Rion masuk ke kelas barunya sembari melepaskan topi dan kancing rompi. Laki-laki itu memilih duduk di kursinya sembari menghela napas panjang, diacaknya rambut berusaha menenangkan diri. Laki-laki itu baru saja mendapatkan pesan tidak baik mengenai keadaan Araz.
"Lo kenapa?" Ceisar muncul dan bertanya.
Rion menatap Ceisar sesaat, sebenarnya ingin menyimpan sendirian masalah tersebut. Namun perkataan panjang milik Ceisar kala itu kembali menghantui kepalanya.
"Araz," jawab Rion kecil. "Araz pingsan sama mimisan hebat."
"Terus ngapain lo masih disini?!" bentar Ceisar tidak kalah terkejut. "Sana, temuin Araz."
"Araz?" Suara lain menyambut, membuat kedua lelaki itu menoleh serentak. Fatisa berdiri disana dengan raut cerianya. "Gabung dong, pengen tau juga soal adik-adiknya Rion."
Ceisar tertawa remeh, didekatinya Fatisa hingga perempuan itu refleks mundur beberapa langkah. "Selagi gue masih baik, tolong jauh-jauh. Dan stop penasaran sama adik-adiknya Rion. Lo nggak punya hak apa-apa buat tau lebih tentang mereka."
"Ceis," panggil Rion ketika berdiri di depan lelaki itu, mendorong Ceisar agar mundur dan tidak memberikan kecaman apa-apa kepada Fatisa.
Perubahan emosi Ceisar membuat anak-anak di kelas penasaran. Mereka tidak akan paham mengapa Ceisar berubah menjadi seperti itu. Namun Rion mengerti. Rion paham bahwa yang terjadi sekarang karena Ceisar sudah terlampau kesal kepada Fatisa. Laki-laki itu memang bisa menjadi seorang paling humoris dan baik hati. Namun di sisi lain, Ceisar benar-benar dapat menumpahkan amarahnya kepada orang-orang yang tidak dapat memahami orang lain.
"Udahlah, Ceis," tahan Rion lagi-lagi. Ceisar menatap Fatisa tajam sementara perempuan itu hanya dapat bertahan dalam kebingungan dan ketidaktahuan.
"Kalau gue denger lagi lo ngajakin Rion ngobrol cuma buat pengen tahu hal tadi, gue nggak akan diem aja, Sa."
"Ceis, lo cowok! Nggak baik kayak gitu ke cewek." Rion kembali memperingati, kali ini lebih tegas. Rion juga akan senang dibela, namun bukan pembelaan yang pada akhirnya mengakibatkan seorang perempuan menjadi ketakutan.
"Dia yang harusnya mikir," ujar Ceisar kasar. "Rion nggak nyaman deket-deket sama lo, Sa. Sanalah jauh-jauh. Nggak usah penasaran lagi sama hidupnya."
"Ceis!" Rion membentak, mendorong lagi Ceisar agar lebih mundur. Rion berbalik, menatap Fatisa dengan mata merah sebab menahan sesuatu yang ingin tumpah.
Tanpa pikir panjang, Rion langsung menggenggam pergelangan tangan Fatisa dan membawa perempuan itu keluar dari kelas. Ini hari pertama sekolah, mereka akan diberi sedikit kebebasan.
Rion membawa Fatisa menyusuri koridor. Tentu saja hal tersebut membuat siswa siswi seangkatan menaruh rasa penasaran pada mereka. Rion seketika tersadar akan apa yang dia lakukan. Perlahan, dia mencoba melepaskan genggaman tersebut.
Rion berdehem, mencoba membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba saja sulit mengeluarkan suara. Laki-laki itu, baru saja melakukan hal yang tidak sepantasnya ia lakukan.
Laki-laki itu tetap melanjutkan langkah, membiarkan Fatisa mengikutinya dari belakang. Mereka menuruni anak tangga, lalu berjalan ke arah pintu berukuran besar juga tinggi yang membawa mereka menuju halaman terbuka dari sekolah.
Fatisa ingin bertanya, kemana sebenarnya Rion ingin pergi membawanya. Namun rasa penasarannya terjawab kala langkah lelaki itu memasuki gedung tunggal dengan papan nama berukuran besar. Terbaca dengan jelas disana sebuah kalimat singkat; senior's canteen.
Berbeda dari kantin umum yang terletak di dalam gedung, kantin itu memang diletakkan terpisah dari megahnya gedung sekolah. Khusus diperuntukkan bagi seluruh siswa senior kelas 12. Hanya senior yang dapat masuk kesana. Sementara kantin umum, dapat dimasuki oleh siapapun.
"Kamu udah makan?" Rion akhirnya berbalik dan berhenti, menatap mata coklat gelap milik perempuan itu.
Fatisa memberikan gelengan, "Belum."
"Mau makan apa? Aku pesenin. Kamu bisa cari tempat buat duduk."
"Hm---" Fatisa tampak berpikir. "Bubur ayam aja."
"Oke."
Rion berlalu setelah menjawab, meninggalkan Fatisa yang masih kebingungan karena sikapnya. Fatisa menghela napas, lebih baik jika ia segera mencari tempat kosong.
Fatisa duduk dan sibuk memikirkan sesuatu. Sebenarnya ada apa dengan Rion? Mengapa lelaki itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang memang tidak boleh diketahui oleh siapapun. Fatisa mungkin akan paham, apabila Rion ingin memberitahu barang sedikit saja tentang hal yang ia pendam. Memang, apa salah jika Fatisa penasaran dengan adik-adiknya? Sebab di lain sisi, Fatisa begitu menyukai anak-anak. Walaupun pada yang satu ini, Fatisa tidak hanya menyukai Aksa dan Araz, tetapi juga kakak lelaki mereka.
Fatisa menyudahi pemikirannya. Ditebarnya pandangan ke sekitar, pertama kalinya ia memasuki tempat ini. Akhirnya, setelah menunggu selama dua tahun, angkatan mereka mendapatkan kesempatan untuk memegang dan memasuki tempat ini.
Akhirnya, kedatangan Rion terlihat. Lelaki itu membawa nampan logam yang berisikan dua mangkuk dan teh hangat. Rion mengambil tempat di seberang Fatisa, membiarkan perempuan itu mengambil bubur miliknya.
"Makasih ya, Yon," ujar Fatisa bahagia.
Rion mempertahankan diamnya, ia sibuk berpikir bagaimana cara memulai sebuah kalimat.
"Sa," panggil Rion setelah mencoba menghembuskan napas. "Kelakuan Ceisar tadi, aku mohon maafin dia."
Gerakan mengaduk bubur yang dilakukan Fatisa terhenti, ditatapnya Rion lebih serius. "Kenapa kamu? Kenapa bukan Ceisar langsung yang minta maaf?"
"Dia nggak mudah buat ngelakuin hal kayak gitu." Rion menjelaskan, berharap Fatisa mengerti.
"Mungkin aku salah, karna secara nggak langsung udah bikin dia kesel. Tapi kalau dipikir-pikir, cara kamu yang kayak gini bakalan bikin Ceisar makin nggak suka sama aku. Dari seratus persen, cuma dua puluh persen harapan aku buat Ceisar mau minta maaf. Lagian, dia udah gede buat minta maaf sendiri tanpa harus kamu wakilin kayak gini."
"Dia nggak jago ngendaliin emosinya. Bisa aja dia lagi ada masalah dan buruknya, kamu yang jadi objek pelampiasannya."
Fatisa menunjukkan senyum, "Aku harap emang kayak gitu."
Rion mengangguk, dalam hati berharap agar ia dapat menghilang. Ia sudah malas karena tatapan beberapa pasang mata yang membuatnya risih.
"Buruan makannya, Sa," ucap Rion pelan.
Fatisa menunjukkan senyum, ia suka ketika Rion selalu menyebut namanya di akhir kalimat yang ia katakan.
"Jadi, aku emang nggak boleh tau tentang adik-adik kamu, ya?"
Suapan Rion terhenti, "Aku punya hak buat nggak kasih tau siapa-siapa termasuk kamu."
"Bener juga," jawab Fatisa cepat sembari mengangguk. Ia tidak ingin lagi membuat keadaan Rion menjadi buruk. Dan terpaksa Fatisa harus menurut dengan apapun jawaban yang diberikan oleh Rion.
Setidaknya, mereka sudah makan bersama sekarang. Dan Fatisa berharap, ini dapat berjalan lebih jauh.
• S B C P •
Judith memegang tali paper bag di tangan kanan. Perempuan itu ingin mendatangi Rion ke kelasnya. Judith menuruni anak tangga, menuju lantai pertama. Dipercepatnya langkah, sementara pandangannya sesekali memperhatikan adik kelas dengan tertarik.
Ah, seperti yang terbayang oleh Judith, kelasnya dan Rion berseberangan, membuat jarak itu semakin jauh. Namun Judith tidak patah semangat. Perempuan itu terus saja mengukir langkah, berharap segera tiba dan dapat memberikan sweater ini.
Judith tiba juga, buru-buru menaiki tangga. Setelah melihat deretan kelas 12, Judith menebarkan pandangan guna melihat nama kelas. Pandangan para kakak kelas mengernyit, penasaran akan kedatangan Judith ke daerah mereka. Judith tidak ambil pusing, dia hanya fokus melakukan apa yang dia ingin. 3-1 IPS. Judith tersenyum.
Judith menuju pintu kelas, mengernyit ketika melihat seorang berkacamata tengah sibuk menuliskan sesuatu di sebuah buku. Sementara buku berukuran tebal berada di atas buku catatannya. Dia tampak fokus, dan Judith tidak berniat mengacaukan kefokusannya.
Padahal, ini hari pertama sekolah. Namun kakak kelasnya tadi seperti berada di ujian nasional. Luar biasa.
Judith menoleh ke yang lain, melihat seorang lelaki tengah fokus dengan ponsel. Ah, mungkin Judith bisa mencoba pada orang yang satu ini.
"Permisi, Kak," ujar Judith sopan. Namun tidak ada tanggapan sama sekali.
"Raf, dipanggil tuh," celetuk seorang perempuan kepada lelaki itu. Namun matanya tetap fokus pada layar ponsel, dengan jari lihai. "Rafli gila budeg amat."
"Gue lagi ML," ujar lelaki bernama Rafli tersebut. Judith menghela napas. Games mobile legend memang dimana-mana, membuat kepala Judith mual saja.
"Makan tuh games," jawab perempuan itu lagi. Namun akhirnya dia berjalan ke arah pintu, mendekati Judith. "Kenapa, Dek?"
Judith tersenyum, "Kak Rionnya ada, Kak?"
"Rion? Loh? Berarti lo yang namanya Judith?"
"Iya," angguk Judith enteng.
"Keponakannya Pak Sean? Terus adiknya Kak Abiana?"
Judith menghela napas, mencoba bersabar sebab lagi-lagi perihal siapa dirinya dipertanyakan. Selalu membawa pamannya, selalu membawa kakaknya. Judith bosan. Dia hanya Judith, murid pindahan dari sekolah biasa sebab dikeluarkan akibat kelakuan buruknya.
"Iya, Kak," jawab Judith pelan, rasanya sungguh malas.
Kakak kelas tersebut tampak berbinar kagum. "Cantik lo sama aja kayak Kak Bia. Keluarga lo emang cantik-cantik semua, ya? Soalnya gue liat foto nyokap bokap lo lewat sosmed Kak Bia, keren parah sih."
Judith menunjukkan senyum terimakasihnya. Namun bukan pujian semacam itu yang Judith butuhkan. Dia hanya ingin Rion dan obrolan ringan bersama lelaki itu. Bukannya berdiri disini sambil memuaskan rasa penasaran kakak kelasnya.
"Kak Rionnya ada, Kak?" tanya Judith lagi, berharap kakak kelas itu paham bahwa Judith tidak ingin membahas perihal keluarganya.
"Oh iya, sorry." Kakak kelasnya tertawa tidak enak. "Rion tadi keluar bareng Fatisa. Nggak tau kemana."
Ya Tuhan, waktu Judith terbuang sia-sia hanya untuk menghadapi kelakuan aneh para kakak kelasnya, karena pada akhirnya, mereka tidak tahu Rion dimana.
"Kalau gitu saya per---"
"Oh itu orangnya!" Kakak kelas perempuan itu melihat ke belakang Judith. "Yon, gebetan lo nyariin."
Judith melotot, sementara kakak kelas tersebut hanya tersenyum dan berlalu masuk kembali ke dalam tas. Judith balik badan, dan melihat kedatangan Rion dengan seorang perempuan. Benar saja, itu dia Fatisa. Judith masih ingat samar karena mereka pernah bertemu di depan ruang tata usaha.
Sebenarnya apa hubungan Rion dan Fatisa selain di OSIS?
"Aluna." Bibir Rion menyebut nama itu pelan, laki-laki itu cukup kaget karena lagi-lagi Judith nekat mendatangi kelasnya.
Judith mendekat, mencoba tersenyum kepada Fatisa lalu beralih menatap Rion. "Kak Rion, aku---"
"Nggak apa-apa, Rion aja."
Judith menggigit bibir bagian dalam sebab ucapan Rion yang memotongnya. Judith tersenyum kikuk, menghindari kernyitan Fatisa di serong kanannya.
"Yon," panggil Judith akhirnya tanpa embel-emble kakak. "Ini, aku mau ngasih ini ke kamu." Judith memberikan Rion kode ke arah paper bag yang tengah ia pegang.
Fatisa yang sadar bahwa keberadaannya tidak lagi dianggap---karena Rion terlihat fokus kepada Judith---memilih pergi darisana walaupun ia terlampau penasaran. Ia tidak ingin sakit hati dengan menjadi nyamuk kenyang karena sudah diberi bubur ayam.
"Buat aku?" tanya Rion.
"Iya," angguk Judith dengan senyum. Diulurkannya paper bag hitam tersebut dan Rion menerimanya dengan ragu.
"Kenapa kamu mau kasih aku?" Rion bingung, sejak tadi tidak ada senyum darinya untuk Judith.
"Karna, itu emang punya kamu." Jawaban Judith lagi-lagi membuat Rion mengernyit bingung.
Rion membuka paper bag tersebut dan terpaku. Benda yang berada di dalam paper bag itu tentu bukan miliknya. Apalagi, satu benda yang terletak di bagian bawah. Sesuatu berwarna, pink pastel?
"Ini bukan punya aku, Lun."
Judith menggeleng cepat, "Maksud aku, itu punya kamu karna aku emang sengaja beli itu buat kamu. Iya, oleh-oleh dari aku pulang liburan kemarin."
Rion terdiam, masih terkejut akan kebaikan perempuan di hadapannya. Namun benda pink pastel yang ia lihat tadi, apa juga untuknya? Rion yang penasaran buru-buru memasukkan tangannya untuk mengeluarkan benda pink itu. Mulutnya terbuka, sebuah sweater, dengan ukuran kecil yang tentu saja bukan untuk Rion.
"Ini?"
Judith menatap sekitar dan menahan malu. Ketahuan memberi ketua OSIS sebuah sweater berwarna pink pastel. Beberapa murid memang ada yang tertawa, namun bukan karena warna, melainkan ukuran dari sweater tersebut yang rasanya konyol. Lalu ada pula murid yang menatap dua manusia itu dengan gemas dan penasaran.
"Itu juga punya kamu," ujar Judith pelan.
"Punya aku?"
"Iya. Harusnya aku kasih ke kamu waktu itu, tapi kamunya udah pergi duluan nggak tau kemana. Nggak pernah balik lagi. Makanya sekarang karna kita udah ketemu, aku pengen kasihin itu lagi."
Rion terpaku. Terkejut pada fakta tersebut. Bagaimana bisa Judith menyimpan lama sweater tersebut? Tiba-tiba, Rion bagai tertampar. Apa selama ini Judith tetap memikirkannya? Apa selama ini perempuan istimewanya menyimpan luka teramat karena kepergian Rion? Rion bodoh! Tentu saja Judith terpukul. Dan anehnya, kemana perginya dendam perempuan itu?
"Kamu nggak harus pakai kok, Yon," sambung Judith karena Rion tidak kunjung bersuara. "Delvie cerita kalau kamu punya adik kembar. Kasih adik kamu aja. Tapi kalau mau kasih, kembaran yang lain jangan sampai tahu. Nanti dia ngambek."
Rion diam awalnya, masih terkejut. Namun eskpresi lucu Judith ketika berbicara benar-benar membuat Rion menerima saja bahwa Judith sudah tahu tentang adik kembarnya. Ujung bibir Rion tertarik, lelaki itu tersenyum. Judith buru-buru menekan home bottom dari ponselnya, menggeser layar untuk mendapatkan kamera. Dan memotret wajah Rion dengan cepat.
Rion kaget! "Kamu ngapain?"
Judith tertawa, lalu dengan semangat menjawab. "Kamu senyum!"
Rion menahan diri untuk tidak tertawa dan mengacak rambut Judith. Laki-laki itu kembali memasang wajah maklum pada sikap Judith.
"Terus, aku harus bales pakai apa?"
"Pudding!" jawab Judith langsung. "Pudding aja! Puddingku yang tadi pagi udah abis. Tapi kamu langsung yang kasih ke aku, ya."
Rion tampak mengangguk setuju. "Nanti, pulang sekolah."
"Oke. Yaudah, kasihin sweaternya ke adik kamu aja, ya. Tapi inget, diem-diem."
"Nanti aku kasih ke adik cewekku."
"Loh?" Judith kini fokus berpikir.
"Iya, adikku cewek sama cowok, Lun. Yang cowok juga nggak akan mau pakai warna pink."
"Serius?! Samaan kayak kakak sepupuku, dong. Juga kembar cewek cowok. Ih, pasti gemes adik kamu. Titip salam, ya!"
Dan anehnya, Rion tidak kesal ketika membahas perihal adiknya bersama Judith.
• S B C P •