Chapter 4 - Second to Second

1708 Words
"Tak terbayangkan segalanya akan jadi serumit ini. Bisakah kita bertahan dan berpegang pada pengharapan, meski dunia sedang mempermainkan?" ~Gladys Amara. *** "Van, lo beneran nggak mau cerita?" Dikta mengempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu, di apartemen yang dia beli atas namanya sendiri. Lelaki gondrong itu baru saja membukakan pintu untuk tamu tak diundang, yang kemudian malah membuat jam tidurnya terganggu. Evander ikut mengempaskan tubuh di samping temannya tersebut. Mengulangi posisi saat ia berada di sofa kafe milik Lefrand beberapa jam lalu, yang akhirnya tutup setelah memberi makan pewaris tahta yang kelaparan di tengah malam. Menyeringai, Evander mengembuskan napas pelan. Iris hitam legam bak tatapan elang itu dibingkai oleh kelopak mata yang cukup tegas, yang kini dia kerjapkan beberapa kali. Seperti sedang mempertimbangkan, apakah dia akan bersuara atau tidak. "Sorry, Ta. Gue belum bisa cerita banyak," akhirnya Evander memberi jawaban. Lefrand mungkin harus menerima kenyataan dan menyimpan rasa penasaran, saat Dikta berkesempatan untuk mengorek ada apa sebenarnya dengan perilaku tak biasa seorang Evander Yudiswara ini. "Nantilah." Kali ini Evander menegakkan tubuh untuk duduk lebih tegak. "Nanti, setelah semuanya terlewati, gue akan cerita semua ke lo dan Lefrand. Gimanapun, kalian berdua sahabat baik gue, Man. Sabar dulu aja ya." Dikta memutar bola mata. Seiring dengan bahunya yang naik, lelaki itu pun tak lagi memaksa Evan untuk bercerita saat ini juga. "Tapi lo baik-baik aja, kan?" Dikta memastikan. Pertemanannya bersama Evander sudah terhitung tahun, dan jauh di dalam lubuk hati Dikta, dia pun tak ingin hal-hal buruk menimpa temannya tersebut. Menyampirkan senyum tipis, Evander mengangguk. "Aman, Bro," jawabnya singkat. "Tenang, gue baik-baik aja." Bangkit lebih dulu, Dikta sempat menepuk pundak Evan, dengan tenaga yang cukup membuat Evander meringis. "Kalau ada perlu apa-apa ngomong aja, Van," tutur Dikta tak ragu. "Meskipun seharusnya gue yang minta ke lo secara lo yang tajir melintir, tapi nggak apa-apa." Evander tertawa kecil. Dikta sudah bangkit untuk melangkah menuju dapur, saat Evander memilih untuk kembali menyandarkan kepalanya di sofa yang sama. Sekali lagi menengadah, lelaki itu berdoa agar segalanya yang dia rencanakan bersama Gladys, akan berjalan lancar dan tanpa hambatan. 'Setelah aku dan Gladys menikah, akan kucoba untuk meyakinkan ayah kembali,' Evander membatin dalam hati. Bersamaan dengan pikirannya yang membumbung jauh, masih terlintas di benak lelaki itu untuk sekali lagi mencoba. 'Mungkin ayah akan menerima setelah Gladys resmi menjadi istriku,' duga Evander lagi, masih dalam angan-angan. 'Meski seperti itu, tapi kurasa ayah akan berkenan untuk berpikir dua kali demi aku.' Evander tahu, hanya dialah yang dimiliki sang ayah di dunia ini. Sebagaimana dengan Evander pula, yang selama ini hidup dan bertumpu pada ayah satu-satunya yang dia miliki. Berpulangnya sang ibu saat dia berusia delapan tahun, ternyata cukup untuk membuat Evander tumbuh sendirian. Belum lagi sang kakak yang harus menyusul ibunya tak lama kemudian, yang lantas membuat Evander berteman dengan sepi bertahun lamanya. 'Hanya aku yang bisa hidup hingga saat ini,' Evander menghibur diri. 'Dari semua calon pewaris tahta dari ayah, hanya kaulah yang bertahan, Evan.' Menarik dan mengembuskan napas berat, Evander berupaya untuk memenuhi rongga dadaanya dengan cukup udara. Sama sekali matanya tak bisa terpejam, padahal dia harus bersiap berangkat ke stasiun beberapa jam lagi. Mengangkat tangan untuk memeriksa waktu, Evander mendapati jarum pendek itu hampir menuju ke angka tiga. Hampir subuh. "Ta." Dikta yang tadinya sedang menikmati bir dingin dengan gawai di tangan, buru-buru menoleh untuk memberi sambutan. "Ha? Apa?" "Nanti pagi, anterin gue ke stasiun, ya," pinta Evander tanpa menegakkan kepalanya. "Gue juga pinjem baju lo beberapa, sekalian tas backpack dan sepatu." Hampir saja Dikta menyemburkan bir yang berada di dalam mulutnya, jika tak dia tahan dengan benar. "Lo kabur dari rumah, Van?" tanya lelaki itu dengan nada suara yang meninggi. "Really?" Mau tak mau, Evander akhirnya duduk tegak beberapa saat kemudian. Memangku kedua tangan, lelaki itu melipat kaki. "Udah jangan banyak tanya sih, Ta," pinta Evander dengan sorot mata setengah memohon. "Gue perlu pergi ke suatu tempat, tapi sedang tak bisa membawa mobil atau pulang ke rumah. Jadi gue juga berencana untuk tidur di sini, sampe pagi nanti lo anter ke stasiun. Okay?" Menumpukan sebelah tangan di meja dapur, saat tangan yang lain sibuk memegangi bir, Dikta lagi-lagi hanya bisa menghela napas pasrah. "Oke, oke," sahutnya tak lama. "Apa pun ya, Van, pastiin lo nggak sedang dalam masalah, ya?" Evander tertawa. Dikta yang notabene memiliki rambut gondrong layaknya pemain band metal itu, sebenarnya memiliki hati yang sangat hangat dan peduli pada teman-temannya. Sebab itulah Evander tak menyangsikan akan seberapa banyak teman yang dimiliki Dikta, karena memang lelaki itu memiliki sifat peduli yang disukai banyak orang. "Astaga, Ta," Evander masih menggantung tawa. "Lo udah kayak bibi-bibi cerewet, beneran dah!" Mendengus setengah kesal, Dikta tak lagi menanggapi perkataan temannya tersebut. Alih-alih, ia malah menawarkan bir yang kali ini ditolak Evander mentah-mentah. "Cuma lo yang minum bir dingin di pagi buta, Ta." Evander kembali menyandarkan kepala, namun kali ini mengubah posisi untuk berbaring lurus selurus sofa. Kaki panjang lelaki itu menggantung di ujung bantalan, saat sebelah lengannya sudah dia timpakan di atas mata yang mulai tertutup. "Gue tidur sebentar," ucap Evander mulai memelan. "Bangunin nanti, ya. Gue bener-bener nggak boleh terlambat." Dikta masih menyelesaikan beberapa tegukan yang tersisa, dan memilih untuk tak lagi bersuara. Evander tampak sudah mulai meninggalkannya memasuki alam mimpi, dengan suara tarikan napas yang mulai teratur pula. *** Pagi itu, hanya satu tas backpack yang dibawa Gladys di punggungnya. Tak ingin terlihat mencolok saat dia harus menyapa ibu kos yang biasanya menyiram bunga di halaman depan, Gladys memutuskan untuk tak membawa banyak baju. Hanya tiga pasang. Itu pun dia memilih bahan yang paling tipis, agar tasnya tak terlihat sangat penuh. Evander baru saja mengirim pesan bahwa dia dan Dikta akan mengemudi bersama beberapa menit lagi, saat Gladys pun kemudian menuruni satu per satu anak tangga. Memilih kaus oversize bergambar bando di bagian depan, gadis cantik itu memadukan dengan celana jeans sebagai pembalut kaki. Mengenakan sepatu sport, dia tampak layaknya anak kuliahan dengan kecantikan yang terpancar luas. "Glad, ada jam pagi?" Reina, teman satu indekos yang juga mengenyam ilmu di kampus yang sama dengan Gladys, menyapa perempuan itu saat Gladys menginjakkan kaki di lantai dasar indekos mereka. "Hei, Rein," Gladys membalas sedikit canggung. "Iya, ada yang mau dikerjain." Menatap Reina yang tampak belum ingin berangkat, Gladys berbasa-basi. "Dirimu Rein? Tak berangkat sekarang?" Gelengan Reina menemani Gladys saat ia menunggu driver ojek online yang dipesannya dari dalam kamar tadi. "Enggak, nanti siang. Ini keluar mau nunggu bubur lewat," balas Reina tersenyum. Jam memang masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, dan Gladys sudah tak sabar agar segera bertemu dengan sang kekasih hati. Perjalanan mereka hari ini mungkin saja akan mendebarkan, dan Gladys ingin segalanya cepat berlalu. Satu unit sepeda motor dengan pengemudinya yang mengenakan jaket berwarna oranye menyala, berhenti tepat di depan para gadis yang sedang berdiri menunggu. "Mbak Gladys?" tanya sang supir sembari membuka kaca helmnya. Glayds mengangguk. Berpamitan pada Reina yang menjadi saksi kepergiannya, padahal Gladys tadinya mewanti-wanti jika saja dia bertemu dengan ibu indekos mereka. Mengambil helm yang diulurkan sang pengemudi, Gladys sudah menumpang ojek online tak lama kemudian. Melambaikan tangan pada Reina yang masih berdiri di tempat serupa, tubuh Gladys terbawa menjauh seiring dengan lajunya motor bebek tersebut. Hingga beberapa puluh menit kemudian, tibalah Gladys di stasiun kota mereka. Menyelesaikan pembayaran, Gladys berjalan menyusuri gerbang stasiun yang pagi itu sudah dipenuhi cukup banyak orang. 'Sayang: Van, aku udah di stasiun ya. Kau sdh berangkat?' Mengetikkan pesan pada sang kekasih, Gladys memilih untuk menunggu di salah satu pojok stasiun. Dia belum tahu ke mana mereka akan pergi, sebab Evan memang belum menjelaskannya secara rinci. Tak ingin menanyakan memang, Gladys hanya ingin mengikuti Evander ke mana lelaki itu melangkah. Memegangi gawai di telapak tangan, Glayds mengitarkan pandangan ke segala arah. Memperhatikan bagaimana kehidupan stasiun mungkin tak pernah ada habisnya, saat lalu lalang orang terus dapat terlihat dan berdatangan. Getar gawainya menandakan ada notifikasi yang masuk, saat Gladys buru-buru menggeser layar untuk membaca sebuah pesan masuk tersebut. 'MyVan: Aku di jalan, Sayang. Tunggulah di sana. Dikta baru selesai mandi, jadi kami lama berangkatnya.' Mengangguk pelan, Gladys mengetikkan balasan dengan gerakan jemari yang menyentuh layar pula. 'Sayang: Oke, take care, ya. Aku nunggu di depan Roti Roast, persis di sebelah loket tiket ada bangku panjang warna cokelat.' Pesan itu langsung terbaca oleh Evander, yang ditandai dengan berubah warnanya dua centang di room chat mereka. Masih mengetik, Evan pun mengirim balasan dalam jeda satu menit saja. 'MyVan: Oke, Darl. See you soon love.' Memilih untuk tak lagi membalas, Gladys bergerak untuk mendekati kursi panjang berwarna cokelat yang ia maksudkan di pesannya tadi. Kursi itu masih memiliki sisi kosong, dan sepertinya menunggu di sana saja akan lebih baik. Mampir ke Roti Roast, Gladys memesan dua bungkus roti mentega hangat. Satu untuk dirinya yang akan dia makan lebih dulu sebagai menu sarapan, saat satu lagi diperuntukkan perempuan itu untuk Evander nantinya. Sekalian membeli sebotol air mineral berukuran sedang, Gladys menempati posisi yang sama, dengan yang dia ketikkan di pesannya beberapa menit lalu. Menggigit tepi demi tepi roti mentega hangat tersebut, Gladys membunuh waktu. Menunggu, memperhatikan dengan pandangan yang terus beredar. Menantikan kedatangan Evander, kekasihnya yang mungkin sebentar lagi akan menjadi bagian dari dirinya. Pernikahan dadakan yang mereka rencanakan ini terdengar sangat menarik, saat Gladys bahkan tak bisa membayangkannya lebih dari apa pun. Detik menuju menit. Menit berganti menit. Lalu lalang orang-orang di sana semakin padat dan merayap, saat Gladys menyadari waktu ini sudah lebih lama terbuang daripada yang seharusnya. Biasanya, hanya membutuhkan maksimal setengah jam untuk mencapai stasiun dari rumah Dikta yang Glayds tahu daerahnya. Tetapi satu jam telah berlalu, namun tak ada tanda-tanda kemunculan Evan di sana. Menghentakkan kaki ke keramik yang warnanya sudah mulai memudar, Gladys lagi-lagi memeriksa waktu yang telah terlewat. Mendapati jarum pendek jamnya menunjuk angka sembilan, perempuan itu tak kuasa untuk tak meraih kembali ponsel yang telah dia simpan di saku celana. Evander belum tiba. Tak lagi mengetikkan pesan, Gladys menghubungi nomor ponsel lelaki itu. Menegang tubuhnya seketika, dengan derap jantung yang terus memacu kencang. 'Apa yang terjadi?' Glayds bertanya-tanya. Tertegun saat mendengarkan suara yang mengalun dari sebrang sana, tangan Gladys jatuh terkulai dengan pikiran yang mulai menjauh terbang. "Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, silakan coba beberapa menit lagi." Glayds tak tahu apa yang terjadi, namun dia tak berniat untuk sedikitpun bergerak dari posisinya tadi. "Van, kau akan datang, kan?" ~Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD