Bab 10 : Papaku seorang CEO

1063 Words
"Setelah kamu puas menyakitiku, kamu berharap ada benih? Jika ada pun aku akan menggugurkannya, aku tidak sudi mengandung anak dari pria b******n sepertimu!" ucap Flavia dengan menohok. Fabiano tersenyum kecil membuat Flavia semakin khawatir, ia hanya takut jika keberadaan Ludovic sudah diketahui oleh ayahnya sendiri. Flavia langsung pergi dari kantor itu, jujur saja ada penyesalan kenapa dia harus bertemu dengan pria itu lagi. "Pak Fabiano?" ucap Asisten Javer. "Buat Alano menyesali perbuatannya," ucap Fabiano. "Baik, Pak," jawab Asisten Javer. Flavia mengendarai motor dengan keadaan gusar, apa dia harus mengirim Ludovic ke luar kota? Tapi dengan siapa karena tidak mungkin kakek, neneknya mau pindah kesana. Setelah sampai di tempat kerjanya, Isak melihat wajah Flavia yang terlihat khawatir. "Via, apa ada masalah lagi di tempat itu?" tanya Isak. "Tidak ada, Pak. Semua baik-baik saja," jawab Flavia. "Jika ada bilang saja! Aku akan memblokir jika ada pesanan dari kantor itu," ucap Isak. "Tidak perlu, pesanan dari kantor itu selalu banyak, jangan karena saya jadi sampai menolak pesanan mereka," ucap Flavia. Isak mendekatinya lalu menepuk pundaknya. "Besok biar pegawai lain saja yang mengantarkan jika ada pesanan dari tempat itu. Sekarang kamu bisa istirahat sebentar dan tenangkan pikiran dulu!" Beberapa pegawai lain meliriknya dengan sinis, Flavia tentu saja menolak ucapan Isak dan langsung bekerja lagi. Resto siang ini masih sepi karena belum jam istirahat, ia bisa membersihkan meja-meja serta mengepel lantai supaya makin bersih sehingga konsumen semakin nyaman makan di resto ini. Tidak lama berselang seorang wanita cantik datang, dia adalah Selina atau istri dari CEO terkenal yaitu Fabiano. "Aku pesan dua paket ayam dan cola," ucapnya. Flavia masih meliriknya sambil mengepel, betapa cantiknya Selina maka dari itu Fabiano lebih memilih wanita itu. Setelah wanita itu mendapatkan pesanannya, dia duduk di meja sambil menunggu seseorang, pria itu datang juga dan ternyata bukan Fabiano. Mereka nampak sangat dekat sekali bahkan pria itu menggenggam tangan Selina. Bukan urusanku! batin Flavia. Sore hari. Flavia pulang ke rumah dengan membawa ayam goreng sisa yang dia beli padahal Isak sudah menyuruhnya tidak usah membayar. Ludovic sangat senang sekali dengan ayam goreng sehingga setiap hari dia bisa menikmati ayam krispi tersebut. "Sisakan untuk kakek dan nenekmu juga! Mama mau mandi dulu," ucap Flavia. Wanita itu masuk ke dalam kamar mandi, ia masih terbayang wajah Selina yang senang ketika bertemu dengan pria lain. Apa selama ini Fabiano tidak tahu jika istrinya sedang berselingkuh dengan wanita lain atau justru membiarkannya saja? Ada apa dengan diriku? Itu kan urusan mereka. batin Flavia. Setelah selesai mandi, ia melihat Ludovic menikmati ayam goreng sambil menonton televisi, mereka sudah satu kota dengan ayah dari Ludovic, apa setidaknya Flavia bercerita sedikit mengenai Fabiano? "Mama sudah mandi, ya? Kakek dan nenek bilang jika mereka tidak mau ayam ini," ucap Ludovic. "Ya sudah, kamu habiskan saja!" jawab Flavia. Flavia duduk di sebelahnya sambil mengelus kepala putranya itu. "Mama, tadi siang aku bermimpi bertemu dengan Papa," ucap Ludovic. "Kamu ingin tahu siapa Papamu?" tanya Flavia. Ludovic langsung meletakkan ayam gorengnya kemudian menguatkan pendengaran seolah sangat ingin tahu sekali. "Papamu masih hidup dan tinggal di kota ini. Papamu adalah orang kaya yang hebat dan dia menjabat sebagai CEO sebuah perusahaan besar. Jika Mama boleh bilang sebenarnya kamu tidak miskin jika Papamu bertanggung jawab dengan hidup kita, cuman Mama yang memang menginginkan seperti ini," jelas Flavia. Wajah Ludovic masih nampak bingung, ia hanya diam saja dan menunggu ucapan sang mama selanjutnya. "Harusnya Mama tidak perlu bilang saat ini juga di saat kamu belum paham semuanya tapi Mama pikir kamu berhak tahu." "CEO itu apa, ya?" tanya Ludovic dengan polosnya. Flavia tertawa kecil. "Hahaha, kamu lucu sekali, Nak. CEO itu adalah bos di sebuah perusahaan, banyak orang yang menghormatinya serta tentu saja uangnya banyak." "Wah, jika sudah besar nanti aku ingin seperti Papa, aku ingin menjadi CEO supaya Mama tidak perlu bekerja," jawab Ludovic. Air mata Flavia menetes mendengar ucapan putranya, ternyata Ludovic tidak terlalu memikirkan mengenai papanya dan malah kepikiran dengan Mamanya yang bekerja keras. Dia memeluknya dengan erat, sementara Ludovic hanya bisa mengelus punggu mamanya. Keesokan harinya. Flavia sudah berangkat bekerja sementara Ludovic di rumah bersama kakek serta neneknya, bocah itu keluar dari rumah dan melihat beberapa anak-anak tetangga sedang bermain. Ludovic mendekati mereka untuk mengajak berkenalan, wajah mereka nampak sinis karena Ludovic masih anak baru di sini. "Hai semuanya," ucap Ludovic. Mereka hanya diam saja, berselang menit kemudian mereka pamer pekerjaan orang tua mereka. "Ayahku dokter suka suntik orang." "Ayahku masinis cuman aku tidak mau naik kereta." "Ayahku kerjanya di mall." Ludovic menyahut. "Papaku seorang CEO yang punya pegawai banyak dan uangnya banyak." Anak-anak itu langsung mendekat ke arah Ludovic. "Benarkah? Kamu kaya dong, lalu Papamu yang mana?" Ludovic terdiam. "Hahaha, ketahuan bohongnya. Kata ibuku kamu itu tidak punya ayah." "Aku punya Papa kok," jawab Ludovic. "Mana?" Ludovic diam, anak-anak itu malah mengejek. "Haha ... tukang bohong!" "Aku gak bohong kok," ucap Ludovic kemudian menangis pulang. Tentu saja setelah sampai rumah dia mengadu pada kakek dan neneknya, ia bercerita apa yang dicertikan oleh mamanya jika papa kandungnya adalah seorang CEO. Mereka yang belum tahu justru kaget, siapa CEO yang menjadi ayah biologis dari Ludovic? Sementara itu Fabiano tidak fokus bekerja, ia ingin memesan ayam, tapi malah yang mengantar adalah orang lain. Dia yakin jika Flavia tidak akan pernah mau mengantar di sini lagi. Selina datang membawa banyak makanan untuk suaminya, Fabiano sudah malas melihatnya. "Aku baru saja datang dan kamu memasang wajah cemberut," ucap Selina. "Tadi malam kamu menginap di mana?" tanya Fabiano. "Di apartemen temanku. Oh iya, mengenai ucapanmu yang kemarin tentang memperbaiki masalah hubungan intim kita, aku sangat setuju. Akhir-akhir ini kondisi kita memang memburuk apalagi gairah kita lambat laun berkurang, tapi hubungan intim tanpa bisa menghasilkan anak sama saja tidak ada gunanya. Aku punya ide, ada pria yang mau mendonorkan spermanya untukku supaya kita bisa punya anak," ucap Selina. Mata Fabiano melotot tajam. "Kamu pikir aku yang mandul?" "Aku tidak bilang seperti itu, tidak selamanya kesalahan ada di perempuan karena laki-laki juga bisa ada kesalahan," ucap Selina. "Dokter mengatakan jika kandunganmu yang lemah dan aku selama ini menjaga perasaanmu supaya tidak mengatakan jika kamu mandul tapi ternyata kamu malah menyalahkanku," jawab Fabiano. "Lalu apa jika tidak mandul? Aku dulu sudah pernah hamil sebelum menikah denganmu dan itu bukti jika aku tidak mandul. Sedangkan mantan istrimu dulu juga tidak hamil setelah beberapa tahun menikah denganmu dan itu membuktikan jika kamu pria yang mandul," ucap Selina. "Selina! Kamu sangat keterlaluan sekali," jawab Fabiano.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD