34. Judith Siap!

1582 Words
"Susunya dibawa aja!" Nadine memaksa sembari memasukkan berkotak-kotak s**u ke dalam tas bahu yang akan dibawa Judith. Judith menggeleng cepat. "Mam, Judith nggak mau dikata-katain cuma karna bawa ginian." "Dikata-katain gimana?" Nadine bersuara dengan raut bingung. "Dibilang anak kecil?" "Bukan gitu, Mam. Temen-temen yang lain tuh pasti nanti pada minum kopi pait, minum teh tawar, masa Judith minumnya s**u. Sengaja dibawa dari rumah pula. Kalau Judith dikatain bukan anak alam gimana?" "Bilang aja kamu anak Mama Nadine." "Mama!" Judith merengek, membuat Nadine jadi tertawa sebab anaknya terlihat tengah berusaha keras. "Yaudah, maunya gimana?" "Ya bawa yang normal aja, Mam." "Tapi susunya dibawa aja. Kali aja nanti Judith susah tidur. Kalau malu, minumnya diem-diem." Judith menghela napas panjang, tidak paham pada mamanya. Selepas makan malam, Judith memang menghabiskan waktu di ruang keluarga bersama sang mama untuk menyusun barang-barang. Sedangkan papanya tengah keluar untuk membeli keperluan Judith yang lain. "Ini nih, Mam, ngapain juga pakai koper? Judith bawa tas backpack aja. Mana ada orang ke alam bebas geret-geret koper." Nadine tampak mengangguk juga, lalu berdiri dan masuk ke kamarnya. Judith kembali sibuk melihat barang-barang yang memang ia perlukan. Beanie, kaus kaki, dan selimut kecil. Sebab Judith sudah diberi tahu bahwa mereka tidak akan menginap di dalam tenda seperti yang Judith bayangkan. Mereka akan tinggal di dalam rumah yang memang menjadi ciri khas Wae Rebo sendiri. Anak perempuan itu memilih meninggalkan benda-benda yang akan membuatnya terlihat manja. Judith malas diremehkan seperti beberapa waktu lalu. Laki-laki itu harus melihat seperti apa perjuangan Judith nanti ketika mereka dalam perjalanan. Ah, Judith jadi makin geram apabila mengingat sikap dan perkataan Rion padanya. "Nah ini!" Nadine muncul, dengan tas backpack warna biru navy. Buru-buru duduk kembali di hadapan Judith dan membantu putrinya menyusun pakaian yang akan dibawa besok untuk perjalanan. "Mam, nanti jangan kangen Judith, ya." Judith menunjukkan senyumnya ketika melihat sang mama. Sementara tangannya sibuk memasukkan beberapa permen ke dalam pocket kecil. Untuk beberapa hari ke depan, mama dan papanya akan kembali berdua. Judith sendiri merasa menjadi anak berbakti, sebab sudah memberikan waktu kepada orangtuanya. "Kalau kangen tinggal nyusul. Gampang." Nadine tidak menatap Judith, remaja itu sudah memasang wajah sebal akibat ucapan sang mama. Nadine sendiri sadar, bahwa banya perubahan yang terjadi pada Judith. Diulurkannya tangan, bermaksud mencubit pelan pipi bungsunya itu. "Mam, Judith baru sadar deh kalau dulu waktu kecil Judith bandel banget." "Sampai sekarang," ralat Nadine dan Judith refleks melotot. "Enggak! Sekarang udah mendingan. Dulukan Judith selalu keluar rumah. Sampai papa nyebut Judith si Bolang. Main tanah, tiduran di rumput terus malemnya nangis karna gatel." "Dikejar anjing, maling mangga tetangga, lemparin anjing orang pakai sandal, sandal mama dipotong katanya buat prakarya." Judith meringis dan membuang muka. Kenapa mamanya malah menyebutkan semuanya?! "Tapikan udah enggak lagi, Mam." Judith membela diri. "Iya, udah enggak lagi. Disana hati-hati. Selagi ada jaringan kabarin Mama atau papa. Denger kamu, Dek?" "Iya, denger." "Tapi, Dek, kamu ada ngambil buku mama?" tanya Nadine dan Judith melotot sebab ternyata ia ketahuan. Pagi tadi, Judith memang masuk ke dalam ruang kerja Aldric dimana terdapat rak buku yang menyimpan buku-buku milik mamanya dulu. Ruangan itu juga sudah seperti perpustakaan pribadi. Judith mengangguk, mengaku pada ulahnya yang tidak baik. "Judith lupa bilang sama Mama." "Katanya udah nggak bandel lagi." Nadine tertawa. "Itu apa?" "Ya lagian takut Mama marahin soalnya Judith ambil banyak bukunya." "Emang ambil berapa?" "Sepuluh, yang tebel lima yang biasa aja lima." Nadine menghela napas, "Besok, bilang dulu. Mama nggak masalahin jumlahnya. Selagi emang ada manfaat buat orang lain ya lanjut. Tapi Judith nggak izin." "Iya, Mam, maafin Judith." Obrolan itu terus berlanjut bahkan setelah Aldric pulang. Mengisi jam-jam Judith sebelum ia naik ke kamar untuk tidur. • S B C P • Bujangan Arab: Dimana, Dith? Ustad Cata: Dith, kita udah di bandara. Berangkat duluan kayaknya. Nanti kita ketemuan dulu bentar di Bali. Judith membaca pesan dari kedua temannya. Ia tersenyum sebab Amar dan Cata benar-benar melakukan apa yang kemarin mereka katakan. Judith pikir hal itu hanya sebatas wacana, dan dia hampir saja kecewa. Judith Aluna: Iya, ini gue masih di jalan. Bujangan Arab: Kayaknya kita liat anak-anak Cakrawala. Judith Aluna: Biarinlah. Judith Aluna: Pura-pura nggak tau aja. Bujangan Arab: Ya menurut lo gue mau nyapa mereka satu-satu? Bujangan Arab: Gila lo? Judith Aluna: Ya maksud gue kali aja ada yang lo kenal atau mereka kenal lo. Ustad Cata: Enggak ada kayaknya. Ustad Cata: Eh? Judith Aluna: Kenapa, Cat? Bujangan Arab: Buset ada yang jalan ke kita. Bujangan Arab: Anjir dia kenal Cata. Judith Aluna: Hah? Judith Aluna: Siapa? Bujangan Arab: Woi pernah satu les ternyata. Bujangan Arab: Cata bego dia lupa. Judith Aluna: Siapa? Gue nanya. Judith tersentak ketika mamanya yang tengah duduk di kursi penumpang memanggil. Diabaikannya ponsel untuk sesaat, kemudian menjawab pertanyaan mamanya. "Iya, Mam, mereka ikutan." "Kok bisa? Berarti besok sekolahnya izin?" Judith mengangguk sebab hari ini memang tanggal merah. "Iya, katanya butuh liburan." "Baru aja liburan," ujar sang papa. Judith membenarkan, "Tapi mereka liburan kemarin nggak kemana-mana, Pa. Makanya pengen ikutan sekalian liburan bareng Judith. Gitu katanya. Ya gimana ya, Pa, anak papa artis sih. Banyak fansnya." Aldric sontak tertawa. Merasa geli terhadap ucapan putrinya. Judith sendiri kembali melihat ponsel dan saling berbalas pesan bersama kedua sahabatnya. Sampai satu kalimat yang dikirim Amar membuat Judith terdiam. Bujangan Arab: Rion tadi liatin kita kayak bingung. Judith terdiam. Jemarinya menekan-nekan pipi tanda sibuk dengan pikirannya. Ia sebenarnya bersemangat untuk perjalanan kali ini, hanya saja perempuan itu tengah terbebani akan hubungannya bersama Rion. Jika saja Rion tahu bahwa Judith tersakiti dengan ucapan lelaki itu beberapa waktu lalu, akankah ia mau meminta maaf? Ya, setidaknya Judith berhak menerima permintaan maaf Rion. Jika tidak, maka Judith pikir dia harus mencoba menjauhi Rion untuk sesaat hingga lelaki itu sadar. "Dek," panggil Aldric dan Judith kembali menolehkan kepalanya dari jendela. "Kenapa, Pa?" "Nanti banyakin minum air putih. Jangan kekurangan cairan soalnya kamu ngedaki gunung. Jangan bikin Papa nyusul. Kalau masih ada signal kabarin Papa atau mama." Judith mengerjap, sadar bahwa ucapan papa dan mamanya teramat mirip. Judith hanya mengangguk. Tentu saja dia akan menjaga diri dan membuat seseorang mengakui Judith di perjalanan ini. Judith tidak akan menyusahkan, apalagi merengek mengatakan pulang. Sepuluh menit kemudian, mobil yang dikendarai sang papa sudah terparkir. Judith turun duluan dari pintu kanan, disusul papanya yang sedang memakai topi hitam. Papanya memang terlihat keren dengan kaus santai. Judith berjalan menuju bagian depan mobil, sang mama langsung menyambut dan mendekap Judith erat. Dari kejauhan, Judith dapat melihat Delvie yang berjalan bersama Ceisar. "Delvie!" panggil Judith sehingga perempuan yang dipanggil lantas menoleh. Delvie mendekat sembari berlari. Tampak semangat sebab akhirnya menemukan Judith. "Hai!" ujar Delvie lalu terpaku pada Nadine. Benar saja, Delvie memang pernah bertemu dengan Nadine beberapa kali ketika ia memutuskan belanja di butik wanita itu. "Tante Nadine, kan? Delvie, Tante." "Ini yang namanya Delvie? Judith sering cerita tentang kamu loh." "Delvie beberapa kali sempet dateng ke butik, Tan. Judith juga bilang kalau Boutique de espérer punya Tante." "Oh gitu," respon Nadine senang. Membayangkan Judith berteman bersama perempuan seperti Delvie membuat Nadine puas. Akhirnya, sang anak mau membuka diri. Delvie mengangguk, lalu beralih pada pria bertopi yang tengah membawa backpack warna biru navy. Delvie gantian mengulurkan tangan dengan sopan. Sesaat sibuk dengan pikirannya. Delvie mengerti, darimana Judith mendapatkan wajah cantik seperti sekarang. "Saya Delvie, Om." Aldric tersenyum menanggapi Delvie, lalu menoleh pada Judith. "Nih, backpacknya. Papa tinggal dulu sebentar." Judith mengangguk, menerima backpacknya dan mulai berjalan beriringan bersama Delvie dan mamanya. Dapat Judith lihat dari tempatnya berjalan, gerombolan anak-anak Cakrawala yang sibuk tertawa. Mereka bergabung walaupun Judith masih ditemani oleh Nadine. Beberapa anak datang dan menyapa Nadine, menunjukkan sopan santun mereka. Nadine tersenyum menanggapi teman-teman baru Judith. Benar-benar merasa lega sebab ternyata pilihannya mengizinkan Judith disini tidaklah salah. Judith sendiri sibuk menatap sekitar, mencari keberadaan seseorang. Perempuan itu balik badan, terdiam lagi. Sebab akhirnya ia melihat Rion berjalan mendekat. Berbeda dengan Rion yang juga ikut membeku sebab melihat kedatangan Judith. Bukan hanya sosok Judith, namun keberadaan Nadine membuat laki-laki itu harus bersikap hormat dan santun. Pada akhirnya Rion mendekat, berdiri di hadapan Nadine yang terlihat sedikit kaget. "Rion? Rion, kan?" Pandangan beberapa anak terlihat penasaran ketika melihat Rion mengangguk pada pertanyaan Nadine. "Apa kabar, Tante?" tanya Rion sopan, namun dibalik itu, ia tengah berusaha mengabaikan keberadaan Judith yang tetap berdiri di sebelah Nadine. "Tante baik. Kamu sejak kapan balik ke Jakarta lagi? Judith udah cerita banyak tentang kamu---" "Mama!" Judith meringis ketika mamanya lagi-lagi membuka kartu. "Kapan mau main ke rumah? Tante udah suruh Judith ajakin kamu ke rumah tapi nggak pernah dateng." Rion kikuk. Namun buru-buru mengendalikan diri. "Nanti Rion ke rumah, Tante." "Bawa martabak, ya," ucap Nadine sembari tertawa geli. Judith refleks menutup muka dengan telapak tangannya, "Astaghfirullah si mama." "Pasti, Tante," jawab Rion setelah sadar bahwa ia terlalu lama menatap Judith dengan raut bingung. Bertepatan setelah itu, Alden muncul dengan dua orang guru lainnya. Mereka semua segera berbaris rapi sambil mendengarkan beberapa arahan kecil. Judith baris di belakang, kali ini menunggu kedatangan papanya yang belum juga tiba. "Nah itu papa." Judith menatap mamanya yang bersuara. Senyumnya merekah. Aldric muncul, dengan dua botol air mineral di tangan. "Nih, inget jangan lupa banyakin minum air putih." Judith mengangguk, lalu langsung memeluk papanya erat. "Padahal bisa dibeli nanti. Yaudah, jangan kangen sama Judith ya, Pa." Tawa Aldric pecah, diciumnya lama puncak kepala Judith lalu tanpa permisi memakaikan topinya tepat di kepala gadis itu. "Hati-hati!" Perpisahan itu singkat. Sebab Judith dan yang lainnya harus segera berangkat. Dilambaikannya tangan ke arah kedua orangtuanya, siap untuk menjemput kembali sebutan bolang yang sempat ia sandang. • S B C P •
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD