25 (b). Aceh Bareng Sepupu

1716 Words
Judith menatap rumah tingkat dua dari dalam kaca mobil. Ukurannya memang besar, mengingatkan Judith pada rumah Opa Buyutnya di Jakarta. Beberapa mobil lainnya tampak sudah terparkir rapih di halaman. Selama perjalanan menuju kemari pun, pandangan Judith tidak lepas dari uniknya kota Aceh. Banyaknya nasihat-nasihat yang disuguhkan di setiap jalanan seperti menjentik hati kecil gadis remaja itu. Dia benar-benar berada di Aceh. "Ayo turun," ajak Dimi setelah dirinya turun lebih dulu. Judith mengangguk, memeluk blue erat sembari keluar dari mobil. Judith melihat kedua orangtuanya yang mendekat membawa koper, dengan sigap Judith ikut pula berjalan mendekat. "Mam, Judith kebelet pipis." "Bentar kita masuk dulu." Nadine menjawab sembari mendekap sang putri. Pertama kalinya Nadine membawa si bungsu kemari. Judith dan Nadine berjalan di belakang Aldric. Pria itu tampak santai menuju pintu utama rumah. Aldric mengucapkan salam, sementara Judith terpaku pada ramainya sanak saudara yang berada di ruang tamu. "Ayah Azka! Ma Nadine!" Judith melotot, lalu menunduk sementara tenggorokannya kesulitan menelan saliva. Ia terlampau kaget dengan panggilan salah satu remaja kepada orangtuanya. Judith menatap papa dan mamanya yang disambut dengan begitu hangat. Beberapa orang lainnya pun muncul dari ruangan yang Judith tebak adalah ruang keluarga. Mereka saling bersalaman sementara Judith masih memasang wajah polos terkejut. Anak perempuan itu bingung harus berlaku seperti apa. "Itu siapa yang cantik disana?" Judith mendongak, menatap salah satu wanita berjilbab hitam tengah tersenyum kepadanya. "Sini, Dek," ujar Aldric tertawa. Pria itu seperti paham apa yang tengah dirasakan si bungsu sekarang. "Ini yang bungsu. Namanya Judith." Dalam rangkulan Aldric, Judith mencoba menebar senyum. Lalu gantian menyalami sanak saudaranya. "Cantik anaknya ayah," ujar seorang sepupu lelaki. Judith menatapnya bingung, lalu buru-buru menatap hal lain. "Mam," bisik Judith pada Nadine. "Kenapa, Dek?" "Judith kebelet pipis, Mam." Judith mengulang kembali kalimatnya. Hingga Nadine tersadar dan buru-buru permisi sembari mengajak Judith menuju kamar mandi. • S B C P • Suasana rumah tampak ramai. Dan ini pertama kalinya untuk Judith makan bersama keluarga di lantai. Di dalam ruang keluarga yang luas, setiap mereka duduk menyandar di dinding, membentuk sebuah lingkaran dan saling bertatap wajah. Judith tetap duduk di sebelah Nadine dan Dimi di sebelah satunya. Sementara Aldric bersama keponakan yang lain. "Oh iya, yang dua lagi kemana kok nggak ikutan, Ka?" tanya seorang wanita, yang umurnya memang di atas Aldric. "Yang berdua udah lama nggak pulang. Sibuk kuliah." "Oh gitu," ujar yang lainnya menyambut. "Kuliah dimana?" "London." "Seriusan di London, Yah? Enaknya. Jadi pengen juga." Judith yang sejak tadi hanya diam memilih fokus pada makanan di piringnya. Gadis itu mengernyit. "Mam, ini jengkol?" Judith bertanya dengan raut lucu. "Iya, Dith," jawab Dimi tertawa. "Nggak makan jengkol, ya? Dipisahin aja." "Kak Dimi mau?" tawar Judith. "Tadi waktu ngambil Judith kirain daging." "Si Bungsu mirip Nadine, ya." Judith buru-buru menoleh karena merasa bahwa dirinya disebut. "Tuhkan mirip." "Fisiknya doang itu yang mirip, bandelnya nggak tau dapet dari siapa." Aldric tertawa, sementara Judith mengerucut sebal. Dia ingin keluar dan berjalan-jalan mencari angin. Rasanya sebal. "Ya kamulah!" celetuk pria lainnya. "Nggak sadar dulu kamu waktu sekolah bandelnya kayak apa?" Judith kembali menunduk sebab mendengar tawa sepupu-sepupunya. Mereka tentu menertawakan Aldric. Mungkin Judith akan dicap berlebihan jika anak perempuan itu berkata bahwa ia tidak suka sang papa direbut darinya. Hanya saja, sepupu-sepupunya seperti tidak menyambut dengan baik keberadaan Judith disini, lalu seenaknya mengambil Aldric. Jika tahu akan seperti ini, lebih baik Judith tinggal bersama Omanya seperti tahun-tahun sebelumnya. Beginilah Judith ketika sesuatu yang ia punya diambil oleh orang lain. Sementara dulu, jika di rumah, Judith lebih sering sebal apabila kedua kakaknya dekat dengan sang mama dan tidak menganggap keberadaan Judith. Anak perempuan itu memang terlampau protektif. "Assalamualaikum." Kepala Judith tegap lagi. Ia hapal pemilik suara tersebut. "Nenek," ujar Judith pada diri sendiri. Benar saja, orangtua dari Aldric muncul dan langsung dibantu oleh sanak keluarga yang lain. Judith pun ikut berdiri sebab memang jaraknya juga dekat dengan sang nenek. "Lho? Nenek pikir Judith nggak ikutan." Judith mencibir, memilih langsung memeluk sang nenek. Ingin menangis. Namun anak perempuan itu hanya berbisik. "Kan ada Kak Dimi, Nek." Sang nenek tertawa, tahu perihal kekaguman Judith kepada Dimi. "Udah sana makan lagi." "Udah kenyang," jawab Judith. "Judith anterin Nenek sama Kakek ke kamar, yuk?" "Nenek aja, tadi katanya sakit kaki. Kakek mau disini dulu." Judith mengangguk. Sementara sang nenek seperti sudah hapal pada sikap cucunya itu walaupun jadwal bertemu mereka tidak terlalu sering. Judith tidak melihat lagi, langsung menuntun sang nenek menuju kamar tamu yang berada di bawah tangga. Judith pikir memang hanya disana kamar yang tersisa, membuat gadis itu tahu kemana harus membawa neneknya. Judith membuka pintu kamar, menampilkan ruangan luas dengan tempat tidur king size dan beberapa kasur busa tambahan. Judith membantu sang nenek untuk beristirahat lalu buru-buru menuju tas sandang bernuansa baby warna biru pastel yang memang dibawa oleh papanya. Dibukanya tas tersebut dan melihat isinya. Judith menghela napas lega karena tebakannya tidak salah. Ada tujuh botol air mineral disana. Berkotak-kotak s**u rasa pisang. Dan camilan lainnya. Lalu baby powder, minyak telon, parfum, bahkan mie instan. Judith tahu bahwa papanya yang menyiapkan ini semua. Ah, tapi papanya tengah berkumpul bersama saudara-saudara dan Judith harus siap diabaikan. Dengan cepat diambilnya satu botol air mineral dan kembali menutup tas. Judith belum minum sejak tadi. Ia berbalik, berjalan menuju sang nenek. "Judith kirain nenek nggak ikutan kesini, soalnya kata papa nenek masih nggak sehat badannya." Judith tiduran di sebelah sang nenek. Mengatur suhu ruangan agar tidak terlalu rendah. "Udah kesininya nggak sering, masa waktu pergi bareng nenek nggak ikutan juga." Rambut Judith dielus lembut, membuat anak perempuan itu merasa nyaman. "Judith kenapa? Kok nggak mau lanjut makan?" "Males. Sepupu yang lain nggak anggep Judith, tapi main ambil papa Judith." Judith sebal sendiri saat memberitahukan perasaannya secara gamblang. Sang nenek menunjukkan senyum tulus, tidak berhenti mengelus rambut Judith. "Nenek tau, Judith mungkin kesel sedikit liat papa lebih deket sama keponakannya. Tapikan, Judith tau gimana papa jarang kesini. Gimana saudara disini segitu sayangnya sama papa. Tante sama om disini tuh sesayang itu sama papa Judith, nenek juga bingung kenapa mereka bisa kayak gitu. Sayang sama mama Judith. Jangankan saudara sepupu, tetangga yang liat papa sama mama Judith berdua pasti selalu muji mereka. Katanya kenapa cocok banget. Kenapa papa yang dulunya anak nakal bisa dapet perempuan kayak mama kamu. Kenapa papa yang dulunya lebih sering ngebolang bisa dapetnya bidadari." "Papa ganteng kok, Nek," celetuk Judith setelah mendengar nasihat panjang dari neneknya. "Emang ganteng papa kamu. Cuma dulu bandel." "Berapa lama emangnya tinggal di sini, Nek?" "Sampai papa kamu SD kelas tiga, baru nenek sekeluarga pindah ke Jakarta." Neneknya menjawab lagi. "Saudara sepupu disini jangan disama-samain sama saudara sepupu kamu di Jakarta." "Kenapa?" tanya Judith bingung. "Emang lebih baik yang di Jakarta, Nek." "Beda, Nak. Mereka langsung semangat peluk papa kamu ya karna emang tulus kangen. Bukan ada maksud mau ngerebut atau apa Judith mikirinnya. Mereka mungkin mau main bareng Judith, tapi nggak enak sama Judithnya." Judith mengernyit. Takut kepada Judith? Karena Judith datang dari Jakarta? Mereka semua baik, kan? Apa hubungannya takut kepada seseorang sebab asal. Konyol. Judith berdiri, dia tidak seharusnya bersikap seperti anak kecil. Di sudah akan naik kelas sebelas! Dan mengajak seseorang menjadi teman, Judith rasa ia harus mulai belajar untuk itu. Tidak akan sulit, pikir Judith meyakinkan dirinya sendiri. "Mau kemana, Dith?" tanya neneknya. Judith menoleh, "Mau cari temen, Nek. Bosen sendirian terus." Judith keluar dari kamar dan melihat bahwa lingkaran besar tadi sudah tidak ada. Orang-orang tampak melakukan beres-beres. Acara nanti malam tentu tidak lama lagi. Papanya juga sudah menghilang, begitupula dengan mamanya. Judith memutuskan keluar rumah, ingin melihat-lihat. Setelah di luar, dapat Judith tangkap papanya tengah bercengkrama ringan dengan pria yang mungkin seumuran dengan sang papa. Juga ada Dimi disana. "Dek," panggil papanya dan Judith mendekat. Aldric mendekap bungsunya, menghujani ciuman di kepala Judith. "Ngapain tadi sama nenek?" "Kepo," respon Judith singkat. "Sana main sama yang lain. Mereka daritadi nanyain Judith terus. Papa bilang mungkin Judith tidur. Soalnya hobi Judith tidur." Judith menatap papanya dengan bibir mengerucut sebal. "Papa kenapa suka bangetsih bilang kebiasaan Judith yang nggak baik. Malu tau, Pa." Aldric tertawa, "Karna Papa sayang Judith." Anak perempuan itu akhirnya melepaskan diri dari sang papa, berjalan menuju sepupu-sepupunya. "Lagi pada main apa?" tanya Judith takut-takut. "Eh, Judith, ayo gabung. Kita lagi ngobrol." Judith mengangguk, mengambil tempat kosong di sebelah laki-laki yang tadi terus memandang Judith. "Dith, gimana Jakarta?" Dan pertanyaan tersebut menjadi awalan cerita panjang yang Judith mulai. Menjadi awal pertemanan Judith dan sepupu-sepupunya. Menjadi awal mengapa gelak tawa dapat lepas dengan mudahnya. Dalam hati, Judith bersyukur. Temannya lagi-lagi bertambah. • S B C P • "Halo?" Judith berujar dengan telepon di tangan kanan. Jantung perempuan itu berdegub tidak beraturan sebab menerima panggilan saat jam sembilan malam. Walaupun keadaan di luar rumah masih cukup ramai. "Aku ganggu ya, Lun?" tanya orang tersebut dari seberang telepon. "Enggak," geleng Judith cepat. "Emangnya kenapa?" "Nilai rapor kamu gimana, bagus?" "Seriously? Kamu nggak mungkin nelfon aja cuma buat nanyain nilai raporku, kan? Aneh banget." Dapat Judith dengar helaan napas panjang milik Rion. "Aku ke rumah kamu. Tadinya pengen ketemu mama kamu, terus bawa kamu ketemu bundaku. Cuma ternyata kamu udah pergi liburan." Judith meringis, benar-benar merasa bersalah. "Aku lagi di Aceh, Yon. Ada acara keluarga disini." "Pulang kamu dari Aceh, gimana?" tawar Rion lagi. Judith kian merasa bersalah, sebab tidak dapat meluangkan waktunya. "Abis dari sini aku mungkin bakalan langsung pergi lagi. Terus kayaknya baru balik ke Jakarta sehari sebelum sekolah. Dan aku nggak bakalan dikasih keluar rumah hari itu." "Oh, kalau gitu kapan-kapan aja berarti." "Maaf ya, Yon." "Kok minta maaf? Yaudah aku tutup dulu ya, Lun." Judith menghembuskan napas dengan kasar. Memikirkan apa Rion sedang kecewa padanya membuat Judith tidak tenang. Tapi mungkin, lelaki itu juga akan pergi berlibur bersama keluarganya. Setidaknya Judith dapat menikmati waktu liburnya sebelum kembali bergelut dalam drama hidup. Judith menatap sepupu laki-lakinya yang sudah Judith ketahui bernama Zakra. Anak lelaki itu sepertinya memang mudah akrab dengan siapapun. Dia juga yang sejak tadi memuji Judith cantik. Umurnya sama dengan Judith. "Kenapa sendirian?" Zakra bertanya. "Enggak, tadi abis telfonan." Awkward! "Pacar kamu?" Judith kaget, namun buru-buru menormalkan eskpresinya. "Temen." "Beneran kamu belum ada pacarnya?" "Emangnya kenapa?" "Enggak apa-apa." Zakra menggeleng. "Kamu cantik lagi malam ini. Mama kamu suruh aku cari kamu, kalau ketemu minta kamu masuk kamar. Kamu udah harus tidur, ya? Selamat malam, Judith." Lalu Zakra berlalu. Meninggalkan Judith yang masih terpaku di tempatnya. • S B C P •
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD