"Araz mau es krimnya?" tawar Rion sambil menunjukkan es krim di dalam cup. Sudah tidak dingin, mungkin juga sudah mencair.
Araz mengangguk, ia ingin disuapi langsung oleh Rion. Sudah beberapa hari ini, Rion tidak pulang dan memilih merawat Araz di rumah sakit. Sementara sang bunda dapat pulang dengan leluasa dan menyelesaikan tugas rumah. Disamping itu, Rion bersyukur sebab keadaan Araz terlihat lebih segar. Adik perempuannya itu banyak tertawa akhir-akhir ini.
Rion tersenyum, lalu membuka penutup es krim dan dengan teramat lembut menyuapi Araz. "Araz makin cantik kalau senyum." Rion memuji, sehingga terlihat sedikit semburat merah di pipi Araz. Hari ini, adiknya benar-benar terlihat baik.
"Kak Rion kapan masuk sekolah lagi?" tanya Araz setelah menelan es krim cair tersebut. Ekspresi gadis dengan beanie tersebut tampak lucu ketika merasakan rasa asam dari es krim stroberi yang dibelikan Aksa beberapa jam lalu.
"Kenapa? Kalau nanti udah masuk sekolah Kak Rion bakalan tetep sering kesini. Main sama Araz."
"Araz pengen ke taman, Kak," ujar Araz sembari melihat ke arah kaca kamar. "Araz bosen di kamar terus."
Menurut Rion, tidak ada salahnya jika Araz berpergian. Anak perempuan itu sebenarnya juga boleh tinggal di rumah. Namun sang bunda terlalu takut apabila hal-hal diluar dugaan terjadi dan bagaimana jika Rion tidak ada di rumah. Araz juga dilarang keluar sebab bundanya takut Araz terlalu kelelahan. Bundanya banyak memberi larangan, yang Rion pikir membuat Araz menjadi memendam segalanya sendiri di dalam hati. Gadis itu tidak mampu melawan sang bunda sebab pengorbanan bundanya benar-benar luar biasa.
"Nanti kalau bunda tau, gimana?" ujar Rion dengan nada bertanya. Bodohnya laki-laki itu bertanya seperti itu. Harusnya dia dapat memenuhi segala permintaan Araz. Masalah ketahuan, itu akan menjadi tanggung jawab Rion. "Ayok." Rion mengulurkan tangan, sehingga Araz yang tadinya berubah murung langsung saja tersenyum.
"Ayo, Kak." Araz turun pelan-pelan dari tempat tidur. Rion langsung mengambil kursi roda dan membantu Araz duduk disana.
"Kita nggak usah bangunin Aksa, ya?"
Araz mengangguk setuju. "Iya, nggak usah. Lagian kasian Aksa kurang tidur."
Mereka segera keluar dengan Rion yang mendorong kursi roda. Araz menatap sekitar. Sudah lama dia tidak keluar. Bahkan Araz pikir dia tidak hapal bagaimana denah rumah sakit ini. Mereka menuju lift, beruntungnya tidak membutuhkan waktu lama untuk Rion dan Araz menunggu lift agar terbuka. Mereka masuk di lift yang tidak berisikan siapapun. Rion menekan tombol lantai, membiarkan hening memeluk mereka untuk sesaat.
Ting!
Lift terbuka. Mata Araz menampilkan eskpresi kaget. Ramainya orang-orang membuat gadis kecil itu sedikit takut. Dipegangnya penyanggah kursi roda dengan kuat, takut-takut jika ada yang menolaknya dan Araz bisa saja terjatuh.
"Araz kenapa?" tanya Rion memastikan.
Adiknya menggeleng, tetap diam. Rion tidak lagi memaksa, dilihatnya kiri kanan. Aktivitas di rumah sakit benar-benar sibuk. Para suster, beberapa dokter, lalu orang-orang dengan baju berbeda yang menandakan bahwa mereka adalah pengunjung. Bau obat-obatan juga tercium dari sini. Rion tidak ambil pusing, dia hanya butuh membawa Araz keluar.
Didorongnya lagi kursi roda tersebut, menuju ke arah pintu yang berada di sisi timur. Sebab akan lebih dekat mencapai taman melalui pintu tersebut. Rion menatap beberapa perawat yang tampak akrab dengan Araz, semuanya terlihat ramah.
Mereka berhasil mencapai taman. Bangku-bangku putih beserta pohon rindang tumbuh dengan baik. Rion membawa Araz ke salah satu pohon besar dimana bayangannya membuat teduh. Rion langsung saja duduk di hadapan sang adik, memandangi wajah Araz yang sibuk menatap sekitar.
"Araz suka disini, Kak." Araz bersuara, tersenyum kecil kepada Rion. "Tapi Araz pengen pergi ke taman umum. Yang ada balonnya, badut, musik. Araz pengen kesana."
"Nanti. Kakak janji bawa Araz kesana. Kita main bareng Aksa. Kita main sampai Araz puas disana."
Araz mengangguk, "Kapan, Kak?"
"Nanti, kalau waktunya pas buat kesana, kita kesana. Sekarang kakak baru bisa bawa Araz kesini. Araz mau apalagi?"
"Ini aja dulu. Araz udah seneng banget dibawa kesini."
Rion mengangguk, lelaki itu ikut serta menatap sekitar seperti yang tengah dilakukan Araz. Dalam diam, Rion kerap membayangkan saat nanti ketika Araz kembali sehat dan gadis itu akan tumbuh dewasa. Rion tidak sabar untuk hal yang satu itu. Menunggu Araz menjadi gadis dewasa cantik. Dan nanti, bila ada seorang lelaki yang datang kepada adiknya, Rion tidak akan lupa bertanya, sanggupkah laki-laki itu menjaga adiknya? Sanggupkah dia menyayangi Araz dan akankah ia tetap bertahan tidak peduli apapun yang terjadi? Jika saat itu tiba, Rion berharap lelaki itu akan mengangguk sembari mengatakan iya.
"Raz," panggil Rion sembari menatap wajah Araz. "Kalau nanti Araz punya pacar, bawa dulu pacarnya ketemu Kakak. Biar Kakak yang nilai dia cocok atau enggak buat Araz."
Araz tersenyum samar, "Araz nggak minat pacaran, Kak. Araz juga nggak pernah mikirin hal kayak gitu."
"Kenapa? Kan Araz cantik. Pasti banyak yang ngejar Araz."
Gelengan Araz muncul, "Mana ada laki-laki yang suka sama perempuan nggak punya rambut, Kak."
Rion terdiam, sadar bahwa ia sudah salah dalam berbicara. Bukannya membuat keadaan Araz semakin baik, Rion malah semakin membebani adiknya tersebut.
Belum sempat Rion memikirkan topik, Araz kembali bersuara. "Kak Rion udah punya pacar, ya?"
"Ha? Enggaklah." Rion menjawab kikuk. Padahal jelas-jelas pertanyaan tersebut muncul dari adiknya, dan Rion malah malu sendiri.
"Nggak ada yang mau sama Kak Rion? Atau Kak Rion yang nggak mau? Makanya Kakak jangan sibuk-sibuk banget."
Rion tertawa, "Kakak nggak punya pacar, Araz."
"Bohong! Ayo dong, Kak, Araz mau ketemu pacarnya Kak Rion. Araz udah lama nggak ketemu orang-orang baru lagi."
Rion diam, sibuk berpikir. Bagaimana pula caranya Rion membawa seorang pacar sementara ia memang tidak mempunyainya. Biarlah Rion dibilang kolot atau tidak laku sebab tidak pernah berpacaran. Karena entahlah, tidak ada yang bisa meruntuhkan pertahanan Rion terhadap satu orang yang sudah ia kagumi sejak lama.
Rion ingat samar, bagaimana dulu ia memperhatikan seorang perempuan dengan kerudung tidak teratur sibuk berlari mengitari lapangan. Kaus kaki putih dengan sandal. Rion mengernyit di tempatnya berdiri. Ketika Abi Wahid---guru pria yang mengajarkan Aqidah dan Fiqih---lewat di hadapan Rion, anak itu buru-buru bertanya.
"Bi, itu Judith kenapa lari-lari?"
Abi Wahid menatap Rion dan menggeleng, "Judith ketauan makan pisang di kelas kata gurunya."
"Lagi, Bi?" Abi Wahid mengangguk. "Terus kok hukumannya seberat itu?"
"Judith yang mau. Dia ngaku sama kesalahannya terus bilang kalau keliling lapangan cocok buat sikapnya yang tidak sopan."
Rion menggelengkan kepala. Dia tentu tidak berada di kelas tadi sebab saat itu adalah pelajaran mengenai agama, dimana kelas laki-laki dan perempuan dipisah. Mereka hanya bergabung di kelas pelajaran umum.
Rion memang tidak dekat dengan Judith. Namun kadang kala, Judith akan menjadi objek perhatian Rion sebab anak itu sedikit aneh? Bagi Rion hanya aneh saja, melihat Judith tidak mau berbaur dan berteman dengan siapapun. Rion selalu menangkap kesendirian Judith, namun anak perempuan itu tetap memasang wajah ceria. Seperti tidak memiliki beban sama sekali. Atau memang kehidupannya berjalan dengan baik?
Dengan penasaran tingkat tinggi, Rion mendekati Judith yang kelelahan abis berlari. Sementara Abi Wahid sudah berlalu. Dilihatnya Judith berjalan menuju tepi lapangan, anak-anak rambutnya terlihat bersama muka yang basah sebab keringat.
"Aluna," panggil Rion dan untuk pertama kalinya nama itu disebut. Judith yang merasa terpanggil menoleh, menatap Rion bingung.
"Kamu panggil aku? Rion mengangguk. "Namaku Judith. Bukan Aluna."
"Tapi lebih cocok kalau dipanggil Aluna." Kedengeran lembut, terus cantik. Rion menyambung ucapan tersebut dalam hati. Namun tidak seorangpun yang tahu bahwa alasan sesederhana itu menjadi dasar munculnya panggilan istimewanya pada Judith.
"Apasih?" Judith bingung, kemudian berlalu begitu saja---entah pergi kemana.
Rion menahan senyumnya. Interaksinya dan Judith tidak sering. Namun setelah hari itu, Rion berusaha memanggil Judith dengan semangat. Seperti biasa, dengan Aluna. Lalu mulai mengetahui apa yang Judith suka, yaitu pudding coklat.
Rion mulai rajin memberikan Judith pudding tersebut. Sehingga Judith sukses menganggap Rion temannya. Semuanya berjalan baik, hingga saat itu Rion terpaksa pergi.
"Kak Rion!" Rion tersentak, menatap Araz yang tampaknya sudah tidak nyaman berada di luar. "Araz ngantuk, Kak."
Rion buru-buru berdiri di belakang kursi roda sang adik, "Ayo masuk lagi."
• S B C P •
Rion mengendarai mobilnya dengan tenang membelah jalanan sore Jakarta. Laki-laki itu hendak menuju mal karena Ceisar sudah menunggunya. Disebabkan film favoritnya sudah keluar, Ceisar sukses berubah menjadi monster mengerikan dan memaksa agar Rion menemaninya. Sementara Delvie sedang menikmati liburannya, tentu saja.
Ponsel Rion kembali bergetar. Nama Ceisar tertera di layar. Dengan tingkat kekesalan yang sulit dikendalikan, Rion memilih mendiamkan panggilan lelaki itu. Dia hanya akan mendengarkan bentakan Ceisar dan itu akan memperbesar peluang Rion mendapati sakit kepala.
Tidak selesai disitu, chat yang masuk dari Ceisar membuat Rion tersenyum menang. Rion menambah kecepatan mobilnya, mengambil peluang di jalanan yang beruntungnya tidak begitu padat.
"Sebentar lagi gue nyampe," ujar Rion sendirian.
Lagi-lagi ponsel Rion bergetar. Rion melirik sekilas dan terpaku untuk sesaat. Itu bukan lagi dari Ceisar. Namun Rion tidak ingin buru-buru, dibiarkannya dulu panggilan tersebut hingga pada akhirnya, ponsel itu diam.
Kembali ponsel tersebut bergetar, menampilkan nama yang sama. Rion menghela napas, pada akhirnya meraih ponsel dan menggeser layar.
"Halo," sapa Rion pertama. Sudah terhitung beberapa hari dia memilih untuk kembali menjauhi seseorang yang kini menghubunginya.
"Rion!" teriak orang di seberang sana dengan semangat. Rion mengernyit, penasaran dengan perempuan itu.
"Lun?" Benar, dia Judith.
"Akhirnya kamu jawab telfon aku." Judith bersemangat, perempuan itu sepertinya memiliki mood yang baik.
"Kamu kenapa?"
"Kamu liburan kemana? Aku pengen oleh-oleh dong." Rion lagi-lagi mengernyit. Sebenarnya ada apa dengan Judith?
"Nggak kemana-mana."
"Loh? Terus kenapa chatku nggak pernah dibales? Aku pikir kamu pergi liburan."
"Cuma lagi nggak pegang hp."
"Oh iya, bunda kamu apa kabar? Aku nggak sabar ketemu buat ketemu. Waktu semester baru nanti, aku bisakan ketemu bunda kamu?"
"Kamu baik-baik ajakan, Lun?"
"Baik dong. Apalagi hari masuk sekolah udah deket. Berarti bisa ketemu kamu."
Rion terdiam, merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya karena ucapan Judith. "Baguslah."
"Oh iya, Yon, buat yang waktu itu, maaf ya kalau temenku kurang sopan. Dia emang kayak gitu, tapi aslinya dia baik kok."
"Santai aja. Lagian juga bukan urusanku."
"Iya, santai kok ini." Judith menahan helaan napasnya di seberang sana, begitu ingin menghempaskan ponsel.
"Udah dulu, Lun, aku ada urusan."
Sambungan diputus oleh Rion tanpa mendengar jawaban Judith terlebih dahulu. Dia bingung harus menanggapi Judith seperti apa. Karena satu yang Rion tahu, dia bukan lagi Rion hangat seperti dulu. Semua masalah yang Rion pikul membuat lelaki itu berubah jauh, sulit dijangkau.
Dan kehadiran Judith membuat Rion pelan-pelan belajar untuk mencari jati dirinya dahulu. Lelaki itu berusaha baik dan hangat. Namun Rion terlalu kaku. Maka dari itu Rion cukup takjub dengan apa yang sudah Judith lakukan. Jika perempuan itu tidak menghubunginya kembali, mungkin Rion akan semakin jauh. Ikut tenggelam bersama gelap di dalam dirinya.
Senyum Rion terbit samar. Apa selama Rion pergi, Judith tetap semenggemaskan itu? Pikir Rion penasaran. Rion hanya tidak habis pikir, mengapa Alunanya bisa seberani itu. Benar, Alunanya.
• S B C P •
Judith memegang jantungnya dan merasakan apa ia masih hidup atau tidak. Sesuatu yang baru saja Judith lakukan masih sulit ia percaya. Entah keberanian darimana, Judith mencoba untuk mendapatkan perhatian Rion. Di dalam kamar milik mamanya dulu, Judith akhirnya tersenyum bagai orang bodoh.
Gadis itu mendekati kaca jendela, menyingkap gorden. Matanya menyisir pemandangan pagi. Tampak segar. Dengan deretan rumah yang berada di seberang rumahnya.
Ini yang Judith suka. Sebab keluarganya tidak perlu mengeluarkan uang untuk biaya hotel yang sangat mahal. Rumah milik opanya dulu, tempat mamanya juga tinggal untuk beberapa tahun.
Hari ini, Judith dan yang lainnya akan pergi berjalan-jalan lagi. Tepatnya belanja. Sebab lusa mereka sudah akan pulang. Sebenarnya sedikit sulit meninggalkan London, tentu karena tempatnya yang indah. Namun rasa rindu Judith terhadap tanah kelahirannya juga tidak bisa ditepis.
Judith berbalik, mengambil kardigan lengan panjang warna putih yang jatuh hingga lutut untuk melapisi kaus santai pink tanpa lengan yang sedang ia pakai. Jeans straight leg lalu boot. Judith pikir tidak buruk.
Judith mengambil tas, meletakkannya di bahu kanan. Lalu keluar dari kamar dan melihat anggota keluarganya sudah siap.
"Mau belanja dimana, Mam?" tanya Judith ketika ia tengah berada di dekat meja pendek. Diambilnya s**u yang masih sisa empat, tanpa pikir langsung meminumnya.
"Oxford Street, Teh?" Nadine bertanya kepada Bia, dan disambut dengan anggukan cepat.
"Iya, Mam. Tapi kita kesana siangan dikit aja. Soalnya masih jam segini juga. Mendingan ke tempat lain aja dulu."
Judith tidak lagi mendengar sebab sibuk dengan s**u yang ia minum beserta ponsel. Ketika mendongak, Judith mendapati sang papa tengah mengenakan jaket.
"Pa!" panggil Judith dan Aldric melihat. "Semalem Judith liat foto-foto lama yang ada di ruang keluarga. Terus ternyata ketemu foto papa bareng mama waktu SMA."
"Terus, Dek?" Aldric penasaran.
Judith nyengir kuda, lalu tertawa. "Papa ganteng."
"Emang ganteng. Makanya mama nempel sama papa."
"Nggak usah percaya, Dith," celetuk Abi dan Aldric melotot.
"Emang kenapa, A? Mama nggak mau sama papa ya dulu? Yah, kasihan." Judith mengejek, dibarengi tawa Abi yang meledak. Aldric hanya geleng kepala.
"Udah, kan?" ujar Pria itu. "Ayo jalan sekarang."
Judith semangat. Sebab dia akan kembali membelikan sesuatu untuk Rion. Tidak lagi dengan hati dongkol seperti bertahun lalu, Judith tulus kali ini.
Judith menyalakan ponsel, penasaran dimana dan seperti apa Oxford Street. Awalnya anak perempuan itu tidak menyadari. Oxford Street tampak seperti jalan-jalan pada umumnya. Namun pada akhirnya Judith sukses menghela napas, tentu saja kakak perempuannya mengajak kesana. Sebab di sepanjang jalan tersebut, toko-toko dengan merek ternama berkumpul.
• S B C P •