Hari pertama ujian. Dan Judith tampak sibuk dengan seragam yang akan ia kenakan. Anak perempuan itu menatap pantulan dirinya di depan cermin, tersenyum beberapa kali.
Selama seminggu menjelang ujian, Judith hanya dihadapkan oleh peraturan-peraturan yang dipasang Nadine. Nadine yang mengantar, Nadine yang menjemput. Judith tidak boleh memegang benda elektronik di atas jam 9 malam. Judith harus belajar. Tidak boleh terlambat makan apalagi melupakan.
"Percaya sama mama, kalau nggak pegang hp, Judith bakalan lebih fokus." Mamanya berkata saat itu.
Judith mengangguk, mengiyakan ucapan sang mama dengan patuh. Ia sendiri pun memang tidak ingin bermain mengingat persaingan gila di dalam Cakrawala. Dan yang dapat Judith lakukan memang belajar, sekuat yang ia bisa.
Judith mengambil rompinya, lalu mengenakan benda itu dengan gerakan rapi. Kembali dilihatnya penampilan. Tidak ada yang buruk. Dengan running shoes warna hijau tua dan kaus kaki hitam setinggi betis. Kaki putih remaja itu benar-benar tampak bersinar.
Judith mengambil ranselnya, membawanya keluar kamar. Sementara tangannya masih asik membolak-balikkan buku. Ketika langkah Judith selesai di anak tangga, bertepatan dengan itu Aldric keluar dari kamar. Senyum Judith merekah, ia mendekat menuju Aldric. Lalu dalam sekali gerakan sudah terlindung dalam rangkulan Aldric.
"Jangan nyontek-nyontek!" peringat sang papa sukses membikin Judith mencibir.
"Tapi kok Judith nggak yakin ya, Pa, bakalan ada yang nyontek gitu disana?"
"Bagus kalau gitu."
Judith buru-buru melepaskan diri ketika tiba di ruang makan. Menempatkan tubuh di kursi makan dan langsung meminum s**u yang sudah disediakan Nadine.
"Semangat ujiannya!" ucap Nadine sembari mengulurkan roti lapis berisi sayuran dan buah. "Sebentar lagi Judith kelas sebelas, terus naik lagi, terus kuliah."
Judith mendongak, menatap mamanya yang tiba-tiba saja terlihat sendu. "Mam, kan Judith masih disini."
Nadine mengangguk. Namun Judith akan tetap tumbuh dewasa bukan? Rasanya sedikit tidak rela membayangkan bungsunya tumbuh dewasa sementara Nadine masih ingin memanjakan Judith layaknya anak 5 tahun.
"Nanti mau lanjut kuliah dimana, Dek?" tanya Aldric sembari memotong roti isi miliknya.
"Judith pengen deh ke Canada. Tinggal di Toronto. Judith pengen rasain hidup di luar negri. Mau kemana-mana jalan kaki aman."
Nadine masih diam, memilih mendengarkan suara putri bungsunya.
"Emang berani tinggal sendiri?" tanya Aldric lagi.
"Berani, kayaknya."
"Udah jangan bahas itu dulu," celetuk Nadine. "Mama mau ganti baju dulu abis itu kita berangkat."
• S B C P •
"Bunda beneran nggak mau Rion anterin ke sekolah?"
Rion yang tengah berdiri di sebelah mobil mencoba membujuk sang bunda. Bundanya memang pulang semalam sebab memikirkan Rion yang akan menjalankan ujian hari ini. Setidaknya, Araz sudah dijaga oleh saudara yang lain sementara mereka semua sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Bunda nanti pergi bareng Aksa. Kamu hati-hati, ya. Semangat ujiannya."
Rion mengangguk, "Pulang nanti Rion langsung ke rumah sakit."
"Iya. Udah sana nanti telat." Bundanya kembali meminta agar Rion segera pergi. Anak lelaki itu tertawa. Dia rindu saat-saat seperti ini.
"Iya, Dah, Bun." Rion melambaikan tangan, lalu dengan cepat masuk ke mobil.
Dalam perjalanan, Rion membiarkan suara radio mengisi keheningan. Walau begitu, ternyata suara sang penyiar tetap tidak bisa menarik perhatian Rion. Lelaki itu tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Seminggu terakhir, Rion seperti kesulitan mencari keberadaan Judith. Alhasil, Rion tidak lagi melakukan apapun selain belajar. Kegiatan OSIS benar-benar menyita waktu dan tenaganya. Dan sudah sepatutnya lelaki itu bercengkrama kembali bersama buku-buku yang sudah lama ia tinggalkan.
Namun ternyata, gelagat aneh Rion terbaca dengan jelas oleh Ceisar. Temannya itu paham dengan apa yang Rion rasakan. Bagaimana tidak, selama mereka kenal, tidak sekalipun Ceisar melihat Rion dekat dengan perempuan manapun. Rion terlampau sibuk dengan urusan-urusan sekolah. Dan kehadiran Judith, sangat membuat Ceisar kelimpungan menampung banyaknya tebakan di kepala.
"Yon," panggil Ceisar ketika Rion dan dirinya tengah berada di perpustakaan lantai dua. Kedua lelaki itu memutuskan untuk belajar disana. Seperti biasa, persiapan sebelum ujian.
"Kenapa?" respon Rion singkat menatap Ceisar, lalu kembali memainkan pulpen di atas bukunya.
"Judith sebenernya siapanya lo, sih?"
Gerakan pulpen Rion terhenti. Ditatapnya Ceisar penuh perhatian kini. Lelaki itu menggeleng dan memilih menyeruput minumannya. Rion harusnya sadar bahwa dia memiliki hutang penjelasan kepada Ceisar. Tapi hingga sekarang, Rion tetap memilih bungkam. Sebab ia bingung hendak memulai darimana.
"Gue nggak minta diem lo, Yon." Ceisar bersuara lagi, mencoba tetap sabar menghadapi teman seperti Rion. "Gue mau lo jelasin ke gue, lo punya hubungan apa sama Judith. Judith tuh sebenernya siapa? Kenapa lo pakai bela-belain beliin dia pudding segala sementara lo nggak pernah beliin gue. Tandanya posisi tuh cewek nggak sembarangan, kan? Terus yang paling bikin gue nggak habis pikir, lo pegang tangannya, Yon! Lo sukses bikin sekolah geger sama aksi lo."
Rion mengernyit, "Apaansih lo, nggak usah lebai."
"Ya tapi kenyataannya emang gitu. Waktu lo bawa Judith pulang bareng lo, lo harus tau sebanyak apa orang yang ngutuk kalian berdua karna nggak suka."
"Ngapain ngutuk-ngutuk? Nyatanya Judith emang pantes gue ajakin pulang ketimbang ajakin mereka." Rion memunculkan tawa remehnya. Pertanda bahwa dirinya tidak terima atas perlakuan anak-anak kepada Judith.
"Yon," panggil Ceisar lagi. Lelaki itu benar-benar terlihat serius kini. "Lo tuh sadar nggak kalau lo terlalu tiba-tiba? Siapa yang nggak kaget liat Ketua OSIS Cakrawala akhirnya gandeng cewek? Tapi masalahnya yang lo gandeng tuh anak baru. Anak kelas sepuluh. Lo tuh kayak ada di waktu sama tempat yang salah tau nggak? Ini tuh Cakrawala. Hal-hal kayak gitu susah buat didiemin gitu aja."
"Kalian tau apa tentang gue sama Judith?" tanya Rion lirih. Ia memperbaiki duduk setelah sebelumnya mengusap wajah. "Gue capek sama manusia-manusia yang terlalu pengen tau urusan orang lain. Lo sendiripun bahkan nggak tau apa-apa, Ceis."
Ceisar terdiam, merasa bersalah lebih tepatnya. "Judith siapa, Yon?"
"Dia perempuan yang udah gue tinggalin dulu." Rion akhirnya menjawab pertanyaan tersebut, namun tatapannya seolah tengah menerawang ke masa lalu. "Dan yang bikin gue makin bersalah, sikap dia ke gue tuh nggak pernah berubah. Dia lucu pakai cara dia sendiri. Makanya gue pengen bales rasa bersalah gue ke dia. Karna dia berhak buat dapetin itu."
"Yon ... jadi dia alesan kenapa lo selalu nolak perempuan?"
Rion mengedikkan bahu, lagi-lagi sikap dinginnya muncul. Untuk urusan yang satu itu, biarlah hanya Rion yang tahu. "Intinya, kalau nanti anak-anak sempet lepas kendali ke Judith, gue pastiin gue orang pertama yang bakalan hadepin mereka."
Bunyi klackson kendaraan lain sukses menyadarkan Rion dari lamunannya. Lelaki itu mengutuk diri atas ketidak hati-hatiannya di jalan raya. Ayolah, ini hari pertama ujian dan Rion tidak ingin menjadi korban ataupun tersangka. Lelaki itu lebih serius sekarang. Dia harus segera mencapai sekolah bila tidak mau terlambat.
Benar saja, selang lima belas menit kemudian, Mobil Rion sudah berbelok memasuki kawasan Cakrawala. Lelaki itu memperlambat kecepatan mobilnya. Sebab di depannya masih berderet mobil-mobil lain yang hendak masuk.
Diteguknya air mineral untuk menenangkan diri. Ujian bukanlah perkara serius sebenarnya, sebab Rion yakin pada satu hal. Apabila ia sudah belajar maksimal, tentu hasilnya tidak akan mengecewakan. Mungkin itu yang membuat Rion memiliki kepribadian yang sulit diimbangi oleh teman-temannya yang lain.
Ketika menemukan tempat biasa untuk berbelok, Rion buru-buru memutar setir. Dia tidak mungkin mengikuti gerakan mobil lain, sebab mereka akan berhenti tepat di depan gedung sekolah untuk mengantar putra dan putri mereka. Sementara Rion sudah menemukan parkir, lelaki itu pun mematikan mesin mobil.
Dengan rompi hitam yang tampak sama dengan murid-murid lain, Rion berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Ia memasuki gedung dan tanpa pikir panjang segera berjalan menuju kelas. Cukup jauh memang, sehingga di sepanjang jalan Rion harus berbaik hati untuk menganggukan kepala guna menanggapi sapaan teman-temannya.
Dan untuk hari inipun, Rion tidak melihat keberadaan Judith.
• S B C P •
Judith duduk di kursinya, pandangannya menyisir ke sekeliling kelas yang terlihat benar-benar rapi pagi ini. Seluruh murid seperti sudah siap berperang dengan soal-soal yang tidak lama lagi akan diberikan.
"Gue penasaran siapa yang bakal jadi juara kelas selanjutnya," ujar Delvie ketika berbalik melihat Judith.
"Lo dapet peringkat berapa, Delv?" tanya Judith penasaran.
Delvie menggeleng lemah, hingga napas Judith sukses tertahan. Delvie yang termasuk golongan pintar saja tidak mendapatkan peringkat sama sekali.
"Peringkat disini cuma dihitung dari peringkat 1 sampai 3. Nggak ada lagi selain itu."
Judith melotot, dia benar-benar bersaing disini. "Kok gue jadi merinding, sih?!"
Delvie sontak tertawa. "Santai, Dith. Nilai kita tetep bakalan diakui kok kalaupun kita nggak pegang peringkat. Cuma tetep, anak-anak yang megang juara kelas emang dapet bagian istimewa dari sekolah."
Judith menghela napas, anak perempuan itu terlihat takut. Namun apa boleh buat, jika memang peraturannya sudah seperti itu, memang sepatutnya Judith harus tunduk.
Suara bel tanda ujian pertama berbunyi. Judith memegang dadanya sebab terkejut. Seorang guru yang baru saja masuk membuat Judith melotot sempurna. Itu Aqila. Adik dari mamanya yang memang sudah sejak lama mengajar di Cakrawala.
Judith tetap diam, mendengar intruksi dari sang ketua kelas dan tepat setelah itu Aqila bersuara.
"Sudah hapal peraturannya, kan? Jangan sampai saya lihat kelakuan curang kalian sewaktu ujian sedang berlangsung. Jadi silahkan kumpulkan semua jenis barang yang dapat memungkinkan kalian dituduh berbuat curang."
Anak-anak akhirnya maju, termasuk Judith. Kebanyakan dari mereka mengumpulkan ponsel. Setelah yakin bersih, Aqila mulai menyebarkan lembar jawaban beserta lembar soal.
Kegiatan ujian pun resmi berlangsung. Judith di tempatnya lancar mengisi jawaban. Anak perempuan itu merasa beruntung sebab mengikuti peraturan Nadine seminggu terakhir.
• S B C P •
"Lo pulang duluan?" tanya Ceisar ketika mereka sudah keluar kelas dengan menyandang tas masing-masing.
"Rion!"
Panggilan tersebut terdengar, membuat Rion yang baru saja ingin menjawab pertanyaan Ceisar menoleh ke belakang. Dilihatnya Fatisa berlari dengan dua buah buku di pelukan.
"Kenapa?" tanya Rion langsung, dia ingin segera menuju rumah sakit sekarang.
"Kamu pulang? Aku pulang bareng kamu nggak apa-apa, ya?"
Rion sukses mengernyit. Kenapa dia malah merasa bak supir untuk Fatisa? Apabila perempuan itu berpikir Rion akan rela memberi tumpakan untuk kedua kalinya, Fatisa salah besar. Rion tidak bertugas untuk itu. Bahkan lelaki itu tidak berkewajiban untuk itu.
"Aku ada urusan."
"Iya, lo pulang sendirikan bisa." Ceisar menambahkan. Laki-laki itu sekarang tentu sudah tahu siapa yang Rion inginkan, dan waktunya Ceisar membantu temannya itu.
"Nggak apa-apa. Aku bisa kok nemenin kamu dulu."
Rion menggeleng, "Maaf, tapi aku nggak butuh ditemenin."
"Nah, dengerkan?" celetuk Ceisar gemas.
"Aku duluan kalau gitu." Rion kini beralih menatap Ceisar. "Gue duluan, Ceis." Setelah itu Rion berlalu, tidak memikirkan bagaimana perasaan Fatisa yang tengah menanggung kesal.
Setibanya di parkiran, Rion buru-buru membuka pintu mobil. Namun gerakannya seketika terhenti ketika menatap sebuah motor melintas di depannya. Rion tidak mungkin salah lihat, bahwa perempuan yang tengah duduk di jok belakang, adalah Judith. Dan laki-laki yang membawa motor itu, dia Niko.
Rion menghela napas, merasa kasihan pada dirinya sendiri. Niko, teman masa kecilnya yang tidak pernah ingin memberitahukan sedikitpun perihal Judith kepada Rion.
• S B C P •