"Sarah!"
Rafael setengah berteriak dengan suara menahan sakit.
"I-iya, Pak!" sahut Sarah seraya berlari, hingga suara hak tingginya mengetuk-ngetuk lantai granit dibawahnya dengan suara nyaring.
"Tunda meetingnya 15 menit!" perintah Rafael sambil meringis dan memegangi perutnya.
"P-pak Rafa kenapa?" kepo Sarah yang melihat bosnya meringis sambil memegang perut.
"Sudah-sudah kamu cepetan keluar! Saya mau ke toilet dulu," ujar Rafael sembari berlari ke arah toilet yang terletak tak jauh dari ruangannya.
Bruuuttt .... broot ... brut ....
"Aduh pasti ini gara-gara makan sambel tadi pagi," gumam Rafael meringis. Selesai menuntaskan hajat di toilet Rafael segera berlari ke ruangan meeting dengan tergesa-gesa. Tak lupa ia menata rambutnya yang sempat ia acak-acak saat sedang menahan mulas.
"Maafkan saya, telah membuat anda semua menunggu," ujar Rafael kepada rekan bisnisnya yang sudah siap di ruang rapat. Dengan sigap tangannya membuka laptop yang sudah Sarah siapkan di meja panjang itu.
"Baiklah kita mulai rapatnya sekarang," ucap Rafael membuka pertemuannya dengan para rekan bisnisnya untuk membicarakan tentang peluncuran produk baru.
Krukkkk ... Brut!
Suara perut Rafael terdengar jelas hingga membuat beberapa orang yang hadir di ruangan saling melempar pandang.
"Sial! kenapa lagi perutku," gumam Rafael dalam hati, ia merasa malu setengah mati. Meski tak ada satupun yang berani menatap dirinya secara langsung.
"Ma-maaf semuanya, saya ijin keluar sebentar!" seru Rafael dan beringsut pergi dari ruangan meeting tersebut dengan setengah berlari. Ia kembali ke toilet dan menuntaskan hajat yang terus menerus datang tanpa henti.
Siang itu Rafael benar-benar tersiksa. Rapat dan pertemuan yang ia hadiri tak berjalan mulus karena perutnya terus merasakan mulas dan diare.
***
"Sarah!" pekik Rafael memanggil sekretarisnya itu, seketika Sarah yang sedang memulas lipstick untuk kesekian kali terperanjat, dan hampir-hampir membuat Sarah memulaskan lipstick hingga ke pipinya.
"I-iya Pak," sahutnya terbata, dalam hati ia meracau kesal pada sikap si bos yang menyebalkan itu.
"Apa kamu sudah lupa tugas yang saya berikan pada kamu tadi pagi?" bentaknya yang sontak membuat Sarah meringis menahan sakit pada gendang telinganya.
"Kan, kan tadi Pak Rafa s-sakit perut. Akhirnya saya tidak jadi menjalankan tugas, karena harus mengatur ulang dan membereskan pekerjaan Pak Rafa," kilah Sarah gemetar berharap si bos mengerti alasan masuk akalnya tersebut. Rafael mengacau rambutnya frustasi, matanya menatap Sarah dengan kesal. Tapi, kali ini memang kesalahannya. Jadi ia mengurungkan niat untuk memarahi sekretaris seksinya itu.
"Oke, fine. Kalau begitu kamu harus membawa perempuan itu kesini besok pagi! Saya tidak mau tahu caranya, yang penting besok pagi, dia harus sudah disini. Paham?"
"Paham, Pak. S—siap!" kata Sarah sambil mengangkat satu tangannya hormat.
***
Pagi yang sibuk, Alana harus menyiapkan 25 kotak nasi kuning pesanan dari seorang pelanggan. Cukup aneh, karena baru kali ini pelanggan yang bahkan tak pernah makan di kedai tiba-tiba memesan nasi kotak di sana. Anehnya lagi, kenapa harus Alana sendiri yang mengantar pesanan itu ke kantor yang letaknya lumayan jauh dari kedainya. Biasanya, Bu Surti akan meminta bantuan Onang—keponakannya untuk mengantar pesanan nasi kotak.
Selesai mempersiapkan semua pesanan, Alana bergegas mengantarnya. Alana terpaksa menggunakan sepeda untuk menuju ke sana. Bu Surti yang pelit tak mengijinkan dirinya menggunakan jasa ojek online. Untung saja cuaca pagi bersahabat, sehingga Alana tak terlalu kepanasan, karena cuaca sedikit mendung.
Alana berhenti tepat di depan gedung tinggi menantang tersebut. Bangunan besar yang terbuat dari kaca, di tengah bangunan ada air mancur buatan yang sangat indah. Air meluncur pelan dari langit-langit, di bawahnya ditanami berbagai macam bunga. Ia mematung di depan air mancur tersebut, sehingga hampir lupa tujuan utamanya datang ke tempat ini.
Hingga seorang satpam menghampirinya.
"Selamat pagi, Mbak, ada yang bisa saya bantu? Mbaknya bawa makanan sebanyak ini untuk siapa ya?" tanyanya. Alana menoleh, dan kembali tersadar, ia mengerjap beberapa kali. Kemudian tersenyum dan menjelaskan kepada satpam tersebut bahwa ia sedang mengirim pesanan nasi kotak untuk salah satu karyawan di gedung ini. Bapak tersebut itupun mengantarkan Alana ke meja resepsionis.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" recepsionis yang berada di lantai dasar menyapanya.
"Maaf mbak, saya kesini mau mengantar pesanan untuk Bu Sarah Vebianca. "
Dua perempuan di balik meja resepsionis saling melempar pandang.
"Sebentar ya mbak, saya hubungi Bu Sarah-nya." jawab salah satu dari mereka.
"Silakan ke lantai 42, Bu Sarah sudah menunggu anda," katanya sambil menunjuk ke arah lift.
"Em—empat dua?" Alana melongo.
"Iya, silakan. Mbak tahu kan caranya naik lift?" tanya resepsionis dengan nada mengejek. Alana tak mau ambil pusing, ia hanya mengangguk dan tersenyum.
***
Lift berhenti di angka 42.
Ting!
Pintu lift pun perlahan terbuka. Alana yang belum pernah memasuki dunia kerja kantoran cukup takjub melihat kesibukan yang terjadi di balik lift lantai 42.
Para pegawai pria memakai kemeja lengkap dengan dasi dan sepatu mengilat. Kemudian para wanita memakai blouse dan blazer lengkap dengan sepatu hak tinggi yang mengetuk-ngetuk anggun.
"Nyari siapa ya mbak?" salah seorang dari pegawai pria membuyarkan lamunannya.
"Anu ... hmmm ... Bu Sarah Vebianca!" jawab Alana sedikit berteriak karena gugup.
"Ohh bentar ya," ujar pria itu kemudian pergi meninggalkan Alana di depan pintu kaca yang menghubungkan sebuah lorong dan ruangan di sisi lain.
Tak berapa lama seorang perempuan dengan dandanan menor datang.
"Masuk!" ajaknya tanpa bertanya hal lain pada Alana.
Tanpa keraguan Alana mengekor langkah perempuan itu. Ia mencuri-curi pandang kepada kubikel-kubikel yang berjejer di sisi kiri ruangan.
"Makanannya taruh situ aja!" suruh Sarah ketus sembari menunjuk ke arah meja kosong di sebelah dispenser air mineral.
"S-sudah kan, mbak?" tanya Alana memastikan.
"Belum lah! Kamu ikut saya dulu," perintah Sarah seraya berkacak pinggang. Perempuan itu melihat Alana dari atas ke bawah beberapa kali, ia sedang berpikir keras karena penasaran, kira-kira apa yang akan dilakukan bosnya itu dengan perempuan seperti Alana. Ia tahu betul selera Rafael, karena ia sudah bekerja cukup lama dengannya. Dan seorang Alana lebih cocok menjadi pembantu dibandingkan pasangan.
Sarah membawa Alana ke sebuah ruangan besar yang terpisah dengan ruangan pertama yang dipenuhi kubikel tadi. Lorong panjang dengan lukisan klasik di kanan kiri memberi kesan mewah dan berkelas. Mata Alana sudah bisa menangkap ruangan besar dengan pintu kokoh di depannya. Ruangan yang terlihat istimewa.
Sarah berhenti di depan pintunya.
Tok ... tok ... tok ...
"Pak, dia sudah disini," kata Sarah berbisik.
"Suruh dia masuk!" teriak suara seorang pria dari dalam ruangan tersebut.
"Masuk sono!" ujar Sarah dengan angkuh.
Ragu-ragu Alana mengikuti perintah Sarah yang terlihat galak. Ia takut dan bingung kenapa ia harus masuk ke ruangan itu, yang ia tak tahu apa dan siapa yang berada di baliknya.
Dia memutar kenop pintu itu perlahan, seiring dengan detak jantungnya yang semakin berpacu cepat. Pintu pun perlahan terbuka, hingga ia bisa melihat seseorang yang duduk belakang meja besar di tengah ruangan besar nan mewah tersebut.
Di belakang sang pria, tampak jendela bening raksasa yang perlihatkan pemandangan kota dari sudut pandang gedung lantai teratas gedung ini.
"K-kamu!" Alana terbelalak melihat seorang pria yang beberapa hari mengganggu ketenangannya, sedang duduk disana. Pria itu memandanginya dan tersenyum puas.
"Selamat datang Alana," sambut sang pria sembari berdiri.
Ia kemudian berjalan menuju tempat Alana berdiri membeku tak bergerak sedikitpun. Alana tak tahu harus berbuat apa, tapi melihat sorot tajam lelaki itu membuat ia takut.
"Silakan duduk Alana," Rafael tampak santai mempersilakan Alana duduk di sebuah sofa pojok yang berada di ruangan itu.
"Kamu mau apa dari aku?" teriak Alana kesal, ia berbalik dan berniat meninggalkan ruangan itu namun sang pria mencekal tangannya.
"Ssshhh ... " bisik Rafael menyeringai.
"Lepasin!" Alana berusaha melepas tangan Rafael yang sudah memegang erat lengannya.
"Lep-"
Cup
Rafael mengunci bibir Alana dengan bibirnya, dan memepet tubuh Alana hingga membentur dinding.
Kegilaan apa yang telah merasuki Alana, hingga ia menikmati setiap kecupan itu. Ia bahkan berhenti melawan ketika bibir dingin pria itu menyentuh bibirnya.
Rafael hentikan serangannya. Kedua matanya yang setajam elang menelisik setiap senti wajah Alana. Yang seketika membuat jantung Alana seakan melompat keluar.
Ia memejamkan mata ketika Rafael mulai mendekatkan wajahnya padanya. Ia seakan berharap Rafael akan mengulanginya lagi, dan lagi.
"Aduh!" Alana menjerit kesakitan.
"Jangan nyentuh itu!" imbuh Alana sambil mendorong tubuh Rafael menjauh.
"Besar sekali, menggemaskan," jawab Rafael kemudian mengambil tisu di atas meja.
"Jerawat sampe besar gitu, kamu gak pernah merawat kulit ya?" ejek Rafael yang kontan membuat Alana mendengus kesal.
"Bukan urusan kamu!" sembur Alana dengan nada tinggi.
"Sekarang katakan, apa maksud kamu menyuruh aku datang kesini?" tanya Alana dengan nada memaksa.
Rafael terlihat tak terpengaruh dengan sikap ketus, yang ditunjukkan Alana. Ia kemudian berjalan kembali ke mejanya, menarik salah satu laci di meja itu. Tangannya menyeluk ke dalam laci seperti mencari sesuatu.
Setelahnya ia berjalan ke arah Alana sambil membawa sebuah kotak beludru berwarna maroon .....