28. Ngobrol Bareng Teteh

1665 Words
Lalu lalang pejalan kaki, entah dari masyarakat asli atau mungkin pelancong yang datang dari berbagai belahan dunia manapun meramaikan suasana malam itu. Taksi yang tampak sambung menyambung. Bus merah bertingkat yang juga ikut sibuk. Gelap perlahan mulai menyapa. Tidak suram, suasana semakin ramai sebab cahaya lampu ciptaan manusia. Judith menatap tugu monumen dihadapannya dengan tingkat takjub luar biasa. Walaupun sudah beberapa kali berkunjung, gadis itu tetap saja berhasil dibuat geleng kepala. Judith mengeluarkan ponsel. Berniat mengambil gambar dirinya dengan latar belakang salah satu dari empat patung singa yang menjaga monumen setinggi 52 meter tersebut. Trafalgar Square. Walaupun tampak sibuk, namun kebisingan tidak ditemukan. Sementara kendaraan yang terus melaju tetap mempertahankan keheningan, tidak ada bunyi klackson. Keheningan semacam ini yang Judith suka. Lalu ia dapat melakukan hal apapun tanpa takut menerima komentar sekitar. Sebab manusia lainpun terlampau sibuk dengan urusan mereka. Judith melirik ke sebelah kiri, menemukan pasangan muda yang tampak mesra tertawa. Perempuan itu tiba-tiba saja teringat akan seseorang. Judith memainkan ponsel, lagi-lagi mengecek aplikasi chatting berharap ada balasan pesan disana. 'Rion liburan kali, ya?' pikir Judith mencoba positif. "Dek!" Panggilan Abi membuat Judith menoleh dan mengernyit. Kakak lelakinya itu tengah memegang kamera dan berhasil memotret wajah bodoh Judith. "Mau foto bilang-bilang dong, A!" ucap Judith kesal. "Makanya jangan ngelamun." "Siapa yang ngelamun?" "Judith ngelamun." Abi dan Judith sibuk berperang. Judith sebal pada Abi, sebab kakaknya itu lebih sering memancing Judith sekarang. Tidak seperti dulu, ketika Judith selalu berhasil menggoda Abi hingga laki-laki itu kesal. Judith memeluk tubuhnya sendiri, berharap dapat mendapatkan panas. Diabaikannya Abi lalu berjalan menuju Bia. "Teh, beli kopi dulu, yuk." Nadine bergerak, "Mau mama temenin?" "Mama disini aja. Kali aja nanti Aa mau curhat masalah nikah." Mulut Abi terbuka sebab tidak percaya akan perkataan Judith. Perempuan itu tertawa, kembali berhasil membuat Abi kesal adalah hobi Judith. "Jangan beli kopi, Dek. Beli coklat panas aja. Ke starbucks, kan?" Judith mengangguk. "Yaudah yuk bareng Teteh." Bia merangkul Judith, lalu melambaikan tangan tanda berpamitan. Boot hitam Judith dan sneakers putih Bia membelah jalanan ramai. Menuju zebra crossing dan dengan hati-hati menyeberang untuk menuju Duncannon St. Suasana malam itu benar-benar indah. Langit cerah, dan gerombolan anak-anak muda yang mungkin usianya sepantaran dengan Judith sibuk tertawa di sepanjang jalan. "Dith," panggil Bia dan Judith menoleh. "Kenapa, Teh?" "Amar favoritnya Teteh apa kabar?" Judith sontak tertawa, membayangkan wajah murka kedua sahabatnya sebab Judith pergi tanpa memberi kabar. Dua laki-laki itu berpikir bahwa Judith akan berada di Aceh selama liburan berlangsung. Namun nyatanya, perempuan itu sudah asik berjalan santai di bawah langit malam London. "Baik. Cata juga baik. Cuma mereka lagi ngamuk sama Judith. Daritadi spam chat terus di group minta oleh-oleh." Bia tertawa, "Kenapa bisa betah sih main bertiga?" Judith mengedikkan bahu. Memiliki Amar dan Cata menurutnya adalah sebuah hadiah terbesar yang tidak dapat ditukar dengan apapun. Walaupun mereka kerap berkelahi, tapi hal tersebut yang menjadi cara mereka satu sama lain untuk menunjukkan rasa sayang. "Judith juga bingung kenapa mereka mau temenan sama Judith." Judith berkata lirih, dan hal tersebut disadari oleh Bia. Dirangkulnya Judith, sekalian mengelus rambut adiknya penuh sayang. "Tandanya Judith tulus. Makanya Cata sama Amar nggak pernah mau ninggalin Judith." "Tapikan Judith sering nyusahin, Teh. Kayak misalkan kalau Judith sakit, pasti berontaknya ke mereka minta dibawain makanan. Atau kalau period, juga mereka yang jadi sasaran." Judith mulai bercerita. Membayangkan kebaikan Cata dan Amar. "Judith inget dulu, yang bikin Judith percaya sama mereka. Yang waktu Judith SMP itu lho, Teh. Tragedi bendera jepang. Inget nggak?" "Yang papa nggak bisa jemput, ya? Terus mama lagi ada meeting sama klien." Judith mengangguk cepat. "Perut Judith udah sakit banget. Di kelas udah nggak ada orang. Cuman tasnya Amar sama Cata masih di kelas. Terus mereka masuk pas banget waktu Judith lagi nangis. Eh didatengin. Judith awalnya nggak mau bilang, kan malu. Cuma ujungnya ketahuan juga sama mereka. Cata buru-buru kasih jaketnya buat nutupin rok putih Judith. Terus abis itu pulangnya bareng Amar sama supirnya." "Terus waktu di rumah, semuanya diambekin sama Judith." Judith mencibir. Lagipula dia memang sangat kesal dan malu waktu itu. Namun keesokan harinya, ketika Judith mengembalikan jaket tersebut, tawa Cata dan Amar meledak. Mereka menertawakan ekspresi Judith kemarin. Lucu, menyedihkan, seperti anak kucing lapar. "Akhirnya kita temenan mulai dari situ." "Cie! Terus sekarang? Gimana Cakrawala? Mama cerita banyak ke Teteh. Katanya Judith mau gabung ekskul pecinta alam. Beneran?" "Iya!" angguk Judith semangat. "Nusa Tenggara, Teh. Pasti bagus parah." "Ekskul pecinta alam Cakrawala emang bagus. Teteh sendiri ngeakuin. Karna nggak cuman jalan-jalan, mereka juga ngasih bantuan ke orang-orang. Paling sebentar lagi bakalan ada pengumuman buat semua siswa. Siapa yang mau nyumbangin barang gitu." "Oh iya, Teh," panggil Judith pelan. "Hm?" "Teteh inget Rion, kan? Dia ketua OSIS Cakrawala sekarang." "Rion yang satu SD, bukan?" Wajah Bia tampak kaget. Tidak percaya karena Rion dipertemukan kembali dengan adiknya. "Iya," jawab Judith dengan anggukan pelan. "Judith kepikiran buat beliin Rion sweater. Soalnya sweater dulu yang nggak sempet Judith kasih ke dia, udah kecil. Dia butuh sweater baru." Bia tersenyum lalu tertawa, "Pink lagi nggak nih?" "Enggak ah! Nanti Judith beliin warna pink malah nggak dipakai. Sedih." Mereka tertawa bersama, dan sadar bahwa mereka sudah tiba di depan toko starbucks. Tanpa berpikir dua kali, Judith masuk lebih dulu. Berharap dingin yang ia rasakan dapat berkurang dengan berada di dalam toko. • S B C P • Judith menyeruput coklat panasnya sembari menatap kiri kanan. Anak itu tetap memilih mengenakan kaus oversize dibandingkan sweater. Sebab siang tadi, cuaca benar-benar bagus dan mendukung ketika Judith tengah mengelilingi kota. Kala mereka berada Di Abbey Road, tempat penyeberangan jalan paling terkenal di dunia. Di sana pula band legendaris The Beatles berfoto dengan rambut gondrong dan celana cutbray, dan foto tersebut dijadikan cover untuk album mereka yang berjudul Abbey Road. Namun sekarang, London kembali terasa dingin. Judith menempelkan coklat panas tersebut pada pipi, lalu menghembuskan napas. Ia ingin pulang untuk sekedar mengambil jaket dan setelah itu kembali mengitari London. "Dingin, ya?" tanya Bia dan Judith mengangguk. "Makanya tadi dengerin waktu mama suruh bawa jaket." "Masuk kemana gitu deh, Teh. Judith udah nggak kuat dingin banget." Kini suara Judith bergetar. "Yaudah kesini aja," ujar Bia lalu merangkul Judith untuk masuk ke dalam sebuah toko makanan Jepang. Judith menatap nama toko tersebut. K . MINAMOTO Japanese Sweets Tepat setelah masuk, hidung Judith langsung disapa oleh aroma wangi. Sementara matanya dimanjakan oleh makanan---yang ia tidak tahu pasti itu makanan apa---yang tersusun cantik. Gadis itu tersenyum, lalu mendekat pada etalase kaca untuk melihat lebih dekat. "Nyusul kesini dong, A, di Kitchoan Minamoto. Judith kedinginan nggak bisa jalan kesana lagi. Sekalian bawain jaket ya kalau bisa." Judith melirik Bia yang masih menempelkan ponsel di telinga. Barulah setelah sambungan diputus, Judith bersuara. "Teteh sering kesini?" Bia menggeleng, "Nggak juga. Tapi Aa sering kesini." Judith terkekeh. Kakak lelakinya itu memang Jepang sekali. "Judith mau nyicip, ah! Penasaran. Eh, itu ada dorayaki?!" Judith lagi-lagi takjub. "Dith, beli yang matcha mochi aja. Waktu itu Teteh sempet coba soalnya dibeliin sama Aa, ternyata enak." Bia menunjuk pada hal yang ia maksud. Warnanya hijau, memiliki isi dengan warna lebih gelap. "Iya, ya? Yaudah itu aja." Judith akhirnya meminta matcha mochi, lalu satu white peach sorbet, satu mango sorbet, dan satu kingyo. Ia tampak bersemangat sebab hendak mencicipi sesuatu yang baru. "Itu mango sorbet satunya £ 3.50, Dith?" Judith mengangguk. "Teteh juga mau yang itu satu dong." Judith mengangguk. Setelahnya mereka lekas membayar. Judith sendiri juga belum bisa menghilangkan kekagetannya akan serba mahalnya barang-barang disini. Oleh sebab itu, anak perempuan itu berusaha sehemat mungkin. Padahal sang papa dan mamanya, selalu menawarkan dan menyuruh Judith membeli sesuatu. Judith menuju meja yang disediakan usai membayar. Duduk disana lalu Bia menyusul di sebelahnya. Mereka mulai mencicipi. Judith memulai dengan dorayakinya. "Dith, terus gimana Rion?" Judith yang tengah asik seketika menoleh. "Ya nggak gimana-gimana. Dia tetep manggil Judith pakai Aluna. Nggak lupa kalau Judith suka puddingnya. Awalnya Judith pikir bakalan jadi big disaster kalau Judith pindah ke Cakrawala. Tapi enggak. Judith ngerasa aja kalau ada yang berubah dari Judith. Cakrawala bikin Judith jadi sibuk belajar. Judith nggak berani isengin guru lagi, nggak berani ngericuh di kantin lagi, tapi tidur masih berani, sih. Cuma ya, so far mama nggak pernah lagi dipanggil ke sekolah." Bia hanya tersenyum, sadar bahwa Judith belum menjawab pertanyaannya dengan jawaban lengkap. "Okay, terus Rion?" "Ya katanya, dia janji bakal jelasin ke Judith apa alesan dia pindah. Judith bisa apalagi? Nggak mungkin Judith paksakan kayak bilang 'eh gila lo lama banget gantungin gue, udah lumutan nih'. Kan nggak mungkin, Teh." "Mungkin-mungkin aja kalau Judith yang ngelakuin." "Tapi Judith nggak berani." Judith menghela napas. Rion membuatnya lemah. "Terus Judith juga satu sekolah sama Niko, kan? Satu kelas?" Judith menggeleng. "Niko di kelas sosial, Teh." "Oh," respon Bia tampak paham. "Sering main bareng lagi nggak?" Judith mengedikkan bahu, "Nggak tau sih, Teh. Niko kayaknya sibuk banget. Atau misalkan dia mau ketemu, Judith yang males ketemu dia." "Kenapa? Bukannya Judith supporter futsal nomor satunya Niko?" "Dulu, iya. Cuma waktu Niko makin lama makin dikenal, dia kayaknya lupa sama Judith. Supporternya juga makin banyak. Yaudahlah, dia juga seneng-seneng aja keliatannya." Baru saja ingin menanggapi Judith, kedatangan Nadine, Aldric, dan Abi membuat mereka terpaksa menyudahi obrolan. Judith sulit dipancing topik serius ketika ramai seperti ini. Ia secara otomatis kerap berubah menjadi gadis kecil ketika sudah bersama sang papa. "Udah dibilang pakai jaket!" omel Nadine langsung. "Dinginkan! Jauh-jauh ke London bukannya liburan malah nanti ke rumah sakit." Judith mencibir, memasang jaket dibantu sang mama. "Maaf, Mam," ujar Judith. "Terus ini jaketnya dibeli?" "Terus menurut Judith? Yaiya dibeli dulu. Makanya kamu tuh dengerin kalau Mama ngomong." "Iya-iya." Judith angguk-angguk kepala. "Terus beli apa?" tanya Nadine sambil melirik sesuatu yang tengah Judith makan. Baru akan menawari Abi, Judith sadar bahwa kakaknya tersebut ternyata sudah asik sendiri di depan etalase. "Aa udah?" Nadine memastikan. "Abis ini mau kemana lagi? Pulang?" "Masa pulang?! Main dong, Mam, kok pulang. Iyakan, Pa?" Judith mendekat pada Aldric. "Abisin minumannya, nanti udah dingin nggak enak lagi." Judith mengangguk, sembari mengajak papanya keluar dari toko. Ah, setidaknya tubuhnya sudah lebih hangat. • S B C P •
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD