidak digubris oleh wanita itu dan berhasil membuat Selly dalam masalah besar karena detik berikutnya wanita itu sudah menarik rambutnya dengan kuat.
Hal itu tentu membuat Selly meringis kesakitan sambil memegang rambutnya sendiri. Bahkan, beberapa kali wanita itu berusaha memukul tangan Kalea serta mendaratkan beberapa cakaran tapi yang terjadi musuhnya malah bersikap semakin jadi.
“Ini pelajaran buat lo karena udah buat gue marah, Sel!”
“Seharusnya gue yang marah sama lo, bukannya lo yang marah sama gue karena selama ini lo yang udah menghalangi gue untuk jadi senior staf, Kal!”
Mendengar hal itu, tentu membuat Kalea langsung paham alasan wanita itu menyebarkan berita buruk tentang dirinya tadi di hadapan Dena atau mungkin dengan karyawan yang lain tanpa sepengetahuannya.
“Asal lo tahu ya, gue enggak pernah menghalangi jalan orang lain buat maju dan sukses, tapi semua itu karena salah lo sendiri yang enggak bisa dengerin kritikan dan masukan dari orang lain, termasuk berusaha memperbaiki kesalahan lo sendiri.”
Dena memutuskan untuk melarikan diri dari situasinya yang terasa semakin memanas karena wanita itu enggan terkena baku hantam nantinya jika sana hal itu sampai terjadi. Selly sempat tertawa seolah meremahkan lawannya.
“Lo bisa aja bilang begitu karena buat nutupin kelakuan busuk lo yang selama ini manfaatin koneksi lo sama Pak Genta, ‘kan? Secara kita masuk kantor ini enggak jauh beda waktunya tapi malah lo yang lebih dulu naik jadi senior staf.”
Sungguh Kalea tidak habis pikir dengan ucapan wanita itu, bukannya mengoreksi diri tapi malah berusaha mengorek kesalahan orang lain, bahkan mengatakan sebuah kebohongan.
“Apa jangan-jangan lo juga udah jadi wanita simpanan Pak Genta selama ini ya?”
“Selly gue peringatin sekali lagi buat tutup mulut kotor lo itu atau gue akan bertindak semakin jauh nantinya,” kata Kalea memperingati.
Jika diibaratkan sebuah tokoh kartun yang sedang sangat marah, pasti di setiap sisi tubuh wanita itu sudah mengeluarkan api yang sangat membawa berwarna merah yang semakin menyala serta kepalanya yang sudah bertanduk.
“Gue enggak mau dan enggak akan pernah berhenti sebelum lo....”
“Apa-apaan ini?” tanya Sena yang langsung masuk ke dalam toilet wanita tanpa ragu karena keadaannya sedang darurat, ditambah melihat penampilan keduanya yang sangat berantakan.
Sena tidak lain adalah asisten pribadi dari Genta, pria itu langsung datang ke sana ketika mendapatkan kabar kalau keduanya tengah bertengkar. Padahal niatnya, pria itu ingin langsung pergi ke ruangan sang bos untuk mengantarkan pakaian dan keperluan Genta.
“Enggak ada apa-apa kok, Sen.”
Kalea berusaha kembali tenang walau dalam hatinya ingin sekali menyelesaikan urusannya dengan wanita itu, tapi jika Sena sampai tahu dan kabar ini sampai ke telinga Genta itu akan sangat menakutkan.
Lebih tepatnya bukan takut dipecat atau diberi surat peringatan tapi jika hal ini berimbas pada sosok Selly. Kalea tahu betul kalau Genta sudah lama menaruh hati kepadanya hingga hal apapun akan dilakukan oleh pria itu.
“Urusan kita belum selesai, Kal!” tunjuk Selly dengan sorot matanya yang tajam lalu pergi meninggalkan keduanya, bahkan wanita itu seolah sengaja menabrak bahu Sena ketika hendak keluar.
Pria itu sempat menoleh ke arah Selly yang menabraknya tadi karena apa yang dilakukannya tadi sangatlah menyebalkan baginya.
“Sen, bisa lo keluar sekarang?” pinta Kalea yang berhasil membuat pria itu menatapnya. “Soalnya gue mau pakai toiletnya.”
“Iya silahkan, kalau gitu gue mau ke ruangan Pak Genta dulu,” pamitnya.
Namun ketika pria itu hendak sampai di ambang pintu, Kalea sudah membuka mulutnya dan mengatakan, “Sen, gue minta tolong kali ini lo pura-pura enggak lihat atau mendengar hal apapun yang terjadi tadi ya.”
Seketika pria itu bergeming. “Oke tapi gue enggak bisa janji kalau Pak Genta enggak akan tahu soal hal ini, apalagi lo tahu sendiri kalau dinding kantor ini kapan saja bisa mendengar, bahkan bisa bicara hingga akhirnya Pak Genta mengetahuinya sendiri.”
Mengdengar hal itu Kalea langsung sadar kalau obrolan bahkan pertengkarannya tadi bisa sampai ke telinga Genta jika memang ada yang sempat melihat dan melaporkannya, walau hal itu bukan dari mulut Sena.
Karena selama ini serapat apapun rahasia yang disimpan seseorang akan mudah diketahui oleh yang lainnya jika saja mereka bicara dengan orang yang salah.
Tanpa menunggu respons dari Kalea, pria itu memutuskan untuk kembali melangkahkan kakinya serta tidak lupa menutup pintu toilet. Bahkan, pria itu sempat melirik ke arah Kalea yang tampak bergeming.
“Apa yang harus aku lakukan? Jika sampai hal buruk terjadi kepada wanita itu pasti akan berimbas padaku dan juga Genta karena mulut wanita itu memang tidak bisa dikontrol.”
Sekarang Kalea hanya bisa berharap kalau apa yang dikhawatirkannya tidak akan pernah terjadi, ia merasa benar-benar tidak enak dan mungkin akan merasa tidak nyaman jika hal itu sampai terjadi.
“Kalea, lo baik-baik aja, ‘kan?” tanya Dinda yang baru saja masuk ke dalam toilet.
Wanita itu tersenyum ke arah sahabatnya. “Seperti yang lo lihat,” jawab Kalea sambil menunjukkan penampilannya yang sangat kacau, dengan senyumannya yang mengembang. “Tapi lo tenang aja gue enggak apa-apa kok.”