Rafael melirik ke arah Alana, ia sadar jika perempuan itu kembali menangis. Bahunya bergetar. Rafael merasa frustasi melihat perempuan cengeng seperti itu. Ia kemudian mengusap wajah dan hembuskan nafas kasar berkali-kali, tanda bahwa kesabarannya mulai mendekati batas maksimal.
"Please, stop! Don't cry again!" teriak Rafael, bukannya diam Alana justru semakin terisak.
Alana terus menangis seolah Rafael baru saja memukulinya. Meskipun geram setengah mati Rafael mencoba tetap menahan emosinya.
Tangan Rafael perlahan menyeluk isi kantongnya, ia seperti mencari sesuatu. Dari saku kanan, ke saku kiri. Kemudian berakhir di saku kemeja yang terbalut jas berwarna biru kehitaman itu. Ia mengeluarkan selembar saputangan berwarna biru muda dari sana, ragu-ragu namun pasti ia mulai menyapu pipi basah Alana dengan saputangan itu.
Seketika tangisan Alana berhenti, ia tersentak dengan perlakuan manis Rafael. Belum ada pria yang bersikap seperti ini pada Alana sebelumnya. Bahkan Devan sekalipun. Ia hentikan tangisan tak bergunanya. Pelan memutar wajahnya hingga menghadap kepada Rafael.
"Ngapain lihat-lihat!" pekik Rafael ketus.
"Nih, usap sendiri air mata kamu, perempuan lemah, cengeng! Kalau kamu gini terus, kamu bakalan tambah diinjak-injak sama pacar kamu. Kalau kamu dikhianati, balas donk, jangan diem aja!" dengus Rafael sembari melemparkan saputangan itu kepada Alana.
"Ma-makasih,” lirih Alana, ia kemudian mengusap air mata menggunakan kain itu. Lalu …
Ssshroooottt!
Alana juga menggunakan sapu tangan Rafael untuk membersihkan ingusnya.
Rafael melirik ke arah Alana, kemudian meringis melihat saputangan mahalnya berlumuran cairan putih kental yang berasal dari lubang hidung Alana.
"Sekali lagi makasih ya," ulang Alana sambil menyerahkan balik saputangan itu pada Rafael. Tentu saja ia langsung menolaknya mentah-mentah.
"Ambil aja!“ teriak Rafael keras, ia mengibas tangannya berkali-kali lalu mengusapkan pada celananya. Memperlihatkan rasa jijik pada saputangan yang telah terlumuri itu.
"Kamu itu bodoh!" celetuk Rafael tiba-tiba, matanya fokus pada semburat merah cakrawala. Angin sepoi membelai rambutnya yang sedikit acak membuat pria itu terlihat sangat tampan dan seksi. Mata Alana tak sengaja menangkap pemandangan menakjuban itu. Ia terkesiap dan terhanyut dengan apa yang netranya tangkap.
"Aku memang bodoh," ucap Alana lirih. Ia menunduk, menahan sakit yang tiba-tiba datang lagi.
"Bodoh karena tidak bisa melihat kebenaran. Bodoh karena begitu mudah dipermainkan dan dibodohi. Aku emang bodoh!!" Alana meracau.
Rafael menoleh pada Alana yang kini terlihat sangat rapuh. Rafael merasa iba pada Alana, ia mendekati tubuh perempuan itu. Lalu perlahan memeluk dan memberinya bahu untuk menangis.
"Silakan menangis," ucap Rafael. Dan menyandarkan kepala Alana di d**a bidangnya.
"Bukan cuma kamu yang bodoh," ujar Rafael lirih.
"Seseorang yang sangat aku cintai juga berkhianat," Rafael begitu saja mengeluarkan kesesakan hatinya. Pada perempuan aneh dan cupu yang baru ia kenal beberapa jam lalu. Entah kenapa ia merasa nyaman dengan perempuan ajaib ini. Perempuan yang mungkin jika ia mengenalnya dulu saat masih dibangku SMA akan menjadi target empuk bullyannya.
"Wanita yang akan aku nikahi ternyata tidur dengan pria lain," imbuh Rafael kecut l, senyum pahit terbit di bibir pria bermata tajam dengan garis rahang keras itu.
Alana tercekat dengan apa yang ia dengar. Ia perlahan menegakkan kepala dan menelisik setiap senti wajah Rafael. Namun tak terlalu jelas, gelap sudah mulai menyelimuti sekitar pantai. Membuat Alana hanya bisa melihat wajah tampan itu dengan bantuan cahaya Bulan yang hanya berbentuk sabit.
Rafael menoleh. Mata tajamnya balik menatap wajah Alana. Ia terdiam sesaat dengan kening mengerut seakan sedang berpikir. Kedua tangan Rafael kemudian perlahan melepas kacamata besar yang bertengger di wajah Alana. Tangannya melepas ikatan rambut hitam panjang lurus milik Alana. Membiarkan rambut indah itu terurai. Rafael menyapu rambut Alana dengan jemarinya. Menatanya sedemikian rupa hingga membuat perempuan cupu di depannya berubah menjadi perempuan yang tak kalah cantik dengan artis dari negeri ginseng.
Perlahan namun pasti wajah tampan Rafael semakin mendekat, mengikis jarak antara wajah mereka. Senti demi senti. Dan Alana seperti membeku ketika wajah Rafael semakin dekat. Bahkan aroma nafasnya mampu tercium pada indera Alana. Hanya berjarak beberapa millimeter dan …
Cup
Rafael mengecup bibir Alana pelan. Kemudian mulai melumat bibir berperasa strawberry itu. Alana memang suka lip balm rasa cherry dan strawberry. Ia sangat jarang menggunakan lipstick dan lebih suka membiarkan bibir merah muda alami apa adanya.
Alana merasakan ada yang berdesir hebat dalam dirinya. Sesuatu yang melesak mengikuti aliran darah yang melaju dan irama jantungnya yang semakin tak beraturan.
Alana sadar dan tersentak, lalu mendorong tubuh Rafael hingga hampir membuatnya tersungkur.
Rafael membelalak kaget. Ia kehilangan kontrol, dan mencium perempuan asing yang bahkan ia tak tahu namanya itu. Ia hanya mendengar teman perempuan tadi memanggilnya Lana.
Alana bangkit dari duduknya. Dengan tergopoh mengenakan kembali kacamata yang Rafael lepaskan tadi.
"Kamu mau kemana?" Rafael meneriaki Alana yang akan segera angkat kaki dari sana.
"Hey! " tapi Alana tak merespon. Ia sibuk mencari flat shoes kirinya yang raib entah kemana.
"Apa kamu nyari ini?" tanya Rafael sambil mengacungkan satu buah flat shoes berwarna biru muda itu.
Alana menoleh ke arah Rafael. Matanya langsung melihat ke benda yang di pegang sang pria tampan. Setengah berlari ia kembali ke tempat Rafael berdiri dan segera merebut sepatu tersebut dari tangan sang pria.
Dengan tergopoh Alana memasang kedua sepatunya. Ia benar- benar malu dengan adegan yang baru saja ia lakukan dengan pria asing tersebut. Bagaimana bisa ia berhasrat pada pria aneh yang tiba-tiba muncul dan duduk disampingnya. Dan bodohnya ia memberikan ciuman pertamanya pada pria gila itu. Karena itu dia ingin secepatnya angkat kaki dari pantai itu. Dan berharap tak akan pernah bertemu lagi dengan pria ini.
"Satu milyar!" teriak Rafael keras-keras pada Alana yang sudah tak mempedulikan dirinya dan bersiap pergi dari sana.
"Menikahlah denganku, dan aku akan memberimu satu milyar," imbuh Rafael.
Langkah Alana terhenti. Dadanya seketika panas mendengar ucapan Rafael. Ia berbalik dan serasa ingin mengoyak wajah Rafael, bagaimana bisa seorang pria asing menawar dirinya seolah ia bisa dibeli dengan uang.
"Oh ... apakah kurang?" Rafael bertanya dengan senyum seringai miring.
"Sepuluh milyar!" tawar Rafael setengah memaksa.
"Kesucianku bukan untuk kuperjualbelikan!" dengus Alana kesal. Ia kemudian menghampiri Rafael, ingin sekali ia menampar wajah sang pria, akan tetapi ia tak mampu. Tangan dan hatinya tak bisa sejalan seirama.
"Rahimmu perlu untuk dibuahi kan? Kecuali jika kau ingin jadi perawan tua seumur hidupmu," balas Rafael dengan nada mengejek.
"Dasar b******k! Kamu ternyata sama saja dengan pria-pria kaya lain yang memperlakukan wanita sebagai properti! Menjijikkan!!" untuk pertama kalinya Alana berani mengeluarkan kemarahan yang tertahan.
"Hidupmu pasti menyedihkan, hingga mengira apapun bisa kamu beli dengan uangmu. Pantas saja wanita yang kamu cintai lebih memilih pria lain! Kamu pantas dicampakkan. Pria yang tak bisa menghargai wanita adalah pria pengecut!“ imbuh Alana menggebu-gebu penuh amarah. Ia tak tahan lagi dengan rasa sakit yang seolah mengulitinya hidup-hidup.
Rafael tercengang dengan kata-kata perempuan di depannya yang begitu menohok hatinya. Namun wajahnya tak menampakkan kemarahan. Sebaliknya Rafael justru tersenyum puas. Seolah telah memenangkan sesuatu.