31. Si Seram Alden

2179 Words
"Jadi, buat kalian yang emang mau ngasihin barang-barang milik kalian, bisa langsung datengin kita atau hubungin contact person yang udah kita tera di selebarannya. Biar bisa di data, terus kita yang jemput ke kalian." Namanya Alden, ketua dari ekstrakurikuler pecinta alam. Ia baru saja memberikan pengumuman singkat sementara dua temannya yang lain bertugas memberikan selebaran kepada setiap siswa-siswi. Hanya sebentar, setelahnya mereka pergi meninggalkan kelas untuk datang ke kelas lain. Delvie langsung saja menarik Judith agar berdiri. Dibawanya Judith menuju Alden yang belum berjalan jauh. "Kak Alden!" panggil Delvie dan Alden menoleh, menatap kedua perempuan itu dengan ekspresi tidak terbaca. "Kenapa?" tanya Alden cepat, kentara sekali bahwa ia tengah terburu-buru. "Kak, kenalin ini Judith." Delvie memperkenalkan Judith dengan senyum, walaupun tidak dapat Delvie pungkiri bahwa ia cukup merinding jika sudah berhadapan dengan Alden. Alden menatap Judith sekilas sebelum kembali melihat Delvie. "Temen kamu nggak bisu, kan?" kata Alden teramat datar. Judith langsung mengambil sikap siaga, sesaat dia menunduk untuk menarik napas. "Nama saya Judith, Kak, saya pengen gabung di ekskul." "Ch." Alden meremehkan sembari tertawa. "Kalau udah ada jalan-jalannya, baru aja ngikut. Kemarin kemana aja? Nggak bisa. Tunggu dulu pendaftaran resmi masuk ekskul dibuka, baru lo masuk." "Tapi, Kak, saya anak baru. Masuknya juga sebulan sebelum ujian." Judith membuat pembelaan. Dia benar-benar ingin bergabung. Alden mengernyit, "Terus? Urusannya di gue apa? Kalau gue bilang nggak bisa, berarti nggak bisa. Lo harus sabar nunggu tahun depan." "Kak, saya janji deh nggak bakal nyusahin. Saya bener-bener pengen gabung, Kak. Saya sama sekali nggak pernah masuk ekskul manapun. Baru yang ini saya kepengen banget. Izinin saya masuk ya, Kak." Alden menghela napasnya kasar. "Pulang sekolah nanti, temuin gue di lapangan bola luar." Setelahnya Alden berlalu, meninggalkan Judith dan Delvie yang kini tengah memegang d**a untuk memeriksa detak jantung mereka. "Sumpah! Panik banget gue, Delv." Napas Judith jadi tidak teratur. Alden benar-benar membuatnya kesusahan bernapas. "Dia emang gitu, Dith. Dimaklumin aja." "Terus, gue mau diapain nanti pulang sekolah?" Delvie mengedikkan bahu. "Nggak tau. Kan Kak Alden suka gitu, nggak ketebak." "Lo nemenin gue, kan?" Judith bertanya masih dengan raut panik. "Pastilah." Delvie menepuk bahu Judith sembari mengepalkan tangan. "Demi jalan-jalan." Dan mereka sontak tertawa bersamaan. • S B C P • Bel pulang sekolah berbunyi di setiap penjuru sekolah. Hari ini memang berjalan santai sebab seluruh guru sibuk dengan rapat dan mempersiapkan jadwal baru. Judith yang baru saja menutup loker merasakan getaran di saku rompinya. Buru-buru dikeluarkannya ponsel dan menatap nama penelepon. Judith tersenyum, langsung saja menggeser layar ponsel. "Halo," sapa Judith semangat. "Dimana lo? Kita di parkiran sekolah lo, nih. Buruan kesini." Judith melotot, kedua teman laki-lakinya benar-benar mengesalkan. "Bentar dulu, Mar! Lagi nyusun barang nih!" "Buruan nggak pakai lama." "Iblis," kutuk Judith langsung kemudian memutuskan sambungan. Dipercepatnya gerakan agar dapat segera menyusul Amar dan Cata yang tengah menunggu, hingga panggilan Delvie juga ikut terabaikan. Judith buru-buru. "Ntar gue balik lagi!" teriak Judith sebelum menghilang di ambang pintu. "Langsung ke lapangan, Dith!" balas Delvie sambil geleng kepala tidak mengerti. Seram saja bila Judith terlambat bertemu dengan Alden. Judith menyusuri koridor dengan berlari, sembari melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Judith harus cepat, jika tidak mungkin Alden akan mengamuk padanya. Membayangkan wajah datar milik Alden, Judith sudah bergidik ngeri. "Lun!" Panggilan itu membuat Judith yang ingin keluar dari gedung langsung balik badan. Rion disana, berdiri dan kemudian berjalan mendekat. "Mau kemana? Aku baru mau ke kelas kamu." Judith lagi-lagi gugup. Bagaimana tidak, melihat Rion hanya dengan seragam putih sekolah yang tampak acak sementara rompinya entah menghilang kemana. "Mau ke---" Judith berpikir, kenapa dia harus segugup ini?! "---mau ke parkiran." "Mama kamu udah jemput?" "Oh bukan. Itu, temenku yang dateng." Rion mengangguk, terlihat mengerti. "Yaudah, aku temenin kamu ketemu temen kamu, terus kita ke kantin. Sesuai janji aku tadi." Laki-laki itu bersuara dengan tenang. "Nggak usah ditemenin! Nggak apa-apa kok aku bisa sendiri. Kita ketemu di kantin aja." Judith berubah panik. Dia tidak mau Rion bertemu dengan Amar maupun Cata. Takut saja jika kedua lelaki itu malah emosi ketika melihat Rion. Atau yang lebih buruk, mereka akan membuka segala rahasia dan aib konyol Judith di depan Rion. Bisa-bisa Judith malu dan tidak mau keluar kamar. "Nggak apa-apa," ujar Rion masih tenang. "Ayo, kasian temen kamu kelamaan nunggu." Judith akhirnya hanya mengangguk dengan senyum terpaksa. Berusaha menetralkan degub jantungnya yang menggila. Ketika berada di parkiran, Judith menebar pandangannya dan menemukan mobil Amar. Sementara Rion dengan setia tetap mengikuti dari belakang dalam diam. Bahkan ketika Judith mendekati sebuah mobil dan memukul jendelanya dengan kasar, Rion hanya memperhatikan. "Ngapain sih?!" Judith berteriak ketika kaca mobil diturunkan. "Kan udah gue bilang hari ini pulangnya telat. Ada urusan dulu sama ketua ekskul." Pintu mobil di buka, membuat Judith awas dan jadi dekat dengan posisi Rion. Cata muncul dari pintu tersebut, sementara Amar keluar dari pintu satunya dan menumpukan tangan pada atap mobil. "Wah." Cata takjub ketika melihat laki-laki yang berada di belakang Judith. "Astaghfirullah! Siapa nih, Dith?" "Dia---" "Gue Rion." Rion buka suara, memperkenalkan dirinya dengan cukup sopan. Mata Amar dan Cata melotot. Dan Judith buru-buru memberi kode lewat matanya, seolah-olah berkata 'awas lo pada kalau maju.' Kedua lelaki itu serentak menghela napas, menuruti keinginan Judith dan dengan sopan juga memperkenalkan diri. "Gue Cata," ujar Cata sembari mengulurkan tangan dan disambut baik oleh Rion. "Gue Amar." Amar bersuara berikutnya, menunjukkan senyum manis sehingga wajah Arab itu semakin terlihat menarik. Rion mendekat pada Judith, tepat di balik kepala perempuan itu. Dan ia sontak berbisik bingung. "Temen kamu?" Judith menoleh dan terkejut. Lalu secara cepat mengangguk. Rion diam lagi, menertawakan dirinya dalam hati. Rasanya, ini lebih konyol daripada sekedar melihat Judith bersama Niko. Hubungan Judith dengan Cata dan Amar terlihat sangat dekat, tampak dari bagaimana cara Judith merespon ucapan kedua laki-laki itu. "Terus oleh-oleh gue mana?" Rion menoleh ke arah Amar ketika sadar dari lamunannya. "Di rumah. Ambil entar malem aja deh." "Terus les? Lo udah mulai daftar?" Cata bertanya. "Males ah ikutan les lagi. Private aja gue." Judith menjawab. "Oh iya, Mar, gue lupa bilang sama lo kalau Teteh waktu itu sempet nanyain kabar lo." "Demi apa? Terus lo jawab apaan?" Judith tampak berpikir, "Oh ini, gue bilang lo udah nikah." "Hah? Dith, lo kan tau udah lama banget gue nggak komunikasi sama Teh Bia. Harusnya lo bilang kalau gue lagi nungguin Teh Bia balik." "Enak aja! Ogah gue jadi adek ipar lo. Teh Bia juga nggak bakalan mau pacaran sama serbuk roti." Amar mendekat, langsung menjewer telinga Judith sebab tidak terima wajah manisnya disebut serbuk roti. Judith berteriak sebal. Orang-orang sekitar sibuk memperhatikan dan menaruh rasa penasaran. Mengapa Judith selalu dikelilingi laki-laki yang tampak menyayanginya dengan tulus? "Udah, ah! Pulang sana, gue buru-buru." Judith berjalan menjauh dengan menarik tangan Rion. Dilambaikannya tangan kepada Cata dan Amar. Kemudian masuk lagi ke dalam gedung sekolah. Judith tersadar ketika ia masih tetap memegang tangan Rion. Dengan malu dilepaskannya pergelengan tangan Rion lalu membuang muka. "Maaf, Yon," ujar Judith kikuk. "Hm, jadi gini, aku harus buru-buru ke lapangan. Masalah puddingnya besok aja ya, Yon. Dah!" Judith meninggalkan Rion bersama rasa penasarannya. Laki-laki itu teringat bahwa tadi Judith ingin menemui seorang ketua ekstrakurikuler. Rion akhirnya menghela napas sembari menggeleng, kembali melanjutkan langkah yang sempat terhenti. • S B C P • "Maaf, Kak, saya telat." Napas Judith putus-putus ketika sudah berdiri di depan Alden. Lelaki itu lagi-lagi mendecih. "Ini yang katanya niat?" ejek Alden sehingga Judith mati kutu. "Tadi saya harus ketemu orang dulu di parkiran, Kak." "Lo janjian pertama kali sama gue, kan? Gimana mau gabung di ekskul kalau sikap adil aja nggak ada di dalem diri lo." "Maaf, Kak. Yang tadi nggak bisa ditinggalin." "Tapi lo bisa minta izin dulu. Terus apa? Lo yang minta dikasih kesempatan, terus waktu gue mau coba kasih, lo malah seenaknya." Judith menggigit bibir bagian dalam, benar-benar ketakutan. "Sekali lagi saya minta maaf, Kak." Alden membuang napas kasar. "Gue nggak butuh anggota lemah. Gue nggak butuh anggota yang dibentak dikit langsung gemeteran." Judith memperbaiki tegaknya, menunjukkan wajah tegar di depan Alden. "Saya serius pengen gabung, Kak. Saya punya kakak, dia alumni Cakrawala, dia bilang kalau ekstrakurikuler pecinta alam bakalan banyak ngasih ilmu." "Siapa kakak lo?" Judith menatap lama wajah Alden. Laki-laki itu sepertinya benar-benar tidak tahu siapa Judith. Setidaknya, Judith merasa tenang. Dan perempuan itu benar-benar tidak berniat untuk menyebut nama Abiana. "Namanya Lula." Alden tampak berpikir, apa ia pernah mendengar nama itu sebelumnya. Takut-takut apabila Judith berbohong. Lagipula, Judith tidak sepenuhnya berbohong. Abiana Alula, adalah nama kakaknya. "Terus sekarang saya harus ngapain, Kak?" Judith bersuara, guna mengetahui kelanjutan pertemuan ini. "Pertama, stop manggil diri lo pakai saya. Gue berasa jadi manusia paling kasar. Kedua, puter lapangan bola ini lima keliling." Judith sukses melotot. Berapa tadi? Di lapangan seluas ini? Namun pada akhirnya gadis itu menurut. Padahal ia jelas-jelas tahu, bahwa kakinya akan sakit nanti malam. "Yaudah, tunggu apa lagi? Buruan lari." Judith mengikat rambutnya menjadi satu ke belakang, lalu memulainya gerakannya dengan menarik dan menghembuskan napas. Hanya itu, tanpa ada pemanasan yang seharusnya dibutuhkan. Perempuan itu mulai berlari, menjadikan posisi awalnya sebagai titik hitung. Judith melakukannya dengan serius, tidak menoleh ke sekeliling karena ia cukup yakin bahwa banyak pasang mata yang tengah menatapnya penuh tanya. Jika saja Judith diizinkan berbicara tanpa harus dicela, mungkin dia sudah akan berteriak di depan wajah Alden bahwa laki-laki itu sudah keterlaluan. Namun Judith tentu saja akan digantung jika Alden ingin melakukannya, atau yang paling buruk, Alden akan menambah putaran lari Judith. Tidak, Judith tidak mau menambah lagi. Setengah putaran yang berhasil ia lewati sudah membuatnya kelelahan. Yang benar saja! Ini masih tersisa banyak. Hampir dua puluh menit, Judith sudah memutari empat setengah putaran. Setengah lagi, dan Judith berhasil. Sementara keadaannya sudah mengkhawatirkan. Wajahnya basah oleh keringat, begitupula dengan rambut. Kaki Judith seperti tidak dapat dirasakan. Bibir kering pucat dan jantungnya berdetak begitu cepat sejak tadi. Tiga langkah terakhir, Judith sukses terjatuh dan tangannya yang lemah mencoba menumpu pada rumput hijau. Namun lengan seseorang buru-buru menyelamatkan tubuhnya yang tidak berdaya. Judith membuka mata, menemukan Niko dengan wajah panik bukan main. "Dith, kamu nggak apa-apakan?" Pipi Judith ditepuk lembut, sedang tanggapan Judith hanyalah anggukan ringan. "Judith!" Teriakan Delvie terdengar. Anak perempuan itu dengan panik mendekati Judith, membuka cepat tutup botol air mineral yang memang baru saja ia beli untuk Judith di kantin sekolah. Namun ketika kembali, keadaan Judith sudah seperti ini. "Judith ngapain lari-lari?" tanya Niko pada Delvie, namun jawaban perempuan itu masih tertahan sebab ia masih menatap Alden menuntut jawaban. "Kak?" "Kenapa?" "Bantuin!" pekik Delvie kesal. "Itukan udah ada pacarnya." "Tapikan Judith kayak gini juga karna Kak Alden." Alden lagi-lagi mengeluarkan tawa remeh. Pada akhirnya mendekati Judith dengan gelengan serta hela napas. Laki-laki itu ikut berjongkok di sebelah Judith. Menyodorkan botol air mineral berukuran kecil dan handuk putih. Judith dibantu Niko mencoba duduk. "Makasih, Kak." Judith dengan suara lemah menerima pemberian Alden. "Gue nggak pernah punya niat jahat apalagi nyuruh lo lari kayak gini cuma buat konyol-konyolan doang. Ekskul ini berat, Dith, kalau fisik lo nggak pernah kenal sama yang namanya olahraga. Gue emang kasar, terserah kalau lo emang pengen nilai gue kayak gitu. Karna nanti, semua orang yang ikut pergi kesana jadi tanggung jawab gue. Kalau ada apa-apa sama kalian, gue nggak akan pernah maafin diri gue sendiri." Judith diam, mendengarkan tuturan Alden lagi-lagi membuat Judith menyesal sebab sudah berperasangka buruk. Anak perempuan itu memang kerap seperti itu jika belum melihat kebaikan seseorang padanya. Judith menyeka dahi, menunjukkan seulas senyum terimakasih dari bibir yang tidak terlalu pucat itu. "Nih." Alden lagi-lagi mengulurkan tangan, namun kali ini pekikan Delvie yang terdengar. Karena di tangan Alden, terdapat baju warna hitam dengan beberapa garis merah vertikal yang mengapit kancing baju tersebut. Tampak bagus. Bukan, sebenarnya baju ini terlihat bertenaga. Dan Judith suka. "Saya pikir nggak bakalan diterima." "Saya lagi?" Judith tersenyum, "Aku pikir nggak bakalan diterima. Makasih ya, Kak." "Jangan lupa, banyakin olahraga. Waktunya nggak lama lagi. Oh iya, gue bakal kenalin lo ke anak-anak yang lain nanti di hari waktu kita berangkat. Karna kalau sekarang udah nggak sempet, masih banyak yang harus gue urusin. "Iya, Kak," angguk Judith patuh. Alden berdiri, meninggalkan ketiga orang tersebut untuk berjalan ke tepi lapangan. Ia tampak mengambil sesuatu, dan kembali ke arah Judith dengan sesuatu di tangannya. "Ketua OSIS nitipin ini ke gue, buat lo. Dia nyampein pesan, katanya dia harus pulang duluan karna buru-buru." Judith tersenyum malu menerima pudding yang diulurkan Alden. Rion, kapan laki-laki itu akan memberikan pudding secara langsung kepada Judith? "Yaudah, lo boleh pulang." Setelahnya, Alden benar-benar pergi meninggalkan lapangan. "Yuk, Dith," ajak Delvie sembari membantu Judith bangun. "Kamu pulang sama aku aja." Niko yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. Judith mau tidak mau mengangguk. Lagipula, mereka searah. Dipegangnya Judith agar gadis itu tidak terjatuh, lalu berpamitan pada Delvie. "Nih, tasnya," ulur Delvie dan diterima oleh Niko. "Hati-hati." "Kita duluan." Niko berpamitan dan Delvie buru-buru mengangguk. Di tempatnya, Delvie hanya mampu menatap punggung Judith yang menjauh. Jika Delvie di posisi Judith, pasti akan sulit untuknya menerima laki-laki yang memang secara terang-terangan mendekati. Ah, tidak sulit untuk Delvie menilai gelagat seorang lelaki apabila mereka tengah menyukai seorang perempuan. Contohnya Rion dan Niko, terlihat jelas bahwa kedua mereka tengah menaruh perasaan khusus untuk Judith. • S B C P •
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD