25 (a). Aceh Bareng Dimi

1550 Words
"Dek, leggingnya udah dipakai belum?" tanya Nadine sembari memasukkan perlengkapan lain ke dalam koper. Judith yang tengah tiduran di atas bed sofa di ruang keluarga hanya mengangguk, sama sekali tidak bersuara dan sibuk menggulir layar ponsel. Anak perempuan itu masih sangat mengantuk. Sementara ia dan kedua orangtuanya harus menuju bandara dari pagi buta. "Udah, kan?" Kini wujud Nadine muncul di hadapan Judith. Wanita itu membantu Judith agar bangkit dari posisinya, merapikan lagi baju yang dikenakan si bungsu. Pagi itu, Judith memakai legging hitam yang dilapisi lagi dengan celana kulot hitam, panjangnya mencapai mata kaki. Sementara untuk atasan, Judith menggunakan kaus yang ia lapis lagi dengan jaket denim. Rambutnya ia kuncir ke belakang sehingga menyisakan beberapa anak rambut. "Papa mana, Mam?" tanya Judith sambil menoleh ke arah pintu kamar orangtuanya. "Udah siap kok. Boneka Judith gimana? Mau bawa yang itu? Bantal leher gimana?" Nadine melirik ke arah boneka yang sedang Judith pegang. Judith sendiri bukanlah perempuan yang terlalu antusias dengan boneka. Namun karena dulu Bia yang mengkoleksi semua boneka itu, alhasil Judith yang menikmati boneka-boneka tersebut sekarang. "Bantal lehernya lupa Judith letakin dimana, Mam. Jadi bawa yang ini aja." Judith mengangkat guna menunjukkan boneka beruang berukuran biasa. Jika berpergian kemanapun, Judith lebih sering membawa sesuatu, setidaknya untuk dipeluk agar tubuhnya tidak pegal. "Udah, kan?" Aldric muncul dari kamar dengan dua koper, satu berukuran besar, satu lagi berukuran sedang milik Judith. "Udah, Pa." Judith menjawab, mengambil alih kopernya sendiri. "Ngantuk kamu, Dek?" "Ya papa sih ngapain ambil penerbangan jam segini. Kenapa nggak nanti sorean." Aldric tertawa, merangkul sang putri dan mengecup dahi Judith penuh sayang. "Kan acaranya malam ini, Dek. Dateng sekarang biar Judith bisa lanjut istirahat dulu disana." "Pa, Aceh seru nggak?" "Seru!" jawab Aldric langsung. "Tapi Judith takut kesana, nggak ada temennya, Pa. Ini juga pertama kalinya kan Judith ikutan ke Aceh." "Kenapa? Sepupu seumuran Judith nanti juga banyak. Kan bisa kenalan. Ada Kak Dimi juga disana." Mata Judith tiba-tiba segar ketika nama Dimitri---salah satu kakak sepupu lelakinya---disebut. Sejak kecil, Judith memang sudah menaruh rasa kagum pada lelaki tersebut. Bagi Judith, Dimi mengagumkan. Mungkin apabila Judith diberikan posisi sebagai teman Dimitri, dia sudah akan mengejar dan meminta Dimitri untuk selalu bersamanya. "Seriusan kan ini Kak Dimi ikutan, Pa?" Aldric mengangguk, "Iya, udah pada ke bandara juga." Judith tampak mengangguk senang, lalu masuk ke mobil lebih dulu sementara Aldric tengah menyusun koper mereka. Judith masih asik dengan ponsel, tersenyum sendiri sebab sesuatu. Anak perempuan itu banyak mendapatkan hal-hal penuh kejutan selama hari-hari ujian yang ia lalui. Seperti Rion yang memberinya semangat walau hanya lewat chat singkat. Mereka tidak pernah bertemu lagi memang, sebab Rion sendiri mungkin terlalu sibuk. Dan Judith memang memilih pulang lebih awal karena harus belajar. Pintu mobil terbuka, membuat Judith menoleh dan menemukan Nadine dengan sepasang sepatu warna putih di tangan. "Pakai sandal, kan? Ganti." Judith mencibir, dia ketahuan. "Iya, Mam, iya. Nanti diganti." Nadine menghela napasnya, memberikan tanda bahwa sudah gemas akibat perilaku sang anak. Judith sendiri memilih berselonjor kaki, mengambil bantal yang diulurkan oleh sang mama. Judith butuh tidur sebab ia masih sangat mengantuk. Dimatikannya ponsel, lalu mendekap erat boneka yang ia beri nama blue tersebut. "Judith bobo, ya," ucap gadis itu sebelum menutup kembali kedua matanya. • S B C P • Judith melangkahkan kaki dengan bibir mengukir senyum. Bahkan ranselnya ikut bergerak akibat semangat yang tengah menyapanya. Jantung Judith berdegub tidak teratur. Terutama ketika sepasang matanya menangkap sosok tampan berkacamata yang tengah serius menatap ponsel. Dimitri. "Kak Dimi!" teriak Judith ketika sudah dekat dan Dimi reflek mendongak. Pria dengan baju kaus hitam yang dipadu dengan celana sepanjang lutut itu menunjukkan senyumnya. Kenapa ganteng banget, sih, pikir Judith senewen. "Judith" sapa Dimi. "Udah gede banget kamu." Judith tersipu, "Iya dong, Kak. Masa kecil terus nggak mau." "Gimana sekolahnya?" tanya Dimi setelah mendekap Judith singkat. "Baik-baik aja." "Kakak denger kamu pindah?" Judith menahan ringisan yang hendak ia tunjukkan tadi. Malu apabila Dimi mengetahui hal sebenarnya mengapa Judith pindah. "Iya, Kak, pindah ke Cakrawala." "Cakrawala makin gede aja sekolahnya." "Gede banget, Kak." Judith mengungkapkan kekagumannya. Kali ini anak perempuan itu jujur. "Baru sekarang tuh, Dim, muji-muji Cakrawala. Biasanya diejekin sama dia. Cakrawala nggak jelas apa segala macem." "Mama!" Judith bersuara, dia malu sebab Nadine membeberkan fakta tersebut di depan Dimi. Nadine tertawa, kemudian beralih kembali kepada Dimi. "Gimana kemarin di Thailand? Seru?" "Seru, Tan!" angguk Dimi sembari memperbaiki letak kacamatanya dengan jari telunjuk. "Bia sama Abi nggak pulang, Tan?" "Enggak. Rencana kita yang kesana." "Cie ke London." Dimi menggoda Judith yang sejak tadi mendengarkan obrolannya dan Nadine. Anak perempuan itu kembali tersipu. "Kakak ikutan boleh?" "Nggak boleh!" Bahaya banget soalnya nanti Judith susah fokus, Kak. Anak perempuan itu menyambung ucapannya dalam hati. Judith sendiri bingung, kenapa ia bisa sekagum itu pada Dimi. Padahal kakak kandung lelakinya pun mungkin tidak jauh berbeda dengan Dimi---mudah dikagumi. Namun rasanya aneh untuk Judith bila kagum kepada Abi. Dan tanpa pernah Judith minta, Dimi terpilih sebagai lelaki yang Judith kagumi. Lelaki itu lulusan kedokteran dan entah fokus pada apa sekarang, Judith tidak tahu pasti. Namun keikutsertaan Dimi di detik ini memang membuat Judith kaget. Seorang Dimi, akhirnya memiliki waktu luang. Pun sama dengan kondisi Judith yang banyak dikelilingi laki-laki. Anak perempuan itu sepertinya biasa saja. Tidak ada hal spesial yang harus Judith bawa hingga ke hati. Oh, mungkin hanya seorang. "Mana nih calonnya Dimi?" Nadine bertanya lagi. Sementara Judith refleks mengerucut sebal. "Emang lagi sibuk, Tan, dianya. Padahal tadi niatnya mau ngajakin dia kesini." Judith menghindar, tidak ingin mendengarkan obrolan seputar kekasih Dimi. Anak perempuan itu lebih memilih memainkan games di ponselnya daripada dirinya semakin sebal. Fakta bahwa Dimi sudah dimiliki orang lain membuat Judith sedikit tidak terima. "Dek, toilet dulu ayo," ajak Nadine akhirnya. Hingga Judith yang memang sudah menahan diri sejak tadi dengan cepat mengangguk dan berjalan mengikuti Nadine. • S B C P • Sekitar dua jam lebih tiga puluh menit berada di udara, meninggalkan daratan Jawa menuju pangkal dari pulau Sumatra. Judith dan keluarga akhirnya mendarat di Aceh. Anak perempuan itu kini sudah mengalungi kameranya. Sementara langkah kakinya disetarakan dengan langkah kaki Dimi. "Kak Dimi pernah ke Aceh?" tanya Judith sembari melihat kiri kanan. Suasana Bandara Sultan Iskandar Muda tampak ramai pagi itu. "Pernah, beberapa kali dulu." "Berarti sekarang yang pertama dong semenjak kakak sibuk gitu?" Dimi mengangguk, merangkul Judith yang asik memotret sekitar. Anak perempuan itu melirik Dimi singkat, dan menahan senyumnya. "Iya. Terus Judith baru pertama kali di sini?" "Iya, ini yang pertama." "Terus abis SMA mau lanjut kemana?" Judith mengedikkan bahu, malas membahasnya sebab kini waktunya ia berlibur. "Bahas gituan kapan-kapan aja deh, Kak. Lagi males." Dimi tertawa kecil, "Kenapa kok gitu?" "Ya gimana. Selama di Cakrawala tuh berasa banget gitu lho belajarnya, Kak. Sementara dulukan Judith gimana ya, nggak yang belajar ekstra tapi udah yakin aja bakalan bisa jawab soal-soalnya. Makanya Judith males aja bahas pelajaran sekarang soalnya otak Judith udah kayak dikuras abis. Liburan ya liburan, gitu." "Iya, Dith." Dimi mengacak rambut Judith gemas. "Yaudah bahas yang ringan aja. Cowok Judith gimana? Anak baik-baik, nggak?" "Astaghfirullah. Bukannya makin ringan malah makin berat, Kak." Judith geleng kepala. Disaat seperti ini ketika ia sudah hampir berhasil melupakan sosok Rion, ternyata Dimi dengan ringannya kembali mengingatkan Judith. Perempuan itu penasaran, entah kapan ia dapat mengetahui alasan pasti kepergian Rion waktu itu. Judith terlampau ingin tahu pada kehidupan seorang Rion. Pun anak perempuan itu menaruh rasa takut apabila Rion ternyata menyembunyikan sesuatu yang seharusnya tidak Judith ketahui. Karena jika boleh memilih, Judith lebih ingin menghabiskan waktu berliburnya bersama Rion. Datang ke rumah lelaki itu dan bertemu dengan orangtua lelaki itu. Seperti yang Delvie katakan, Rion memiliki adik kembar yang sukses membuat Judith gemas penasaran. Belum lagi setelah kepulangan dari Aceh nanti, anak perempuan itu akan kembali terbang menuju London. Meninggalkan cuaca Indonesia untuk beberapa waktu dan menikmati musim panas London. Lucu saja, kenapa kali ini Judith kehilangan semangatnya. "Judith belum punya pacar, ya? Besok kalau punya pacar, pacarnya suruh ketemu kakak dulu." "Kok gitu?" tanya Judith sambil mengangkat pandangan untuk melihat Dimi yang masih setia merangkulnya. "Iya sini biar Kakak yang wawancara dulu, dia cocok atau enggak sama Judith." "Ih kok gitu?" Pandangan Judith dibuat seolah-olah gadis itu tengah tidak terima. "Ya karna harus gitu. Soalnya cuma Judith yang bakalan nurut sama Kakak. Kalau Teteh kamu, mana mau. Sama model susah, tipenya tinggi." Judith terbahak. Ternyata selama ini di dalam pikiran Dimi, Judith dicap seorang anak yang penurut. Judith membayangkan bagaimana ia berubah menjadi Hamtaro---hamster miliknya dulu yang sudah mati---dan begitu menurut pada majikan. Judith menggeleng cepat, pikirannya lagi-lagi memikirkan hal konyol. Setelah menyelesaikan urusan pada barang-barang dan hal lainnya, akhirnya mereka dapat menuju mobil keluarga yang sudah menunggu sejak tadi. Ketika sudah di luar, dapat Judith lihat pemandangan bandara kota yang dijuluki Serambi Mekah tersebut. Kubah mesjid yang berada pada bagian puncak bangunan sepertinya sudah menjadi ciri khas. Judith tersenyum kecil, salut pada kota dimana papanya dilahirkan. "Bagus ya ada kubahnya gitu, Kak." Judith mengambil potret bangunan bandara lalu menoleh pada Dimi, tersenyum manis. "Kamu belum pernah ke museumnya, kan? Pasti nanti lebih takjub lagi kalau kesana." Judith terperangah, sadar bahwa ternyata ilmunya tentang Aceh memang tidak ada. "Dek, naik mobil bareng mama apa bareng Kak Dimi?" "Bareng Kak Dimi, Mam." Judith menjawab lantang, lalu masuk dengan cepat ke jok bagian penumpang belakang. Ia semangat untuk yang satu ini. Bertemu keluarga baru, siapa yang tidak bahagia? • S B C P •
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD