35 (b). Damai di Jalan

1405 Words
Keesokan paginya, mereka semua tampak semangat ketika sarapan. Penginapan yang terletak di tengah sawah benar-benar membuat mata termanjakan. Judith menatap sekitar, melihat remaja SMP dan anak SD yang berjalan di persawahan, tentu mereka akan pergi menuju sekolah. Judith menatap makanan yang memang tersaji apa adanya. Ia lantas tersenyum. Mengapa bisa tempat yang begitu kaya akan sumber daya alam hidup sangat sederhana. "Ini ngajarin kita buat nggak mudah buang-buang makanan." Alden melontarkan kalimatnya. "Kalau bukan karna orang-orang hebat kayak mereka, kita nggak akan pernah kenal sama yang namanya beras." "Juga, kesederhanaan disini wajib buat kita tiru. Nggak ada gunanya punya banyak uang kalau hidup kita nggak bahagia. Senyum orang-orang disini secara langsung kasih tau kita, kalau buat bahagia, itu nggak harus pakai uang." Salah seorang kakak tingkat perempuan menambahkan. "Kenal terus temenan sama alam, itu salah satu cara kita buat kenalan sama rasa syukur. Karna kalau kita ngambil terlalu sedikit, alam pasti kecewa. Sebaliknya, kalau kita ambil terlalu banyak, alam murka. Ambil secukupnya, terus jangan lupa bersyukur. Kalau kita bisa sayang sama alam, alam bakal nunjukin magicnya buat liatin sebesar apa cintanya buat kita." "Cakrawala?" teriak Alden keras sembari mengepalkan tangan. "For universe!" Mereka berujar serempak. "Universe?" "For all of us!" Gemuruh tepuk tangan terdengar. Merasa begitu bahagia pada hadiah yang diberikan alam untuk mereka. Judith sendiri juga ikut-ikutan tersenyum. Sementara dua orang lelaki yang tengah berdiri diam memperhatikan lantas juga ikut bertepuk tangan karena kagum. Amar dan Cata. "Harusnya kita sekolah disana, Cat." Amar bersuara, lalu kembali menyuapkan nasi ke mulutnya. "Gue seneng liat Judith yang sekarang." Cata tertawa setelahnya. "Sama," angguk Amar setuju. • S B C P • "Jadi, kalau di antara kalian ada yang capek, jangan malu buat bilang. Jalan semampu kalian, kalau nggak sanggup, kita berhenti sama-sama. Jangan maksain, jangan sombong, nggak ada yang namanya malu disini." Alden yang berdiri di depan hanya diperhatikan sekilas oleh Judith. Perempuan itu kesal, ketika ia ingin berdiri di sebelah Delvie dan Ceisar, Alden dengan tegas memintanya untuk berbaris di belakang. Judith mungkin akan menerima, apabila bukan Rion yang berada di belakangnya. "Kalau nggak kuat kamu bilang ke aku, Lun," ucap Rion berbicara lebih dekat pada kepala Judith. Judith tidak menoleh, mempertahankan posisinya. "Aku bisa kok." "Medannya lumayan berat." "Terus? Ya kalau capek aku tinggal teriak. Ngapain pakai bilang kamu segala." "Karena aku udah minta kamu sama Alden." Judith akhirnya menoleh juga. Pandangannya penuh tanya dengan rasa tidak terima. "Maksud kamu apa?" "Kamu butuh aku kalau-kalau kamu lewatin tempat yang bakal bangunin rasa takut kamu." "Ngomong apaansih?" semprot Judith langsung berharap Rion berhenti. "Aku tau kalau kamu takut sama ketinggian, Lun." Perempuan itu sukses terdiam, darimana laki-laki ini tau? Judith kembali melihat ke depan, memegang d**a untuk merasakan detak jantungnya. Rion benar-benar membuatnya sakit kepala. Lagipula, mereka tidak mungkin melewati jalanan dimana bagian sisinya terdapat jurang, bukan? Atau, mereka memang akan melewatinya? "Makanya aku pengen kalau kamu nggak ikutan kesini, Lun. Tapi kalau kamu emang keras pengen ikutan, seenggaknya izinin aku jagain kamu dari sekarang sampai besok kita balik kesini lagi." Judith menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. Kembali Judith berbalik, menatap Rion lurus-lurus. "Terus kenapa kamu nggak pernah bilang? Kenapa kamu simpen sendirian terus buat aku mikir kalau kamu emang nggak suka sama aku? Aku nggak suka omongan kamu yang nyakitin aku, Yon. Aku nggak suka cara kamu merlakuin aku. Aku nggak manja, aku nggak akan ngerengek kalau cuma itu yang kamu pikirin tentang aku." Rion diam sesaat, menatap Judith yang terlihat begitu sakit hati. "Maafin aku, Aluna. Aku salah." "Kenapasih orang-orang nganggep enteng kata maaf, terus dengan nggak mikirnya bisa ngulangin kejahatan lagi?" Judith tertawa sinis, memberikan tatapan itu tepat ke manik mata Rion. "Aku nggak butuh kamu!" Judith kembali menegaskan. "Itu yang di belakang, denger, kan?" Teriakan Alden membuat Judith buru-buru melihat dan mengangguk cepat. "Yaudah, kita mulai jalan sekarang." Langkah kaki mereka mulai bergerak, meninggalkan titik dimana mereka sibuk berbincang tadi. Judith sendiri berusaha untuk tidak memperdulikan Rion. Ia terlampau sibuk meniti jalanan tanah bebatuan di depannya. Takut-takut jika nanti ia terjatuh. Judith juga terlihat tenang, sebab jalan yang mereka lewati masih terbilang lebar. Anak perempuan sesekali melirik ke samping dimana Rion juga sudah berjalan di sebelahnya. "Lun," panggil Rion berharap Judith menjawabnya. Dia takut apabila Judith terlalu serius dan pada akhirnya cepat kelelahan. Judith menoleh, "Kenapa?" "Kamu pernah daki gunung?" "Ini yang pertama." Rion diam, tampak mengangguk pada jawaban Judith. Laki-laki itu kini sibuk memikirkan sesuatu di kepala. Dihelanya napas panjang, menatap teman-teman yang berjalan di depan sementara Rion bisa saja menyusul. Namun melihat Judith yang sejak tadi berjalan pelan, Rion tidak mungkin meninggalkan perempuan ini sendirian. "Kuala Lumpur," celetuk Rion setelahnya dan Judith sukses menoleh. "Aku pindah kesana. Aku nggak bilang sama kamu, karena ada hal yang menurutku nggak seharusnya aku kasih tau siapa-siapa." Judith yang memang pada dasarnya sulit menahan diri, berubah penasaran pada Rion. Ditatapnya Rion lekat sementara langkah kakinya terus maju. Jadi selama ini Malaysia, tempat Rion pergi lama tanpa memberikan kabar apapun. Judith tersentak, tidak hanya pada batu yang sukses membuatnya tersandung, tapi juga karena Rion yang sekarang sedang memegang erat lengan kiri Judith. Jantung perempuan itu menggila, buru-buru menyadarkan diri atas apa yang terjadi. "Hati-hati, Lun," ujar Rion memperingati. Judith tidak memberikan reaksi apapun melainkan langsung menembakkan pertanyaan. "Termasuk aku?" "Apa?" "Orang-orang yang nggak seharusnya tau alasan kepindahan kamu. Termasuk aku?" "Harusnya, iya." "Jadi apa?" tanya Judith cepat, benar-benar terlihat tidak sabaran. Rion memperlihatkan senyum samar, ia ingin sekali berbagi cerita kepada Judith. Namun lagi-lagi ketakutan itu seperti berteriak padanya. Bagaimana nanti jika Judith bereaksi sama seperti teman-teman Rion yang dulu. Atau yang lebih buruk, Judith bisa saja pergi setelah mengetahui alasannya. "Lun." Rion menatap mata Judith yang berisi harap akan penjelasannya. "Adik aku suka sama sweater pink-nya." Judith lantas tersenyum. Dirinya memang mudah sekali terbawa arus dan terpengaruh. Topik adik yang dibawa Rion berhasil membawa Judith melupakan topik serius sebelumnya. "Adik kamu bilang apa?" "Dia bilang, dia pengen ketemu sama orang yang udah ngasihin dia sweaternya. Terus bilang makasih langsung ke orangnya." Judith mengerjap, "Adik kamu mau ketemu aku?" Rion mengangguk, "Iya." Judith refleks tertawa karena perasaannya melambung. Dia tidak percaya bahwa adik Rion begitu sopan sehingga ingin mengatakan terimakasih secara langsung. "Tapi, Lun---" Tawa Judith terhenti, dia malas jika di dalam kalimat bahagia ternyata terdapat kata sambung tapi yang kadang kala selalu memacu adrenalinnya. Judith menatap Rion, cemas menunggu lanjutan laki-laki itu. "Sweater yang kamu kasih, aku tau harganya nggak murah." "Apaansih, Yon, jangan bahas gituan." "Enggak, kamu dengerin dulu." "Iya ini aku dengerin." Rion menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. "Jadi buat bales apa yang udah kamu kasih ke aku---" "Kamu udah bales kok. Pakai pudding waktu itu." "Lun, dengerin aku dulu." Judith membekap mulutnya, menunjukkan senyum bersalah. "Nggak mungkin satu cup pudding yang aku kasih bisa dibandingin sama apa yang udah kamu kasih. Jadi nanti, waktu kita udah balik ke Jakarta, aku mau ajak kamu jalan. Boleh?" "Boleh banget!" Judith meringis setelah menjawab dengan semangat. Rasanya malu. Rion sendiri merasa lega, sebab dilihat dari cara Judith menanggapinya, perempuan itu sepertinya sudah memaafkan Rion. Laki-laki itu tersenyum kecil, lalu kembali melihat ke depan. Dia harus mencari cara bagaimana jujur kepada Judith malam ini. Sementara itu, perjalanan mereka terus berlanjut. Judith tengah memperbaiki napasnya dan mencoba menyeka keringat di dahi. Kakinya terasa sakit. Judith memutar tutup air mineralnya, dengan cepat meneguk air. Mereka tengah menyeberangi sungai kecil dangkal dengan batu-batuan besar yang berada di dalamnya. Batu-batu itulah yang dijadikan pijakan untuk menuju seberang. Rion memperhatikan Judith ketika giliran perempuan itu tiba. Merasa tidak tega melihat Judith kelelahan. "Kalau capek berhenti dulu," ujar Rion kembali mengingatkan. Judith menggeleng, "Katanya bakalan ada beberapa air terjun ya nanti?" "Iya," jawab Rion. "Kenapa?" "Pengen berhenti disana aja. Lagian kalau disini juga sama aja, panas." "Jangan diem-diem, Lun. Ngobrol aja." "Eh bentar deh," celetuk Judith ketika ia ingat akan sesuatu. Perempuan itu menoleh, berjarak cukup jauh dari rombongan, Judith dapat melihat Cata dan Amar yang tengah berbincang dengan tongkat kayu di tangan mereka. Judith ingin memanggil, namun rasanya benar-benar tidak kuat untuk berteriak. Rion ikut-ikutan melihat dan mengerti. "Kamu kenapa bisa temenan sama mereka?" Judith tersadar, ditatapnya Rion terkejut lalu tersenyum. "Ceritanya nggak enak banget, Yon. Pokoknya kita mulai temenan dari SMP, ya gimana ya, aku udah nganggep mereka kayak saudara sendiri." Rion diam, terlihat mengangguk mengerti walau di dalam dirinya terdapat ketakutan yang tidak bisa ia mengerti. Melihat Judith begitu dekat dengan kedua laki-laki tersebut entah kenapa kerap membuat Rion terjentik. Dia menginginkan posisi itu, sejujurnya. • S B C P •
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD