35 (c). Penolong

1250 Words
Percikan air seakan bernyanyi bersama pohon-pohon yang tumbuh tinggi. Menemani langkah kaki segerombolan manusia yang sekarang tengah terhenti sebab takjub dengan air terjun kecil di depan mereka. Judith yang awalnya tampak kelelahan jadi meloncat sebab gembira melihat air. Dibukanya boot yang ia pakai, tanpa peduli sekitar langsung berjalan menuju air. Begitupula dengan yang lainnya, mereka menyusul langkah semangat milik Judith. "Enak!" Judith riang, bersuara lucu sehingga menarik perhatian beberapa pasang mata. "Airnya lo cicip, Dith?" Celetukan asal tersebut berasal dari Cata yang kini sudah berada di sebelah Judith. Lelaki itu tertawa, lalu memercikkan air tepat di wajah Judith. "Iya! Mau apa lo?" Judith menekan gas untuk suaranya. "Capek nggak, Dith?" Amar tiba-tiba muncul ketika Cata baru saja ingin menjawab kalimat Judith. Judith tertawa dan memberikan siraman kecil pada Amar. Mana mungkin Judith kelelahan apabila disuguhi sesuatu semacam ini. Kehidupan Judith selama ini hanya seputar rumah, mobil, kemacetan, dan sekolah. Apabila terdapat waktu luang, tempatnya melarikan diri hanyalah mal. Judith mencuci muka, merasakan segar air di kulitnya. Ketika sadar akan sesuatu, ia buru-buru duduk tegap dan mendekatkan mulut ke telinga Cata. "Anggi, temen les lo itu, dia suka sama lo." Cata menoleh santai, "Terus?" "Terus apa?" Judith bertanya dengan raut bodoh. "Ya maksudnya, dia suka. Cuma kata Delvie, dia anaknya nggak baik. Tapi nggak tau sih gue juga nggak gitu kenal." Laki-laki bernama lengkap Alrescata Faeyza itu hanya memperlihatkan muka polos seakan-akan menunjukkan bahwa ia tidak peduli. "Lo nggak usah nolongin perempuan supaya deket sama gue lagi. Terakhir kali lo kayak gitu, lo hampir aja kenapa-napa, Dith." "Gue ngerti, Cat," balas Judith. "Tapi seenggaknya pikirin perempuan-perempuan yang dateng ke elo. Ngorbanin hati mereka, nggak peduli malu buat nyatain perasaannya duluan ke elo. Tapi selalu aja, mereka selalu dapet jawaban yang sama dari lo. Kalau lo nggak bisa nerima mereka." "Kayaknya lebih enakan bahas ginian di Jakarta, deh." Amar memberi saran yang terdengar lebih bagus. Diberinya tatapan pada Cata, tahu bahwa tentu saja hanya Cata yang mengerti maksud Amar. "Yaudah kalau gitu," turut Judith. Suara keras Alden terdengar, meminta agar segera naik dan mereka akan kembali melanjutkan perjalanan. Judith buru-buru kembali ke tempat dimana sepatunya berada. Sementara Amar dan Cata juga sibuk dengan keperluan mereka. "Nih." Uluran tangan berisi boot membuat Judith refleks mendongak. Rion langsung meletakkan boot tersebut di depan Judith. "Cepetan dipakai." "Kok mau sih pegang-pegang? Emangnya nggak kotor?" Rion mengedikkan bahu, "Anak alam masa mikirin kotor atau enggak." "Yah bukan gitu. Tapikan nggak enak kamu pegang-pegang sepatuku. Kalau bau gimana?" "Nggak bau, Lun." Rion bertahan pada kalimatnya. "Udah buruan dipakai." Judith akhirnya mengangguk, lalu dengan cepat memasangkan sepatu ke kakinya. Ketika ingin mengikat tali, tangan Rion lagi-lagi muncul dan menginterupsi gerakan Judith. "Pakai yang kirinya buruan." Judith sukses terdiam pada perlakuan Rion. Laki-laki itu terlihat fokus mengikatkan tali sepatu Judith. Judith tersadar dari lamunannya, buru-buru memakai sepatu sebelah kiri. Hal yang sama kembali terjadi. Rion memutuskan mengikatkan tali sepatu Judith, tetap dalam diam. Judith di tempatnya benar-benar sulit berpikir jernih. Bagaimana bisa laki-laki dingin tersebut melakukan sesuatu yang mampu membuat Judith mencair seperti coklat terkena panas? "Yon," panggil Judith kaku. "Nah, udah." Rion berdiri, menunduk menatap Judith yang masih terpaku pada sepatunya. "Kamu tadi ngapain?" lirih Judith bertanya. Rion mengernyit, "Aku? Bantuin kamu iket tali sepatu." "Buat?" Rion terdiam di tempatnya. Bingung harus menjawab seperti apa. Laki-laki itu hanya mencoba mengikuti perintah dari dirinya sendiri. Berharap bila ia yang mengikatkan tali sepatu tersebut, maka perjalanan Judith hingga ke tujuan akan aman. Dihelanya napas panjang guna menghilangkan gugup. "Ayo, Lun, jalan lagi." Judith hanya mengangguk pelan. Menuruti perkataan Rion untuk segera berdiri. Dua manusia itu benar-benar terlampau sibuk hingga tidak menyadari, ada lebih dari satu hati yang tersakiti karena melihat kegiatan manis mereka. • S B C P • Semakin lama, jalanan yang ditempuh menjadi semakin berat. Pohon-pohon tinggi menjulang seperti mengapit, jalan yang dilalui pun semakin kecil dan hanya dapat dilalui oleh satu orang. Judith bertahan di posisi yang sama seperti sebelumnya. Membiarkan Rion menjaganya dari belakang. "Jangan lupa minum, Lun," ujar Rion mengingatkan. Judith mengibaskan tangan, lalu tertawa kecil sembari menoleh singkat pada Rion di belakangnya. "Kamu sama aja kayak papaku, ingetin minum terus." "Emang kenapa?" "Enggak kenapa-napa. Lucu aja. Aku jadi kangen papa mama." Judith buru-buru membekap mulut sebab ucapannya. Bisa-bisa Rion berpikir bahwa Judith hendak merengek dan minta pulang. "Sabar, nanti juga pulang." Judith tersentak, Rion tidak mengejeknya. Perempuan itu tersenyum kecil dan menghela napas lega. Kembali difokuskannya diri untuk menapaki tanah. Ketika seorang lewat dari arah berlawanan, mereka semua buru-buru memberikan jalan. Judith terpaku, menatap wanita paruh baya yang sedang berjalan dengan karung berisi sesuatu di pundaknya. Anak perempuan itu benar-benar terdiam membayangkan, bagaimana bisa wanita tua yang seharusnya sudah menikmati hidup harus bekerja keras dengan sesuatu di punggungnya? "Permisi, Buk," ujar Judith begitu sopan ketika wanita itu sudah akan melewatinya. "Itu apa yang dibawa, Buk?" Wanita yang dipanggil ibu oleh Judith itu tersenyum. "Ini kopi." "Kopi?" "Untuk dijual di pasar. Biar nanti dapat beras, terus bisa bawa ke Wae Rebo. Bisa makan." Dengan logat khas sang ibu menjelaskan. "Naik turun gunung, Buk?" tanya Judith masih penasaran. "Iya, sudah biasa. Karena kalau tidak gini berarti tidak makan." Judith tersenyum penuh haru, dia benar-benar tidak bisa berkomentar banyak sebab kepalanya hanya diisi oleh dua kata, luar biasa. "Kalau gitu hati-hati, Buk," ujar Judith lalu membiarkan ibu tersebut lanjut berjalan. Sama seperti Judith, Rion pun mengucapkan hal yang sama. Mereka melanjutkan kembali langkah yang tertunda, ikut menyusul yang lainnya untuk terus naik agar segera sampai di pos ketiga. Kabut. Sesuatu yang akan didapati ketika mereka semakin tinggi. Judith menarik napas, berusaha membiasakan diri. Menanamkan dalam-dalam di kepala bahwa ia akan baik-baik saja. Judith berusaha untuk terus melihat ke depan, mengabaikan salah satu sisi dimana jurang tengah membentang. Membayangkan jatuh kesana, Judith sukses merinding. Judith menatap teman-temannya yang berjalan dengan punggung menyender pada tebing, sementara tubuh mereka ke arah jurang. Faktor jalan yang dilewati memang semakin kecil, sehingga jalan seperti itu akan dianggap lebih aman. Judith menarik napas, menoleh ke arah Rion dengan pandangan penuh harap. "Kamu bakal bantuin aku, kan?" tanya Judith pelan. Dia melihat teman-temannya yang sudah mulai berjalan, lalu kembali menatap Rion. Laki-laki itu mengangguk dengan senyum tipis. Maju selangkah di depan Judith dan mengulurkan satu tangannya pada perempuan itu. Judith tentu kaget karena kembali mendapatkan perlakuan semacam itu, namun dengan yakin Judith menerima dan menggenggam tangan Rion. Dia pasti bisa. Perlahan, Rion menyandarkan punggungnya ke tebing. Judith mengikuti gerakan tersebut. Dengan jantung berdebar, mencoba berjalan layaknya kepiting. Tidak hanya kondisi jalanan, namun genggaman Rion benar-benar sulit membuat Judith berpikir. Ia berusaha untuk tetap mendongak, tidak ingin melihat ke bawah untuk alasan apapun. Beruntungnya, jalanan yang sangat sempit tersebut tidaklah panjang. Sehingga saat Judith selesai, perempuan itu langsung membuang napas lega. "Nggak apa-apakan, Dith?" Pertanyaan tersebut muncul dari salah seorang teman. Judith mengangguk dibarengi senyum. Kemudian kembali lanjut berjalan. Sisa perjalanan menuju post ketiga dilalui Judith dengan ringan. Pun ketika mereka benar-benar mencapai post ketiga, Judith memilih duduk dengan cepat tidak peduli bahwa sekarang teman-temannya tengah takjub dengan pemandangan dari atas. "Judith!" Teriakan Delvie terdengar. "Akhirnya bisa ngobrol. Gimana tadi bareng Rion di belakang? Berhasil, ya?" Judith mendelik sebal, "Jangan bahas disini nanti ada yang denger. Gue nggak enak." "Kenapa?! Bagus dong pada tau." "Enggak mau." "Aneh." "Emang." Delvie refleks menghela napas, mengalah pada Judith. Ditepuknya bahu Judith pelan, memberi kode pada Judith untuk berdiri. "Nggak mau liat? Pemandangannya bagus loh. Lo bakalan bener-bener liat negri di atas awan." Judith menggeleng lemah, dia tidak bisa. Sedang Rion hanya memperhatikan gadis itu dalam diam. • S B C P •
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD