33. Alasan

1098 Words
Rion membuka seragamnya cepat, dengan kasar melemparkannya ke tempat pakaian kotor. Laki-laki itu sukses membuat Judith menjauh hari ini dan Rion pikir dia akan gila. Diliriknya jam, sudah pukul 5.30. Ia memang baru kembali karena harus mengkerahkan tenaga untuk membantu persiapan ekstrakurikuler pecinta alam. Rion menghela napas, memilih menuju kamar mandi. Berdiri di bawah shower dijadikan Rion kesempatan untuk berpikir. Merasakan air mengalir langsung di permukaan kulitnya. Berharap agar air tersebut juga membawa beban masalahnya luruh. Bukan tanpa alasan mengapa Rion melakukan hal semacam itu. Ada banyak hal yang ia pikirkan. Saat Judith pada akhirnya menilai Rion seorang yang kasar, memang itulah adanya. Rion tidak bisa menganggap enteng jabatan yang tengah ia emban. Dia harus bersikap tegas atau keras jika itu diperlukan. Dan Alden berhasil meletakkan posisi Rion dalam titik tidak aman. Rion menghela napas. Hanya menunggu waktu sampai kepala sekolah mendengar berita tersebut dan tentu Rion akan dipanggil. Katakan Rion egois sebab terlalu mencintai jabatannya. Tapi, ini bukan hanya tentang jabatan. Melainkan tentang sesuatu yang lebih penting, yang Rion takutkan juga ikut terancam. Beasiswanya. Cakrawala bukanlah sekolah dengan biaya standar. Semakin banyak perubahan dan kemajuan dari sekolah itu, tentu saja biaya pembayaran akan ikut bertambah. Rion berhasil masuk sebab prestasinya. Namun tidak hanya mengukir prestasi di bidang akademik, Rion juga ingin aktif di hal lain. Dengan tujuan, agar sekolah semakin percaya padanya. Rion memang berasal dari keluarga yang cukup berada. Namun disamping itu, biaya pengobatan Araz tentu harus diutamakan. Sementara sang bunda hanya berprofesi sebagai guru. Dengan alur kehidupan semacam itu, keluarga Rion harus berusaha hidup dengan baik. Dan disinilah Rion. Sekuat tenaga belajar dan aktif dengan segala kegiatan yang kerap membuatnya kelelahan. Namun tidak ada pilihan. Dia harus mendapatkan tempat di universitas terbaik di Indonesia. Rion harus berusaha sekuat tenaga agar sekolah dapat merekomendasikannya. Setelah itu, mencoba fokus kuliah hingga lulus dan mencari pekerjaan terbaik. Agar bundanya dapat beristirahat dan kedua adiknya mendapatkan pendidikan yang tepat. Rion memukul kasar dinding kamar mandinya. Berteriak disana. Dia benar-benar ingin melepaskan sesak di seluruh tubuh. Bahkan lelaki itu berpikir bahwa ia bisa meledak kapanpun tanpa disangka-sangka. Dihelanya napas, lebih baik segera menuntaskan mandi daripada terus berlama-lama, dia bisa saja jatuh sakit. • S B C P • Ponsel Rion berbunyi ketika laki-laki itu hendak keluar kamar ingin menuju dapur---perutnya sejak tadi menyuarakan lapar. Rion mendekat pada ponsel yang terletak di atas nakas. Ketika tahu siapa yang menelepon, Rion buru-buru menggeser layar. "Halo, Bun," sapa Rion langsung. "Rion, udah di rumah?" "Udah, Bun." "Araz baru aja tidur," ujar bundanya memberi tahu dan Rion refleks menghela napas lega. Membayangkan kondisi adiknya yang naik turun selalu membuat Rion takut. "Besok, pulang sekolah jangan lupa jemput Aksa dulu di tempat eyang. Malam ini biarin aja Aksa nginep nggak apa-apa." "Iya, Bun," jawab Rion seraya mengangguk. Langkah kakinya berlanjut menuju tangga untuk turun ke lantai bawah. "Terus kapan berangkat buat yang kemana, Bunda lupa." Rion tersenyum sesaat, membayangkan ekspresi bundanya. "NTT, Bun." "Oh iya. Terus kapan?" "Dua hari lagi." "Sebelum berangkat usahain ketemu Bunda dulu." "Nanti jangan kasih tau Araz, Bun." Rion mengingatkan, takut-takut jika bundanya lupa hal itu. "Iya. Yaudah hati-hati di rumah. Makannya jangan ditinggal." "Ini mau makan." "Yaudah, Bunda tutup, ya." Selepas mengucapkan salam, sambungan terputus. Rion kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Laki-laki itu tiba di dapur. Mengecek lemari pendingin dan menemukan beberapa bahan makanan. Namun Rion bukanlah orang yang hebat dalam memasak. Diarahkannya tangan untuk membuka pintu lemari dan tanpa berpikir dua kali langsung mengambil mie instan darisana. Bundanya sepertinya tidak tahu akan keberadaan mie tersebut. Sebab jika Rion ketahuan, sudah tidak diragukan bahwa Rion akan diberi ceramah panjang lebar. Rion mulai mengambil sedikit air untuk direbus. Membuka bungkus mie dan bersandar di meja dapur sembari menunggu air tersebut mendidih. Jika hanya memasak mie, tidak akan sulit untuk Rion. Rion kembali mengecek ponsel, menekan aplikasi chat. Wajah lelaki itu berubah kusut ketika melihat satu kontak yang sengaja ia pinned---bermaksud agar chat dari perempuan itu tidak pernah berada di bawah. Rion kelimpungan sendiri. Ketika dengan jelas Judith membuat penolakan padanya. Untuk pertama kalinya, Rion merasakan hal tersebut. Ketika Rion berpikir bahwa Judith akan tetap bersikap seperti biasa tidak peduli bagaimana Rion. Sebab ada alasan lain mengapa Rion ingin Judith tetap berada disini. Rion tahu bagaimana perjalanan menuju Wae Rebo---tujuan mereka. Harus mendaki gunung lalu turun lagi. Dan jalan yang akan dilalui bukanlah jalan besar. Terdapat jurang di satu sisinya. Membayangkan Judith melewati jalan tersebut sementara perempuan itu begitu memusuhi ketinggian. Benar. Rion tahu ketakutan tersebut sejak sekolah dasar. Ia tidak diberi tahu, melainkan mengetahui sendiri dari segala gelagat aneh Judith. Dalam hati, Rion berharap Judith sudah berdamai dengan rasa takut itu sendiri. Setidaknya, hal yang harus Rion khawatirkan berkurang. Biarlah, Rion rela memenuhi panggilan kepala sekolah nanti. Jika memang Judith ingin sekali mengikuti perjalanan ini. • S B C P • Rion menyusuri koridor sekolah berniat menuju ruangan milik ekstrakurikuler pecinta alam. Sekolah sudah bubar, dan Rion kembali berkewajiban membantu. Lelaki itu berbelok ke kanan, lalu berhenti tepat di pintu ruangan kedua. Ia masuk, sehingga seluruh pasang mata melihat padanya. Rion mendekat, mengedarkan pandangan dan tidak sengaja melihat Judith di bagian makanan. Ah, perempuan itu sudah berkenalan ternyata. Padahal kemarin, Rion tidak melihat Judith sama sekali. "Jadi, keperluan apalagi yang kalian butuhin? Bilang sekarang, jangan nanti satu menit sebelum berangkat malah rusuh." Rion berbicara sembari berjalan menuju tumpukan buku. Terlihat banyak sekali. "Buku?" "Di Wae Rebo ada rumah baca, Kak," jawab salah seorang perempuan. "Ya, kita ikut nyumbangin buat bantu masyarakat disana biar lebih kenal sama bahasa Indonesia. Soalnya anak-anak disana emang lebih sering pakai bahasa Manggarai." "Jadi mereka nggak tau bahasa Indonesia?" tanya Rion lagi. "Makanya kita milih desa adat Wae Rebo buat ngehibur anak-anak disana. Kalau mereka nggak bisa cari kita, tandanya kita yang harus nemuin mereka." Rion tampak mengangguk mengerti. Baru akan mengecek hal lain, suara pintu yang terbuka membuat Rion menoleh. "Lo sendiri? Empat lagi mana?" Alden disana, berjalan menuju ke arah meja untuk meletakkan konsumsi mereka sore itu. "Ntaran katanya nyusul." Rion menjawab, kembali fokus pada benda di depannya. "Ya asal jangan kabur aja." Alden tertawa, lalu bergabung dengan lingkaran lain guna melihat kerja anggotanya. Rion yang mendengar kembali merasakan panas di telinganya. Namun laki-laki itu menahan diri. Dia tidak ingin Judith melihat dan semakin dinilai buruk. Tepat ketika Rion berdiri---berniat mencari teman-temannya---pintu ruangan terbuka. Ceisar, Rifki, Fatisa, dan Alisa muncul. Rion menghela napas lega, lalu dengan segera meminta anggotanya untuk ikut serta dalam bekerja. "Sorry, Yon," ujar Ceisar berbisik. "Tadi kita dipanggil sama Pak Rahim." Rion mengangguk, kembali fokus pada kegiatannya. Mungkin laki-laki itu tidak sadar, bahwa sejak tadi Judith selalu memperhatikan gerak-geriknya. • S B C P •
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD