Bab 8 : Masih berharap?

1025 Words
Fabiano mendekati bocah itu dan tidak lama kemudian datanglah penjual es krim, Ludovic ingin sekali memakan es krim, tapi dia tidak punya uang. Fabiano yang paham membeli satu es krim, Ludovic pikir pria dewasa itu akan memberikannya es krim, tapi ternyata Fabiano malah memakan es krim itu sendiri dan memamerkan pada bocah tersebut. "Mau? Beli sendiri!" ejek Fabiano. Fabiano pergi meninggalkan Ludovic, sikapnya memang tidak berubah sama sekali selalu angkuh dengan siapapun. Ludovic yang kesal berteriak mengejek walau Fabiano tidak peduli dan memutuskan untuk masuk ke dalam mobil. "Huaaa ...." Kakeknya datang. "Ada apa, Ludo?" "Ada orang yang nakal, aku tidak suka padanya," ucap Ludovic sambil terus menangis. "Ayo kita pulang! Nenekmu sudah membuatkan pie." Fabiano puas sekali karena mengerjai anak kecil, dia tersenyum sendiri sampai dilihat oleh sopirnya. Jarang sekali Fabiano tersenyum akhir-akhir ini mengingat rumah tangganya terasa hampa. Apa karena ini efek belum ada anak kecil di rumah tangganya yang sudah 5 tahun berjalan? "Pak Fabiano, Nyonya Selina mengatakan akan pulang terlambat lagi." "Terserah dia saja, mungkin dia pergi dengan pria lain," ucap Fabiano. "Walau begitu Nyonya Selina tetap istri anda." "Aku sudah memperlakukannya dengan baik, tapi balasannya selalu seperti itu. Jika bukan karena orang tuaku dan orang tuanya pasti aku sudah menceraikan sejak 3 tahun yang lalu," jelas Fabiano. "Kenapa anda tidak membongkar perselingkuhan Nyonya Selina jika sudah tahu sejak awal?" Fabiano menghela nafas kasar sambil membuang pandangan ke arah kaca mobil. "Pernikahan pertamaku gagal karena aku berselingkuh dan apa sekarang yang kedua ini harus gagal lagi karena istriku yang berselingkuh? Apa ini karma untukku?" Asisten Javer tidak mau bertanya lagi karena pasti membuat Fabiano akan merasa sedih, mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Bagi Fabiano saat ini sudah lebih baik dan mempertahankan rumah tangganya yang kedua ini merupakan hal yang tepat. Sesampainya di rumah. Fabiano melihat rumahnya sepi tanpa ada anak atau istri yang menyambutnya, dia membayangkan ada anak kecil di rumah ini pasti Fabiano akan selalu betah berada di rumah. Dia lantas masuk ke dalam kamar, ia mencari ponsel lamanya dan membuka galeri foto yang masih ada sisa kenangan dari Flavia. Di mana wanita itu sekarang? Fabiano sudah mencoba menyuruh orang lain untuk mencarinya, tapi hasilnya selalu nihil. Kling ... Ayah Michele : Kenapa sehabis meeting tidak kembali ke kantor? Fabiano : Kerjaanku juga sudah selesai di sana. Ayah Michele : Hem, kamu tidak ingin mencari wanita lain yang bisa memberimu keturunan? Fabiano : Apa sih mau Papa? Aku bukan bonekamu. Dulu Papa yang memaksaku menikahi Selina dan sekarang ketika dia belum memberiku keturunan malah menyuruhku mencari wanita lain. Ayah Michele : Ini sudah tahun kelima kalian menikah, kamu juga perlu keturunan supaya bisa mewarisi marga Moreno. Fabiano tidak mau membalasnya lagi, dia menghela nafas panjang sambil memandang wajah Flavia yang imut serta menggemaskan. Jujur saja dia sangat merindukannya dan pasti gadis itu saat ini sudah dewasa serta bertambah cantik. Di sisi lain. Flavia sedang mengepel lantai tempat kerjanya, sudah beberapa jam dia bekerja di sini dan tubuhnya mulai lelah. Jika lelah dia mengingat putranya yang sedang menunggu di rumah sambil menunggu dirinya pulang membawa sekotak es krim. "Via, sebenarnya tadi pagi ada masalah apa sampai pelanggan kita komplain?" tanya Isak, dia adalah manajer resto ini. "Aku mendapatkan pelecehan dari pemesan yang bernama Alano, dia pria tua yang menggodaku bahkan menawariku menjadi sugar baby. Aku menolaknya, tapi tangannya dengan tidak sopan meremas bokongku bahkan dia mendorongku ke lantai," jawab Flavia. "Via, maaf. Tadi aku tidak bisa membelamu di depan bos kita, jika ada bukti pun kamu bisa menuntut pria itu." Flavia menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, aku hanya orang kecil yang bergaji recehan dan yang penting bos kita tidak memecatku aku sudah sangat bersyukur sekali." Isak tersenyum kecil, dia memang baru mengenalnya, tapi melihat kepribadian Flavia membuatnya takjub. Isak juga sudah tahu jika Flavia sudah ada anak, tapi tanpa adanya seorang suami. "Setelah ini kamu pulang 'kan? Bawa ayam gorengnya untuk putramu," ucap Isak. "Eh, tidak perlu. Resto akan rugi jika seenaknya membawa pulang barang dagangan," jawab Flavia. "Aku yang akan bayar, kamu tenang saja! Salam untuk anakmu juga, kapan-kapan aku akan menemuinya dan membelikannya mainan," ucap Isak. Flavia mengangguk kecil. "Terima kasih, Pak Isak." *** Flavia pulang ke rumah orang tuanya sambil menenteng es krim dan ayam goreng pemberian Isak. Saat melihat buah hatinya, ia pun merasa sangat senang bahkan merindukannya setiap detik. "Mama, tadi aku bertemu orang menyebalkan di danau, dia nakal dan memameriku makan es krim, tapi aku gak dikasih," ucap Ludovic. "Benarkah? Mungkin dia hanya bercanda, jangan jadi pendendam, ya!" jawab Flavia bijak. Ludovic mengangguk, ia menarik sang mama duduk di sofa sambil bercerita selama seharian ini bersama kakek serta neneknya. Flavia mendengarkan dengan seksama dan lambat laun ia menyadari jika Ludovic sangat mirip dengan pria itu. Ya Tuhan, kenapa dirinya tidak bisa lupa pada Fabiano? Sekarang pria itu sudah menikah dan bahagia dengan istrinya. "Mama, dengar gak sih? Kok melamun?" "Eh, Mama dengar kok. Sekarang Ludo makan dulu es krimnya dan setelah itu masuk ke dalam kamar." Melihat Ludovic sudah membuatnya senang sekali dan selalu bersemangat. Andai saja ada ayah kandungnya di sini pasti bocah itu tidak akan pernah merasakan bagaimana kurangnya kasih sayang dari seorang ayah. Ah! Apa yang Flavia pikirkan? Lagi-lagi dia memikirkan pria itu seolah berharap bisa kembali kepadanya. "Mama melamun lagi? Mama ada masalah, ya. Lengan Mama kenapa? Siapa yang membuat Mama terluka?" tanya Ludovic. Walau masih kecil, Ludovic sangat peka kepada mamanya. "Tidak apa-apa kok. Mama mau mandi dulu, kamu sama kakek dan nenekmu." Flavia masuk ke dalam kamar mandi dan melepaskan semua pakaiannya. Jujur saja jika dia adalah wanita normal, dia akan merasa ingin melakukan jika sudah lama tidak disentuh. "Fabiano, anakmu sudah besar. Hasil buah cintamu sudah tumbuh dengan baik. Kenapa kamu tidak mencarinya? Kamu tidak perlu mencariku karena aku sudah tidak membutuhkanmu, tapi anak kita berhak tahu wajah papa kandungnya seperti apa," gumam Flavia. Flavia menyiram tubuhnya menggunakan air hangat, dia hanya bisa menangis di dalam kamar mandi setiap hari. Otak seolah menolak jika Flavia masih mengharapkan Fabiano, tapi hati tidak bisa berbohong jika dia merindukan pria itu. "Aku ingin sekali muncul di hadapanmu, tapi aku belum sukses. Jika aku muncul sekarang pasti kamu akan menertawakanku," ucap Flavia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD