Satu Setengah Miliar

1184 Words
Rafael baru saja sampai di depan ruangan kantor. saat Sarah—sang sekretaris tiba-tiba saja memintanya berhenti. "P—pak Rafa, jangan masuk dulu," bisiknya dengan suara amat pelan. Lelaki itupun hentikan gerakannya, lalu memutar tubuhnya dan melihat Sarah dengan tatapan penuh tanya sekaligus penasaran. "Ada apa memangnya?" balas Rafael dengan suara berbisik juga. "D—di dalam ada Bu Cassandra," kata Sarah, yang kontan membuat Rafael menelan ludah. "Waduh, gawat nih!" batinnya, Rafael segera memutar otak. Ia harus mencari alasan logis untuk kepergiannya di tengah jam kantor seperti ini. "Kamu bilang apa sama Bu Cassandra?" tanyanya. "Saya cuma bilang kalau Pak Rafa pergi sebentar buat ketemu teman," jelasnya. "Good job, nanti kamu saya kasih bonus makan gratis di resto kesukaan kamu." Sarah hanya senyam-senyum saat mendapat janji manis dari bos tampannya, meskipun menyebalkan, akan tetapi Rafael dikenal sebagai bos yang royal kepada para karyawannya. Rafael membenarkan letak dasinya sebelum masuk ke dalam ruangan kantornya. Dalam waktu bersamaan, dia juga sedang berpikir keras menyusun alasan agar sang mama tidak curiga. Belum sempat kaki kanannya melangkah ke dalam ruangan kerja miliknya, Cassandra sudah hunuskan pandangan tajam seraya berkata, "darimana saja kamu, Rafa?" Nada bicara Cassandra jelas-jelas tidak menunjukkan rasa senang. Ada kemarahan terselip di antara kata yang terlontar dari bibirnya. "Mama .... " Rafael ingin mengungkapkan sesuatu, namun, dengan cepat mamanya menyela. "Apa yang sudah kamu lakukan Rafa?! Arnetta sudah mengatakan semuanya kepada mama. Kamu ini keterlaluan, apa kamu tidak pernah berpikir sedikit pun tentang harkat dan martabat keluarga Dimitri yang harus dijaga?" Benar, dan tepat sekali dugaan Rafael, sang mama tidak akan tinggal diam dengan tindakannya yang membatalkan pernikahan secara sepihak. "Mama sudah ketemu perempuan jalang itu?" Rafael tak dapat menutupi rasa marahnya yang membeludak, memenuhi hingga membuat dadanya sesak. "Rafa! Jaga bicara kamu! Bagaimana pun dia adalah calon istri kamu, dia adalah calon menantu di keluarga Dimitri!" "Hubungan Rafa dan Arnetta sudah berakhir, Ma!" "Mama tidak peduli!" Cassandra menyela ucapan putranya. Hubungan ibu dan anak itu selalu dihiasi pertengkaran dan perdebatan, keduanya sangat jarang akur. Akan tetapi demi citra keluarga, Rafael dan Cassandra berpura-pura harmonis. "Kamu harus meminta maaf kepada Arnetta dan keluarganya. Asal kamu tahu Rafa, pernikahan kamu bukan hanya sekedar tentang cinta dan rasa cemburu kamu yang kekanak-kanakan itu. Ini mengenai penyatuan dua kerajaan bisnis, coba kamu bayangkan betapa stabil dan kuat posisi kita kalau kamu dan Arnetta menikah. Apalagi sebentar lagi mama juga akan menikah dengan Chandra Adibarata." Cassandra tersenyum puas, bahkan meski semua impian dan rencana-rencananya itu belum dijalankan. Rafael sudah muak dengan sikap ambisius yang dimiliki Cassandra. Dia tak pernah sedikitpun setuju dengan rencana mamanya. Bagi Rafael, harta dan kekuasaan yang ia miliki sekarang lebih dari cukup, sehingga tak ada alasan baginya untuk mendapatkan lebih. Mengenai Chandra Adibarata, Rafael sendiri tak pernah menyentujui hubungan mamanya dan pria gila yang sudah menikah empat kali itu. "Apa? Jadi mama tetap akan meneruskan niat mama untuk menikah dengan pria tidak waras itu?" Rafael menatap sang mama tajam, namun tak sedikitpun membuat Cassandra terintimidasi. "Kamu tidak punya hak untuk mengatur mama, Rafa," Cassandra mengatakannya dengan nada sinis. "Apa mama tahu dengan siapa Arnetta tidur? Rafa melihat sendiri, Ma, dia dan calon anak tiri mama melakukan hubungan suami-istri! Rafa melihat bagaimana mereka menikmati perbuatan amoral itu!" Rafael sudah tidak bisa lagi menahan semuanya, sehingga ia tumpahkan segala hal yang ia lihat pada hari itu. Hari itu, Arnetta Dirgantara, calon istri Rafael, yang juga pewaris kerajaan bisnis Dirgantara Corp. seharusnya menemani Rafael untuk fitting baju pengantin. Akan tetapi karena alasan pekerjaan dia membatalkan janjinya dengan sang calon suami. Entah mungkin ini cara Tuhan membukakan mata Rafael mengenai perangai asli sang calon istri, tepat di saat ia datang ke apartemen Arnetta, mata kepala Rafael menyaksikan sendiri bagaimana dua orang yang sedang tanpa busana itu melakukan perbuatan menjijikkan. Hal yang paling membuat Rafael terpukul adalah pria yang berada di atas tubuh Arnetta, tak lain dan tak bukan adalah putra sulung kekasih Cassandra. Samuel Adibarata, pria berusia hampir empat puluh tahun itu, sedang berasyik masyuk dengan calon istrinya. Samuel sendiri bukanlah pria lajang, dia adalah pria beristri dan beranak tiga. "Calon anak tiri mama? Siapa yang kamu maksud?" Cassandra mengangkat nada suaranya. "Samuel, Ma!" Rafael pun ikut naikkan oktaf. Cassandra terdiam sesaat, ia masih berdiri duduk di kursi kerja Rafael. Sedangkan putranya sudah siap-siap untuk meninggalkan ruangan tersebut. "Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Skandal ini tidak boleh bocor ke orang ataupun pihak lain," ujarnya. Jari jemarinya yang berpulas kutex merah mengetuk-ngetuk meja besar di depannya. "Baik-baik? Baik-baik bagaimana maksud Mama?" Cassandra tak menunjukkan ekspresi berarti menanggapi kemarahan putranya yang berapi-api. "Anggap semua ini tidak pernah terjadi, apapun itu keberlangsungan bisnis kita jauh lebih penting dari hal remeh itu." "Maaf, Ma. Kali ini Rafa tidak akan melakukan seperti apa yang Mama minta." "Oh, kamu mulai berani melawan mama ya?" Cassandra berbicara dengan nada mengancam. Di saat itu, Rafael paham kemana arah pembicaraan sang mama. "Okay, kita sudah bicarakan hal ini sebelumnya. Tentang syarat yang harus kamu penuhi untuk mendapatkan posisi teratas di perusahaan ini." Rafael yang sebenarnya masih mewarisi sifat ambisius dari sang mama pun hanya tersenyum menyeringai. "Menikah kan, Ma?" tanyanya. Cassandra mengangguk pelan seraya tersenyum sinis. Dia sangat senang karena merasa bisa mengendalikan Rafael dengan cara ini. Dia tahu, sang putra tak akan rela kehilangan semua harta dan warisan yang menjadi haknya. "Bagus kalau kamu sudah mengerti, Sayang..." Cassandra bangkit dan segera mengangkat panggilan di ponselnya. Dia berjalan menuju pintu, dan berhenti sekejap di depan sang putra. Ia membelai bahu tegap Rafael. "Kamu, putraku. Mama yakin, kamu bukanlah pria bodoh dan polos seperti papamu. Mama yakin kamu bisa mewujudkan semua impian mama, dengan hanya perlu sedikit berkorban. Ini tidak ada artinya dengan apa yang akan kita dapatkan nanti." Cassandra mengelus bahunya dan pergi. Rafael hanya menanggapi sang mama dengan senyuman misterius. *** "Apa?" Nabilla berteriak keras saat Alana selesai menceritakan semua kejadian yang dia alami. "Kira-kira rumah ini beneran digadaiin gak ya sama mama kamu? Atau itu hanya akal-akalan dia aja, biar kamu mau disewa jadi istri." Belum sempat Alana menjawab pertanyaan Nabilla, pintu depan tiba-tiba saja diketuk oleh seseorang. Keduanya lalu bergegas membuka pintu, untuk siapa saja yang berada di depannya. Alana kontan melongo saat melihat ada dua orang, lelaki dan perempuan, berseragam sebuah instansi. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah petugas yang akan melakukan penyitaan terhadap rumah tinggalnya. "Terhitung mulai hari ini hingga tujuh hari ke depan, kalian harus sudah mengosongkan tempat ini." Kata salah seorang petugas wanita yang mengenakan hijab. "Apa tidak ada jalan lain, agar rumah ini ditangguhkan penyitaannya?" tanya Alana. "Tentu saja ada, dengan membayar semua tunggakan beserta bunga yang telah disepakati oleh kedua pihak dalam perjanjian hutang piutang," jelas petugas pria. "Berapa total semuanya?" tanya Nabilla menyeloroh. Alana melirik kepada Nabilla dengan raut kaget. "Ada disini," petugas itu mengeluarkan sebuah dokumen lengkap. Sebuah surat resmi yang telah dikeluarkan instansi terkait. Keduanya pun melongo saat sadar jika jumlah yang harus dibayarkan untuk menyelamatkan rumah ini adalah satu setengah milyar. "Duit darimana?" bisik Nabilla. Alana menggelengkan kepalanya, ia sangat syok melihat jumlah fantastis itu. Dia sungguh tidak tahu kenapa sang mama meminjam begitu banyak uang, dia juga tak tahu kemana larinya uang-uang itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD