Mereka baru saja tiba di Bali dan akan melanjutkan perjalanan menuju Bandara Udara Komodo Labuan Bajo. Judith berjalan sedikit cepat setelah membaca pesan dari Amar dan Cata. Senyumnya merekah ketika melihat dua orang lelaki tengah tersenyum sambil melambaikan tangan. Cata yang tetap cool tersenyum sementara Amar sudah membuka tangan lebar.
Judith memeluk Amar dengan semangat. Lalu Cata ikut bergabung sehingga Judith sukses dihimpit. Mereka bertiga tertawa, membuat tatapan penasaran dari teman-teman yang lain terlihat jelas. Tidak hanya Rion, namun Alden juga memberikan tatapan tidak terbaca.
Mereka menyudahi acara pelukan hangat tersebut. Dengan semangat dan wajah berbinar bahagia, Judith bersuara. "Seneng banget!" Sebab ini kali pertama untuknya berada jauh dari orangtua. Bersama Amar dan Cata pula.
"Dith," ujar Cata pelan memberi kode pada Judith.
"Kenapa?"
"Temen-temen lo pada liatin kita."
Judith balik badan. Benar saja, hampir semua pasang mata melihatnya. Judith menunjukkan senyum bersalah. Lalu melambaikan tangan kembali ke arah Cata dan Amar sebagai tanda bahwa Judith harus segera pergi. Perempuan itu mendekat lagi, dan Alden langsung menghalangnya.
"Mereka siapanya lo?"
"Temen, Kak." Judith menjawab dengan kikuk.
"Orang sini?"
Judith mengerjap, bagaimana jika Judith salah sebut dan pada akhirnya Alden akan mendepak Judith dari karir yang bahkan belum sempat Judith mulai. Perempuan itu bergidik ngeri.
"Bukan, Kak. Samaan orang Jakarta juga. Kebetulan banget mereka bakalan ke Wae Rebo. Makanya bisa ketemuan disini."
"Lo nggak lagi bikin rencana, kan?" Alden menaruh curiga dan Judith cepat-cepat menggeleng. "Ya jangan sampai tenaga gue buat bela-belain lo di depan Rion kemarin kebuang sia-sia gitu aja karna ternyata lo disini ada maksud sendiri."
"Enggak kok, Kak." Judith berusaha meyakinkan Alden.
"Ya semoga. Karna siapa tau lo sengaja biar bisa liburan bareng temen-temen lo. Kalau sampai gue tau hal-hal aneh, gue nggak takut buat pulangin lo ke Jakarta lagi."
"Siap, Kak! Pulangin aja kalau misalnya aku emang salah."
Alden menghindar, kembali meminta Judith bergabung agar tidak menghilang kemana-mana. Mereka akan melanjutkan kembali perjalanan. Judith sendiri menghela napas, sedikit merasa bersalah. Walau dia memang sangat ingin berpergian bersama Amar dan Cata, bukan berarti dia akan memanfaatkan ekstrakurikuler ini sesuka hatinya. Judith berada disini karena memang dia ingin. Judith tidak akan lagi membatasi jumlah temannya atau apapun hal yang dapat membuatnya tumbuh sendirian. Sebab Judith berharap agar masa putih abu-abunya dapat berjalan seperti yang ia harapkan.
Judith menghela napas, mulai melangkahkan kakinya mengikuti langkah teman yang lain.
"Dith," panggil seorang teman perempuan. Judith menoleh, menemukan Anggi tengah tersenyum padanya.
"Kenapa, Nggi?"
"Salah satu dari mereka, pacar lo?"
Judith tersedak, matanya melotot tidak percaya. "Enggak kok. Itu temen dua-duanya."
"Temen?" Anggi terlihat bingung.
"Iya, kan udah gue bilang juga tadi waktu jawab pertanyaannya Kak Alden. Mereka temen gue."
"Syukur deh," hela napas Anggi membuat Judith langsung penasaran.
"Lo suka?" tanya Judith hati-hati.
"Cata." Ah, Judith melotot dengan pikiran yang saling menyambungkan beberapa kejadian. Anggi tentu saja perempuan yang tadi mendatangi Cata dan memperkenalkan diri sebagai teman satu les lelaki itu. Sayangnya, Cata tidak ingat. "Dia, belum punya pacarkan, Dith?"
Judith melambaikan kedua tangannya di depan d**a, pertanda tidak. "Belum kok."
Anggi tersenyum pada Judith sebelum berlalu untuk berjalan lebih dulu. Judith menggelengkan kepala, tiba-tiba saja memikirkan bagaimana keadaan Anggi nanti apabila ia terlalu memaksakan untuk dekat dengan Cata. Judith hanya takut apabila perempuan itu harus berakhir bersama air mata. Sebab Cata bukanlah laki-laki yang memiliki tingkat ketertarikan tinggi untuk sekedar berpacaran. Dia lebih suka berteman.
"Anggi ngapain?" tanya Delvie yang tiba-tiba datang sambil merangkul Judith.
Judith menggeleng, "Enggak. Cuma ngobrol nggak penting."
"Masa? Terus lo nanggepin dia kayak gimana?"
"Ya emangnya gimana lagi? Kayak biasa."
Delvie menggeleng, melipat kedua tangan di depan d**a. Tatapan tajamnya lurus menuju punggung Anggi. "Gue di ekskul udah dari awal, Dith. Walaupun nggak sekelas sama Anggi, tapi gue tau gimana orang-orang sering nilai dia nggak baik. Buktinya tadi waktu lo lagi pelukan sama Cata Amar, tatapan Anggi ke elo sinis banget. Ya pokoknya mending hati-hati aja."
"Siap!" Judith memberikan pose hormatnya kepada Delvie. Namun bukannya tersenyum, Delvie malah memukul topi Judith sehingga wajah Judith sukses tertutup. "Tai lo."
• S B C P •
Rion diam di kursinya, melayangkan tatapan menuju pemandangan sempurna di bawah sana. Dimana nusa-nusa yang tersebar di antara perairan Laut Bali dan Flores benar-benar membuat lelaki itu bersyukur menjadi orang Indonesia. Tidak hanya itu, Rion rasanya akan mati menyesal apabila tidak pernah kembali lagi ke negara ini. Mulai dari nusa kecil, besar, dan lebih besar lagi. Laki-laki itu seketika berpikir bagaimana kekuatan pahlawan mengusir penjajah untuk mempertahankan Indonesia yang benar-benar kaya akan pulau. Sebuah negara kepulauan, itulah Indonesia. Rion langsung merinding dengan hal tersebut.
"Kebayang nggak kalau Indonesia tuh sebenernya kaya banget?" Suara Ceisar membuat Rion menoleh dan mengangguk. "Dua tahun lalu gue sempet ke Labuan Bajo. Liat pemandangan yang sama kayak sekarang waktu di pesawat. Gue dateng dari kota gede yang lo tau sendirikan Jakarta kayak apa? Gue bener-bener kepukul waktu di Labuan Bajo. Mereka emang punya pemandangan yang nggak akan pernah bisa lo temuin di Jakarta. Tapi, lo nggak akan temuin orang-orang mobil mahal sama jas rapi disana. Tanah mereka kaya, tapi mereka nggak rakus. Mereka selalu ambil sesuatu sesuai sama porsinya. Nggak lebih, nggak kurang."
Rion tersenyum pada ucapan bijak milik Ceisar. Sebab benar, segala hal yang Ceisar katakan memang benar adanya. Rion menarik napas, kembali menatap pemandangan indah karya Yang Kuasa. "Sebanyak ini pulaunya, tapi nggak ada satupun pulau yang kabur kebawa arus. Mereka diiket sama air, sama takdir. Dan mereka terima kalau mereka emang harus ditempatin disana. Itu buat gue mikir, kalau kata-kata lo waktu itu emang bener. Araz nggak pernah minta buat sakit, tapi karna takdir yang udah bicara, buat adek gue harus nerima semuanya."
Ceisar menepuk pelan bahu Rion, "Terus, Araz bilang apa waktu lo pergi?"
"Dia nggak tau." Rion menggeleng. "Cuma bunda sama Aksa yang tau."
Ceisar terlihat mengangguk samar, kembali mengarahkan pandangannya ke arah lain bahkan sampai menggerakkan badan untuk melihat kondisi di belakang. Disana, berjarak dua kursi darinya, Ceisar dapat melihat Judith. Laki-laki itu tersenyum geli, disaat semua orang tengah menikmati pemandangan, Judith tengah enak tertidur. Padahal tadi, ketika penerbangan ke Bali, Judith juga menghabiskan waktu dengan tidur.
Ceisar memperbaiki kembali duduknya, lalu mendekat pada telinga Rion. "Cewek lo tidur mulu."
Rion menoleh, tidak berkedip sebab kaget. "Dia nggak duduk di jendela?"
"Enggak," geleng Ceisar.
"Tadi?"
"Yang ke Bali? Sama, juga enggak. Makanya gue bilang cewek lo tidur mulu. Pantesan waktu keluar pesawat tenaganya banyak banget buat meluk tuh cowok-cowok."
Rion menghela napas panjang. Kembali sibuk bersama pikirannya. Jika memang tebakannya tidak salah, Judith tentu masih takut akan ketinggian. Laki-laki itu seketika merasa panik. Dengan fokus, ia mencoba memikirkan bagaimana caranya agar dapat terus menjaga Judith tepat di balik punggung perempuan itu.
Sepertinya Rion harus mencoba untuk berbicara pada Judith lebih dulu. Tidak peduli bagaimana penolakan perempuan itu nanti. Setidaknya, Rion mencoba. Dirinya hanya tidak terima kala melihat Judith berpelukan dan tertawa lepas bersama teman laki-lakinya. Sementara Rion, hanya mendapati wajah minim ekspresi dari Judith. Menurutnya, itu tidak adil.
"Udahlah, nggak usah diurusin banget." Rion berujar pada Ceisar, lalu memperbaiki lagi duduknya. Laki-laki itu kembali tenggelam bersama pikirannya.
• S B C P •
Judith tersenyum lebar ke arah Delvie, mereka sudah tiba di Labuan Bajo dan tengah menuju mobil yang akan membawa mereka ke Dintor. Mereka memang sengaja menyewa beberapa mobil disebabkan karena jumlah anggota. Semuanya sudah diurus. Tinggal masuk menurut nama dan tidak akan bertukar-tukar posisi selama perjalanan.
Mereka kembali berbaris atas intruksi Alden, Rion, dan guru pembina. Judith memilih tetap berdiri di bagian ujung belakang agar kepalanya mudah mencari Amar dan Cata. Kedua laki-laki itu juga sudah tiba, dan sepertinya tengah mengurus transportasi.
"Jadi, gue bakal sebutin posisi kalian di mobil yang mana." Alden bersuara dan mulai membacakan nama. Judith menahan napas sebab namanya belum juga disebut, sementara Delvie sudah aman di mobil ketiga. Ah, bagaimana pula Judith dapat berharap banyak sedangkan ia baru saja bergabung kemari.
"Mobil terakhir, itu ada gue, Judith, sama semua anak OSIS." Judith sukses kaget. Kenapa dia bisa-bisanya bergabung bersama Ketua ekstrakurikuler dan anak OSIS. Judith membuang muka, lalu menurunkan topinya agar mukanya semakin tertutupi. Dia benci posisi semacam ini.
"Kenapa Judith bisa di akhir, Kak?" Suara tanya Delvie terdengar, perempuan itu terlihat khawatir.
"Kenapa? Gue nggak mungkin main pindahin dia ke mobil lain. Nggak bisa seenaknya gitu."
Anak lain mengangkat tangan, "Berarti Kakak yang bawa mobilnya?"
Alden terlihat mengangguk, "Jalannya nggak bagus, cuma gue masih bisa. Tenang aja."
Mereka akhirnya terlihat bergabung dengan kelompok masing-masing, sementara Judith sudah terlihat bahwa ia ingin sekali melarikan diri. Pergi jauh-jauh hanya untuk berada satu mobil bersama Rion? Bukan itu yang Judith inginkan. Dan perjalanan menuju Dintor bukanlah perjalanan singkat. Membutuhkan waktu 8 jam untuk kesana.
Judith sudah akan melangkah pergi, niatnya menuju kamar mandi. Namun seseorang menginterupsi gerakan Judith. Alden, menatapnya penuh tanya.
"Mau kemana?"
"Oh enggak, enggak mau kemana-mana."
"Yaudah, ke mobil sekarang."
Judith mengangguk cepat, lalu berjalan lebih dulu. Dilepasnya backpack yang sejak tadi ia sandang, membuka ritsleting untuk mengambil tas berukuran kecil yang berisi s**u dan minyak telon. Judith meringis, dia malu sebenarnya. Namun keadaan memaksanya untuk membawa benda tersebut bersamanya selama di dalam mobil. Judith hanya takut apabila dirinya tidak mampu menahan rasa mual dan pusing apabila nanti jalanan yang dilalui memang parah. Lebih baik sedia payung sebelum hujan.
"Dith," panggil Alden dan memberikan kode agar Judith segera masuk.
Gadis itu mengangguk, lalu mendekat menuju pintu mobil. Judith menahan kagetnya ketika melihat Fatisa dan Alisa sudah duduk di bangku penumpang tengah. Sementara Ceisar dan Rifki sudah tenang di belakang. Pertanda bahwa Rion duduk di depan bersama Alden. Judith masuk, lalu tersentak akibat pintu mobil yang ditutup oleh Alden.
"Itu apaan, Dith?" tanya Ceisar sambil melirik ke arah tas yang Judith ambil tadi.
Judith menggeleng, "Bukan apa-apa kok, Kak."
Judith kembali melihat ponsel, buru-buru mengirim pesan untuk mengabari orangtuanya bahwa ia telah tiba dan akan berangkat menuju Dintor. Beberapa saat kemudian, Judith hanyut oleh candaan kedua orangtuanya. Amar dan Cata pun tidak luput memberi Judith guyonan. Setidaknya, mood Judith sedikit lebih baik.
"Hp lo disimpen. Kalau udah ngabarin, yaudah. Jangan malah kelewatan."
Judith meneguk salivanya susah payah, semua pandangan tentu saja menuju pada Judith. "Iya, Kak."
Anak perempuan itu akhirnya memusatkan perhatian pada jalanan di luar. Dia sibuk berpikir sendirian. Ah, bagaimana pula Judith dapat tertawa bergurau bersama sementara ia hanya dikelilingi oleh anggota OSIS dan sang ketua ekstrakurikuler. Judith tidak berani. Dia takut dimakan hidup-hidup.
"Ada yang punya minyak nggak?" Judith menoleh dan melihat Alisa tengah memegang kepala.
"Aku punya nih, Kak," celetuk Judith tidak sadar. Sesaat kemudian perempuan itu sukses merutuki dirinya. "Eh tapi---" Judith kebingungan, dia benar-benar malu bila harus menunjukkan minyak telonnya. Namun, Alisa terlihat benar-benar membutuhkan.
"Ada nggak?" tanya Alden. "Kalau ada gue nggak harus berhentiin mobil buat ambil di dalem tas."
Judith akhirnya mengangguk dengan cepat. "Ada kok, Kak." Alhasil, Judith membuka tas yang ia pegang dan berjaga-jaga agar tidak ada yang melihat isinya. Dimasukkannya tangan, sudah hapal dengan benda yang akan ia ambil. "Tapi, cuma minyak telon, Kak."
Satu mpbil sukses berpandangan, terlebih Ceisar yang shocked. Laki-laki itu langsung saja bersuara. "Serius? Lo masih pakai minyak telon?"
Judith tidak memberikan respon apapun karena ia terlampau malu. Beruntungnya, Alisa tetap mengatakan terimakasih sembari menerima minyak dari Judith.
"Makasih ya, Dith."
"Sama-sama, Kak."
"Dith, mau liat isi tas lo dong." Judith menunjukkan eskpresi tidak sukanya kepada Ceisar.
"Jangan kepo gitu dong, Kak."
Ceisar tampak menganggukkan kepala. Pura-pura terlihat mengerti. Namun ketika Judith lengah, laki-laki itu kembali berulah. Diambilnya tas milik Judith sehingga perempuan itu sukses berteriak.
"Kak Ceisar!" teriak Judith tidak terima lalu berusaha menggapai kembali tas miliknya.
Ceisar menghalang dengan tangan, buru-buru membuka tas milik Judith dan terdiam. "s**u? Rasa pisang?" Tawa Rifki, Fatisa, dan Alisa pecah sebab menganggap apa yang Judith bawa merupakan hal lucu. Muka Judith berubah merah, dia benar-benar malu. "Terus ini? Permen tangkai?"
"Ceis, nggak usah gangguin siapa-siapa bisa?"
Ceisar angkat tangan, "Iya udah, nggak gangguin Judith lagi."
"Kurang-kurangin iseng lo kalau misalkan orang yang lo isengin nggak suka sama cara lo." Alden menyambung walaupun tatapannya lurus ke depan. Ceisar mengembalikan tas milik Judith sembari meminta maaf, perempuan itu hanya mengangguk menanggapi. Sepertinya Judith tidak perlu lagi menyembunyikan, sebab mereka sudah tahu apa yang Judith bawa.
Judith mengambil satu kotak susunya, lalu menawarkan pada yang lain. "Ada yang mau? Tapi aku cuma bawa lima."
Ceisar buru-buru angkat tangan, dan Judith merengut. Dia tidak berniat memberikan s**u tersebut kepada laki-laki usil seperti Ceisar.
"Tadi lo nawarin," ujar Ceisar tidak terima.
"Aku emang nawarin ke semua, kecuali Kak Ceisar."
Tidak ada yang berniat sepertinya untuk mencoba s**u rasa pisang tersebut kecuali Judith. Jahatnya, Judith malah mengucapkan syukur dalam hati sebab kelima s**u tersebut sukses menjadi miliknya. Baru akan menyentuh sedotan, Judith dikagetkan pada gerakan Rion yang tiba-tiba berbalik ke arah Judith.
"Berarti kamu nawarin ke aku, kan?" ujar Rion dengan senyum. Judith terpaku, tersihir akan senyum sialan laki-laki itu yang biasanya sangat jarang Rion tunjukkan. Andai saja Judith dalam kondisi baik, mungkin dia sudah akan memotret senyum sempurna itu. "Atau aku juga nggak bisa?"
"Hah?"
"Kamu bilang kecuali Ceisar. Berarti aku ditawarin, kan?"
Judith menunduk, perlahan memasukkan tangan ke dalam tas miliknya. Dan sedikit bergetar, ia memberikan s**u tersebut pada Rion.
"Makasih, Lun." Rion kembali tersenyum setelah bersuara sangat manis. Kembali memperbaiki duduk agar melihat ke depan.
Sementara Judith masih saja terlihat bodoh dan menggemaskan. Ketika sadar, Judith dengan cepat merespon. "Sama-sama."
• S B C P •