Rafael mengangkat kotak beludru berwarna marun ke depan muka Alana. Pria tampan itu tersenyum misterius, ia lalu bertanya.
"Kamu bisa nebak gak kotak ini isinya apa?"
Alana menggelengkan kepalanya pelan, dalam hati ia berkata, "ini cowok waras gak sih? Kasian banget ganteng-ganteng gila ...." seraya menatap tajam pria di depannya.
"Ini isinya cincin berlian yang sudah aku pesan khusus untuk calon istriku."
"Oh," tanggap Alana dengan malas.
"Menikahlah denganku!" ujar Rafael, yang kemudian menyambar tangan Alana dengan kasar, menggamit tangan gadis itu di bawah ketiaknya, selagi tangan kirinya membuka kotak beludru tersebut. Perempuan itu mencoba berontak tapi tentu saja ia kalah kuat dibandingkan lelaki bertubuh tinggi tegap tersebut. Rafael lalu memasukkan sebuah cincin secara paksa ke jari manis Alana.
"Apaan sih? Lepas!"
"Bentar." Rafael kekeuh tak mau lepaskan tangannya.
"Done!" pekiknya setelah berhasil memasukkan cincin bertahta berlian itu.
"Kamu harus nikah sama aku," kata Rafael santai, tanpa beban sedikit pun.
"Dasar gila! Kamu ini sakit ya! Kita bahkan gak saling kenal, bisa-bisanya kamu mengajak aku menikah!" sungut Alana sembari menarik tangannya yang kini dipegang erat Rafael.
"Lepaskan!" Alana berusaha mengibas dan mendorong Rafael namun gagal.
"Tidak sakit kan? Meskipun cincin ini masuk dengan paksa? Percayalah sama aku pernikahan ini tidak akan menyakiti kamu," bisik Rafael lirih di telinga Alana.
"Kamu ini sudah gak waras ya?!" teriak Alana sembari berusaha melepaskan cincin itu dari jemarinya.
"Kamu pikir aku ini bahan lelucon?" Alana sangat tersinggung dengan perlakuan Rafael, sebelum perempuan itu berhasil melepaskannya, Rafael menarik tangan Alana dengan sigap.
"Aku tidak sedang membuat lelucon, aku serius. Kamu harus nikah sama aku."
"Kita sama-sama disakiti oleh seseorang yang kita cintai, kenapa tidak kita coba untuk saling mengobati?" imbuhnya, kali ini nadanya pelan dan lembut.
Alana yang berontak seketika melunak, gadis itu merasakan darah yang berdesir serta perasaan penuh yang tetiba melesak menembus dadanya. Mata bulat Alana membelalak lebar.
"K—kamu melamar aku?" tanyanya dengan nada bingung.
"Aku berjanji tidak akan menyentuh tubuh kamu hingga kamu benar-benar siap dan mengijinkan aku untuk melakukannya," tawar Rafael.
"Kamu pikir aku perempuan murahan?! Kenapa kamu bermain-main denganku seperti ini!" sembur Alana sambil terus berusaha mendorong tubuh Rafael menjauh. Namun bukannya mundur, justru Rafael semakin mendekat hingga kepala Alana menempel di d**a bidangnya.
"Aku tidak gila Alana, aku realistis. Yang perlu kamu tahu, aku tidak sedang melamar kamu. Kata-kataku tadi adalah sebuah perintah absolut. Aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun— " Belum sempat Rafael teruskan ucapannya, gadis itu menyela.
"Ini!"
Alana meraih tangan Rafael dan menaruh cincin itu ke telapak tangan sang pria.
"Silakan cari perempuan lain buat kamu jadiin lelucon. Kamu kira aku mau nikah sama pria seperti kamu? Kamu kira kamu bisa mendapatkan apapun dengan mengandalkan harta dan kedudukan yang kamu miliki?" Alana naik pitam, ia tak dapat menahan rasa terhina dengan perlakuan Rafael yang memuakkan.
"Permisi!" katanya seraya berbalik hendak tinggalkan ruangan tersebut. Namun, dengan cepat Rafael mencegah perempuan di depannya pergi.
"Kalau kamu menolak tawaran dari aku, maka jangan salahkan aku kalau rumah dan tanah milik nenek kamu bakal jatuh ke tangan orang lain." Rafael mengatakan dengan nada mengancam.
Langkah Alana pun terhenti, perempuan itu membalikkan badan dan menatap pria itu penuh tanya.
"Apa maksud kamu?" Meski ada perasaan takut dan was-was, Alana tak mau menunjukkannya. Ia tak mau terlihat lemah di depan pria arogan dan berkuasa tersebut.
"Nih, kamu baca sendiri!" Rafael menyerahkan sebuah dokumen yang ia peroleh dari salah satu petinggi Bank, berisi catatan perjanjian utang piutang yang dilakukan mama Alana, dengan menggunakan sertifikat rumah milik neneknya sebagai jaminan.
"Ini pasti palsu, kamu bohong kan?" Alana masih berusaha tak mau mempercayai lelaki di hadapannya dengan semata-mata.
"Kalau gitu gimana kalau kita pergi ke bank itu sekarang? Lalu kamu bisa tanya langsung sama mereka." Rafael memungut jas dan ponselnya, seolah bersiap untuk pergi dengan Alana.
"Mama, gak mungkin melakukan ini," bisiknya masih dengan raut wajah yang tertekan.
"Mama kamu punya banyak hutang, Alana." Imbuh Rafael.
"Bagaimana bisa kamu dapat semua informasi ini?" Alana mundur beberapa langkah, entah mengapa seketika ia merasa takut dengan Rafael. Ia merasa Rafael adalah sosok berbahaya yang patut diwaspadai.
"Kalau kamu gak mau kehilangan rumah peninggalan nenekmu, aku ada penawaran bagus buat kamu. Penawaran yang menguntungkan buat kita berdua, simbiosis mutualisme!" bisik pria itu dengan senyum seringai yang mengerikan.
Alana yang sedari tadi tertunduk, kontan hunuskan pandangan matanya ke arah Rafael. "Maaf, aku tidak tertarik dengan penawaran kamu!" Alana mengembalikan dokumen tersebut lalu gegas pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kamu tidak akan bisa menolak tawaran ku, Alana. Ingat itu!"
Hiraukan teriakan pria menyebalkan di belakangnya, ia terus berjalan cepat meninggalkan gedung tinggi itu.
Dalam perjalanan pulang menuju warteg Bu Surti, Alana masih tak habis pikir dengan tingkah gila yang ditunjukkan pria tampan tadi. Di sisi lain ia penasaran apakah benar yang dikatakan oleh Rafael, bahwa mamanya sudah menggadaikan sertifikat rumah sang nenek kepada bank. Kalau benar hal itu terjadi, kenapa Alana sama sekali tidak tahu kapan proses gadai itu dilakukan.
Pikiran perempuan itu masih melayang kesana kemari, memikirkan segala kemungkinan. Bahkan kemungkinan terburuk jika benar rumah yang ditinggalinya akan disita pihak bank sebentar lagi. Mau tinggal dimana dia? Sedangkan jelas-jelas gajinya dari warteg dan bakery Tante Santi tidak cukup untuk membayar kos atau kontrakan.
Sesaat kemudian ia sampai di depan warteg, tapi aneh, jam masih menunjukkan pukul sepuluh kurang tapi kenapa tiba-tiba saja wartegnya tutup?
Alana tidak menemukan keberadaan Bu Surti ataupun Onang. Gadis itu mendekatkan wajahnya ke jendela kaca warteg, mencoba melongok ke dalam, barangkali Bu Surti meninggalkan warung dengan tergesa karena ada sesuatu yang urgent.
Begitu melihat ke dalam dan temukan kalau etalase sudah kosong tanpa ada makanan atau sisa lauk, Alana kembali mengernyitkan dahi.
"Kemana sih Bu Surti?" Alana mengambil ponsel yang ia taruh di dalam tas, hendak menghubungi bos warteg galaknya.
"Neng Lana!" Panggil Pak Yana, tukang ojek yang biasa mangkal di depan warteg.
"Pak, kok udah tutup ya warungnya. Bapak tahu gak Bu Surti kemana?"
"Kan dagangannya udah habis, neng. Ya tutup lah," jelas lelaki berambut ubanan yang kulitnya legam karena terbakar matahari.
"Hah? Habis? Ini kan baru jam sepuluhan, Pak," tanggapnya.
"Iya sih, setahu bapak, tadi tuh ada yang borong Neng. Semua-mua lauk dan sisa nasi yang ada dibeli semua sama dia, terus dibagi-bagiin sama tukang ojek dan orang yang lewat sini."
Alana manggut-manggut saja, meski merasa aneh. Karena kejadian ini baru pertama kalinya, sepanjang ia bekerja di warteg.
"Aneh, ya? Tapi kenapa wartegnya ditutup, gak nungguin saya balik dulu. Kan saya baru pulang dari ngantar pesenan," keluhnya.
"Emang aneh, Neng. Orang-orang yang borong tadi tuh penampilannya mirip mafia, kayak anggota geng di film-film gitu," celetuk pak Yana.
"Mafia?" Alana semakin tidak mengerti dengan penjelasan pria itu.
"Iya, tadi yang ngeborong tuh pada pakai baju item-item, pakai kacamata gitu. Terus mobilnya pada bagus-bagus."
"Ya sudah kalau begitu, Pak. Saya mau pulang saja kalau gitu," pamit Alana.
"Sebentar Neng, tadi bapak dititipin ini sama Bu Surti." Pak Yana mengeluarkan sebuah amplop putih lusuh dari dalam kantong jaketnya.
"Surat?"
Alana dengan tidak sabar segera membuka amplop putih itu. Di dalamnya ada tulisan tangan macam ceker ayam milik Bu Surti.
"Mulai besok elu kagak usah datang lagi ke warteg. Elu udah gue pecat dengan hormat. Gaji elu sebulan udah gue kirim lewat Onang, dia taruh di bawah keset rumah lu. Okey Lana? Bye bye! Salam hangat penuh cinta dari Surtiani Van Persie!"
Alana bingung dengan isi surat PHK yang ia terima secara tiba-tiba dan tak masuk akal itu.
"Apa isinya, Neng?" Pak Yana ternyata penasaran juga.
"Saya dipecat, Pak."
Alana terlihat gontai, dengan lemas dia mengayuh sepedanya dan pergi meninggalkan warteg milik Bu Surti.
Tiba-tiba saja ....
Bruagh!!
Alana jatuh di tengah jalan, tiba-tiba saja ia pingsan. Dari pagi ia memang belum memakan apapun karena Bu Surti terus menerus mengomel dan memintanya untuk segera mengantar pesanan tadi.
***
"Huh merepotkan saja!" oceh Rafael. Samar-samar suara bariton itu terdengar di telinga Alana yang baru saja siuman.
"Jadi, kamu tadi menggendong dan mengangkat perempuan itu ke dalam mobil dan membawanya kesini?" tanggap sebuah suara yang terdengar lembut, sangat kontras dengan suara milik Rafael.
"Ya mau gimana lagi, Nath? Aku gak punya pilihan, tidak mungkin juga kan, aku menyeret tubuh dia kesini."
"Kan ada para sopir kamu, ada bodyguard kamu. Jangan bilang kamu gak bisa meminta tolong mereka. Atau jangan-jangan, kamu yang gak rela kalau ada yang menyentuh kulit perempuan itu selain kamu?" goda Nathaniel Paradipta, sahabat kecil Rafael yang kini berprofesi sebagai dokter di sebuah klinik yang tak jauh dari Kantornya.
"Jangan mulai, Nath! Emangnya mungkin ya bagi seorang Rafael punya perasaan seperti itu sama gadis yang tidak seksi?" balas Rafael kemudian keduanya tergelak.
"Kamu ya, gak pernah berubah. Aku kira setelah tunangan kamu bakal berubah," celetuk Nathan yang kontan membuat mimik wajah Rafael berubah gelap.
"Pertunangannya batal," sahutnya dengan tatapan nanar. Nathan yang sedang sibuk merapikan barang-barang di atas meja kerjanya pun hentikan gerakan, lalu melihat ke arah Rafael. Meminta konfirmasi bahwa yang ia dengar baru saja tidak salah.
"Don't ask me why, ceritanya panjang. Nanti aku bakal ceritain kalau kita udah ngumpul," kata Rafael.
Alana sebenarnya bisa mendengar dengan jelas percakapan dua orang itu, namun kepalanya masih terlalu berat untuk bangun. Dunianya sedari tadi serasa berputar-putar cepat hingga menyebabkan ia merasa sangat mual sekarang.
"Rafa, aku mau keluar sebentar. Temanilah kekasihmu disini, kasian dia, " ujar Nathan sembari mengerlingkan mata pada Rafael yang terlihat kesal.
"Pergilah dokter tampan! Aku juga sudah tidak memerlukan mu lagi!" balas Rafael sambil mengacungkan tangannya ke arah pintu keluar.
Sepeninggal Nathan ia kemudian berjalan pelan ke tempat dimana Alana tergeletak lemah. Wajah Alana pucat pasi, yang Nathan katakan Alana sepertinya mengalami vertigo berat ketika ia mendapat tekanan dan stress. Karena itulah Rafael merasa bersalah. Pasti karena ia mengatakan soal penyitaan rumah neneknya.
Ia memandangi Alana dari atas hingga bawah. Pandangan matanya berhenti di kaki gadis itu yang tampak aneh. Ya kaki sebelah kirinya, hari ini Rafael mendapati kenyataan baru bahwa salah satu kaki Alana diamputasi hingga lutut. Ia sama sekali tak tahu informasi soal ini.
Rafael mengambil kursi pendek di dekat ranjang. Duduk memaku dan membelai rambut Alana lembut. Alana tahu, ia bisa merasakan gerakan tangan lelaki itu di kepalanya. Bahkan dengan mata terpejam ia bisa merasakan kehangatan itu, ternyata Rafael tak segila yang ia kira.
"Maafkan kelakuanku tadi," gumam Rafael lirih. Tangannya beralih ke tangan Alana dan menggenggamnya erat.
"Aku hanya sedang putus asa, hingga aku melihatmu dan bertemu dengan kamu di pantai sore itu," lirih Rafael lagi.
Perlahan Alana membuka matanya, tapi ia berpura-pura baru saja siuman.
"Dimana ini? " tanyanya lemah.
"Klinik milik temanku, supirku menemukan kamu pingsan di jalanan. Jadi dia membawa kamu kesini, jadi .... " Rafael menghela nafas, lalu berdiri dari duduknya.
"Jangan lupa berterima kasih, kalau bukan karena aku, mungkin kamu bisa saja terluka parah karena pingsan di tengah jalanan ramai."
"Oh ya, aku juga sudah membayar semuanya, obatnya juga sudah ku tebus. Aku akan meminta supirku untuk mengantarmu pulang!"
"Dan satu lagi kamu gak perlu bekerja lagi di warung itu, aku yang akan menanggung biaya hidupmu." urai Rafael dingin, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan caranya bicara saat Alana masih pura-pura tertidur tadi.
"Tolong jangan seenak kamu, aku bukan b***k yang berada di bawah kendali kamu! Terima kasih karena sudah menolongku, kamu gak usah khawatir, aku akan mengembalikan semua biaya yang sudah kamu keluarkan!" ketus Alana meskipun dengan suara lirih, karena ia merasa masih lemah. Ternyata efek tidak sarapan benar-benar dahsyat, hingga membuat ia pingsan dengan cara yang memalukan. Masih untung dia tidak tertabrak kendaraan besar. Kalau tidak, mungkin tubuhnya berakhir di meja otopsi sekarang.
"Apalagi ini? Seenakku? Tidakkah kamu ingin tahu kenapa aku tak mengijinkan kamu bekerja pada wanita yang alis matanya seperti pendekar kungfu itu?!"
Alana tergelak mendengar kata-kata Rafael yang menyamakan alis Bu Surti dengan pendekar kungfu.
"Namanya Bu Surti, bukan pendekar Kungfu ataupun Ju Jitsu!" seru Alana sembari menahan tawa, keadaan yang tadinya memanas tiba-tiba menghangat.
"Aku gak peduli siapa namanya, yang jelas dia bukan orang yang baik. Aku melihatnya sendiri bagaimana dia memperlakukan kamu, orang-orang jahat seperti itu gak pantas untuk kamu, termasuk pria b******k yang kau temui di kafeku beberapa hari lalu." ucap Rafael panjang lebar tanpa titik koma, yang entah mengapa membuat Alana nyaman.
"Kenapa kau tadi melakukan hal itu?" tanya Alana.
"Hal itu?" balik Rafael.
"Melamarku?"
"Hei hei .... kau jangan salah paham, aku tidak pernah melamarmu. Apa yang kulakukan tadi adalah perintah absolut," jelas Rafael serius.
Tok ... tok ... tok ...
"Masuklah!" jawab Rafael keras-keras.
"Itu Nabila?!" tanya Alana memastikan.
"Ya, aku yang tadi menelepon dia. Aku gak mau membiarkan kamu sendirian disini. Karena sekarang aku harus segera kembali ke kantor. " jelas Rafael sembari memakai kembali jasnya.
"Thanks Nabilla," sambutnya pada Nabila yang baru saja masuk.
"Tolong jaga Alana baik-baik, aku pergi dulu!" pamitnya kemudian beringsut meninggalkan ruangan dokter Nathaniel.
"K-kamu mau kemana Rafael?" teriakan Nabila tak pria itu dengar lagi. Rafael terburu-buru, karena memang sedang ditunggu oleh beberapa klien penting di Kantor.
"Lana ... Untung kamu gak apa-apa, aku tadi khawatir banget saat dia telepon dan bilang kalau kamu kecelakaan, " Nabila langsung memeluk erat tubuh sahabatnya penuh rasa khawatir.
"Gimana sih kok tiba-tiba kamu bisa sama Rafael?" tanya Nabila dengan dahi berkerut.
"Ceritanya panjang, yang paling penting sekarang adalah bawa aku pulang naik angkot. Aku gak mau diantar sama sopir orang kaya tadi," bisik Alana dan tergopoh-gopoh bangkit dari ranjangnya.