Bab 6 : Danau De'Flavia, bukti cinta

1027 Words
Setelah pulang dari rumah sakit, Flavia merawat anaknya seorang diri dengan uang yang dia cari dengan cara menjadi penulis novel online berbahasa Inggris. Dia mendapatkan pundi-pundi dollar dari itu sejak ia berhenti kuliah serta fokus mencari uang. Flavia memilih menulis kisah hidupnya di saat bertemu dengan seorang pria yang manis, tapi busuk di belakangnya. Suara bayinya menggelegar di dalam rumahnya yang ada di pinggir kota Milan, dia pindah dari apartemen setelah tidak sanggup membayar biaya sewanya. "Oeeee..." "Ludovic sayang, Mama di sini," ucap Flavia. Gadis itu harus mengurus bayinya sendirian tanpa diketahui orang tuanya bahkan mereka juga tidak pernah bertanya tentang keadaan Flavia. Menjadi seorang ibu memanglah tidak mudah, Flavia berjanji tak akan menelantarkan putranya demi apapun. ASI yang dikeluarkan Flavia memang tidak banyak karena dia kurang makan apalagi bayinya terus merasa kurang. Air mata Flavia menetes tatkala ia merasa gagal menjadi seorang ibu. "Nak, maafkan Mama! Bagaimana ini? Kamu masih haus, ya?" tanya Flavia. Di saat bersamaan Flavia tidak sengaja melihat ke arah televisi, pria yang sedang menghamilinya ada di televisi tengah di wawancarai oleh wartawan. Siapa lagi jika bukan Fabiano? Pria itu sedang membuat proyek danau di tengah kota untuk dinikmati semua warga dan membuat taman supaya setiap sore banyak warga yang bisa menikmati sumbangan infrakstukturnya. Hati Flavia teriris, di saat putranya tidak bisa membeli s**u formula, tapi sang ayah bisa menghaburkan banyak uang di luar sana. "Jika kamu sudah besar nanti, tolong balas dendam kepada ayahmu! Dia ayah yang jahat," ucap Flavia. "Ah! Apa yang aku katakan? Tidak seharusnya aku mengajari anakku yang macam-macam terhadap ayah kandungnya." sambung Flavia. Flavia mematikan televisi setelah dirasa hatinya cukup panas apalagi di samping Fabiano terdapat wanita cantik yang menemaninya dan mereka nampak mesra sekali. "Ludo, ASI Mama tidak cukup, ya? Mau beli s**u formula saja? Bukannya Mama malas menyusuimu, Mama sangat setres sampai membuat ASI menjadi sedikit. Ayo kita beli saja! Mama ada sedikit uang," ucap Flavia yang mau tidak mau harus memberikan ASI untuk anaknya. Di sisi lain. Fabiano melamun tidak jelas saat melihat proyek danau yang dia sumbangkan untuk kota ini untuk membuat nama baiknya semakin baik. Selina terus menggandeng tangannya, dia menunjuk ke arah lubang yang akan segera di isi air supaya menjadi sebuah danau buatan yang indah. "Aku ingin danau ini dinamai nama kita berdua," ucap Selina. "Tidak, aku sudah ada nama lain," jawab Fabiano. "Apa?" "Kamu akan tahu saat peresmian nanti," jawab Fabiano lalu berjalan ke arah mobil. Beberapa hari kemudian adalah peresmian nama danau serta taman yang dibuat oleh Fabiano untuk warga Roma dan sekitarnya yang ingin bersantai di sana bersama keluarga. Fabiano bersama keluarga besarnya menghadiri acara peresmian itu dan disambut meriah oleh warga Roma. Setelah skandal perselingkuhan Fabiano di rumah tangga sebelumnya membuat nama baiknya tercoreng, sekarang Fabiano sedang berusaha membangun lagi nama baiknya. "Fabiano serta keluarga sudah datang, silahkan maju ke depan untuk memberi sambutan serta pemotongan pita sebagai bentuk peresmian danau serta taman kota ini," ucap MC memberikan arahan. Fabiano maju ke depan menggunakan setelan jas hitam serta dasi loreng, semua orang bertepuk tangan. "Terima kasih warga kota Roma serta sekitarnya yang sudah hadir, pertama-tama saya sampaikan terima kasih atas dukungan kalian selama ini karena perusahaan saya bisa memfasilitasi infrakstuktur kota. Danau dan taman kota ini saya buat supaya kita bisa bersantai bersama keluarga serta mempercantik kota metropolitan ini. Mohon diperhatikan serta dijaga fasilitas umum kita! Jangan ada vandalisme atau membuang sampah sembarang! Dengan ini danau serta taman kota De'Flavia resmi dibuka untuk umum!" ucap Fabiano selepas itu bebarengan memotong pita. Semua orang bertepuk tangan dan masuk bersama-sama di dalam sana, di dalamnya juga ada makanan serta acara musik. Fabiano melihat kebahagiaan semua orang membuatnya merasa lega, sebagai orang yang pernah membuat skandal memang lebih baik membuat nama baiknya bersih lagi dengan cara seperti ini. "De'Flavia? Kamu menemukan nama itu dari mana?" tanya Selina. Selina adalah wanita yang dipilih orang tua Fabiano untuk menjadi calon istrinya, tapi Fabiano masih menolak perjodohan kali ini dan mengulur waktu lebih banyak. "Tak semua hal harus kamu ketahui, Selina," jawab Fabiano. "Aku calon istrimu," ucap Selina. "Iya, di dalam mimpimu saja. Menyingkirkah sebelum aku berbuat kasar kepadamu!" Fabiano menjauh darinya dan mendekat ke arah Asisten Javer. "Kamu sudah menemukan Flavia?" tanya Fabiano. "Dia sudah pindah dari apartemen itu," jawab Asisten Javer. "Dia pindah kemana?" Asisten Javer menggelengkan kepalanya. "Saya belum mendapat informasinya. Tuan Fabiano, apakah anda masih cinta kepadanya?" "Cinta? Dia hanya mainanku saja selama aku depresi, dia juga hanya mahasiswi yang mudah dibodohi. Sekarang ambilkan aku minum! Aku sangat haus." *** "Oeee... oeee..." Ludovic menangis setiap waktu membuat Flavia semakin bingung, bayi yang berusia masih satu minggu itu selalu menangis seperti akan mandi selalu menangis, setelah menyusu juga menangis apalagi saat hendak tidur tangisannya bisa terdengar sampai rumah tetangga. "Ludo, Mama harus bagaimana lagi? Mama lelah," ucap Flavia. "Oeee... oeee..." "Andai saja Papamu ada pasti dia bisa membantu menggendongmu," ucap Flavia merasa sudah putus asa. Flavia membaringkan bayinya di atas tempat tidur, bayi itu semakin menangis membuat Flavia ikut menangis. Lama kelamaan bayi itu terlelap dengan sendirinya karena mungkin saja lelah memangis, Flavia menyadari jika dia menyesal sudah memperlakukan bayinya sampai seperti itu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu rumahnya, dia lekas membuka yang ternyata seorang tetangga. "Bayimu kenapa?" tanya Madam Zoe, dia adalah wanita baik hati yang akhir-akhir ini membantu Flavia di saat kesusahan. "Ludo mengantuk, mungkin karena dia tidak bisa tidur membuatnya menangis, tapi sekarang Ludo sudah tidur," jawab Flavia. "Syukurlah! Oh iya, ada beberapa orang mencurigakan bertanya tentangmu. Mereka seperti bodyguard yang mengenakan jas hitam serta kaca mata hitam," ucap Madam Zoe. Flavia terdiam. "Siapa mereka? Mereka bertanya apa?" "Aku tidak tahu siapa mereka. Mereka hanya bertanya kamu tinggal dengan siapa." "Apa itu orang suruhan Fabiano? Aku tidak mau jika pria itu sampai mengetahui keberadaan Ludovic, dia bisa membawa bayiku dan merebutnya dariku. Madam, jika orang-orang mencurigakan itu muncul lagi segera usir saja dan bilang jika aku sudah tidak tinggal di sini," pinta Flavia. Madam Zoe menggenggam tangan Flavia. "Ludovic masih butuh ayahnya, masa lalu biarlah berlalu dan kurangi rasa ego demi bayimu!" Flavia menepis tangan Madam Zoe. "Tidak! Ludovic adalah milikku, siapapun tidak boleh merebutnya terutama Fabiano. Pria itu tidak bertanggung jawab bahkan menghancurkan masa depanku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD