MUSEUM TSUNAMI ACEH
Judith menatap susunan huruf-huruf besar berwarna biru tersebut sepintas lalu sebab ia masih berada di dalam mobil yang bergerak. Anak perempuan itu begitu terpukau dengan kekuatan yang dimiliki oleh Kota Aceh---terutama pada masyarakatnya.
Sebenarnya hari ini Judith harus mendatangi beberapa rumah saudaranya yang lain. Namun karena anak perempuan itu tengah berubah menjadi sosok pemalas, alhasil Nadine membiarkan Judith untuk berada di rumah. Dan Judith pikir, hari ini dia hanya akan mendekam di dalam kamar bersama ponsel. Namun ketika pintu kamarnya diketuk, dan Zakra dengan seulas senyum menyapanya.
"Siang, Dith." Zakra menatap mata Judith, membuat gadis itu mengerjap malu.
"Siang," balas Judith kikuk. "Ngapain, Za, kesini?"
"Enggak. Aku cuma mikir, kamu nggak bosen di kamar terus? Kalau mau aku bisa nemenin kamu keliling kota."
Salah satu alis Judith terangkat, "Maksudnya?"
"Iya. Kalau kamu bisa jalan-jalan, kenapa enggak?" Zakra menunjukkan senyumnya lagi.
"Okay, kalau gitu aku siap-siap dulu. Lima belas menit."
Zakra mengangguk cepat. Sementara Judith kembali menutup pintu kamar dan secepat kilat menuju kopernya. Judith menarik ritsleting koper agar terbuka. Setelah itu menatap baju-baju yang ia bawa kemari.
Judith menarik cepat celana monyet berwarna hitam, ia tidak mau Zakra menunggunya terlalu lama. Ditanggalkannya celana santai, mengenakan celana monyet dengan cepat. Kaus oversize warna putih dengan lambang infinity. Judith pikir tidaklah buruk.
Ia beralih pada cermin. Melakukan riasan singkat dan menggerai rambut. Salah satu tali dari celana monyet Judith kaitkan, sementara yang satunya sengaja ia lepas. Diambilnya kamera dan mengalungkan benda tersebut di leher. Lalu dompet juga ponsel, dan selesai.
Sekarang disinilah Judith. Baru saja turun dari mobil milik Zakra. Mereka hanya pergi berdua. Tidak masalah, sebab Judith sudah meminta izin kepada sang mama.
"Kamu sering kesini?" tanya Judith ketika mereka berjalan menuju pintu masuk.
Zakra menggeleng, "Nggak juga. Kamu baru pertama kali, kan?"
"Iya," jawab Judith dengan kekehan kecil. "Penasaran dalemnya kayak gimana."
Mereka akhirnya masuk, mengisi data dan Judith sibuk bertanya-tanya. Padahal dia memiliki Zakra, seseorang yang tentu saja memiliki jawaban dari segala rasa penasaran Judith.
Ruangan demi ruangan akhirnya mulai dilewati. Judith diam, pandangannya mulai fokus pada karya cipta tangan manusia yang ditorehkan lewat keindahan museum ini.
"Kalau tadi kamu perhatiin, kamu bakal liat kalau bentuk museum ini kayak rumah panggung. Sengaja, biar bisa dijadiin tempat evakuasi kalau misalnya ada tsunami. Terus bakalan ada simbol tersendiri dari setiap ruangan-ruangan disini. Kayak misalkan dindingnya, nah itu ngegambarin Tari Saman. Kamu tau Tari Saman, kan?"
Judith menggigit bibir. Membahas soal tarian, Judith bukanlah ahlinya. Tapi setidaknya untuk tari yang satu ini, Judith tahu. "Tau, sih. Tapi cuma tau gitu-gitu doang."
"Kenapa? Nggak minat buat nyoba?"
"Hah?" Judith melotot sembari menggelengkan kepala. Zakra tentu saja tidak tahu seperti apa kebencian Judith pada menari. "Nggaklah, kapan-kapan aja."
"Kamu suka nari? Kamu harus coba Tari Saman sekali-sekali."
Judith hanya mengangguk dengan sedikit tawa memaksa. Lalu berujar dengan nada manis. "Nanti aku coba."
"Tari Saman sendiri ngegambarin kerja sama antar umat manusia. Makanya kalau liat orang nari itu, nggak tau kenapa aku ngerasa lebih baik aja."
Judith membuang muka, berujar dalam hati. Ya kalau lo ngarepnya ngeliat gue, say goodbye ajalah. Mendingan gue dihukum daripada nari.
"Terus apalagi?" Judith bersuara, meminta Zakra kembali menjelaskan mengenai sesuatu tentang Aceh.
Zakra menuntun Judith, membawa gadis cantik tersebut ke ruangan bertuliskan Tsunami Alley. Berupa lorong panjang yang menggambarkan bagaimana rasanya terjebak di dalam ombak. Judith masuk setelah Zakra. Anak perempuan itu seperti terpaku dengan keadaan di kanan dan kirinya. Membayangkan sebuah tragedi besar tersebut pernah terjadi dan menimpa saudaranya disini.
Selesai di sana, Judith dan Zakra masuk ke ruangan dimana terdapat banyak kumpulan nama-nama manusia.
"Ini nama-nama korban bencana Tsunami itu."
Judith merinding seketika, "Serius?" Gadis itu menyuarakan ketidakpercayaannya.
"Dari banyaknya nama disini, kamu bisa liat ke atas." Judith mendongak, lalu terpaku. Di dalam ruangan yang temaram, tepat di bagian atasnya terdapat tulisan Allah. "Satu nama itu buat kita umat manusia mikir, bencana itu bisa jadi teguran atau malah cara Dia Yang Kuasa buat jemput hamba-hamba yang Dia sayang. Kita nggak tau. Alam punya rahasianya sendiri."
Judith lagi-lagi terpaku. Lelaki di depannya memang banyak tahu. Tidak hanya itu, Judith juga dibawa untuk melewati lorong gelap dimana ujung dari lorong tersebut merupakan pintu dengan cahaya terang. Tepat setelah ia keluar dari pintu untuk menjemput cahaya tersebut, Judith lagi-lagi dibuat terpukau---diam tidak bisa berkata.
Disana perempuan itu dapat menyimpulkan sendiri. Bahwa banyaknya bendera dengan warna berbeda yang digantung menjadi bukti sebanyak apa negara-negara yang peduli pada negaranya---Indonesia.
"Aceh banyak ngajarin sesuatu banget, ya." Judith bersuara. "Aku kepikiran aja kalau misalnya aku ada di posisi mereka, atau aku di posisi orang-orang yang ditinggal sama orang yang mereka sayang, mungkin aku nggak sekuat itu. Ditinggal sama orang yang jelas-jelas masih satu alam aja udah bikin senewen, gimana yang beda...."
"Cara bertahan itu bersyukur, Dith. Apapun bentuk yang dikasih ke kita, intinya ya bersyukur. Karna cuma dengan itu kita bakalan tau arti hidup."
Judith menatap Zakra tersenyum, lalu tertawa dan lagi-lagi menyuarakan apa yang tengah ia pikirkan. "Za, kamu juga ganteng kok."
"Kenapa, Dith?"
"Suka aja liatin kamu ngomong serius kayak tadi. Ngingetin aku sama temen-temenku. Mereka hobinya bercanda sih, cuman sekalinya serius emang bikin takjub."
Zakra tersenyum sebab mendapatkan pujian. Laki-laki itu berubah kikuk. "Berarti aku bisa jadi temen kamu?"
"Emang kita belum temenan, ya?"
"Ya nggak tau. Menurut kamu gimana?"
Judith mengernyit, bingung sendiri. "Udah."
"Ya maksudku bilang kayak gitu, biar jelas aja hubungan aku sama kamu apa. Kalau sekarang emang udah temenan, syukur-syukur ke depannya bisa lebih."
"Kamu sakit?!" respon Judith langsung. Perempuan itu shocked. Zakra benar-benar gila.
"Enggak. Cuma emang pertama kali buatku ngomong kayak gini, Dith. Maaf kalau bikin kamu nggak nyaman. Aku nggak bisa bikin sikap kayak laki-laki Jakarta yang pasti lebih dari aku."
"Za, kita sepupu."
"Siapa bilang?" ujar Zakra enteng dan Judith menaikkan alis. "Aku nggak ada hubungan apa-apa sama keluarga Kakek Rano. Emang murni tetangga deket. Terus aku dianggep keluarga juga sama mereka."
"Kita udahin topiknya, ya. Mending liat-liat museumnya lagi."
Judith memilih berjalan lebih dulu. Yang benar saja! Anak perempuan itu tidak pernah mengira bahwa di dalam museum besar di Kota Aceh, akan ada seorang lelaki manis yang secara gamblang mengungkapkan perasaannya. Dan Judith, dia tidak pernah memikirkan hubungan gila yang sering orang-orang sebut dengan pacaran.
"Dith, kamu laper nggak? Kita makan dulu?"
Judith berbalik, menatap Zakra dan hanya mengangguk. Karena Judith baru sadar satu hal, perutnya lapar.
• S B C P •
Judith keluar dari mobil dan menatap rumah makan di depannya. Judith bersama dengan Zakra masuk. Lucunya, gadis itu tidak merasa terbebani akan perasaan konyol Zakra terhadapnya. Mereka kembali bersikap seperti biasa, tentunya dengan Zakra yang mudah mencairkan suasana dengan terus bercerita.
Mereka mencari meja kosong. Lalu Judith sibuk sebentar dengan ponsel sementara Zakra mengurus pesanan.
Rion Arjuna: Aku lagi bareng Ceisar.
Rion Arjuna: Kenapa, Lun?
Judith Aluna: Enggak.
Judith Aluna: Cuma kepikiran sama kata-kata kamu semalem. Aku bakal diajak ketemu bunda kamu. Bunda kamu masih inget aku nggak, ya?
Rion Arjuna: Inget. Orang bunda yang minta ketemu kamu.
Judith Aluna: Yon.
Rion Arjuna: Apa?
Judith Aluna: Kamu udah makan siang?
Rion Arjuna: Ini bareng Ceisar lagi muter-muter cari makan.
Judith Aluna: Oh gitu, bagus deh.
Judith Aluna: Jangan sampai telat makan ya, Yon. Nanti kamu sakit.
Judith mematikan ponsel dengan senyum tertahan. Diletakkannya ponsel, dompet, dan kamera di atas meja makan sebab ingin ke kamar kecil.
"Nitip sebentar ya, Za," ujar Judith dengan senyum tipis kemudian berlalu.
Zakra mengangguk, hanya mampu memandangi punggung Judith yang menjauh. Namun tidak lama, suara pada ponsel membuat Zakra menoleh guna melihat siapa orang yang sedang menghubungi Judith. Lelaki asli Aceh itu mengernyit, menatap nama seorang lelaki pada layar.
Rion Arjuna.
Zakra mengambil ponsel tersebut. Dan tanpa berpikir menggeser layar, mengangkat panggilan dari Rion.
"Halo?" sapa Zakra lebih dulu.
"Sorry? Alunanya ada?"
Zakra mengernyit. "Aluna?"
"Makusd gue, Judith."
"Oh, dia lagi ke kamar kecil."
"Boleh tau gue ngomong sama siapa?"
"Ini calon pacarnya Judith." Zakra tertawa, seolah-olah lelaki di seberang telepon tersebut juga akan terhibur dengan perkataannya.
"Apa?"
"Kenapa? Ada masalah?"
"No, lanjut aja. Besok-besok jangan jawab telfon orang sembarangan. Lo nggak tau orangnya bakalan suka cara lo kayak gini atau enggak."
Panggilan terputus begitu saja. Bahkan Zakra sendiri pun belum sempat mengucapkan salam. Tapi Zakra hanya mengedikkan bahu, berpikir bisa saja lelaki yang baru menghubungi tadi merupakan orang gila yang terlalu obsesi kepada Judith. Setidaknya, Zakra sudah menyelamatkan Judith.
Selang lima menit, Judith kembali. Rambut yang ia gerai sejak tadi sudah terikat satu ke belakang. Diambilnya tempat di seberang Zakra, kembali mengecek ponsel.
Judith mengernyit menatap roomchat Rion. Ada tanda panggilan disana. Ditatapnya Zakra curiga. Tidak salah lagi, tentu laki-laki itu yang menjawabnya.
"Kamu ngobrol apa tadi sama Rion?"
"Dia nanyain Aluna." Zakra menatap Judith tepat di mata. "Ternyata Aluna itu kamu."
"Terus?"
"Nggak ada yang penting dari dia. Tapi aku sampein hal penting kalau aku calon pacar kamu."
"HAH?" Positif gila nih orang. Judith menyambung rutukannya dalam hati. "Apa-apaan kok ngomong kayak gitu?"
Zakra mengedikkan bahu, lalu mengalihkan topik sebab penasaran. "Kenapa dia panggil kamu Aluna?"
Judith melirik Zakra sekilas sebelum kembali fokus pada ponsel. "Bukan urusan kamu."
"Kalau aku juga panggil kamu Aluna, boleh?"
"Enggak!"
"Kenapa?"
Judith menghela napas kasar, geram benar terhadap lelaki satu ini. "Karna kamu bukan Rion. Kamu cuma cowok aneh yang tiba-tiba ngeklaim kalau aku calon pacar kamu. Nggak lucu, Za."
Zakra terdiam di tempatnya. Namun Judith kembali mengetikkan sesuatu di layar ponsel.
Judith Aluna: Rion.
Judith Aluna: Yang tadi bukan apa-apa. Maafin temenku.
Dan sialnya, tidak ada balasan apapun dari Rion.
• S B C P •