Flavia menggelengkan kepalanya dan tidak mau tau dengan ucapan Fabiano, Fabiano masih berharap suatu saat mereka bertemu lagi dan benar saja, beberapa hari kemudian mereka bertemu padahal sebelumnya Fabiano sudah kembali ke Roma dan dia datang lagi ke London menemui wanita yang pernah hinggap di hatinya. Salju turun dengan lembut, mengaburkan jendela kafe tempat Flavia memutuskan untuk menghabiskan sore itu. Ia menyesap kopi hangatnya, membiarkan kenangan lama menyusup masuk bersama uap yang menari di udara. Sudut-sudut kafe itu masih sama, seperti juga hatinya yang terkunci rapat untuk masa lalu. Saat itulah, sebuah bayangan tinggi memasuki kafe, berhenti sesaat di ambang pintu seolah tengah memastikan tujuan. Pria itu kemudian melangkah yakin, setiap gerakannya memancarkan kepercayaan

