Bab 2 Kapan Move On?

1117 Words
“Guys, gue ada kue tar nih buat kalian nanti dimakan ya,” ucap Kalea yang baru saja masuk ke dalam pantri sambil menunjukkan kotak kue yang dibawanya kepada beberapa rekan kerjanya. Sebelumnya ke kantor wanita itu sempat mampir ke toko kue langganannya yang ada di kantor untuk mengambil kue yang sudah dipesannya jauh-jauh hari. Meski ini hari kelahiran mendiang Randi, tapi wanita itu selalu ingin membagi kebahagian dengan teman-teman di kantornya. Siapa tahu dengan cara ini akan banyak orang yang mau menyisihkan sedikit waktunya untuk menyelipkan beberapa bait doa untuk mendiang kekasihnya. “Kebetulan banget gue belom sarapan jadi pas nih buat temen ngopi.” Reno langsung membuka kotak tersebut dan mengambil sepotong kue di dalamnya serta tersenyum ke arah Kalea. “Sama-sama, Ren.” Kalea beralih mengambil dua piring kecil dan mengisinya dengan masing-masing satu potong kue di atasnya. Rencananya kedua potong kue tersebut akan diberikan kepada rekan kerja sekaligus sahabatnya yang bernama Genta dan Dinda. “Wah kelihatannya enak nih, nanti deh abis makan siang gue makan ya,” tambah Dena, wanita dengan potongan rambut pendek sebahu yang sedang duduk sambil menikmati secangkir teh. Wanita itu beberapa kali sudah menelan salivanya ketika melihat Reno mencicipi kue itu dengan lahap. Ditambah tampilan kue itu dihiasi dengan krim kocok rasa vanila yang sejak tadi terus saja menggoda indera penciumannya. “Kalau mau dipisahin aja dari sekarang biar enggak diambil Reno nanti, Den,” kata Kalea diakhiri dengan kekehan kecil. Dena pun menganggukkan kepala lalu beralih menuju lemari penyimpanan peralatan untuk mengambil piring. “Ya udah gue duluan ya,” pamit Kalea. Wanita itu segera meraih nampan yang berisi dua piring dengan kue serta secangkir teh tawar. Namun tiba-tiba saja langkah kaki wanita itu terhenti dan Kalea membalik tubuhnya. “Oh ya, jangan lupa tolong simpenin sisanya di kulkas, plus kasih tahu yang lain kalau ada kue ya,” pesan wanita itu yang dijawab dengan anggukan kepala oleh keduanya. Sebelum mampir ke ruangan Genta yang memang ada di lantai yang sama dengannya, wanita itu lebih dulu meletakkan tas miliknya dan juga sepiring kue di atas meja kerja Dinda, berada tepat di sebelahnya. “Tumben Dinda belum dateng? Mungkin sebentar lagi kali ya,” gumam Kalea setelah melirik jam di tangannya. Wanita itu memutuskan untuk segera pergi ke ruangan Genta sebelum kepala divisi dan juga teman-temannya datang semua. Memang sebagian atau mungkin dari hampir semua orang di kantor tahu tentang hubunganya dengan sang CEO tersebut, tapi tetap saja Kalea merasa tidak enak serta takut disalahpahami mengenai kedekatan mereka. “Permisi,” ucapnya sambil mengetuk pintu dengan salah satu tangannya yang lain memegang nampan. Setelah diizinkan masuk oleh sang empunya ruangan tersebut barulah Kalea masih ke dalam. “Loh, kamu sudah ada di sini?” Genta melirik ke arah wanita itu sambil tersenyum dengan tangannya yang juga menutup layar laptopnya. Pria itu bangkit dari kursi kebesarannya lalu segera mengikis jarak di antara mereka. “Kamu juga tumben udah datang, memang kamu enggak ke makam Randi dulu?” tanya Genta dengan tatapan matanya yang intens. “Aku ‘kan karyawan di sini jadi mana boleh datang siang seperti kamu, lagi pula aku langsung buru-buru datang ke sini karena masih ada laporan yang harus dikerjakan.” Kalea lebih dulu melangkahkan kakinya ke arah sofa dan meletakkan nampan di atas meja. “Seperti biasa aku bawain kamu kue sama teh hangat tawar jadi kamu bisa sekalian sarapan kalau memang belum.” “Kebetulan aku memang belum sarapan karena dari semalam aku belum pulang ke rumah.” Pria itu melangkahkan kakinya lalu duduk di sofa sambil menikmati sepiring kue tar dari Kalea. Sementara itu, Kalea hanya bisa memperhatikan pria itu dengan dahinya yang berkerut. Dengan mulutnya yang penuh dengan makanan, Genta melirik ke arah wanita yang duduk di hadapannya. Pria itu langsung tersedak hingga terbatuk-batuk ketika mendapati Kalea sedang menatapnya. “Ya ampun Ta, kalau makan pelan-pelan dong,” ucap Kalea sambil menyodorkan secangkir teh ke arah pria itu. “Lagian kamu kenapa sih liatin aku kayak gitu, udah tahu kalau jantung aku pasti langsung mau meledak kalau kamu bersikap kayak tadi,” keluh Genta. “Enggak usah mengada-ngada ya Ta, lagian aku cuman bingung kenapa kamu sampai enggak mau pulang ke rumah? Apa kamu lembur sengaja kerja lembur?” tebak Kalea. “A—aku....” Genta merasa ragu jika harus mengatakan hal yang berkaitan dengan masalah pribadinya. Apalagi Jika wanita itu tahu kalau dirinya hendak dijodohkan dengan seorang wanita yang tidak lain adalah teman arisan sang mama. Sudah dapat dipastikan kalau Kalea akan langsung setuju dan menyuruhnya untuk segera menikah. Jelas-jelas wanita itu juga sudah tahu tentang isi pemilik hatinya yang tidak lain adalah Kalea tapi entah kenapa wanita itu selalu bersikap tidak peka atau pura-pura tidak tahu. Entahlah! “Iya aku emang sengaja lembur,” dusta Genta. “Kayaknya cuman kamu deh orang yang paling rajin di kantor ini, aku aja rasanya udah mual ketika baru mulai baca laporan.” Kalea bersandar di sofa sambil memejamkan matanya sebentar. Rasanya ingin sekali wanita itu tidur sebentar sebelum memulai pekerjaannya tapi ini bukan kantornya, lagi pula Kalea sangat malu dengan Genta yang notabenenya adalah seorang pekerja keras walau dia sudah menjadi seorang CEO. “Oh ya Kal, kapan sih kamu mau move on dari mendiang Randi?” Kalea membuka matanya lalu menatap wajah Genta yang sedang tersenyum tipis. “Kamu jangan salah paham dulu ya, maksud aku itu bukan melupakan Randi loh tapi buka hati kamu buat yang lain.” “Buka hati? Buat siapa? Kamu?” Tunjuk Kalea ke arah pria itu yang langsung direspons dengan anggukan kepala. “Kalau kamu sampai nikah sama aku, kamu enggak perlu lagi mual pas baca laporan keuangan, apalagi pas akhir tahun kayak gini,” canda Genta yang diiringi dengan sebuah kekehan. Sementara Kalea menanggapinya dengan serius kali ini dan hal itu terlihat dari sorot matanya. “Please ya Ta, gue udah sangat nyaman dengan hubungan kita saat ini,” kata wanita itu dengan tegas. “Okay.” “Ya udah, kalau gitu gue pamit sekarang ya dan semangat bekerja Genta,” pamit Kalea yang disisipi dengan sebuah semangat kecil seraya bangkit dari sofa, lalu meninggalkan ruangan pria itu. Sebelum kembali ke meja kerjanya, wanita itu memutuskan untuk pergi ke toilet. Tapi sebelum masuk ke dalam, Kalea tidak sengaja mendengar obrolan beberapa rekan kerjanya yang berhasil membuat tangannya terkepal dengan kuat serta telinga memerah. “Apa lo enggak tahu kalau kue yang selama ini dikasih sama Kalea itu adalah sejenis makanan persembahan?” tanya Selly yang direpons Dena dengan menggelengkan kepalanya pelan. “Soalnya yang gue tahu itu cewek belom bisa move on dari mendiang pacarnya yang udah meninggal dan bisa jadi aja ‘kan kalau kue itu dikasih ke kita untuk nyari tumbal?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD