Judith menuruni anak tangga setelah hampir satu jam berkutat dengan kegiatan bersih-bersih. Anak perempuan itu menangkap kekosongan di seluruh penjuru rumah. Mamanya sepertinya sedang berada di kamar sementara sang papa belum juga pulang dari kantor---kemungkinan akan lembur. Tanpa pikir panjang, Judith langsung saja berjalan menuju kamar kedua orangtuanya.
Saat sampai, Judith langsung membuka pintu kamar dan melihat kamar tersebut kosong. Anak perempuan itu refleks menunjukkan senyum jahil khas miliknya. Judith berjalan menuju walk in closet milik mamanya. Karena tempat favorit Judith sendiri dari rumahnya memanglah keberadaan walk in closet yang berada di setiap kamar. Dulu, ketika Judith masih sekamar bersama Abiana---kakaknya---walk in closet mereka lebih didominasi oleh barang-barang sang kakak. Maka dari itu, ketika sudah memiliki kamar sendiri, Judith patut berbangga diri.
Judith masuk lagi, dan ternyata terlihat sang mama tengah asik memakaikan sesuatu ke kulitnya. Judith mencibir, mamanya memang tidak pernah lupa untuk merawat diri. Tidak seperti Judith, yang kerap kali harus diingatkan untuk urusan semacam itu. Gadis yang duduk di bangku SMA itu terlampau tidak peduli. Bukan, sebenarnya Judith peduli. Hanya saja, ia sering malas mendatangi salon bila seorang diri. Akhirnya, Judith harus menunggu kapan Nadine bisa menemani. Pernah sekali Aldric menawarkan diri, namun berakhir tragis karena pria itu mati kebosanan disana. Kasihan.
"Mam!" panggil Judith dan Nadine seketika menoleh.
"Ya ampun, kamu dari tadi mama panggilin!" Judith meringis. Anak perempuan itu hapal betul apabila Nadine sudah memanggilnya dengan kata sapaan kamu. Mamanya tengah menunjukkan kekesalan. "Niko daritadi nungguin. Karna kamu kelamaan mama minta pulang aja."
"Masa sih, Mam?" Judith meluncurkan aksi dustanya. Wajahnya dibuat seolah-olah tengah panik. "Kok Judith nggak denger Mama panggil Judith kalau Niko di rumah? Judith lagi mandi kali, ya?"
"Makanya kalau Mama suruh mandi, itu mandi. Jangan mama suruhnya sekarang, aksinya baru satu jam kemudian." Judith melipat kedua bibirnya karena malu. Sindiran mamanya memang mengerikan.
Yang kadang Judith bingungkan, mamanya lebih acap kali marah ketika Judith membuat ulah di rumah. Jika sudah seperti itu, mamanya bahkan sanggup memberikan ceramah panjang lebar. Ketika Judith malas mandi, salah satu contoh kecilnya. Ketika kamar Judith berantakan. Mungkin bagi Judith, kamarnya masih akan terlihat biasa. Tapi untuk sang mama, itu sudah seperti melihat kandang hamster Judith yang dulu.
Judith bahkan nyaris hapal bagaimana ucapan mamanya. "Kamu tau nggak kamarnya sekarang bentuknya kayak apa? Kayak kandang hamster kamu yang dulu. Si Hamtaro."
Bahkan mamanya masih ingat nama hamster peliharaan Judith.
"Udah makan?" tanya Nadine berikutnya. Seakan kekesalannya pada si bungsu sudah menguap entah kemana.
"Udah tadi, di sekolah."
"Makan lagi, yuk. Mama masakin." Nadine menawarkan, mengulurkan tangannya pada Judith sehingga gadis remaja itu dapat mencium aroma wangi yang menguar dari tangan mamanya.
Judith hanya mengangguk. Dia ingin sekali makan spaghetti hari ini. "Bikinin spaghetti ya, Mam. Judith udah lama nggak makan itu."
"Semalem bukannya mama masakin juga buat Judith, Amar, sama Cata?"
Judith melotot sebab merasa bodoh. Anak perempuan itu refleks tertawa garing---menertawakan dirinya sendiri. "Mam, Cakrawala ternyata bagus banget." Judith berkata lirih karena rasa takjub. Ia juga sengaja ingin merubah topik sebenarnya.
Nadine menoleh, menatap Judith bingung. "Bagus karna ada Rion, ya?"
"Bukan gitu, Mam!" protes Judith cepat. "Maksudnya tuh, Judith nyesel aja kenapa sok-sokan nolak disuruh sekolah disana. Padahal ternyata sekolahnya emang bagus."
"Jadi?" tanya Nadine. "Naik kelas sebelas nanti mau tetep di Cakrawala?"
Judith mengangguk sembari mengambil tempat di kursi bar, lalu berputar kiri kanan. "Kayaknya Judith bakalan tetep disana deh, Mam. Judith belum cerita sama mama, ya? Judith punya temen perempuan, Mam. Namanya Delvie."
Nadine yang sibuk dengan lemari es mau tidak mau menoleh. "Judith serius?"
Judith mengangguk. "Nanti Judith ajakin main ke rumah deh, Mam."
"Iya ajakin aja," seru Nadine semangat.
Judith berpikir sesaat, kepalanya kembali memikirkan hal penting untuk ia katakan. "Mam, Judith boleh ya gabung ekskul pecinta alam? Kebetulan katanya mereka bakalan pergi ke suatu tempat gitu, Mam."
"Ekskul? Tumben." Nadine tampak berpikir. Bungsunya banyak mengalami perubahan sepertinya. "Pecinta alam pula. Emangnya bakalan kemana, Dek?"
"NTT, Mam," jawab Judith ringan.
"Ha?" Nadine melotot.
"Iya, Mam. Jadi tempatnya itu ada di Manggarai. Desa adat gitu, Mam. Namanya Wae Rebo. Judith udah sempet searching tadi. Tempatnya beneran bagus, Mam."
Nadine mengusap dahi, mengambil tempat di sebelah Judith. "Beneran mau gabung ekskulnya?"
"Ya kenapa enggak, Mam? Judith juga kepengen banget."
"Mama sih boleh-boleh aja. Cuman nggak tau papa bakal kasih izin atau enggak." Judith menghela napas, harusnya dia tahu bahwa papanya akan melarang. "Kalau Judith kepengen juga, ya berarti kemungkinan mama sama papa ikutan."
"Yah kok gitu?" protes Judith. Bagaimana mungkin mama dan papanya tetap mengikutinya seperti itu. Judith menggeleng, merasa ngeri.
"Yaudah nanti mama coba bilang ke papa dulu. Doain aja papa mau kasih izin."
Judith mengangguk sembari berdoa dalam hati. Dia benar-benar ingin pergi.
• s w e e b y •
"JUDITH!"
Lagi-lagi panggilan tersebut membangunkan Judith dari tidur singkatnya selepas melaksanakan ibadah salat magrib. Perempuan itu melirik jam dan terkejut ketika jarum pendek menunjuk ke angka tujuh.
"Dek?" Pintu kamar Judith terbuka dan lagi-lagi Judith tersentak.
"Iya, Mam, iya. Mama di mobil aja ini Judith udah mau turun."
Tanpa peduli dengan kaus oversize warna merah maroon yang ia kenakan, serta celana tidur pendek setengah paha---bernuansa summer di tepi pantai---yang memang Judith kenakan sejak tadi. Anak perempuan itu buru-buru mengambil ransel miliknya dan langsung keluar kamar.
Judith ada jadwal les malam ini. Sejak awal kelas sepuluh, ia berhenti mengikuti les private dan ingin mencoba les seperti teman-temannya yang lain. Namun pada akhirnya, Judith sering kelelahan. Seharusnya ia tidak pernah berpaling dari privatenya. Tetapi mengadu kepada sang mama, Judith takut.
Anak perempuan itu menemukan sepasang sandal jepit dan buru-buru memakainya. Tanpa banyak bicara, setelah menutup dan mengunci pintu, Judith secepat kilat keluar halaman dan mengunci lagi pagar. Kemudian masuk mobil tepat di kursi penumpang bagian belakang.
"Tidur terus kerjaannya, Dek," ejek sang papa ketika mobil sudah berjalan.
"Ketiduran, Pa." Judith menjawab sementara napasnya naik turun.
"Ini minum dulu." Nadine mengulurkan botol minuman yang Judith yakini berisikan s**u. "Makanya, kenapa sih pengen banget les di luar? Padahal di rumah juga bisa. Mama juga bisa ngajarin Judith."
Judith meringis, sepertinya perempuan itu memiliki kesempatan untuk meninggalkan les. Namun Judith hanya menggeleng, merasa tidak enak jika bersikap sesuka hati.
"Udahlah, terserah anaknya aja mau gimana," ujar Aldric tetap tenang. "Kalau Judith nyamannya les di luar ya buat apa dilarang? Kamu tuh kurang-kurangin emosinya."
Judith refleks tertawa setelah selesai meneguk s**u di dalam botol. "Papa ngomong begitu hati-hati kena amuk."
"Dek!" protes Nadine langsung dan uluran tangan Aldric membuat Nadine bungkam. Judith kini mulai mencibir, paham betul pada aksi papanya. Dibiarkannya orang dewasa di depan melakukan hal apa saja, setidaknya emosi sang mama turun.
"Kamu hamil, ya?" Judith terbatuk. Pertanyaan polos Aldric dibuahi pelolotan dari Nadine. "Liat kamu kayak gini ngingetin aku waktu kamu hamil."
"Kamu jangan ngomong yang aneh-aneh bisa? Kasian Judith shocked." Nadine menoleh pada Judith dan tersenyum. "Jangan dengerin papa, papa suka ngeyel."
"Masa jarak Judith sama adeknya jauh banget. Bukan dikira adek malah dikira ponakan nanti sama orang-orang."
Aldric tertawa, "Emangnya Judith nggak mau kalau punya adik lagi?"
Judith mengedikkan bahu, "Kalau nggak dikasih ya maunya tetep jadi bungsulah. Tapi kalau beneran ya mau gimana lagi?"
"Iya, judith tetep bungsunya mama papa. Lagian masa mama hamil lagi." Nadine menenangkan.
"Dulu waktu hamil Judith, susah nggak, Mam?"
Judith penasaran kini, sebab menurutnya, antara ia dan kedua kakaknya memang memiliki perbedaan besar dari segi sifat.
"Waktu hamil Judith ... sama sekali nggak susah. Kayaknya hamil Judith yang kemana-mana mudah. Mama bisa kerjain apa aja lancar, nggak banyak ngidamnya. Oh ini, mama inget waktu itu lagi kepengen banget peluk papa. Karna waktu itu kan papa ada kerjaan di Singapore tiga bulan nggak balik-balik. Mama nggak bisa gangguin papa kamu, tapi kalau nggak peluk mama takut dong Judith ileran. Akhirnya udah deh, Mama nggak pernah pakai baju-baju mama. Selalu pakai baju punya papa."
Judith terperangah. Ini kali pertama Judith mendengar cerita tentang dirinya. Dan Judith takjub pada dirinya sendiri. Bahkan sejak kecil, kepintaran Judith sudah terlihat. Perempuan itu refleks tertawa akan pikiran konyolnya.
"Judith beneran mau ikutan ekskul pecinta alam?" Judith duduk tegap, jantungnya berdegub tidak beraturan.
"Iya, Pa." Judith menjawab dengan wajah memohon. "Kapan lagi Judith ikut ginian. Waktu SMP kan Judith juga nggak dibolehin ikutan jalan-jalan ke Surabaya."
"Tapikan gantinya papa ajakin ke Bali."
Judith nyengir kuda, benar saja. "Terus gimana nih, Pa? Boleh, ya? Kapan lagi Judith mainnya ke NTT. Pasti seru parah disana."
"Yaudah, papa kasih izin. Tapi inget Judith jangan rewel disana."
"Pasti, Ayahanda!" jawab Judith semangat lalu mengecup cepat pipi Aldric dan berganti kepada Nadine. "Makasih ya, Mam!"
• s w e e b y •
"Kok tumben bokap lo ngasih pergi? Nusa Tenggara, parah nggak tuh?" Judith tertawa atas ucapan Amar. Ketiga manusia tersebut baru saja keluar dari kelas.
"Ikutan yuk, Mar?" Cata berpendapat. "Kapan lagi kita pergi ginian bareng nih manusia satu." Cata menunjuk Judith.
"Boleh, tuh!" ucap Judith setuju. "Mending ngikut aja."
"Seriusan nih?" Amar bertanya tidak yakin.
"Ya kenapa enggak? Lo mau sampai kapan liburannya keliling Jakarta mulu? Coba-cobain yang jauh jugalah." Cata menegaskan.
"Berarti kita libur sekolah?"
"Gue sih nggak masalah. Ayok-ayok aja."
Amar tampak mengangguk. "Yaudah, ayok!"
Judith berteriak girang sebab terlampau senang. Langsung saja dirangkulnya kedua temannya tersebut. Ah, Judith memang cocok disebut adik dari Cata dan Amar.
"Tuh bokap lo jemput," tunjuk Cata ke arah mobil berwarna putih.
"Oh iya bener. Gue pulang dulu kalau gitu. Dah, sayangku!" Amar dan Cata balas melambaikan tangan, menatap Judith yang berjalan kian jauh.
Sementara Judith yang sudah duduk di bangku samping kemudi merasa bahwa ponselnya bergetar. Dilihatnya chat yang baru saja masuk.
Rion Arjuna: Lun.
Judith menahan senyum, bisa bahaya jika sang papa tahu.
Judith Aluna: Kenapa, Yon?
Rion Arjuna: Maaf besok aku nggak bisa anterin kamu pulang. Ada urusan mendadak soalnya.
Judith Aluna: Nggak apa-apa. Lagian aku bisa pulang bareng temenku.
Judith menghela napas panjang. Padahal baru tadi ia bahagia atas ajakan Rion.
Rion Arjuna: Maaf.
Judith Aluna: Apaansih kok gitu. Nggak apa-apa kok beneran deh.
Rion Arjuna: Yaudah kalau gitu.
Rion Arjuna: Goodnight, Lun.
Judith refleks tersenyum. Walaupun Rion membuatnya kecewa, namun lelaki itu sepertinya tahu bagaimana caranya membuat Judith bersemu lagi.
"Kenapa kok senyum-senyum, Dek?" Pertanyaan Aldric hampir saja membuat ponsel Judith terlepas. Anak perempuan itu memang mudah kaget.
"Eh, enggak, Pa. Ini lagi liat-liat gimana Wae Rebo. Cantik banget nggak bohong."
Judith menoleh ke arah jendela. Sementara tangannya masih mengusap d**a. Ya Tuhan, nyaris saja Judith ketahuan.
• s w e e b y •