"Selina, malam-malam begini kamu mau kemana?" tanya Fabiano yang melihat istrinya berpakaian rapi.
"Aku ingin menghabiskan malam dengan teman-temanku," jawab Selina.
"Kupikir malam ini aku ingin memperbaiki masalah hubungan intim kita. Akhir-akhir ini kita jarang melakukannya," jawab Fabiano.
Selina memandangnya dengan datar. "Siapa suruh seringkali menolak? Kenapa baru sekarang setelah aku sudah malas denganmu."
Fabiano mengernyitkam dahinya. "Apa maksudmu sudah malas denganku? Aku menolak karena tidak ingin menyakitimu, rahim-mu sangat lemah sekali bahkan dokter pun menasehatiku supaya tidak bermain kasar."
"Aku akan pulang lagi. Selamat malam."
Kecupan dari Selina mendarat di bibir Fabiano, setelah itu dia pergi tanpa sepatah kata pun. Pernikahan yang kedua ini begitu hampa padahal Fabiano sudah melakukan berbagai cara. Pikirannya sangat kalut lalu memutuskan untuk berendam di air hangat. Mendadak ia memikirkan bocah yang dia jahili di danau tadi, ia tersenyum kecil karena menggoda anak kecil memang menyenangkan. Dering ponsel berbunyi, ia tersenyum kecil saat mendengar kabar yang mengagetkan.
"Oke, terima kasih informasinya."
Setelah berendam, dia memakai kimono handuk sambil menyeruput kopi yang dia buat sendiri. Senyumannya kembali terbentuk saat seseorang di masa lalunya hadir kembali.
"Ini akan menjadi permainan menarik."
Di sisi lain.
Flavia sedang menyisir rambut putranya, dia terus teringat dengan wajah Fabiani jika melihat wajah Ludovic.
"Mama, ada danau dan taman bagus di kota ini. Kapan-kapan kita main ke sana yuk! Tadi kakek sudah mengajakku ke sana, tapi aku malah diganggu orang dewasa yang nakal dan aku sangat kesal," ucap Ludovic sambil mulutnya manyun.
"Oke, kita ke sana saat Mama libur," jawab Flavia.
"Mama tahu tidak tetangga depan? Dia punya Papa dan Mama yang lengkap. Aku jadi iri sekali padanya apalagi papanya terlihat sangat baik," ucap Ludovic.
"Jika Papamu masih ada maka kamu akan melakukan apa?"
Ludovic tersenyum kecil. "Aku akan memukulnya karena dia nakal, dia sudah meninggalkan kita."
"Ayahmu sudah menikah lagi dan dia tidak akan kembali bersama kita."
Wajah Ludovic menjadi penasaran, Flavia pun membodohkan dirinya sendiri karena sudah mengatakan hal yang tidak-tidak. Dia memutuskan untuk ke dapur, ia tidak mau putranya sampai tahu sejauh itu mengenai Fabiano.
Keesokan harinya.
Flavia harus bekerja lagi, ia sudah memakai seragam kerjanya. Ludovic memasang wajah sedih karena dia berharap sang mama bisa menemaninya hari ini.
"Kakek dan nenekmu akan mendaftarkanmu sekolah hari ini. Kamu jangan nakal!" ucap Flavia.
"Aku pengennya sama Mama," jawab Ludovic.
"Mama harus kerja supaya bisa beli mainanmu. Mama berangkat dulu," ucap Flavia.
Flavia berangkat naik bus, di hari kedua ini semoga saja tidak ada yang mengganggunya seperti hari kemarin. Sesampainya di tempat kerja, ia mengepel terlebih dahulu walau ini bukan tugasnya. Beberapa pegawai menganggapnya terlalu berlebihan apalagi dia masih karyawan baru.
"Via, nanti tolong antarkan pesanan ke kantor ini lagi," ucap Isak, manajer di resto ayam itu.
"Apa Pak Alano lagi?"
"Bukan, berbeda orang. Jika di sana kamu mendapatkan pelecehan lagi maka langsung hubungi saya! Saya tidak akan membiarkan pegawai saya dilecehkan seperti itu."
Via tersenyum. "Baiklah, Pak. Saya akan menyiapkan pesanan ini sekarang."
Tak heran jika Isak menyukai kinerja Via, dia gadis yang rajin serta manis. Pegawai lain pun merasa iri karena anak baru itu sudah dekat dengan manajer yang terkenal cuek.
Singkat cerita pesanan sudah selesai dan Flavia kemudian mengantarnya, dia menaiki kendaraan khusus pengantar makanan. Untung saja dia bisa mengendarai motor itu karena beberapa pegawai di sini tidak bisa mengendarainya. Flavia berangkat ke kantor itu, dia berharap Alano sialan itu tidak menggodanya lagi.
Sesampainya di sana, seperti biasa Flavia harus menemui resepsionis, dia diarahkan naik ke lantai teratas di ruangan presdir. Dia sempat heran kenapa harus kesana? Tak mau membuat pelanggan menunggu mau tak mau dia lekas naik ke atas sana. Setelah sampai, ia belum menyadari jika Fabiano yang menjadi presdir di perusahaan baru ini.
"Selamat pagi. Saya pegawai di resto ayam yang anda pesan dan saya membawa pesanan ayam anda."
"Oh, kamu masuk saja. Pak CEO ada di dalam."
"Bukan kamu yang memesan?" tanya Flavia.
"Saya asistennya, silahkan masuk karena Pak CEO sudah menunggu sejak tadi."
Flavia lekas masuk ke dalam sana, ia melihat seorang pria berdiri membelakanginya sambil memandang pemandangan kota dari jendela.
"Permisi, saya membawa pesanan ayam anda," ucap Flavia.
"Oh, sudah datang?"
Pria itu membalikkan badan dan mata Flavia terbelalak karena ternyata CEO di kantor baru ini adalah Fabiano, pria b******k yang sudah membuat hidupnya hancur.
"Kenapa kaget?" tanya Fabiano.
"Kamu?"
"Via, sudah lama tidak bertemu. Tubuhmu semakin berisi saja."
"Ayammu aku letakkan di sini, terima kasih sudah memesan di tempat kami. Saya pamit dulu."
Fabiano menarik tangannya. "Kenapa kamu bersembunyi dariku? Apa kamu pikir kamu bisa terus melakukan itu?"
"Lepaskan, aku! Kamu yang meninggalkanku dan membodohiku, sekarang kita anggap saja tidak pernah saling kenal."
Flavia mendorong pria itu lalu lari keluar sambil meneteskan air matanya. Ternyata bukan Alano yang harus dia waspadai nelainkan Fabiano. Flavia berpikir pasti kedepannya banyak pesanan ayam dari kantor ini. Flavia masuk ke dalam lift, dia mengusap wajahnya kasar beberapa kali sampai di tengah perjalanan lift terbuka yang ternyata adalah Alano. Wajah pria itu tersenyum kecut dan dia ikut masuk ke dalam sana, Flavia menghindar dan berdiri di pojok, ia sama sekali tidak mau memandang pria itu.
"Jual mahal sekali," ucap Alano.
Flavia hanya diam saja.
"Hahaha ... sok cantik," ucap Alano.
Flavia masih diam saja dan tidak memperdulikan ucapan pria itu, tiba-tiba saja Alano menarik tangannya kemudian berusaha menciumnya, Flavia memberontak, ia menekan tombol darurat membuat Alano kesal.
"Sialan!" umpatnya.
Pintu lift terbuka, Flavia lekas keluar dari sana sambil ngos-ngosan. Alano mengejarnya, ia menarik paksa wanita itu sampai tidak berselang lama Fabiano keluar dari lift lain. Alano melepaskan tangan Flavia, ia mencoba tersenyum kepada Fabiano.
"Kenapa kamu mengganggunya?" tanya Fabiano.
"Habisnya dia kurang ajar, Pak."
"Benarkah? Aku sudah melihat rekaman CCTV jika kamu yang kurang ajar dengannya. Sekali lagi kamu menyentuhnya maka aku tidak segan memecatmu," jawab Fabiano.
Alano langsung pergi dari sana dengan perasaan kesal, sementara Flavia tidak mau menatap Fabiano, baginya mereka sama.
"Mau minum kopi?" tanya Fabiano.
"Kamu pikir kamu sudah menjadi pahlawan?" tanya Flavia kembali.
"Aku tidak bicara seperti itu, sudah lama kita tidak bertemu bahkan kamu semakin dingin saja kepadaku. Aku tahu jika aku salah, tapi keadaanku saat itu yang membuatku harus seperti ini. Selama kita sebulan menjalin hubungan intim, apa ada benih yang tumbuh di rahimmu?" tanya Fabiano membuat Flavia terkejut.