24. Sweater Merah Hati

1587 Words
"Makasih ya, Nik," ungkap Judith sembari turun dari motor. Niko lantas tersenyum, ia senang bisa mengantarkan Judith hingga ke rumah. Dan Niko cukup berbangga sebab mampu mengajak Judith untuk pulang bersamanya. Lelaki itu pikir, Judith masih menyimpan kekesalan sehingga tidak mau bercakap lagi. Namun di luar dugaan, Judith mengangguk dengan mudahnya sewaktu menerima ajakan Niko. "Kalau gitu aku pulang dulu," ujar Niko dengan senyum manis. Judith mengangguk, "Yaudah, hati-hati, ya!" Motor Niko kembali bergerak menjauhi rumah Judith untuk pulang ke rumahnya. Sementara Judith buru-buru membuka pagar. Ujian hari pertama baru saja dilewati, dan Judith cukup tidak sabar menyambut liburan kenaikan kelas nanti. "Mama! Judith pulang!" Judith berteriak setelah sebelumnya mengucapkan salam. Perempuan itu menyusuri ruang tamu menuju ruang keluarga dengan wajah ceria. Sibuk mengedarkan pandangan berharap melihat mamanya. Masih dengan atribut sekolah yang menempel di tubuh, Judith berjalan menuju kamar sang mama. Dan benar saja, mamanya yang tampak santai memakan keripik sambil menonton drama Korea seperti baru saja melihat penampakan akibat kemunculan Judith. "Judith udah pulang?!" tanya Nadine sedikit tidak percaya. "Kok nggak ngehubungin Mama? Tadi bareng siapa? Cata sama Amar?" Judith menggeleng, ikut duduk di sofa yang berada di ujung tempat tidur milik orangtuanya. Tangannya meraih pelastik keripik yang Nadine pegang. "Sama Niko," jawab Judith kemudian. Sementara mulutnya mulai asik mengunyah keripik. "Niko? Tumben." Nadine kebingungan. "Terus kenapa waktu Niko kesini nggak peduli?" Judith mengembalikan keripik tersebut kepada sang mama, lalu tangannya mulai terampil membuka satu persatu atribut sekolah. "Nggak tau, Mam, lagi nggak mood aja waktu itu." "Yaudah sana mandi dulu," usir Nadine sembari mengganti siaran televisi. "Mandi disini aja Judith lagi males jalan ke kamar." "Yaudah nanti baju Judith liat di lemari bawah, ya." Judith menoleh, menatap mamanya bingung. "Lemari yang mana satu, Mam?" "Yang di bawah kumpulan sepatu mama kan ada lemari nggak gitu gede, liat disana." Judith akhirnya berlalu, masuk ke kamar mandi dan segera melakukan ritual bersih-bersih. Jika di kamarnya, Judith tidak akan mandi melainkan memilih tidur. Disebabkan keinginan anak perempuan itu untuk mengungsi di kamar orangtuanya, otomatis Judith harus mengikuti kata-kata sang mama bila tidak mau disuruh pindah ke kamarnya sendiri. Selang tiga puluh menit---tentunya setelah mengacak semua benda kencantikan milik Nadine---Judith memilih menyudahi mandinya. Anak perempuan itu menikmati aroma lembut yang menguar dari tubuhnya. Ini yang Judith suka, mamanya memang suka memperhatikan hal-hal semacam ini. Walau seperti yang pernah Judith bilang, dirinya terlampau banyak malas. Judith melangkah masuk menuju walk in closet sang mama, mencari lemari yang dimaksud. Setelah menemukan, Judith buru-buru duduk di lantai dan membuka lemari tersebut. Telunjuk Judith berjalan menyusuri kumpulan bajunya. Lalu tanpa berpikir dua kali mengambil piyama dengan corak pisang. Setelah semua urusannya selesai, Judith keluar dari walk in closet dan tidak menemukan Nadine. Televisi sudah mati. Hingga akhirnya anak perempuan itu memutuskan keluar kamar untuk mencari sang mama. "Mam, dimana?" teriak Judith, kakinya berjalan menuju dapur. "Mama di dapur." Dan benar saja, Judith memang menemukan Nadine tengah mengaduk segelas s**u yang Judith tebak untuk dirinya. "Tadi masa Tante Aqila jadi pengawas ruangan Judith, Mam. Terus tuh Judith nunduk aja bacain soal. Eh tiba-tiba Tante Aqila datengin meja Judith, terus bisikin gini, eh si bandel ternyata disini." Judith yang sudah duduk di kursi makan menyampaikan ceritanya dengan semangat. Sementara Nadine yang baru saja selesai membikin s**u langsung menoleh melihat Judith. "Dia bilang Judith apa? Bandel?" "Iya, Mam!" jawab Judith semangat. "Nanti kita perangin Tante Aqila. Sabtu inikan udah masuk jadwal makan malem di rumah opa. Enak aja Judith dibilang bandel." Judith tampak berpikir ketika tangannya menerima s**u buatan Nadine. Lalu dengan polos berujar, "Tapikan, Mam, Judith emang bandel." Nadine menghela napas, beginilah jika sudah terlibat percakapan bersama si bungsu. "Dek, Mama kelupaan mau beres-beres barang kamu yang udah nggak kepakai lagi. Itukan baju sama sepatu-sepatu masih bagus tapi nggak dipakai. Rencananya mau Mama bawa nanti waktu kita ke Aceh. Bagi sama orang disana aja." Judith hanya mencoba menatap sang mama dengan pandangan setuju. Sebab gadis itu tengah sibuk meneguk s**u. "Udah, kan?" tanya Nadine ketika melihat Judith selesai. "Yuk, ke kamar Judith." Judith mengangguk, mengikuti sang mama berjalan menuju tangga untuk menuju kamarnya. Padahal niat awal gadis remaja itu hanya ingin berguling di atas tempat tidur orangtuanya sebelum nanti kembali membuka buku dan belajar. Nadine membuka pintu kamar si bungsu, masuk dan langsung menuju walk in closet gadis itu. Judith sendiri memilih mendudukkan dirinya di bangku berbentuk tabung yang memang berada disana. Membiarkan Nadine sibuk membuka lemari yang berisikan sepatu dan baju-baju. "Tuhkan! Judith kenapa sih nggak mau pakai bajunya? Jadinya kan udah kekecilan. Labelnya aja masih nyangkut." Judith meringis, "Enakan pakai kaus oversize, Mam. Itukan kebanyakan bajunya panjang gitu, jaket, sweater." "Iya tapikan kamu tuh masih bisa pakai kalau kemana-mana. Kalau jalan ke mall selalu milih pakai jeans gantung. Bajunya kaus-kaus itu terus. Kalau nggak dibilangin pakai sepatu pasti selalu pakai sandal jepit." "Iya orang ke mall doang kan niatnya cuma nonton sama makan." Judith masih terus menjawab, lagipula ia tidak merasa ada yang salah dari tampilannya jika pergi kemana-mana. "Iya mama tau," ujar Nadine mencoba mengerti kebiasaan bungsunya. "Buat di Aceh jangan coba-coba pakai baju kayak gitu ya. Nanti mama cariin baju sopan, legging lagi, kerudung, terus Judith pakai flat shoes aja." Judith hanya mengangguk. Anak itu memilih menuju meja belajar dan mencari buku pelajaran untuk ujian selanjutnya. Judith duduk di kursi belajar. Mencoba membolak-balikkan lembaran kertas tersebut, dan sayangnya kepala Judith tetap memikirkan satu nama. Judith tidak melihat Rion hari ini. Anak perempuan itu hanya mencoba berpikir positif. Namun kenyataan bahwa Rion tidak ingin repot-repot mendatangi Judith ke kelas sedikit banyak membuat Judith ragu. Haruskah Judith lagi yang mendatangi Rion? Padahal laki-laki itu memiliki hutang cerita pada Judith. Judith juga berharap kedatangan Rion ketika pulang sekolah tadi. Namun pada akhirnya, wujud Niko yang muncul dan mengajak Judith untuk pulang bersamanya. Judith tentu saja mengangguk. Daripada dia bersedih sebab Rion, lebih baik menerima ajakan Niko. "Dek!" Panggilan Nadine membuat Judith tersentak. "Sini dulu, coba bantuin mama sebentar." Judith langsung berdiri, kembali mendatangi sang mama yang sudah menyusun baju-baju milik Judith di lantai. "Kenapa, Mam?" tanya Judith ikut duduk di sebelah Nadine. "Coba pilihin baju yang mana aja yang bagusnya dibawa." Judith melirik semua baju yang tentu saja sudah tidak pas lagi di badannya. Namun pandangan Judith seketika terpaku pada sebuah sweater berwarna pink pastel. Sweater itu ... seharusnya menjadi hadiah untuk Rion beberapa tahun silam. Namun tidak pernah sampai sebab lelaki itu sudah menghilang lebih dulu. "Mam, ini---" ujar Judith terpotong, tangannya meraih sweater tersebut hati-hati. Judith memeluknya erat, bahkan harum benda ini masih tetap sama. "---sweater yang harusnya Judith kasih ke Rion." Nadine masih diam, hanya menatap Judith yang masih asyik menelusuri sweater tersebut. "Kasihin aja lagi ke orangnya." Judith menatap mamanya bingung, "Emang bakalan diterima, Mam?" "Siapa tau? Dicoba aja dulu." Judith mengangguk mengerti. Lalu bangkit dari duduknya. "Ambil semuanya aja, Mam, terserah. Tapi yang ini Judith ambil, ya." Judith berucap sebelum meninggalkan sang mama disana. Ia ingin mencari paper bag sebagai tempat sweater tersebut. • S B C P • "Araz mau ini?" tanya Aksa kepada kembarannya. Anak lelaki itu tengah menawarkan selembar kertas dan kerayon. Araz menggeleng. Dia tidak suka menggambar. Keinginannya selama ini adalah bermain musik. "Araz nggak mau." "Araz mau apa?" Gantian Rion yang bertanya. "Musik," jawabnya sendu. "Taman, balon, badut, temen." "Tapikan Araz punya Aksa, Kak Rion, bunda, Araz punya temen." Jawaban Rion tak pelak membuat Araz menggeleng. "Tapi Aksa sama Kak Rion selalu aja sibuk. Terus bunda selalu aja larang Araz ini itu." "Abis ujian Aksa udah nggak sibuk lagi kok, Raz. Nanti Aksa temenin Araz disini terus." "Araz kangen eyang. Araz pengen ketemu Kak Delvie. Araz pengen main lagi." Rion terpaku, ucapan Araz membuatnya tidak mampu berkata-kata. Ekspresi wajah gadis itu seakan-akan mengatakan bahwa waktunya sudah tidak lama lagi. Dan Rion tidak ingin hal tersebut terjadi. "Araz sembuh dulu, nanti kita main bareng. Kak Rion janji." "Araz nggak tau kapan Araz bakalan pergi, Kak. Araz cuma mau hal-hal yang Araz suka bisa Araz rasain lagi sebelum Araz pergi." Rion memejamkan mata. Berpindah tepat ke sebelah Araz. Lalu perlahan memeluk gadis perempuan itu. "Kakak janji bakalan bikin Araz ngerasain hal-hal itu lagi. Secepetnya." Tepat setelah itu, bunda mereka masuk ke kamar dan kembali menunjukkan senyum. Kantung pelastik yang dibawa pertanda bahwa sudah waktunya mereka---kecuali Araz---untuk makan. "Udah dari tadi disini?" tanya sang bunda mendekat. "Udah, Bun." Rion menjawab, sembari melepaskan Araz dari dekapannya dan berjalan mengambil ransel. "Rion harus pulang sekarang, Bun. Ada yang harus dikerjain. Nanti sore Rion kesini lagi buat jemput Aksa." Bundanya tampak menghela napas, sadar bahwa ia tidak bisa menahan Rion terlalu lama untuk berada di rumah sakit. Setelah berpelukan singkat, Rion memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut. Keadaan rumah sakit yang selalu sibuk membuat Rion kadang kala bertanya. Mengapa orang lain dapat sembuh dari penyakit mereka sementara adiknya tidak? Pun sama halnya dengan sang ayah. Disaat para dokter ahli dapat menyelamatkan hidup orang lain yang juga berjudul kecelakaan, kenapa tidak dengan ayahnya? Rion tahu dia akan berdosa karena terus mengutuk kehidupan. Namun lelaki itu hanya tidak terima kenapa ketidak adilan selalu menyapanya dan mengajaknya berkenalan. Rion hanya ingin kehidupan normal. Kehidupan dimana ia dapat bahagia dan menjalankan masalah hidupnya dengan mudah. Bukankah seseorang diuji atas dasar kemampuannya? Lalu kenapa Rion dihadapkan pada kondisi semacam ini sementara ia beranggapan bahwa ia sudah tidak sanggup lagi. Rion ingin menyerah, tapi bagaimana nasib bunda dan kedua saudara kecilnya nanti? Rion menggeleng. Dia hanya ingin beristirahat dari kejamnya kehidupan yang tengah bermain bersamanya kini. Karena bagaimanapun, Rion sangat membutuhkan energi untuk bertahan di posisi ini. Maka dari itu, ia membutuhkan tidur. • S B C P •  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD