Judith menatap langit-langit kamarnya lurus. Terpikir oleh sikap Alden sore tadi. Perempuan itu kebingungan, mengapa setiap orang yang tampak jahat padanya selalu memiliki niat yang baik di baliknya? Tidak hanya Alden, tapi guru Judith di sekolah dulu. Bu Mega---guru BK Judith. Perempuan itu merasa begitu jahat sebab kerap berpikir negatif tentang orang lain.
Judith bangkit dari posisi berbaringnya, mengusap wajah. Membiarkan rambutnya tergerai lalu beranjak dari tempat tidur. Ia meringis, kakinya masih sakit walaupun sang mama sudah memanggilkan tukang pijit. Ia habis dimarahi oleh mamanya tadi. Melihat Judith pulang dengan tampilan acak-acakkan, Judith langsung saja dibombardir oleh banyaknya pertanyaan dari sang mama.
"Kamu ngapain kok bisa kayak gini?" tanya Nadine saat Judith terbaring lemah di sofa.
"Kaki Judith, Mam." Judith merintih, hampir menangis karena rasa sakit yang mengikatnya.
Nadine panik, buru-buru memegang kaki si bungsu. "Kenapa, Dek? Kamu ngapain hari pertama sekolah udah kayak gini?"
Judith menggeleng lemah, "Tadi cuma lari doang kok, Mam."
"Lari doang? Berapa keliling?"
"Lima."
"Judith! Kamu dihukum lagi?"
Air mata Judith yang memang menggantung berakhir jatuh dan meluncur di pipinya. "Enggak kok, Mam."
"Terus kenapa, Dek?" tanya Nadine masih tetap khawatir, tangannya sibuk menekan lembut betis sang anak.
"Judith kan kepengen gabung ekskul pecinta alam, Mam. Jadi Judith harus dilatih dulu fisiknya kuat apa enggak."
"Yaudah nggak usah gabung ekskul."
"Mama!" Judith merengek dengan suara bergetar. "Judith susah payah dapetin kaus resmi buat jadi anggotanya. Masa Mama bilang nggak usah gabung."
"Tapi kamu tuh emang nggak bisa ikutan kayak gitu." Nadine menatap bungsunya dengan gelengan serta berharap agar Judith dapat mengerti. Nadine hanya tidak ingin apabila anaknya harus berakhir di rumah sakit. Wanita itu sudah berjanji pada dirinya, akan menjaga keluarganya agar tidak ada lagi yang masuk rumah sakit. Sudah cukup dulu Aldric yang membuatnya panik sebab kecelakaan, lalu Abi yang ditusuk preman, dan sekarang? Membayangkan bungsunya masuk ke rumah sakit karena kelelahan tidak akan Nadine biarkan lagi.
"Mam, Judith bisa. Judith pengen ikutan. Mau sampai kapan sih, Mam, Judith diem di rumah terus? Mau sampai kapan temen Judith cuma Cata sama Amar kalau Judith bisa nambah temen lagi? Judith nggak mau nyesel."
Nadine diam, melihat air mata yang terus saja merembes di pipi putrinya. Judith sendiri berusaha menghapus air mata, hatinya sakit sebab menerima larangan lagi. Ia memang anak bungsu, ia memang kerap bertingkah konyol dan membingungkan, ia memang kerap seperti anak-anak untuk remaja seumurannya. Namun sekarang inilah Judith, tengah berusaha untuk menerima fakta bahwa nanti dia akan tumbuh dewasa. Dan Judith membutuhkan bekal untuk itu. Mau sampai kapan dia akan berlindung di bawah telapak tangan orangtuanya dan tidak pernah mencoba mandiri? Jika seperti itu, Judith tidak akan bisa merasakan hidup yang dirasakan oleh kedua kakaknya.
Berikutnya, Judith merasakan pelukan hangat sang mama yang erat. "Jangan bikin Mama panik lagi. Yaudah, Judith boleh ikutan. Sana mandi dulu, Mama hubungin tukang pijit buat Judith."
Judith tersentak dari lamunannya ketika mendengar pintu kamar yang diketuk. Anak perempuan itu menoleh, melihat ke arah pintu kamar yang perlahan dibuka. Kepala papanya muncul dengan eskpresi lucu hingga Judith sontak tertawa.
"Apaansih, Pa?"
"Belum tidur?"
"Belum," jawab Judith sembari memainkan sesuatu yang terletak di atas meja khusus barang-barang kesukaannya. Perempuan itu mengambil lotion kemudian menaruh sedikit isinya ke atas telapak tangan, baru ia sapukan pada kedua tangan sambil menikmati harum lotion tersebut. Judith balik badan, melihat sang papa sudah duduk di atas tempat tidurnya sembari menyalakan televisi. "Papa kapan pulang?"
"Satu jam yang lalu," jawab Aldric, tubuh pria itu juga sudah segar setelah mandi dan bersih-bersih.
Judith bergabung di sebelah Aldric, menutup sebagian tubuhnya dengan selimut. "Mama kemana, Pa? Karna sketchbook lagi?"
Aldric menggeleng, "Lagi mandi. Mama cerita sama papa tadi tentang Judith. Kakinya masih sakit?"
Judith menghela napas lalu menggeleng. "Udah enakan, Pa."
"Beneran?" Aldric memeriksa kaki putrinya itu, menekan dengan pelan betis Judith. "Kenapa mau lari kayak gitu?"
"Judith pengen gabung, Pa," ujar Judith jujur. "Lagian lari doang, Judith udah biasa dari kecil."
Aldric tertawa mendengar tuturan tersebut, sehingga Juidth sukses mendongak bingung. "Jadi, kapan berangkatnya?"
"Tiga hari lagi."
"Cepet juga."
Judith mengangguk setuju karena baginya ini memang terlalu cepat. Tapi mungkin untuk anggota lain yang sudah lama menunggu, tiga hari masih terlalu lama. "Besok ingetin Papa buat bayar biayanya. Sekarang tidur dulu."
"Dah, Pa," ucap Judith ketika puncak kepalanya dicium.
"Dah," balas Aldric lalu mematikan lampu kamar Judith, sehingga putrinya hanya ditemani oleh cahaya televisi yang tengah menampilkan film fantasi.
• S B C P •
Judith keluar rumah bersama sang papa, siap pergi ke sekolah. Merapikan rambutnya sembari berjalan ke mobil. Baru akan membuka pintu, suara mesin motor yang mendekat dan berhenti tepat di depan pagar rumahnya membuat Judith menoleh.
Niko disana, tersenyum sambil melambaikan tangan. Judith buru-buru mendekat dan membuka pagar.
"Pagi, Dith," sapa Niko sembari menyodorkan satu helm pada Judith.
Judith langsung mengernyit, namun langsung tersadar bahwa Niko tentu ingin mengajaknya pergi bersama. Judith mau tidak mau menerimanya, lalu kembali menemui sang papa untuk berpamitan.
"Judith bareng Niko aja ya, Pa," pamit Judith sambil menjangkau tangan sang papa untuk menyalaminya. Lalu mencium pipi Aldric cepat.
"Hati-hati, Dek," teriak Aldric dan Judith tersenyum.
"Iya, Pa."
Judith memakai helm tersebut dan berusaha naik ke atas motor. Dipegangnya pundak Niko dengan semangat, kemudian duduk dengan baik.
"Udah?"
"Siap!" jawab Judith lalu motor pun mulai membelah jalanan menuju sekolah.
Sementara Niko mencoba fokus, Judith sendiri terlihat tampak begitu menikmati jalanan yang belum ramai. Mereka berangkat cukup awal, dan tidak sulit bagi Niko untuk memotong kendaraan lain agar mereka lebih cepat mencapai sekolah.
Mereka tidak berbicara. Membiarkan suara angin pagi yang ribut memeluk kediaman mereka. Judith mencoba menghirup wangi Niko diam-diam, hati kecilnya berteriak rindu. Sudah berapa lama mereka tidak bermain? Katakan saja Judith munafik sebab berkata tidak apa-apa kala lelaki ini menjauhinya. Sebab fakta sebenarnya, Judith menyimpan rasa sesak itu sendirian.
Dia bukanlah gadis ceria luar dalam seperti yang orang-orang pikirkan. Dalam sendirinya, Judith kerap memikirkan banyak hal dan kadang kala terpuruk seorang diri dalam pikirannya. Namun setidaknya, keberadaan sang mama dan kecupan papanya dapat selalu membuat Judith kuat.
Niko meninggalkannya, itulah yang Judith tahu. Laki-laki itu bahkan sepertinya sempat lupa bahwa ia memiliki Judith. Miris saja, sebab menggilai dan terlalu fokus pada suatu hal yang dianggap penting, hal penting yang lain ternyata terlepas. Kesukaan Niko terhadap bola terpaksa menggugurkan pertemanannya bersama Judith.
"Nik," panggil Judith sedikit keras.
"Kenapa, Dith?"
Judith sibuk dengan pikirannya. Sebenarnya Judith hanya ingin memanggil Niko, tanpa harus menjelaskan alasan mengapa ia memanggil. Seperti apapun dulu hubungan mereka di masa kecil, Judith ingin agar mereka tetap seperti itu. Terus, menjadi teman.
"Dith," panggil Niko lagi. Dia masih penasaran mengapa Judith memanggilnya.
"Enggak, aku cuma manggil doang kok."
"Atau aku kekencengan ya, Dith?"
Judith menggeleng, entah Niko melihat atau tidak. Namun yang Judith tahu, kecepatan motor tersebut berkurang. "Nik, lanjut aja."
"Enggaklah. Sorry ya, aku kebiasaan soalnya. Kamu jadi nggak nyaman."
"Enggak gitu kok, Nik." Judith diam lagi, bingung bagaimana harus menjelaskan. Lagi-lagi, hanya bising angin yang menemani mereka hingga tiba di sekolah.
• S B C P •
Judith melangkah bersama Niko memasuki gedung sekolah. Laki-laki itu bahagia karena dapat mengajak Judith pergi bersamanya. Biasanya, dia tidak setepat ini. Jika bukan Niko yang terlalu cepat, maka Judith yang terlalu lama. Itu kenapa Niko jarang pergi bersama Judith. Laki-laki itu tidak dapat menebak jam pasti Judith keluar dari rumah.
"Kamu selalu dianterin papa?" Niko mencoba membuat obrolan.
Judith menggeleng, "Enggak, sih. Biasanya bareng temen, atau mama yang anterin. Ya pokoknya sama siapa yang bisa aja. Yang penting aku nyampai di sekolah."
"Pergi sama aku setiap hari, mau?" Niko menunjukkan senyumnya. Sementara Judith menoleh dengan raut kaget.
"Emangnya nggak nyusahin?"
"Nyusahin kenapa? Aku seneng bisa pergi bareng kamu."
Judith diam-diam tersenyum. "Enggaklah. Aku nggak enak. Lagian juga kamu sibuk."
"Sibuk apa?" Niko bertanya. "Bola? Tapikan pagi aku nggak sibuk."
Judith mengangguk, "Aku tau, cuman ya nggak usah keseringan. Mendingan kayak tadi, nggak janjian apa-apa kamu tiba-tiba muncul. Daripada kamu janjiin setiap hari, ternyata nanti aku ditinggal."
"Dith...,"
"Dah, Nik! Aku ke kelas dulu." Judith bersuara sebab mereka sudah tiba di lantai kelas Judith. Sementara kelas Niko berada di lantai berikutnya. Perempuan itu dengan cepat berlalu, tidak ingin repot-repot melihat ke belakang.
Ah, baru tadi Judith berpikir bahwa ia rindu pada Niko. Dan Judith memang senang mendapatkan tawaran seperti itu. Namun jika pada akhirnya ia harus kembali dikorbankan dengan kesibukan pribadi Niko, Judith lebih baik menolaknya dari sekarang. Sebelum semuanya berjalan semakin jauh dan Judith membawa perasaan pada semua yang Niko lakukan. Karena Judith enggan mengorbankan hatinya kepada seseorang yang belum tentu tepat. Dia bukan perempuan bodoh, terlebih, Judith benci bila dikatakan seorang yang melankolis.
• S B C P •
Jam pelajaran tengah berlangsung. Judith sibuk membolak-balikkan bukunya, menandakan poin-poin penting sementara seorang guru tengah menjelaskan di depan kelas. Keadaan kelas benar-benar nyaris tanpa suara. Tidak ada yang berbicara, jika bukan menatap ke depan maka tatapan mereka tentu melihat buku. Pendingin ruangan juga membuat kelas terasa nyaman.
Sayangnya, hal tersebut tidak bertahan lama. Ketukan dan terbukanya pintu kelas membuat seluruh pasang mata menatap kesana.
"Rion?" celetuk guru yang mengajar dengan raut bingung. "Kamu nggak belajar?"
"Permisi, Buk," ucap Rion dengan sikap sopan. Ketika Rion masuk kelas, ternyata laki-laki itu tidak sendiri. Ada seorang lelaki lagi yang mengikuti langkahnya. Alden.
Judith melotot. Kenapa dua laki-laki itu bisa datang bersamaan seperti ini?
"Kenapa?" tanya guru tersebut kepada Rion dan Alden.
"Kita mau panggil murid yang namanya Judith, Buk." Rion mengedarkan pandangannya---lidahnya terasa aneh karena memanggil Judith tidak dengan Aluna---dan berhasil menemukan Judith yang duduk di dekat dinding.
Judith kaget, duduknya menjadi lebih tegak. Jantungnya seketika menggila. Takut apabila dipanggilnya Judith sebab terkena masalah. Atau yang lebih buruk, Judith akan disuruh berlari lagi. Padahal kakinya masih belum baik.
"Judith mana?" ujar guru tersebut dan Judith dengan gugup mengangkat tangan. "Ayo, mereka mau ngomong sama kamu. Inget, Rion, hanya sepuluh menit. Setelah itu bawa murid saya kembali ke kelas."
"Siap, Buk."
Dan kedua lelaki itu pun keluar diikuti Judith dengan wajah meringis. Ia benar-benar ketakutan.
"Hm, Kak, saya---"
"Jangan saya," potong Alden langsung.
"Iya, Kak." Judith langsung patuh.
Rion yang sejak tadi terus melangkah tanpa suara akhirnya mengajak mereka berhenti di tempat yang lebih aman untuk berbicara. Lelaki itu menghela napas, merasa bodoh akan ketidaktelitiannya.
"Kamu nggak bisa ikut pergi bareng ekskul tahun ini."
Judith mendongak dan kaget akan tuturan Rion. Ekspresi laki-laki itu terlihat dingin, seperti tidak ingin dibantah.
"Tapi, Kak, aku udah ngelakuin apa yang Kak Alden minta."
"Udahlah, Yon, lo kan liat sendiri kemarin dia lari-lari muterin lapangan." Alden secara sadar memberikan pembelaan.
"Gue tau, Den," jawab Rion. "Tapi gue pikir lo nyuruh dia lari karna itu syarat buat masuk ekskul. Bukan masuk, terus ikutan buat pergi. Nggak bisa kayak gitu."
"Gue ketua ekskulnya, Yon." Alden membalas. "Gue tau lo ketua OSIS, lo bareng temen-temen lo bakalan ikut buat bantu-bantu."
"Jaga omongan lo! Gue sama empat anak OSIS yang lain diikutsertain buat ngejaga kalian. Bukan buat jadi pembantu."
Alden tertawa, "Apa bedanya? Lo pikir gue nggak bisa jagain anggota gue?"
"Den, kalau-kalau lo lupa, pergi kayak gini tuh nggak bisa seenaknya. Juga harus ada peraturan, ada syarat sama ketentuan. Dan lo nerima dia buat ikutan pergi cuma karna dia berhasil lari lima keliling? Terus gimana sama nasib anak-anak lain yang juga kepengen ikutan? Tapi nggak pernah lo kasih izin karna mereka baru mau gabung ekskul waktu tau tujuan kalian itu Nusa Tenggara. Lo nggak bisa seenaknya gini, Den."
Judith terpaku pada sikap keras Rion. Anak perempuan itu tidak tahu ingin bersuara seperti apa untuk membela diri. Sebab perdebatan antara dua laki-laki itu seperti sulit dipotong.
"Gue tekenin sekali lagi sama lo, Orion. Gue ketua ekskulnya disini. Bukan lo. Hak gue buat mau rekrut siapa yang gue mau. Dan sejak kemarin, Judith resmi jadi anggota gue." Alden menarik lengan Judith untuk mendekat padanya. Sehingga perempuan itu kesulitan bernapas sebab kaget.
"Lo mau gimana hah kalau misalkan dia malah nyusahin kalian disana? Lo mau ngelakuin apa kalau dia malah ngerengek kayak anak kecil terus minta pulang?" Rion berujar dengan keras dan emosi. "Den, semua ekskul di sekolah ini punya peraturan resmi yang dibuat sama sekolah, dan kita wajib buat patuhin. Satu sekolahan pasti nggak suka cara lo yang nggak adil kayak gini."
Alden menunjukkan senyum miringnya ke arah Rion, lalu menoleh pada Judith dan mengacak singkat rambut perempuan itu.
"Pertama, gue yang bakal ngorbanin diri buat Judith kalau sampai dia kenapa-napa. Kedua, gue tau tentang peraturan resmi yang dibuat sama sekolah. Tapi buat yang satu ini kayaknya gue harus bilang ke elo, karna kadang peraturan itu ada, ya buat kita langgar." Rion diam, menahan diri untuk tidak lagi emosi. "Terakhir, Judith udah bayar biaya buat pergi. Nggak ada pengembalian, sorry. Dan kalau lo emang nggak mau dia ikutan, seenggaknya jangan buat dia rugi karna udah bayar, ganti uangnya."
Judith yang masih setia mematung merasakan panas pada kedua matanya. Hatinya sakit sebab ucapan Rion. Namun tepukan pada bahu mengagetkan Judith.
"Balik ke kelas lo." Alden bersuara. "Pelajaran lebih penting daripada debat buang-buang waktu kayak gini. Gue minta maaf karna bikin lo nggak nyaman liat kita berdua." Setelah itu Alden berlalu lebih dulu, meninggalkan sepasang manusia itu disana.
"Lun, aku---"
Judith menghindar ketika Rion akan meraihnya, perempuan itu tertawa dengan ekspresi tidak percaya. Lalu tanpa pikir panjang, Judith pergi.
• S B C P •