Prank! Airi tersentak, mematung setelahnya. Begitu pun dengan beberapa rekan satu divisinya. "Maaf, mbak Ai. Sa-saya nggak sengaja." Airi masih tak bergerak. Masih terpaku pada dadanya yang bergemuruh. Entah karena apa, yang pasti detak jantungnya menjadi sulit dikendalikan. Perempuan itu meraba d**a bagian kirinya, pada jantungnya yang berdetak kencang lebih tepatnya. Dan tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak. Seperti telah terjadi sesuatu pada seseorang yang berarti dalam hidupnya. Mata Airi perlahan mengarah ke pintu. Di mana Aiden baru saja tampak lewat. Mungkinkah akan terjadi sesuatu pada pria itu? Tapi rasanya tidak mungkin, Aiden terlihat baik-baik saja. Lalu siapa? Apa mungkin...? Jantung Airi semakin berdetak kencang manakala bayangan putranya melintas. Jangan-janga

