Alana terpaku beberapa saat di tempatnya. Dia sengaja berdiri di belakang rerimbunan tanaman penitian merah yang digunakan sebagai pembatas air mancur di depan hotel berbintang lima tersebut. Mata Alana masih melotot tanpa berkedip saat melihat suami kontaknya, menggandeng tangan perempuan cantik itu dengan erat. Sembari sesekali berbicara dan menoleh seraya tersenyum lembut kepadanya. Bibir lelaki itu terus melengkungkan senyum dengan ikhlas, padahal biasanya ia pelit sekali. "Siapa ya perempuan itu?" gumamnya penasaran. Ada gemuruh di dalam hati yang sedang coba dia redam. Alana tak mau dikuasai oleh perasaan yang seharusnya tak boleh ada, perasaan yang berpotensi menyiksanya siang malam. Tin..tin... Seseorang dari dalam sedan berwarna merah menekan klakson keras-keras, hingga membu

