"Siapkan mobil untuk saya Pak, hari ini saya mau berangkat lebih pagi." perintah Rafael pada Pak Dedi supir pribadinya. Ia baru saja pulang dari rutinitas paginya. Berlari keliling area rumahnya yang luasnya mencapai 1200 meter persegi.
"Tumben-tumbenan Mas Rafa," heran Pak Dedi. Yang hanya dibalas senyum tipis oleh Rafael.
Ia kemudian berjalan ke lantai atas menuju kamarnya. Memastikan penampilannya sempurna, Rafael hari ini memagut diri di depan kaca lebih lama dari biasanya. Rambut coklatnya disisir rapih kebelakang. Tak lupa ia memakai jam tangan berharga ratusan juta melingkari pergelangan tangan kirinya.
Ia berjalan menuruni tangga yang mengular di tengah istana besarnya. Beberapa orang pelayan menyambut di bawah tangga.
"Selamat pagi, Mas Rafa sarapannya sudah siap," ujar Minah asisten rumah tangganya.
“Terima kasih, Bi. Bibi makan saja, hari ini saya nggak sarapan di rumah,” jelas Rafael dengan sesungging senyum yang tak lepas dari bibir.
Jawaban itu sontak membuat Bi Minah melongo terheran-heran. Rafael biasanya begitu kaku dan dingin kepada orang-orang di sekitarnya tiba-tiba berubah menjadi manis dan hangat.
"Benaran mas Rafa? K-kalau begitu bibi makan ya?" tanyanya.
Rafael mengangguk pelan, “ajak asisten rumah tangga yang lain juga buat sarapan, Bi,” suruh Rafael yang kemudian dengan cepat diangguki oleh wanita paruh baya itu.
Rafael gegas berjalan menuju ruang tengah, tangannya menyambar tas kerja di atas meja lalu keluar dengan tergesa sambil melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul delapan. Terlalu pagi untuk berangkat ke kantor, namun terlalu siang untuk sarapan di sebuah warung makan yang sudah ia amati beberapa hari terakhir.
Melihat sang majikan sudah berjalan mendekat Pak Dedi buru-buru membuka pintu mobil untuk Rafael.
Si supir dengan sigap duduk di belakang kemudi.
"Pak De, nanti kita berhenti sebentar ya. Buat sarapan, "
"Loh memangnya Mas Rafa belum sarapan?" tanya Pak Dedi.
"Gak sempet," jawab Rafael singkat. Kedua matanya fokus menatap layar ponsel, jemarinya terlihat sibuk menggulir ke atas bawah.
"Memang mas Rafa, mau sarapan dimana?“
"Jalan saja terus, nanti saya kasih tahu,” jelas Rafael.
***
"Stop di warung depan itu ya, Pak!" seru Rafael memberi perintah.
Pak Dedi menghentikan mobil itu tepat di depan warung sederhana yang tampak ramai tersebut. Terlihat beberapa orang berdesakan sedang mengantri di depan etalase kaca yang menyajikan belasan jenis makanan. Mulai dari oseng kangkung sampai sambel goreng telur puyuh.
"Ini seriusan Mas Rafa mau sarapan disini?" tanya Pak Dedi dengan kening mengerut. Lelaki yang sudah mengabdi puluhan tahun di keluarga Dmitry itu dibuat bertanya-tanya dalam hati dengan tingkah tak biasa sang majikan.
Rafael mengangguk mantap, ia lalu membuka pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam warung kecil itu.
Matanya berkeliling mencari seseorang yang menjadi tujuan hatinya pagi itu.
"Pak De, sini cepetan!" panggil Rafael seraya melambai ke arah Pak Dedi yang baru keluar dari mobil.
"Pak De, mau makan apa?" tanya Rafael.
"Ter-terserah Mas Rafa saja kalo saya mah,"
"Mas Rafa," panggil Pak Dedi setengah berbisik.
"Ya?“
"Mas Rafa yakin nih mau brekpes disini?" bisik Dedi lirih.
"Yakin, emang kenapa sih?"
"Tuh makanannya serba sambel Mas,"
"Loh memangnya kenapa kalo sambel?" balik Rafael tak mengerti.
"Ya, selama ini kan Mas Rafa sarapannya pake penkek, roti tawar, roti gandum Prancis, yang mahal-mahal itu. Kok sekarang tiba-tiba ganti makanan warteg?“ cerocos Pak Dedi yang dihiraukan Rafael.
"Mbak," panggil Rafael pada seorang perempuan.
Pagi ini, perempuan yang menjadi tujuan kedatangannya ke tempat ini terlihat cantik. Rambut panjang hitamnya di ikat sekenanya, menyisakan anak rambut di dahi. Seperti biasa ia memakai rok maxi biru muda dengan atasan kaos hitam. Sangat sederhana, tapi membuat Rafael penasaran. Bagaimana bisa gadis sesederhana itu menolak dirinya? Menolak untuk mengenalnya?
Pandangan keduanya pun beradu. Waktu seolah membeku untuk sesaat. Otak mereka otomatis kembali memutar kejadian di bibir pantai sore itu, bak sebuah film.
"K-kamu," pekik Alana kaget, ketika mendapati pria yang menyebalkan itu tiba-tiba ada di hadapannya.
Rafael tak mampu mengendalikan senyuman yang keluar begitu saja ketika melihat perempuan itu.
"Eh Lana! Ngapain lo malah bengong! Cepet layanin dia! Lu mau bikin pelanggan gue kabur ya?!" teriak perempuan paruh baya yang tiba-tiba muncul dari arah belakang dengan nada tinggi.
"Masih banyak pelanggan tuh yang antri, lelet banget lo kerjanya!" imbuh wanita gempal berparas beringas itu. Pulasan merah darah melekat di bibirnya. Dengan alis tipis menjulang bak pendekar di film mandarin. Jika tak menahan tawa dengan benar Rafael pasti sudah tergelak melihat dandanan wanita itu.
"Mau pesan apa m-mas?" tanya Alana cepat sebelum, Surti-nama wanita gempal tadi mengomelinya lagi.
"Nasi putih, uduk apa nasi kuning?" imbuh Alana.
"Tolong kamu pilih saja untuk aku, " Rafael menjawab sekenanya. Matanya tak lepas dari Alana. Membuat Alana semakin kikuk dan risih.
Alana mengambil sepiring nasi kemudian dengan sengaja menambahkan beberapa sendok sambal balado pedas, ditambah sambal goreng kentang pedas dan ikan asin pedas.
"Selamat menikmati," kata Alana ramah.
Namun dalam hatinya berkata lain.
“Selamat sakit perut Tuan menyebalkan!“
***
"Pak Rafa, anda punya janji temu dengan Mr. Winchestor dari perusahaan provider Xyz. Beliau akan datang lima belas menit lagi." Sarah sang sekretaris langsung menyambut kedatangan Rafael dengan membacakan jadwalnya hari ini.
"Jam sebelas meeting dengan Nona Giandra Hartawan, pemilik perusahaan waralaba Nosatu. Mereka berniat menggunakan produk kita dalam promosi besar yang mereka lakukan awal tahun ini," imbuh Sarah sembari terus ekori langkah Rafael menuju ruangannya.
"Teruskan Sarah, saya siap mendengarkan ... " perintah Rafael yang membuat Sarah terheran-heran. Bagaimana tidak? Rafael biasanya selalu marah-marah jika tahu jadwal kantornya begitu padat. Ia bahkan tak segan-segan membentak dan mengomel ke Sarah. Tapi sikap Rafael kali ini sungguh berbalik seratus delapan puluh derajat. Rafael bahkan tampak antusias dengan semua jadwal padat yang disusun Sarah.
"Anda yakin, Pak?" tanya Sarah memastikan.
"Sangat yakin," jawab Rafael cepat.
"Setelah jam makan siang, anda ada janji temu dengan Pak Gandara untuk membicarakan tentang peluncuran produk baru hasil kolaborasi kita dengan perusahaan mereka. Dan yang terakhir janji dengan wedding organizer yang mengurusi persiapan pernikahan anda yang tinggal menghitung hari ... " Sarah begitu sangat detail dan hati-hati dalam menjabarkan jadwal sang bos. Ia tak mau merusak mood baik Rafael, ia tak ingin mempersulit dirinya sendiri dengan melakukan kesalahan dalam menyusun jadwal sang bos.
"WO?" Rafael bertanya, sebuah pertanyaan retoris yang tak perlukan jawaban.
"I-iya Pak, apa saya salah?" tanya Sarah khawatir takut mendapat semprotan dari si bos.
"Tidak, Sarah.“
“Kalau begitu saya undur diri dulu, Pak.“ Sarah pun berbalik dan berjalan ke arah mejanya.
“Tunggu dulu!“ pekik Rafael cepat, yang membuat jantung Sarah hampir lepas dari tempatnya. Ia takut dimarahin oleh Rafael.
“I-iya, Pak? A-da, yang bisa saya bantu?“
Rafael tak segera menyahut, ia terdiam sejenak. “Saya mau memberikan satu tugas untuk kamu. Apa kamu sanggup melakukannya?" Rafael hentikan langkah, kali ini ia tampak serius.
"T-tentu, Pak. Tugas apa? Kalau saya boleh tahu?" Sarah menjawab dengan terbata.
"Saya ingin kamu membawa perempuan yang bekerja di Warteg Lamunrasa yang berada tak jauh dari sini itu. Apa kamu tahu tempatnya?"
"Sepertinya s-saya tahu, Pak." Sarah menyahut cepat.
"Bawa perempuan bernama Alana itu pada saya. Saya tidak mau tahu bagaimana caranya, saya mau dia sudah ada di ruangan saya paling lambat sore ini!" titahnya.
Sarah melongo dan menelan salivanya dengan susah payah, begitu mendengar perintah absolut yang keluar dari mulut Rafael. Dia kini harus mencari cara dan memutar otak agar dapat membawa perempuan yang diinginkan oleh sang bos.