"Muka lo kenapa? Kusut amat."
Ceisar berujar ketika menemukan Rion tengah terbaring di atas tempat tidur, menatap televisi dengan raut wajah tidak dapat dideskripsikan. Kemarin, anak laki-laki itu tiba-tiba saja mengajak Ceisar untuk gym setelah makan siang.
"Ngapain lo kesini?" tanya Rion dengan jemari sibuk menekam tombol remote, mengganti acara televisi. Sejak pagi, lelaki itu belum menyentuh air sebab malas mandi. Dia juga tidak memiliki keinginan untuk keluar dari rumah. Kepalanya pusing, dan Rion hanya ingin istirahat.
"Ngegym lagi mau nggak?" tawar Ceisar sembari duduk di tepi tempat tidur.
"Nggaklah. Lagi males gue kemana-mana."
"Lo kenapa, sih? Ada masalah? Mending ke rumah sakit daripada diem gini di rumah. Araz pasti pengen main bareng lo."
Rion langsung duduk. Dihelanya napas kasar sebab perasaan tidak terima masih mengukungnya. Siapa lelaki yang mengangkat panggilannya kemarin? Rion terus saja bertanya-tanya tanpa bisa menemukan jawabannya. Sementara pesan singkat Judith belum juga ia balas.
"Lo pulang sana," ujar Rion ketika ia berdiri dan berjalan menuju lemari. Dibukanya kaus yang menempel di badan hingga ia sukses topless. Setelah mendapatkan handuk, Rion segera menuju kamar mandi.
"Gue pesen taichan mau nggak? Lo juga belum makan, kan?"
Rion tidak menanggapi, suara pintu kamar mandi yang ditutup keras seperti kembali menjadi kode untuk Ceisar agar pergi. Ah, mana mungkin Ceisar berniat pergi. Lelaki itu berniat menarik Rion menuju rumah sakit hari ini.
Bel rumah berbunyi. Ceisar yang baru akan berbaring kembali duduk tegak dan mengernyit. Itu tidak mungkin abang ojek online yang mengantarkan taichan mereka, bukan? Sebab Ceisar sendiri juga belum memesan.
"Yon, lo ada tamu ya selain gue?"
"HAH? NGGAK DENGER!" jawab Rion keras dari kamar mandi.
Ceisar menghela napas, berjalan menuju pintu kamar mandi dan hendak berteriak di sana. Kesalnya memang menjadi-jadi karena Rion. "LO ADA TAMU SELAIN GUE NGGAK?"
"Oh," balas Rion setelahnya. "Enggak. Bunda kali?"
"Iya kali, ya? Gue bukain pintu jangan, nih? Kan kalau misalnya yang dateng bunda pasti langsung masuk."
"Ya bukalah! Kalau emang bunda gimana? Kan bisa aja kelupaan kunci. Bego lo kurang-kurangin sedikit."
Ceisar mencibir sehingga wajahnya terlihat lucu. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Ceisar keluar dari kamar Rion. Menuju tangga untuk turun karena bel rumah terus saja berbunyi. Sepertinya tamu yang datang benar-benar tidak sabar.
"Sebentar!" ujar Ceisar lalu memutar anak kunci dua kali. Ia menarik pintu hingga terbuka. Dan seketika terlonjak melihat siapa yang datang. "Lo? Ngapain kesini?"
Perempuan itu tersenyum kikuk. "Eh, gue ganggu ya? Niatnya tadi emang mau mampir karna sekalian lewat. Terus beli tiga potong cake coklat ini." Dibukanya paper bag agar dapat menunjukkan kue yang ia beli.
"Lo sama Rion pacaran, Sa? Jangan-jangan Rion galau karna lo lagi?" Ceisar nyablak secara asal. Laki-laki itu terlampau menaruh curiga pada perempuan di hadapannya yang tidak lain adalah Fatisa. "Terus ini cake jangan-jangan buat permintaan maaf karna lo udah bikin Rion galau, ya?"
"Lo ngomong apaan sih, Ceis? Orang gue beliin cake karna keinget Rion punya adek."
Tatapan Ceisar kian menyelidik, "Tau darimana Rion punya adek?"
"Waktu itu gue pernah ketemu sama Aksa. Sama Araz nggak pernah. Mereka pada di rumah nggak? Gue pengen banget ketemu mereka."
"Nggak bisa. Mereka lagi nggak di rumah."
Fatisa menggembungkan pipi sebab kecewa. Lagi-lagi ia tidak memiliki kesempatan untuk bertemu si kembar Aksa dan Araz. "Lagi pada liburan, ya? Kok Rion nggak ikutan?"
"Nggak baik cewek penasaran banget sama hidup cowok." Ceisar menjelaskan. Dirinya baru teringat akan Judith dan siapa Judith sebenarnya. Lalu bisa-bisanya Ceisar bertanya apakah Rion dan Fatisa berpacaran. Aneh!
"Ngomong-ngomong, gue boleh masuk?"
"Nggak pulang? Tadi katanya cuma pengen ketemu adeknya Rion. Mereka nggak ada. Berarti urusan kita selesai disini." Ceisar berubah sarkastik. Ia sedang malas berbasa-basi efek kelaparan.
"Ya maksudnya, ketemu Rion juga."
"Kebanyakan basa-basinya lo," ujar Ceisar lalu meninggalkan pintu, dan secara tidak langsung tengah memberikan kesempatan bagi Fatisa untuk masuk.
Fatisa sendiripun memejamkan mata dan menghela napas sebab malu. Barulah, setelah mengucapkan doa dalam hati, perempuan itu masuk ke dalam rumah Rion. Ini pertama kalinya. Rumah lelaki itu termasuk rumah minimalis yang terdiri dari dua lantai.
Fatisa menyisir pandangan menuju dinding rumah yang terkesan hampa. Ini pertama kalinya Fatisa masuk ke rumah seseorang dan tidak menemukan satupun foto di rumah itu. Terkesan aneh saja sebenarnya.
Dilihatnya Ceisar yang sedang duduk di sofa depan televisi, tanpa pikir panjang ikut duduk disana.
"---Iya pesen tiga. Itu alamatnya udah sesuai GPS ya, Mas. Makasih, Mas."
Ceisar memutuskan panggilannya, sementara Fatisa masih memilih diam dalam duduknya. "Rion mana? Kok nggak keliatan?" Fatisa menyuarakan pertanyaannya.
"Lagi mandi," jawab Ceisar ringan, mulai sibuk dengan acara televisi. "Lo udah makan? Kalau belum, makan dulu disini. Gue pesen tiga taichan soalnya."
"Boleh," ujar Fatisa girang. Tandanya ia memiliki waktu lebih lama di rumah itu. "Oh iya, Ceis, keluarga Rion liburan kemana?"
"Hah?" tanggap Ceisar. "Oh, keluar kota. Ada acara disana."
"Oh gitu---"
"Siapa, Ceis?" Suara tanya itu muncul dari tangga dan setelahnya wujud Rion terlihat. Anak lelaki itu juga ikut terkejut akan penampakan Fatisa. "Ngapain kesini, Sa?"
"Katanya mau ngasih cake buat adek lo." Fatisa mencibir dan menatap sebal ke arah Ceisar.
"Oh? Letakin disitu aja, nanti kalau mereka pulang paling juga dimakan."
"Iya, Ceisar juga udah bilang kalau adek-adek kamu lagi keluar kota, ya? Ada acara keluarga."
Rion awalnya mengernyit, lalu menatap Ceisar dan laki-laki itu reflek mengangguk sambil mengedipkan mata.
"Iya," angguk Rion. "Terus apalagi?"
"Maksudnya?" tanya Fatisa dengan raut bodoh.
"Kan kamu kesini buat anterin cake, selain itu ada lagi? Soalnya aku mau keluar."
Fatisa berdehem, sadar bahwa ia tengah diusir secara halus. Seharusnya ia juga sadar bahwa kedatangannya kesini memang bermaksud ingin mengunjungi lelaki itu, bukan karena memang melewati jalan rumah Rion lalu tiba-tiba berniat mampir. Fatisa memang sudah berencana dari rumah.
Perempuan itu baru saja hendak berdiri, mungkin akan lebih baik bila dia pulang. Namun suara Ceisar menahan gerakan Fatisa.
"Makan dululah, Yon. Gue juga udah mesen sekalian buat Fatisa. Abis makan baru kita keluar."
Rion menghela napas, memilih duduk di sebelah Ceisar sembari menunggu makanan mereka datang.
• S B C P •
Setelah kepulangan Fatisa, Rion dan Ceisar kembali bersiap-siap. Rion berjalan untuk mengambil topi dan jaket. Tidak lupa mengambilkan topi yang lain untuk Ceisar.
"Tangkep, Ceis," ujar Rion sambil melemparkan topi yang ditangkap dengan sigap oleh Ceisar.
"Serius, Yon?" tanya Ceisar tidak habis pikir. "Mau sampai kapan lo kayak gini terus di depan Araz? Araz juga nggak bakalan seneng liat lo begini. Araz nggak perlu diingetin sakit lewat topi yang lo pakai. Bebannya bakalan ngilang kalau liat lo santai ngadepin kondisi dia. Cukup anggep dia sehat kayak biasa, biarin dia tenang jalanin pengobatan. Topi sialan yang lo pakai cuma bakal bikin dia makin sakit hati. Nggak peduli berapa kalipun dia bilang dia udah fine-fine aja liat orang lain punya rambut. Kita nggak pernah tau apa yang dia pikirin, Yon."
Rion terdiam, merasa tertampar oleh kalimat panjang Ceisar. Harusnya sejak dulu Rion sadar akan hal itu. Bukannya belagak dengan memakai topi di depan Araz.
Rion membuang topinya ke tempat tidur, kemudian mengajak Ceisar berjalan keluar kamar. Anak lelaki itu berjalan menuju lemari es, mengambil kue coklat yang dibawakan oleh Fatisa. Jika di rumah, berkemungkinan besar tidak akan ada yang memakannya.
"Udah?" tanya Ceisar yang tiba-tiba muncul di belakang Rion.
"Udah," jawab lelaki itu.
"Yaudah, ayo."
Rion mengangguk. Hingga keduanya memilih keluar rumah dan segera menuju rumah sakit.
• S B C P •
"Kak Rion! Kak Ceisar!"
Panggilan tersebut muncul dari Aksa yang tadinya tengah asik menyusun puzzle. Bocah laki-laki itu bergerak mendekat, dan disambut oleh telapak tangan Ceisar. Mereka melakukan highfive singkat.
"Araz kemana, Sa?" tanya Rion kepada adiknya itu.
"Itu, lagi di kamar mandi sama bunda."
"Oh," respon Rion lalu meletakkan kue yang ia bawa di atas meja. "Itu ada kue, dimakan."
"Main lagi, Sa," ajak Ceisar sembari mendekati puzzle milik Aksa.
Rion sendiri memilih mengecek ponsel. Menatap nama seseorang dimana pesannya masih Rion biarkan, dia enggan membalas. Mengganggu Judith dan calon pacar barunya, Rion bukan ahlinya.
"Halo, Cantik!" Rion mendongak kala suara Ceisar terdengar. Araz tampak keluar dari kamar mandi dituntun sang bunda. Entah selesai melakukan apa.
"Kak Ceisar." Suara Araz terdengar lemah dengan senyum kecil. Bibir gadis itu tampak pucat.
Rion buru-buru mendekat. Menggendong Araz untuk dibawa ke tempat tidur. Semakin lama, keadaan Araz menjauhi kata sehat. Adiknya itu lebih banyak tertidur dan hanya bangun ketika jadwal makan dan minum obat masuk. Akan fakta itu, Rion ketakutan.
"Araz mau apa?" tawar Rion setelah membaringkan gadis kecilnya.
"Tidur," jawab Araz kecil. "Araz ngantuk."
Rion mengangguk, mencoba memahami keinginan adiknya. Setelah merapikan selimut dibantu sang bunda, Rion mengajak bundanya duduk untuk berbicara.
"Obatnya harus lebih banyak, Yon." Sang bunda memulai. "Apa-apa sekarang cepet muntah. Efek obat ya emang buat Araz mudah tidur. Semalem mimisannya banyak banget. Bunda takut."
Rion memandang ke arah lain sebab tidak sanggup mendengar ucapan bundanya. "Bunda kenapa nggak ngabarin?"
"Maafin bunda. Bunda nggak mau kamu kepikiran."
"Bun, tapi nggak gitu juga. Rion wajib tau. Kalau gitu Rion tinggal disini mulai sekarang." Tangis bundanya pecah, dan Rion tanpa pikir panjang langsung mendekap tubuh itu. "Rion salah. Karna nggak pernah peduli sama kondisi Araz. Maafin Rion."
"Bunda yang minta maaf karna belum bisa jadi ibu yang baik buat kamu, Aksa, sama Araz."
"Bunda nggak pernah gagal." Rion menjawab.
Rion menceraikan pelukan tersebut. Menunjukkan seulas senyum kepada bundanya. Lewat wajah itu, Rion tahu bahwa banyak beban yang tengah dipikul. Namun Rion tidak berani bertanya banyak. Bundanya tentu sudah sangat kelelahan.
"Rion ke kantin dulu beliin makanan buat bunda."
Rion pamit dan mengajak Ceisar yang sejak tadi berusaha menyibukkan diri bersama Aksa. Lelaki itu mati-matian menahan haru dan hampir saja menangis. Rion memang sudah seperti saudara bagi Ceisar.
Mereka berdua keluar bersamaan. Sementara Ceisar benar-benar tidak dapat menahan lagi. Setibanya mereka di kantin rumah sakit dan sudah mengambil tempat duduk, Ceisar bersuara. "Jangan pernah tinggalin Araz lagi." Ceisar serius. "Dia cuma punya lo, bunda, terus Aksa. Lo juga masih tega ninggalin dia? Udahlah. Lo juga nggak lagi sibuk, kan? Prioritasin Araz dulu."
Rion mengangguk. "Gue bingung harus kayak gimana, Ceis."
"Nangis ajalah, Yon!" tembak Ceisar langsung. "Lo tuh manusia. Mau sampai kapan lo sok-sokan kuat? Orang nangis tuh bukan orang lemah. Kalau mulut lo emang nggak kuat buat bicara, biarin air mata lo yang ngomong kalau gitu. Jangan apa-apa selalu nyalahin keadaan. Coba damai sedikit, Yon. Kanker itu takdir. Tuhan sengaja pilih Araz karna Dia tau, Araz itu kuat."
Rion diam, kepalan tangannya sibuk memukul paha. "Kenapa nggak gue aja? Kayaknya gue lebih cocok."
"Kayaknya lo emang lebih t***l dari gue!" umpat Ceisar geram. "Jadi selama ini itu doa lo? Gimana supaya penyakit Araz pindah ke elo? Harusnya lo minta gimana supaya semua keluarga lo sehat. Kalau emang lo yang penyakitan, terus lo yang pergi duluan. Lo pikir Araz bakalan kuat nerima fakta kalau ayah sama kakak cowoknya udah nggak ada? Pikiran lo jangan pendek-pendek, Yon."
Rion mengernyit, "Jadi lo doain Araz nggak ada?"
"Bukan gitu! Tapi seenggaknya lo pikirin kemungkinan-kemungkinan itu. Kita nggak tau apa yang bakalan kejadian di depan. Kita buta buat nebak apa yang lagi ada di depan, Yon. Gue ngomong ini karna gue peduli sama lo."
"Gue capek, Ceis. Gue nggak pernah punya maksud buat ninggalin Araz, sibuk sama urusan sekolah. Gue cuma nggak kuat liat kondisinya. Tadi lo liat sendirikan? Gimana kurus pucetnya dia. Belum lagi ngebayangin dia muntah, mimisan. Gue nggak sanggup, Ceis." Mata Rion merah. Emosinya berhasil keluar sebab pancingan Ceisar. "Gue butuh ayah gue. Gue belum siap jadi kepala keluarga. Gue belum pandai jagain bunda, Aksa, sama Araz."
Ceisar sendiri balik terdiam. Fakta bahwa Rion teramat sakit akibat luka membuatnya tidak tega. Ini Rion, temannya. Dan Ceisar sudah berjanji untuk tidak pernah melepaskan lengan lelaki itu. Akan terus ia genggam, sampai mereka berhasil menemukan cahaya.
"Ayah lo pasti bangga liat lo sekarang. Nggak ada alasan buat nggak bangga sama anak sesempurna lo. Kalau lo bisa jagain semua anggota OSIS, kenapa keluarga nggak bisa? Itu tanda, Yon. Karna lo bisa jagain keluarga lo, makanya lo bisa jagain kita-kita."
Dan setelahnya, Rion terpaku pada senyum menenangkan milik Ceisar. Lelaki itu beruntung, mendapati Ceisar sebagai sahabat dan abang untuknya. Ah, Ceisar Difa. Ternyata bisa berubah menjadi lelaki paling bijaksana.
• S B C P •