30 (a). Semester Baru

1783 Words
Judith bergerak dengan semangat di tempatnya. Perempuan itu membiarkan alunan lagu dari salah satu penyanyi terkenal terputar dan mengisi setiap sudut kamar. Judith tengah bersemangat malam ini. Besok, sekolah akan dimulai dan hal yang Judith tunggu-tunggu akan segera tiba. Anak perempuan itu ingin mendatangi Rion dan menyapa lelaki itu. Tidak peduli apakah Rion tengah menyimpan dendam kesumat atau tidak kepada Judith. "Dek, makan dulu!" Teriakan sang mama terdengar, membuat Judith buru-buru melemparkan barang yang ia beli ketika berlibur di London kemarin. Langkah kaki Judith menuruni anak tangga dengan pasti. Diikatnya seluruh rambut ke belakang dengan karet gelang yang memang selalu berada di pergelangan tangan kirinya. Baju tidur bergambar tokoh cartoon yang menutupi badan Judith hingga lutut membuat ia tampak lucu. Judith masuk ke dalam ruang makan yang memang bergabung dengan dapur. Dilihatnya sang papa dan mama tengah asik berbincang ringan. Ah, Judith jadi rindu dengan kedua kakaknya. Bahkan walaupun sudah bertemu, hal tersebut tidak berpengaruh besar untuk mengurangi rasa rindu Judith. "Malam," sapa Judith lalu duduk di kursi makan. "Cuci tangan dulu," peringat Nadine dan Judith terkekeh. Mamanya selalu saja tahu. "Besok Judith Mama yang anter, ya." Nadine berkata ketika Judith mulai mengambil nasi. "Papa?" Judith bertanya, memandang papanya penasaran. "Subuh nanti Papa berangkat ke Lembang," ujar Aldric menjawab rasa ingin tahu Judith. "Yah! Berapa hari, Pa?" Aldric tertawa kecil, mengerti bahwa Judith sering kali malas jika Aldric sudah melakukan perjalanan ke luar kota. Namun di beberapa kesempatan, Judith kerap girang jika papanya pergi. Pertanda bahwa Judith dapat menghabiskan waktu bersama mamanya. Tapi pada akhirnya, Judith akan merindukan sosok kepala keluarga tersebut. "Sorenya Papa balik." Aldric menenangkan. Judith membulatkan mulut dan kembali tenang. Diambilnya beberapa potong udah ke piring dan sayur. "Itu oleh-olehnya mau dibawa ke sekolah?" Judith mendongak, ketika pertanyaan mamanya terlontar. Gadis itu menggeleng, "Nggak tau, liat besok aja." Gadis itu lanjut memakan makanannya. Meja makan itu diisi dengan cerita, omelan kesal, tawa, nasihat, bahkan obrolan dengan topik tidak penting sekalipun. Walau hanya bertiga, tapi Judith dan kedua orangtuanya memiliki cara sendiri untuk mempertahankan kehangatan tersebut. Selang dua puluh menit, makan malam selesai. Nadine kembali sibuk di dapur sementara Judith dan Aldric sudah terbenam di bed sofa---menonton film. "Anak papa cepet banget gedenya. Udah kelas sebelas." Aldric menatap Judith di sebelahnya yang terdiam. "Papa takut nggak bisa lepasin Judith jauh-jauh. Dulu, waktu Aa masih kecil banget, mama bilang pengen kasih adik buat Aa. Papa nggak setuju, Papa nggak tega liat mama kesakitan waktu ngelahirin. Papa sampai mikir, terserah mama kepengen anak berapa asal biar Papa yang ngandung sama ngelahirin. Mama nggak usah. Tugas mama cukup kasih nama. Tapi ya mana mungkin." Judith takjub, lagi-lagi dia mendengar sedikit bagian kisah masa lalu kedua orangtuanya. "Terus, Pa?" Judith penasaran. "Ya akhirnya Papa setuju, liat mama ngarepin banget kalau anak kedua jaraknya deketan sama Aa." "Teteh...," lirih Judith dengan senyum. "Iya. Waktu hamil Teteh, mama bener-bener mudah capek. Papa yang langsung turun tangan buat beres-beres rumah." "Teteh bandel teryata." Judith tertawa. "Terus, Pa, lanjutin." "Enggak, maksud Papa cerita ini, Papa kepikiran aja kalau misalnya Papa nolak permintaan mama dulu. Tetep pengen punya anak satu. Mungkin Papa nggak bakalan ketemu malaikat-malaikat cantik papa. Teteh sama Judith." Aldric mendekap Judith, lagi-lagi mencium puncak kepala si bungsu. "Pa," panggil Judith pelan. "Kenapa?" "Kalau Judith bisa balik lagi ke masa lalu, Judith bakalan tetep pilih papa sama mama." Suara Judith bergetar, hati perempuan itu memang teramat lembut. "Maafin Judith ya, Pa, kalau sering bikin papa sama mama sakit kepala." Aldric mencubit pipi anaknya itu, tertawa. "Ya gimana, nakalnya emang Judith yang dapet. Selagi nggak kelewat bates Papa masih wajar." "Lagi ngobrol apa?" Nadine nimbrung. Mengambil tempat di sebelah Judith sembari memberikan gadis itu s**u malamnya. Perempuan itu kini diapit oleh kedua orangtuanya. "Mam," panggil Judith ke Nadine yang kini serius menatap layar ponsel. Judith memeluk pinggang sang mama setelah menghabiskan susunya. Membuat Nadine mengernyit dan menatap Aldric penuh tanya. "Nanti kalau udah dewasa, Judith pengen punya suami kayak papa." "Dek?" Nadine kian bingung, dicubitnya pipi remaja itu lembut. "Belajar dulu! Udah mikirin suami aja." "Ya nggak apa-apa. Lagian papa barusan cerita waktu mama hamil dulu." "Kenapa?" "Pokoknya gitu deh, Mam." Judith bangkit setelah mengecup pipi Nadine dan Aldric. Dia ingin kembali ke kamar dan kembali mempersiapkan peralatan untuk besok. Judith penasaran, bagaimana rasanya menjadi seorang kakak kelas di sekolah menengah atas. Anak perempuan itu tiba di depan pintu kamar dan langsung membukanya. Dinginnya suhu kamar membuat Judith melompat ke tempat tidur, sembunyi di dalam selimut. Sementara disana juga berserakan pernak-pernik lucu. Ada beberapa beanie dan kaus kaki dengan motif menggemaskan. Dan sweater yang belum sempat Judith masukkan ke dalam paper bag. Judith menatap sweater itu lagi. Ia tersenyum puas. Sweater warna krem dengan lambang bintang warna coklat tua, terlihat cocok untuk Rion jika Judith pikir-pikir. Dibalik sweater tersebut terdapat kemeja warna biru navy. Sebenarnya bisa dibeli terpisah, namun Judith mengambil keduanya. Setelah puas melihat, Judith melipat dengan rapi sweater tersebut dan memasukkannya ke dalam paper bag yang juga berisikan sweater merah hati. Judith akan memberikan itu semua kepada Rion besok, sebab semua barang tersebut memang harus menjadi milik Rion. Judith menyusun sisa barang, meletakkannya di tempat lain sebab sudah waktunya ia tidur. Judith mematikan lampu utama, menyalakan salah satu lampu tidur. Diambilnya ponsel dan berniat melihat-lihat sebentar sebelum matanya terpejam. Ah, Judith tidak sabar menunggu pagi. • S B C P • Cakrawala ramai. Mobil yang dibawa Nadine berhenti tepat di depan gedung sekolah. Judith merapikan lagi rompi miliknya lalu mencium tangan dan pipi Nadine sebelum keluar dari mobil. "Dah, Mam!" Judith mengucapkan salam kemudian menutup pintu mobil. Perempuan itu menatap lurus dan masuk ke dalam gedung utama sekolah. Namun Judith sukses mengerjap, begitu ramai siswa baru. Lalu pemandangan manusia-manusia dengan rompi merah gelap yang tampak sibuk mondar-mandir membuat rasa takjub Judith muncul. OSIS sekolahnya benar-benar bekerja dengan baik. Karena pagi ini tentu saja dimulai dengan upacara. Judith buru-buru menuju kelas yang bodohnya ia tidak tahu dimana. Judith celingak-celinguk mencari mading---dia masih buta tentang sekolah. Perempuan dengan rambut digerai itu mengerucut sebal sebab besarnya sekolah ini, dia jadi kesulitan mencari. "Dith." Judith menoleh, melihat Niko yang tengah tersenyum dengan pisang di depan mulut, membentuk sebuah senyuman. " It's hard to find a sad banana, isn't it?" Judith tertawa. Langsung saja direbutnya pisang tersebut. "Makasih, Nik." Niko mengangguk, "Gimana liburan kemarin?" "Seru," jawab Judith. Anak perempuan itu memang seperti baling-baling. Kadang merasa bersahabat dengan Niko, kadang pula merasa tidak ingin menatap wajah lelaki itu untuk alasan yang tidak pasti. "Oh, aku juga punya oleh-oleh buat kamu." "Serius? Yaudah nanti aku ke rumah ngambil sendiri." Judith mengangguk setuju, lalu sibuk celingak-celinguk---kembali teringat perihal kelas. "Kamu lagi cari siapa?" "Cuma lagi ngeprediksi aja, jalan mana yang bisa bawa aku ke mading utama." Niko sontak tertawa. Perkataan Judith seakan-akan membuat Niko tidak berguna. "Kamu bisa tanya sama aku, Dith." "Oh iya," celetuk Judith merasa bodoh. "Terus dimana? Aku kepo banget masalah kelas." "Kepo kenapa? Lagian temen sekelas nggak akan berubah." "DEMI APA?!" Judith berujar dengan semangat. Memancing rasa ingin tahu siswa-siswi yang lainnya. "Emang kenapa?" Niko balik bertanya dengan raut bingung. "Kan emang nggak ada sistem acak kelas, Dith." "Oh gitu," tanggap Judith dengan anggukan. "Terus kelas aku dimana dong?" "Ya di deket sisi bangunan aud." "Aud? Apaan lagi, sih?" Niko menghela napas, "Dua. Katanya dibalik. Udah jadi kebiasaan dari dulu." 'Kok di sekolah lama gue nggak ada beginian, ya,' batin Judith. "Oh gitu," jawab Judith sama seperti sebelumnya. "Yaudah aku ke bagian aud dulu kalau gitu." Judith berlalu. Beberapa adik kelas yang menyapa dibalas Judith dengan senyuman. Dia senang melihat banyak anak baru seperti ini--- tapi tidak suka menjadi anak baru. Judith naik tangga, menuju gedung bagian aud. Judith tersentak sesaat, sadar akan sesuatu. Bila gedung aud berada di bagian kiri, maka secara teratur gedung agit terletak di seberangnya. Sebab gedung utas sendiri terletak di bagian tengah, diapit oleh dua angkatan. Sengaja dibuat seperti itu agar mereka dapat terus bertatap muka dengan kakak kelas. Dan tepat di sebelah gedung agit, terdapat sebuah gedung tunggal yang menjadi markas besar agit. Sebuah kantin. "Judith!" Teriakan itu terdengar diikuti dengan kemunculan Delvie. Perempuan itu tampak menggemaskan hari ini. "Gue kangen sama lo!" Judith tertawa, "Gue juga." "Kemarin liburan kemana?" tanya Delvie ketika mereka melanjutkan langkah mencari kelas. "Aceh," jawab Judith sedikit kikuk. "Serius? Ih mau juga! Terus mana oleh-olehnya?" Judith meringis. Ia tidak membawa banyak benda dari Aceh, melainkan makanan dan berniat akan menghabiskannya sendiri sembari menonton deretan film. Begitulah Judith, pelitnya muncul ketika menemukan makanan enak. "Nanti gue kasih," jawab Judith akhirnya. Karena memang dia sudah membelikan Delvie sesuatu ketika di London. "Yes!" "Masa gue doang? Dari lo mana?" "Mau juga?" "Ya mau!" Judith gemas sendiri. Delvie terkekeh. "Iya nanti. Yang penting buat pacar gue dulu. Kasian udah lama ditinggal." Ucapan Delvie terhenti ketika tatapannya baru sadar akan sesuatu. "Lo ngapain pegang-pegang pisang?" "Hah?" respon Judith tidak sadar awalnya. "Oh ini, iya tadi dikasih Niko." "Aduh so sweet banget pagi-pagi udah dianterin pisang." Delvie menggoda. "Emang lo sama pisang kenapa, sih? Kok bisa sesuka itu?" "Nggak tau, gue juga bingung. Cuma di rumahkan nggak pernah absen buah. Terus kata nyokap waktu gue di depan keranjang buah, gue bakalan selalu ngambil pisang sambil bilang 'cang cang cang' gitu." Judith menjelaskan, sembari menirukan ekspresinya dulu. "Aneh banget temen gue." "Diem lo!" Delvie mencebik sementara Judith mempercepat langkah. Diikutinya Judith dari belakang, ketika melihat dimana perempuan itu berhenti, Delvie sadar bahwa disanalah kelas mereka. "Judith!" Panggilan anak-anak bersemangat memanggil Judith ketika ia memasuki kelas. "Cie Judith!" "Ada hubungan apasih, Dith, sebenernya?" Judith mengernyit bingung. Namun ketika Rizzy dengan rompi merah gelap datang mendekat membawa sesuatu di tangannya, penasaran Judith terjawab. "Nih, dari ketua OSIS kita." Rizzy mengulurkan tangan. Dan Judith menerima pudding coklat tersebut sembari sibuk berpikir. Kenapa Rion tidak pernah memberikannya secara langsung? Judith menghela napas, namun buru-buru tersenyum. "Makasih," ujar Judith pelan. "Terus kok lo disini?" "Lagi males." "Lah? Pemales." "Biarin, sehari doang lagian. Ceisar yang setiap hari kalem aja." "Heh jangan bawa-bawa Difa, ya. Gue basmi lo!" Rizzy hanya menatap Delvie tidak suka. Ingin menarik rambut perempuan itu sebab gemas. Sementara anak-anak masih sibuk mempertanyakan apa sebenarnya yang terjadi di antara Judith dan Rion. "Udah-udah, nggak usah pada kepo. Sekarang buruan ke lapangan." Rizzy memerintah sebagai anak OSIS ketika bel pertanda upacara berbunyi lantang. Membuat teman-teman yang lain menyorakinya sebal. Mereka mulai memasang topi warna hitam. Lagi-lagi perbedaan mereka dengan OSIS begitu terlihat, sebab organisasi tersebut memakai topi dengan warna senada seperti rompi. Judith jadi penasaran, seperti apa rasanya memakai rompi itu. Mereka tentu saja merasa bangga. Dari barisannya, dapat Judith lihat sosok Rion yang tengah berdiri di bagian pemimpin upacara. Laki-laki itu tampak menakjubkan dengan ekspresi seriusnya. Pun dengan rompi dan topi merah gelap yang sedang melekat padanya. Judith suka. • S B C P •
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD