Chapter 5 - Crash Under the Sky

1404 Words
"Aku tahu takdir kadang memisahkan sesuatu dengan amat sangat kejam. Tapi tak pernah terpikirkan olehku, bahwa itu semua akan terjadi pada kita." ~Evander Yudiswara. *** "Van, lo yang nyetir." Dikta keluar dari kamar dengan rambut yang masih berantakan. Lelaki gondrong itu bahkan tak sempat menyisir rambutnya, hanya meraup sesuka hati agar tak terlihat sangat kacau balau. Kepala lelaki itu masih terasa pusing dan berkunang, sebab dia baru saja terlelap satu jam yang lalu. Dan kini, panggilan Evander yang menggema ke seluruh unit apartemennya, mau tak mau memaksa lelaki itu untuk membuka mata. Evander bangkit dari sofa. Geleng-geleng kepala saat mendapati temannya tersebut belum juga bersiap, namun tak bisa ia menunggu lebih lama. "Kirain lo jadi mandi, Ta," komentar Evander seraya meraih uluran kunci mobil dari tangan Dikta. "Yaudah, begini aja. Ayo." Syukurnya Dikta sudah mengepak apa yang diminta Evander malam tadi, yaitu beberapa helai kaus dan sepatu yang dia jejalkan dalam sebuah backpack bermerek berwarna hitam list abu-abu. Tak tahu apakah kaus-kaus yang ia masukkan ke dalam sana akan cocok untuk Evander atau tidak, Dikta tak begitu ingin memikirkan hal tersebut. "Nggak sempet," Dikta menguap lebar. "Ayo jalan. Nanti mampir beli kopi dulu sekalian, Van. Kalo nggak ngopi bisa-bisa teler di jalan gue." Evander menyeringai. Menenteng backpack yang dipersiapkan oleh sang teman, lelaki itu setidaknya bersyukur dia memiliki tempat untuk pergi. Jangan harap dia akan menginjakkan kaki di rumah megah keluarga Yudiswara lagi, sebelum nanti Gladys sudah resmi menjadi istrinya. "Oke, ayo, Ta," sahut Evander setuju. "Gue juga nanti nitip kopi satu. Udah lo masukin semuanya yang gue minta kemarin, kan?" Setengah mengantuk, Dikta mengangguk. "Aman, Man. Udah ayok buru. Nanti telat lo." Bersamaan keluar dari unit apartemen tersebut, kedua sahabat itu bersisian menelusuri lorong. Berhenti di depan lift untuk menunggu, Evander sempat mengirimkan pesan pada Gladys, yang beberapa menit lalu memang mengirimkannya pesan. Diam-diam tersenyum, Evander menahan gejolak perasaan yang hampir meledak. Tak bisa dia tahan keinginannya untuk memeluk Gladys erat, mengucap ikrar pernikahan dengan lantang, dan memiliki perempuan itu bagi dirinya sendiri, sepanjang hidup. Rangkaian demi rangkaian adegan sudah terbayang di benak Evander, hingga tak sadar ia pun masih terus tersenyum meski sudah berada di bangku pengemudi. Mengemudikan mobil milik Dikta itu dengan kecepatan sedang, Evander sungguh hanya ingin cepat sampai. Bayangan bagaimana Gladys menunggunya di stasiun, sudah semakin membakar laju gejolak yang tersimpan rapat di dalam sana. 'Tunggulah sebentar lagi, Glad,' Evander membatin tanpa suara. Mencengkram setir kemudi, lelaki itu tenggelam dalam dunianya sendiri. 'Aku menujumu sekarang, Sayang. Lalu, kita berdua akan menuju kebahagiaan yang abadi tak lama lagi.' Hati Evander penuh akan cinta yang membuncah. Hampir meledakkan dadaa, saat tiba-tiba saja suara Dikta membuyarkan angan-angan lelaki itu. "Van, liat mobil belakang." Dikta menegakkan tubuh, mendekat ke rear mirror untuk memeriksa sesuatu. "Lihat deh. Apa-apaan itu?" Evander mengikuti pada arah yang dikatakan oleh Dikta. Mendapati ada dua mobil berwarna hitam legam berada persis di belakang mobil mereka, Evander memicingkan mata dengan dahi berkerut. "Siapa tuh?" Dikta menceplos. "Kayaknya tadi nggak ada, sekarang kok tiba-tiba di belakang? Van, lo nggak salah jalan, kan?" Evander tak memberi jawaban. Ia terlalu sibuk untuk membagi konsentrasi, antara mengemudikan kendaraan roda empat tersebut dan memperhatikan sesuatu yang menggangu di belakang sana. Dua mobil tersebut menjaga jarak yang terlalu dekat dengan mobil Dikta, seakan sedang memperhatikan setiap gerak gerik mobil yang terus melaju itu. Seakan sedang mengawasi, atau mungkin berkehendak mencari masalah, mungkin. Evander pun tak menyadari, entah sudah sejak kapan dua mobil itu berada di belakang mereka. Perasaan jalanan yang mereka lalui tadi masih cukup ramai, namun mengapa kini terasa semakin sepi? "Ambil kiri, Van." Mencoba memberi opsi, Dikta tampak menaikkan tingkat keawasannya. Rasa curiga tentu sudah melingkupi dua lelaki muda tersebut. Mencoba mengambil arah yang dimaksudkan Dikta, Evander hampir tersentak saat tiba-tiba saja satu mobil lagi dengan warna serupa, sudah memotong dengan kecepatan yang cukup tinggi. Hampir saja mobil itu menggores mobil Dikta, jika Evander tak cepat-cepat menginjak rem. "Sialan!" Makian begitu saja keluar dari bibir tipis Evander. "Siapa sih mereka?!" Tak bisa berpikir jernih, satu-satunya hal yang terlintas di benak lelaki itu hanyalah ... sang ayah. Melebar manik Evander saat ia memikirkan hal tersebut, disusul dengan gelengan karena merasa tak sepenuhnya yakin. Membagi konsentrasi antara terus mengemudikan mobil tersebut dan mencoba berpikir, Evander masih menahan laju kendaraan mereka agar berada di batas rata-rata. "Sialan, Man. Siapa sih mereka ini?" Ikut memaki sebab sekarang ada tiga mobil yang mengiringi mereka, Dikta mengepalkan tangan. "Tancap aja, Van. Berani-beraninya sih mepet-mepet mau apa coba? Ayo, Van. Buru aja." Melirik Dikta untuk meminta persetujuan, Evander mendapati Dikta mengangguk yakin. Sudah cukup lama juga mereka tak menginjak gas dalam-dalam, melesat dan melaju kencang di sirkuit balapan. Sebenarnya hal itu tak pantas dilakukan di jalanan umum seperti ini, hanya saja sekarang situasinya sedang tak tepat. Menaikkan kecepatan dengan pijakan gas yang semakin dalam, Evander mengeratkan pegangan di setir kemudi. Suara ban yang berdecit akibat bertemu dengan aspal, menbuat Evander berdebar. Dikta yang tadinya tak mengenakan sabuk pengamannya, kali ini memasang sabuk tersebut dan berpegangan. Meski terbiasa balapan, namun kecepatan yang dimasuki Evander ini bisa dikatakan cukup berbahaya. Keduanya masih saling memperhatikan. Berharap dengan kecepatan yang meningkat itu, mereka bisa melarikan diri dari kepungan tiga unit mobil yang terlihat serupa model dan warnanya. "Lo tahu itu siapa, Van?" Dikta membuka suara di sela rasa was-was yang semakin menguasai. "Lo punya musuh yang mungkin mau ngebuat lo celaka mungkin, Van?" Mengeratkan pegangan hingga jemarinya nyaris memutih, Evander menggeleng. Satu-satunya orang yang bermasalah dengannya adalah ayahnya sendiri, yang Evander yakini seharusnya takkan berbuat sejauh ini. Untuk apa Tomi Yudiswara mengirimkan mobil-mobil seperti ini? Apakah ini bagian dari peringatan yang datang dari lelaki paruh baya itu untuk putra semata wayangnya sendiri? Apa sebenarnya yang diinginkan oleh pengemudi mobil berkaca gelap tersebut? Evander tak mampu berpikir. Satu-satunya hal yang terlintas ialah agar mereka bisa segera lepas dari kepungan mobil-mobil tadi, yang Evander yakini dikemudian bukan oleh orang sembarangan. Kemampuan mereka, pastilah cukup di atas rata-rata. "Pegangan lebih kuat, Ta," Evander memberi arahan. "Kita harus tancap bener supaya bisa lepas dari mereka. Nggak peduli siapa sebenarnya mereka, atau apa maksud dan tujuan mereka deket-deket ke mobil kita, yang pasti kita harus menghindar dulu." Dikta tak bisa menggeleng. Tentulah, sebab berhenti dan menantang pengemudi di belakang sana juga bukan pilihan yang bijak. Mengambil ancang-ancang untuk menambah lagi laju pijakan gasnya di bawah sana, Evander hampir menahan napas. Dikta sendiri semakin mengeratkan genggamannya pada pegangan di sisi atas pintu, hanya bisa berdoa dalam hati agar kemudi Evander tak meleset sedikit pun. Semakin laju mobil Dikta itu, maka semakin kencang pula mobil di belakang dan samping sana mengikuti. Seakan tak memberi ruang untuk Evander dan Dikta lolos dari pantauan mereka, mobil yang berada di samping tadi malah semakin mendekat ke mobil Dikta. Membuat Evander mulai grogi, akibat jarak yang terlalu dekat sekarang. "Hati-hati kiri, Van," Dikta berujar mengingatkan. "Awasi kanan lo juga, Van." Rasanya tak bisa juga dia mendikte sahabatnya tersebut. Sebab mobil mereka semakin terpojok, terbawa arus sebab tak bisa berhenti apalagi berbelok. Jalanan di sisi kanan rasanya cukup untuk membuat mobil itu menyalip, saat Evander mulai memperhitungkan jarak yang ada di hadapan mereka. Sebuah truk besar yang tingginya pun dua kali lipat mobil mereka tampak belum bergeser sama sekali, saat Evander sebenarnya berpacu dengan waktu dan kesempatan. Kesempatan, yang ternyata tak diberikan semesta padanya kali ini. "Gue ngambil kanan, Ta." Meminta persetujuan, Evander mendapati Dikta mengangguk setuju. "Oke, gas." Melirik ke arah spion yang terpasang, Evander lagi-lagi mengambil ancang-ancang. Mendahului laju truk depan itu sepertinya akan mudah, jika dia menginjak gas penuh kali ini. Sengaja ingin membuat kamuflase dari besarnya badan truk di depan mereka, Evander rupanya salah memperhitungkan kesempatan yang dia miliki. Sebab setelah ia menginjak penuh pedal kecepatan, tepat di saat itu pulalah sebuah mini bus melaju dari arah berlawanan. Dan semesta, memang tak berniat menyelamatkan Evander kali ini. Suara dentum dan gesekan di atas aspal itu terdengar jelas, bersamaan dengan beberapa mobil yang ikut terseret. Kecepatan tinggi dari mobil Dikta tak dapat berhenti secara tiba-tiba, saat mau tak mau malah menyebabkan beberapa mobil ikut tertabrak dengan cukup keras. Hanya sepersekian detik saja rasanya. Dikta menutupi wajahnya dengan sebelah lengan, meneriakkan nama Evander saat mobil itu menuju kehancuran yang tak pernah diduga. Dan semuanya, gelap. Satu-satunya yang Evander ingat hanyalah senyuman dari Gladys, dan rasa bersalahnya karena harus membuat Gladys menunggu lebih lama. "Ma ... maaf, Glad." Hanya dua kata itu yang dapat keluar dari bibir Evander, selaras dengan kesadarannya yang menguap dan hilang. ~Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD