Bab 7 : Bertemu anak kecil menyebalkan

1078 Words
8 tahun kemudian. Danau De'Flavia, tempat di mana Fabiano merenungkan diri sembari melihat matahari tenggelam. Hawa dingin semakin terasa, tapi dia tidak ingin pergi dari sini. Fabiano sudah menikah dengan Selina, mereka belum dianugrahi keturunan. Menikah bukan dasar cinta membuat Fabiano merasa hampa apalagi tidak ada anak di rumah tangganya. "Via, kamu di mana? Bagaimana kabarmu? Apa kamu sudah menikah dan punya anak?" tanya Fabiano bergumam sendiri. Selina datang. "Sayang, ini sudah sore. Ayo kita pulang! Kamu sudah dua jam melamun di sini." "Kamu pulang saja dulu! Aku masih ingin di sini." "Fab, aku ingin mengambil salah satu anak di panti asuhan. Bagaimana menurutmu?" "Aku tidak setuju. Aku tidak mau mengurus anak yang bukan darah dagingku, lebih baik tidak punya anak saja ketimbang mengurus orang lain," ucap Fabiano. Selina nampak kecewa, dia sering kali memberikan ide seperti ini, tapi Fabiano selalu menolak. Fabiano berdiri dengan tatapan yang tidak menyenangkan, ia berjalan menuju ke dalam mobilnya tanpa menghiraukan sang istri. Bagaimana bisa aku mendapatkan hatimu jika kamu hanya ingin mendapatkan anak kandung dariku? Batin Selina. Kling... Pesan masuk dari seseorang, dia adalah cinta pertama Selina yang seorang pilot dan masih bujangan. Sanders : Aku ingin bertemu malam ini, sayang. Pakai gaun yang sedikit seksi supaya aku bisa langsung tegang tanpa menunggu lama. Selina : Iya, sayang. Aku juga sedang galau, Fabiano masih saja cuek kepadaku gara-gara aku tidak bisa hamil dan anehnya dia tidak mau adopsi anak. Sanders : Bercerai saja dengannya! Aku bisa menerimamu apa adanya. Selina : Aku akan menguasai hartanya dulu dan setelah itu aku akan kembali kepadamu. Milan. "Ludo, makan dulu, Nak!" ucap Flavia. "Mama, aku sudah terlambat," jawab Ludovic. Bocah 8 tahun itu memiliki rambut hitam seperti ayah kandungnya bahkan warna mata mereka sama. Ketika Flavia melihat Ludovic pasti terbayang tentang pria yang sudah menghancurkan kehidupannya dulu. "Mama, kenapa aku harus pindah sekolah? Aku sudah nyaman di sini," ucap bocah itu. "Supaya kita dekat dengan kakek dan nenekmu. Kamu harus tahu jika mereka sangat merindukanmu. Mama juga sudah dapat kerja di restoran cepat saji di Roma," jawab Flavia. "Oke, jadi kita tinggal sama kakek dan nenek, ya?" Flavia mengangguk kecil. "Iya, sementara kita tinggal di sana dulu. Jika Mama ada uang maka kita bisa membeli rumah." Ludovic mengangguk paham, mereka bersiap berangkat ke sekolah. Ini adalah minggu terakhir Ludovic sekolah di Milan karena minggu depan mereka sudah pindah ke Roma. Bocah itu sering bertanya di mana ayah kandungnya dan Flavia memilih bungkam tidak memberitahunya. Singkat cerita mereka sudah pindah ke Milan, orang tua Flavia pada akhirnya tahu jika putrinya hamil tanpa ada pria yang bertanggung jawab. Dia juga tidak memberitahu pria mana yang sudah menghamilinya. Flavia menyimpan rapat-rapat rahasia itu sampai dia enggan mengingatnya lagi. Mereka disambut oleh orang tua Flavia, ibunya memeluknya dengan erat dan merasa bersalah karena kurang memperhatikan anaknya. "Ludovic, kamu kurus sekali," ucap kakek. "Iya, dia berat badannya turun dan susah makan sayur," jawab Flavia. "Pokoknya kalian di sini akan kami berikan makan banyak. Terutama kamu, Flavia. Oh iya, kamu tidak ada dekat dengan pria manapun? Usiamu terus bertambah, apa kamu tidak mau mencari ayah untuk putramu?" goda ibu. Flavia menghela nafas panjang sambil duduk di sofa. "Tolong jangan mengatakan yang aneh-aneh di depan anakku!" *** Keesokan harinya. Flavia sudah memakai seragam kerjanya, sebagai pengantar makanan di restoran cepat saji membuatnya harus datang lebih cepat. "Ayah, ibu. Titip Ludovic! Hari ini dia masih libur," ucap Flavia. "Iya, kamu hati-hati di jalan!" Flavia mengendarai motornya menuju ke restoran cepat saji. Kota Roma masih saja seperti dulu bahkan sekarang ada danau serta taman kota yang namanya mirip dengan dirinya. Sesampainya di tempat kerja, dia bekerja seperti yang seharusnya sambil terus memikirkan apakah Ludovic bisa betah dengan kakek, neneknya. Hari ini pesanan sangat banyak sekali, Flavia juga mengantar ke sebuah perusahaan besar dengan jumlah pesanan yang banyak. Flavia tidak tahu jika kantor ini adalah milik keluarga Fabiano Moreno karena kantor ini termasuk bangunan baru. "Permisi, saya pengantar makanan atas nama Alano," ucap Flavia kepada resepsionis. "Oh, ada di lantai dua. Pak Alano di ruangan manajer," jawab resepsionis. "Baik, terima kasih." Flavia naik ke atas, dia naik tangga karena tidak terbiasa naik lift. Sesampainya di sana, dia mengetuk pintu dan diperbolehlan masuk. Seorang pria tua tapi masih tampan tersenyum melihat pesanannya sudah datang. "Pak Alano, ini 20 ayam goreng dengan saus pedas," ucap Flavia. "Terima kasih. Ini tips untukmu. Oh iya, kenapa pengantarnya berbeda dari yang sebelumnya?" "Dia sudah resign dan yang menggantikan saya." Alano mendekati Flavia, dia menaikkan dagu wanita itu. Flavia mendorongnya dan merasa aneh pada pria itu. "Berapa gajimu menjadi pengantar makanan? Pasti sedikit? Kamu tidak mau menjadi sugar baby-ku?" Mata Flavia mendelik. "Maaf, saya tidak seperti itu." Alano meremas b****g Flavia, wanita itu dengan refleks menamparnya. Alano yang geram mendorong Flavia sampai tersungkur ke lantai. Dia kesal karena ditolak oleh wanita rendahan itu. "Hah? Apa yang kamu lakukan? Sombong sekali kamu ini? Wanita sepertimu berani melawanku?" bentak Alano. Flavia berdiri sambil memegang lengannya yang sakit akibat terhantam lantai. "Kamu yang kurang ajar, kamu melecehkanku," ucap Flavia. Alano yang semakin kesal memanggil petugas keamanan dan bercerita jika Flavia kurang ajar di kantor ini. Flavia diusir dan didorong keluar dari kantor tersebut. Baru bekerja di hari pertama saja sudah seperti ini. Sampai di tempat kerjanya pun dia mendapatkan omelan karena aduan dari pria tadi. Flavia tidak bisa membela diri karena masih butuh pekerjaan, dia berjanji tidak akan mengulangi lagi. Di sisi lain. Fabiano ada di danau De'Flavia setelah pulang dari meeting. Dia melamun tidak jelas sampai seorang anak kecil mendekatinya dengan wajah datar. "Apa?" tanya Fabiano yang tidak suka diperhatikan seperti itu. "Kenapa banyak orang dewasa yang suka melamun? Mama-ku juga suka sekali melamun," ucap Ludovic. "Bukan urusanmu! Minggirlah! Aku tidak suka anak kecil ingusan sepertimu," jawab Fabiano ketus. Ludovic malah tetap berdiri di depan pria itu sampai Fabiano memelototinya. "Pergi atau aku pukul?" tanya Fabiano. "Aku akan laporkan pada Mama-ku jika kamu memukulku," jawab Ludovic. Fabiano menghela nafas dan mengalah, tiba-tiba Ludovic menginjak sepatu pantofelnya sampai kotor. "Dasar! Apa orang tuamu tidak mendidikmu dengan baik? Apa ayahmu tidak mengajarimu sopan santun?" "Jangan bawa-bawa ayahku! Aku saja sejak kecil tidak tahu wajahnya seperti apa," jawab Ludovic. Fabiano terdiam kemudian bocah itu berlari pergi meninggalkannya. Ludovic menoleh lalu menjulurkan lidah seolah mengejek. Fabiano merasa kesal, tapi ia harus menahannya. Tiba-tiba Ludovic kesandung dan terjatuh, Fabiano tertawa puas. "Hahaha ..." "Huaaaa ... aku akan adukan pada Mama!" Fabiano tersenyum lalu menggendongnya. "Di mana Mama-mu? Kenapa membiarkan anak kecil nakal sepertimu berkeliaran sendirian di sini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD