27. London dan Mama Nangis

1666 Words
Dari sekian banyak macam kendaraan di dunia, Judith memang kurang menyukai pesawat terbang. Tidak banyak yang tahu, sebab Judith memang sengaja menutup hal itu dari siapapun. Kejadian bertahun-tahun lalu sukses menimbulkan trauma di dalam diri perempuan itu. Acrophobia. Ketakutan akan ketinggian. Judith masih kecil saat itu, dan akan sangat senang apabila diajak ke taman. Sama seperti sebelumnya, Judith akan senang bermain ayunan dan membiarkan kakak-kakaknya mendorong ayunan tersebut. Judith, Abi, Bia, dan seorang lagi bernama Haruka. Mereka bermain seperti biasa. Saat itu, Abi dan Bia sedang tidak berada di tempat. Sehingga Haruka menawarkan diri untuk mendorong ayunan Judith. Anak perempuan itu tentu hanya mengangguk. Lalu ketika kegiatan mendorong tersebut sudah berlangsung, Judith dapat mendengar tawa bahagia milik Haruka. Mungkin perempuan itu memang terlampau bahagia sehingga tidak mendengarkan teriakan Judith untuk segera berhenti. Sebaliknya, ayunan itu bergerak semakin kencang dan tinggi. Judith yang tidak tahan dengan bodohnya melepaskan diri dari bangku ayunan ketika benda tersebut berada di titik paling tinggi. Judith menangis sebab rasa jatuh memang menyakitkan. Namun tidak lama anak itu mulai mencoba membuat dirinya tenang dibantu Haruka yang sudah hampir mati karena panik. Judith pikir tidak ada yang berubah dari dirinya. Namun hal-hal aneh mulai Judith alami tanpa ia sadari. Dan semua hal aneh tersebut, selalu berhubungan dengan ketinggian. Orang yang menyadari hal itu hanyalah Abi, kakak laki-laki Judith. Beruntung bagi Judith, karena ia dapat menyembunyikan hal tersebut dari siapapun dan berusaha berdamai dengan rasa takut itu sendiri. Walau ujung-ujungnya, Judith selalu gagal. Judith selalu berhasil menutupi rasa cemasnya. Berlakon seakan-akan semuanya tetap baik-baik saja walaupun Judith berada di kondisi yang tidak baik. Membuat berbagai alasan agar dia tidak berhubungan dengan ketinggian. Judith sendiri berpikir bahwa ketakutannya mungkin juga tidak terlalu parah. Namun ketakutan itu nyata adanya. Seperti halnya ketika Judith harus berjalan di mal dan pasti akan berusaha menghindar dari eskalator dan pagar pembatas. Judith lebih memilih untuk menaiki lift. Sementara jika lantai yang ia tuju tidak memiliki lift, Judith akan mulai memeluk erat lengan salah satu keluarganya. Siapapun. Dan mulai berceloteh asal, apapun agar tidak ada yang menangkap bahwa Judith tengah menutupi ketakutan di dalam dirinya. Dan sama halnya seperti sekarang. Ketika di pesawat dan untuk kesekian kalinya sang mama menawarkan kursi dekat jendela kepada Judith. Anak perempuan itu refleks menggeleng, memilih kursi lain. "Judith ngantuk," ujar gadis itu sembari memposisikan diri senyaman mungkin di kursi. Ditariknya penutup mata dan sudah akan bersiap-siap untuk tidur. Nadine membiarkan. Paham karena bungsunya tentu kelelahan. Mereka baru tiba di Jakarta kemarin siang. Dan hari ini harus kembali terbang dan mengudara sementara waktu menuju daratan Inggris. "Permisi," ujar Nadine ketika melihat salah satu pramugari yang lewat. "Bisa tolong kasih selimut?" "Baik, mohon ditunggu." Pramugrari tersebut menjawab dengan ramah. Lalu berlalu untuk mengambil sesuatu yang Nadine minta. Nadine menatap Judith dalam diam. Senyum kecilnya terbit. Fakta bahwa bungsunya bukanlah gadis kecil lagi membuat Nadine tidak bisa berkata-kata. Terakhir kali, Judith membahas perihal Zakra kepada Nadine. Wanita itu tentu saja kaget, mengetahui seorang lelaki menyatakan perasaannya kepada Judith. "Mama tau anak laki-laki yang namanya Zakra?" tanya Judith ketika hanya duduk berdua bersama Nadine. "Tau, kenapa, Dek?" "Dia nyatain perasaannya tadi. Terus bilang kalau Judith calon pacarnya karna Judith nggak kasih jawaban apa-apa ke dia." Nadine memandang Judith, merapikan helai demi helai rambut sang anak. "Judith jawab gimana?" "Judith bilang Judith nggak mau bahas gituan. Judith juga bilang kalau Judith nggak suka dia karna dia bilang Judith calon pacarnya." "Nak," panggil Nadine lembut. "Mama harap Judith nggak kasar sama Zakra. Dia itu nggak sama kayak temen-temen cowok Judith yang lain. Zakra punya sesuatu yang, kalau dia suka sama sesuatu itu, dia pasti langsung bilang. Dia nggak kayak remaja kebanyakan, Nak. Judith pikir Zakra punya hp pintar yang kayak Judith punya? Enggak. Dia komunikasi cuma pakai hp biasa." "Tapi dia bisa kok nerima panggilan yang masuk di hp Judith, Mam." Judith masih membuat pembelaan. Anak perempuan itu sepertinya masih tidak terima. "Ya karna orang di sekelilingnya punya hp," jawab Nadine. "Setiap Mama nemenin papa ke Aceh, Mama pasti ketemu Zakra. Dimulai dari tiga tahun lalu kayaknya, Zakra selalu muji mama cantik. Terus bilang kalau Mama harus jaga cantiknya mama. Dia bahkan terang-terangan bilang, kalau dia seumur mama, dia bakalan ngejer Mama. Tapi tahun ini, dia nggak bilang itu. Karna kayaknya dia udah liat Judith." "Mama! Serem ah kalau dia ngejer-ngejer Judith." "Zakra beda dari anak-anak kota, Sayang. Zakra bilang ke mama, kalau dia lebih seneng baca buku sore-sore di tepi pantai. Biarin ombak jadi musik pengiringnya, sunset jadi latar belakangnya. Terus dia pemeran utama dari cerita dunia. Dia suka puisi, sejarah, ngobrol, sama bangunan-bangunan tua. Jangan Judith pikir dengan dia semudah itu nyatain perasaan, berarti dia bukan cowok baik-baik. Zakra cuma belum paham sama apa yang dia lakuin. Mungkin Zakra mikir, kalau pacaran itu, berarti dia bisa ngasihin puisi-puisinya khusus buat si perempuan tanpa harus malu lagi. Karna perempuan itu, pacarnya." Judith terdiam. Kembali terbayang di kepalanya wajah polos Zakra saat pertama kali mengucapkan pujian untuk Judith. Judith memilih meyudahi obrolan tersebut. Ia salah sebab sudah berprasangka buruk. Zakra tidak seperti apa yang Judith pikirkan. "Nad." Panggilan dari Aldric membuat Nadine tersadar dari lamunannya. Pria itu sudah berdiri di sebelah pramugari yang tengah memegang selimut. "Kamu kenapa? Kamu nggak apa-apa, kan?" Nadine meringis, meminta maaf sembari menerima selimut tersebut. Diusapnya wajah, lalu tersenyum kembali pada sang pramugrari dan meminta Aldric agar kembali ke kursinya. Nadine langsung saja menyelimuti tubuh Judith. Anak itu memang menggunakan baju kaus tipis sementara jaketnya dimasukkan ke dalam tas. Lalu jeans denim model straight leg. Judith bergerak dalam tidurnya sebab merasa terganggu. Namun tidak lama kembali nyaman bersama hangat yang kini memeluknya. Judith tidur dengan nyenyak. • S B C P • Perjalanan udara yang ditempuh dalam waktu belasan jam sukses membuat tubuh Judith remuk. Perempuan itu sibuk merenggangkan tubuh setelah keluar dari pesawat---tidak peduli sekitar. Tangannya sesekali menutup mulut sebab menguap. Judith menyalakan ponsel sementara mama dan papanya sibuk berdiskui---entah apa. Sekarang pukul 7 malam waktu London. Masih dingin walaupun musim panas sedang berlangsung. "Mam, pegangin sebentar dong." Judith memberikan ponselnya kepada Nadine. Lalu secepat kilat mengikat rambut menjadi satu ke belakang. Setelah siap, Judith kembali menerima ponselnya. Secepat kilat mengecek aplikasi chatting dan menghela napas panjang. Balasan pesan dari seorang yang ia tunggu belum juga tiba. Sebaliknya, pesan dari group keluarganya masuk begitu banyak. =Rahasia Keluarga= Judith Aluna: UDAH NYAMPE DONG! Teteh: Dimana, Sayang? Judith Aluna: Di Korea. Teteh: Hah?! Judith Aluna: Tunggu dulu, Teh. Judith Aluna: Lagi ribet, nih. Judith Aluna: Papan namanya jangan lupa diangkat tinggi-tinggi! Aa Abi: Kita pulang dulu. Judith Aluna: Enak aja! Judith Aluna: Kalau gitu Judith, mama, sama papa juga pulang dulu. Judith Aluna: Bye-bye, Aa. Aa Abi: Dah. Judith merengut sesaat membaca balasan Abi. Namun berikutnya kembali sibuk mengurus hal-hal penting. Judith ingin segera keluar dari sini, lalu menikmati malam Kota London sambil berjalan kaki. Selang beberapa saat kemudian, segala urusan selesai dan Judith mulai celingak-celinguk. Ramainya suasana bandara membuat gadis itu harus ekstra mencari keberadaan kedua kakaknya. Mata Judith berbinar, tidak jauh dari tempatnya berdiri, dapat dilihatnya kedua kakaknya tengah bercanda di kursi tunggu. Bia yang berdiri sambil menunjukkan layar ponsel sementara Abi berusaha menepis ponsel tersebut dibarengi tawa. Dan seorang pria berumur yang berdiri menatap lurus ke arah, mamanya. Judith menoleh ke samping. Lalu terpaku ketika melihat mata merah sang mama dan tanpa peringatan berlari seperti anak kecil. Judith pikir sang mama berniat memeluk Abi dan Bia, namun salah. Nadine melemparkan dirinya menuju pria yang sejak tadi menatapnya lama. Judith penasaran hingga sekarang. Sedekat itukah hubungan mamanya dengan pria itu? Abi dan Bia seketika tersadar. Keduanya sama-sama kaget mendapati sang mama sudah berada dalam pelukan seseorang dan menangis hebat disana. Lalu barulah beralih menatap Judith dan Aldric sembari melambaikan tangan. "Aa!" panggil Judith semangat dan berlari dalam pelukan Abi. Begitupula dengan Bia yang sudah menangis sambil tertawa dalam dekapan hangat sang papa. "Teteh sehat?" tanya Aldric setelah menghujani Bia dengan kecupan. "Sehat, Pa. Papa sendiri sehat, kan?" "Sehatlah." Aldric tertawa, kembali mencium pipi putri pertamanya penuh sayang. "Aa, Judith kangen tau!" ujar gadis itu sambil mengerucut sebal dalam pelukan Abi. Abi tertawa, dia rindu banyolan khas Judith. "Masa? Kan cowoknya banyak di Jakarta." "Apaansih, A! Cowok Judith kan cuma Aa." Judith kembali mengeratkan pelukannya. Dia rindu, teramat rindu kepada kakak laki-lakinya itu. "Cepetan dong, A, pendidikannya selesai. Biar bisa pulang lagi. Judith kangen. Rumah jadi sepi nggak ada Aa sama Teteh." Judith bersuara lirih, benar-benar serius akan perkataannya. Setelah itu bergantian. Judith memeluk kakak cantiknya dan saling bercengkrama. Begitupula dengan Abi juga Aldric. Sementara Nadine belum juga selesai sejak tadi. Wanita itumasihi menangis hebat. Rindu yang sejak lama terkubur, akhirnya dapat ia puaskan kembali. "Mama sedeket itu ya, Pa, sama Uncle Stephen?" Adric menoleh pada Judith, menunjukkan senyum tipis dan mengangguk. Benar. Pria itu adalah Stephen. Namun Judith hanya tahu bahwa dia adalah teman dekat sang mama. Dan tentu saja tidak tahu apa yang telah mamanya lewati bersama paman bule itu. "Mam!" panggil Judith dan dibalas lambaian tangan dari Stephen. "Hallo, Uncle!" "Hi, Kitten!" Stephen berteriak, dan Nadine tidak kunjung melepaskan pelukan. "Azka!" Aldric mengangguk, lalu mendekat bermaksud membujuk Nadine. Sebab jika mereka terus berada disini, mereka bisa kehujanan saat pulang nanti. Karena Nadine akan tahan dalam posisi tersebut tidak peduli waktu. "Mam," panggil Bia dan Nadine tersentak. "Teteh! Aa!" Dipeluknya kedua anaknya sekaligus. Kembali menangis. "Mama kangen, kalian kemana aja!" Mamanya meracau sembarang. Membuat Judith tidak habis pikir. Sang mama benar-benar menahan rindu yang berat. Hingga tidak sadar bahwa keberadaan Abi dan Bia disini dikarenakan pendidikan. "Kita juga kangen mama," ujar Bia menghapus air mata. Sementara Abi mencoba mengecup pipi sang mama. Judith sebenarnya tidak terlalu menyukai kondisi semacam ini. Kondisi dimana air matanya seperti ditarik paksa untuk keluar. Maka dari itu, daripada kegiatan ini setengah, lebih baik sekalian saja semuanya. Judith mendekat, memeluk pinggang Nadine dan bersuara disana. "Mama Judith juga kangen mama! Ayo, Mam, pulang nanti keburu hujan. Hue!" Sontak mereka tertawa. Aldric menarik Judith agar mendekat. Lalu dengan gemas mencubit pipi Judith. "Judulnya aja anak SMA. Aslinya play group." "Papa!" • S B C P •
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD