"Selalu ada sepenggal kisah yang tersisa dari setiap peristiwa. Meski tak lagi mengingatmu, aku sebenarnya tak pernah benar-benar lupa." ~Gladys Amara.
***
[ENAM TAHUN KEMUDIAN]
Suasana di salah satu ballroom hotel megah itu tampak hectic dan tergesa-gesa.
Lebih dari dua puluh orang--perempuan dan laki-laki, berpakaian sama dengan nuansa putih dan hitam. Jas serupa bentuk juga menjadi outfit mereka, yang menandakan identitas sebagai pekerja hotel baik yang penuh ataupun paruh waktu.
Tepat di sayap kiri ruangan besar dan luas tersebut, tampak seorang perempuan dengan celana jeans yang menyelimuti kakinya sedang memegang sebuah walkie talkie. Blouse bercorak pita dengan kain yang halus terlihat menutupi tubuh bagian atas, dengan gelungan rambut yang ia ikat menjadi satu kucir kuda. Surai hitam legamnya terulur hingga sebatas punggung, ditemani iris yang tak henti berputar memperhatikan sekitar.
"Mbak, ini ditaruh di mana?"
Seorang pekerja penuh waktu membawa satu nampan berisi lipatan kain, menghampiri Gladys yang lantas menolehkan kepala. Tak berpikir panjang, Gladys memberi jawaban cepat.
"Letakkan di ruang ganti pengantin," ucapnya tegas. "Dan beritahu pada Gilang untuk standby di depan, ya."
"Baik, Mbak."
Mengangguk, Gladys membiarkan salah satu karyawan hotel itu berlalu. Berkacak pinggang, Gladys kembali hening untuk memperhatikan pergerakan. Mengangkat sebelah tangan, perempuan itu memeriksa waktu. Masih tiga jam lagi waktu yang mereka miliki untuk memastikan segalanya terpasang dengan baik, termasuk tatanan berbagai macam menu dan wedding cake yang akan menjadi perhatian utama.
Perhelatan pernikahan sepasang anak muda yang berasal dari keluarga pengusaha tersebut, sungguh bukan sesuatu yang main-main bagi Gladys dan timnya. Gladys bahkan kurang tidur belakangan ini, sebab ia benar-benar menginvestasikan waktu untuk menyiapkan hal-hal terbaik bagi client mereka.
Tak ingin mengecewakan, Gladys adalah seorang pekerja keras yang menjunjung tinggi keprofesionalitasan.
"Mbak Gladys!"
Gladys mendapati seorang pekerja dapur melambaikan tangan dari arah depan, berupaya mencapai posisinya dengan jarak yang cukup luas terbentang. Mengambil inisiatif, Gladys pun ikut beranjak dari posisinya untuk menghampiri pekerja dapur tersebut.
"Ya?"
"Mbak, gawat, Mbak!"
Manna, begitu nama yang tercetak di badge name perempuan muda itu, saat ia pun menampilkan ekspresi wajah khawatir. Bahkan, ia meremas jemari tepat di depan rok span yang dikenakannya.
"Kenapa, Manna?" Gladys bertanya bingung. "Ada apa?"
"Itu, Mbak, aduh...."
Menempatkan sebelah tangan di bahu perempuan berambut pendek itu, Gladys berusaha untuk menenangkan sang pegawai. Menatapnya teduh, seakan memberi dukungan agar Manna menyampaikan apa pun yang dia hadapi.
"Kenapa? Ayo, coba katakan pelan-pelan, Man."
Membujuk, Gladys akhirnya membuat Manna berani untuk berbicara tentang keriwehan yang terjadi di dapur mereka.
"Itu, Mbak, kuenya," ucap Manna ragu-ragu. Tak hanya terlihat kesulitan untuk bicara, dia juga tampaknya menyimpan rasa takut.
"Kuenya kenapa, Man?" Gladys meminta penjelasan lebih. Dalam hati perempuan itu memohon, agar yang dibawa Manna ini bukanlah kabar buruk. Jika tidak, habislah sudah.
"Kuenya, Mbak," Manna kembali berucap. "Bagian sisi kirinya tersenggol sama Pak Darto pas beliau mindahin hidangan, jadi kuenya tampak ... rusak, Mbak."
'Oh, tidak!' Gladys hampir menjerit dalam hati. Tidak, tidak. Jangan kali ini, saat yang mereka miliki hanya beberapa jam lagi sebelum ballroom itu harus siap sedia.
"Oh, ya ampun," Gladys mendesah. "Gimana, Man? Ayo."
Manna mengangguk, mengikuti langkah Gladys yang telah lebih dulu memacu cukup cepat. Menuju pintu dapur yang tertutup tersebut, Gladys mencengkram tangannya sendiri.
Hal-hal seperti inilah yang paling ditakutkan oleh Gladys, sebab jika semuanya tak siap sesuai apa yang seharusnya siap, dialah yang akan menghadapi dan bertanggungjawab. Namun begitulah, ada saja tragedi yang terjadi di setiap pekerjaan mereka, apa pun pekerjaannya.
Mendorong pintu dapur tersebut, Gladys mendapati beberapa pekerja dapur sedang menatap pada objek yang sama. Kue pernikahan dengan taburan cokelat dan mutiara buatan, yang tingginya hampir empat tingkat. Salah satu dari orang-orang yang berada di sana tampak sangat khawatir, dan dialah Pak Darto, seorang pekerja dapur yang tak sengaja menyenggol kue itu tadi.
"Mbak Glad." Beberapa orang bersamaan menoleh, menatap was-was pada Gladys yang memasuki dapur dengan ekspresi datar. Keheningan menyelimuti dapur itu, saat Pak Dartolah yang kini bersuara lebih awal.
"Mbak, maafkan keteledoran saya." Bapak berusia hampir empat puluh tahunan itu tampak menyesal, dan Gladys tahu ini semua terjadi karena ketidaksengajaan. Dia tahu tim mereka memiliki pekerja yang baik dan kompeten, meski yah, hal-hal seperti ini memang bisa terjadi.
Memutar meja beroda tempat di mana kue itu berada, Gladys tak langsung menjawab permintaan maaf dari Pak Darto. Ia mengamati dengan cepat, menilai seberapa besar kerusakan yang terjadi di kue pernikahan yang akan mereka pamerkan tak kurang dari tiga jam lagi itu.
Dan sepertinya, rusak di sisi kiri kue itu cukup parah memang. Tak hanya lapisan krimnya yang retak dan hancur, tetapi juga mengenai badan kue yang tersusun dari banyaknya lapisan.
"Pak Darto."
Semua orang di dapur itu menahan napas. Suara Gladys menjadi satu-satunya suara yang terdengar, saat Pak Darto pun menjawab dengan tak enak.
"Ya, Mbak."
Gladys menaikkan kepala. Tadinya ia setengah menunduk untuk menilai bagian mana yang kira-kira bisa mereka perbaiki sekarang juga, sebab tak banyak waktu yang tersisa untuk memoles bekas kerusakan yang masih terpampang nyata di depannya.
Gladys tahu beberapa karyawan itu mungkin menantikan apa yang akan dia lakukan, dan kini satu-satunya hal yang bisa Gladys berikan adalah sebuah senyuman hangat.
"Enggak apa-apa, Pak Darto, ini bisa diperbaiki," berucap Gladys dengan nada lembut yang tak dibuat-buat, yang sekaligus mengangkat beban moral yang sedari tadi dirasakan oleh Pak Darto di dalam hatinya.
Jika Gladys tak salah mendengar, maka baru saja ia mendapati orang-orang di dapur tersebut mengembuskan napas dengan lega. Mungkin, mereka bersama-sama menahan napas sejak beberapa detik lalu.
"Aduh, syukurlah, Mbak," Pak Darto tak bisa lebih bersyukur daripada ini. Tadinya dia telah mempersiapkan diri jika Gladys akan memberinya hukuman, namun lihatlah bagaimana perempuan 27 tahun itu malah mengatakan hal-hal baik untuk membuatnya lebih tenang.
"Sekarang yang lain boleh kembali bekerja," ucap Gladys masih dengan senyuman yang tersisa di pinggir bibir. "Ingat, kita hanya punya waktu dua jam lebih hingga acara dimulai, maka mari perkecil kesalahan dan berikan yang terbaik untuk hari ini. Ada yang perlu dibantu lagi?"
Sebagian besar pekerja dapur kompak menggeleng, menjawab dengan ramah dan senang pada Gladys. Ini bukanlah pekerjaan pertama mereka bersama perempuan energik itu, dan mereka tahu Gladys pasti bisa mengatasi hal ini.
"Baiklah kalau begitu," Gladys bahkan bertepuk tangan untuk mengobarkan semangat. "Kembali bekerja lagi, semuanya!"
Kompak mengambil posisi masing-masing, para pekerja dapur tadi melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat terhenti. Gladys sendiri masih memandangi kue pernikahan itu, yang lantas bergumam kecil sebelum kembali bersuara.
"Pak, bisa tolong sediakan bahan-bahan untuk melapisi bagian sini?" Menunjuk pada sompel dan retakan di permukaan terluar sisi kue, Gladys sudah bersiap-siap.
"Gunakan saja warna yang hampir serupa, sekalian lelehkan cokelat dengan mentega. Bawakan spatula ukuran yang paling kecil, juga beberapa gram kacang almond potong."
Mengangguk, Pak Darto tahu apa yang harus ia lakukan.
"Baik, Mbak."
"Saya tunggu di sini, Pak."
Pak Darto sudah berbalik badan untuk mengambil apa yang diminta Gladys, saat perempuan itu juga berbalik untuk menuju arah ruang ganti. Mengambil sebuah apron berwarna putih cerah yang ia gunakan melalui kepala, Gladys mengikat dengan cepat apron tersebut hingga melekat tepat di bagian depan tubuhnya.
Mengambil head cover yang juga berwarna putih terang untuk menutupi rambut, Gladys bertransformasi menjadi seseorang yang terlihat berbeda.
Merogoh ponsel dari saku celana jeans yang tersembunyi di sebalik apron, ia menelepon seseorang.
"Halo?"
"Lang, gue di dapur," ucap Gladys cepat. Perempuan itu memiringkan kepala untuk menahan ponsel di daun telinga dan bahu, saat ia sudah bergerak untuk menuju westafel.
"Hah?"
"Kuenya rusak, sedikit," Gladys memberi info. "Lo bisa pastiin di dalam juga udah oke semua, nggak?"
Seharusnya Gilang hanya bertugas untuk memastikan area luar dan pengisi acara stand by dan siap sebelum acara itu dimulai. Namun telepon dari Gladys ini berarti, lelaki itu juga harus memastikan bagian dalam ballroom tertata dengan baik.
"Lho? Kok bisa, Glad? Parah nggak?"
Gladys sudah menyalakan keran dengan sebelah tangan, disusul dengan memencet tabung berisi sabun berwarna hijau lumut beraroma mint.
"Sedikit sih, cuma cukup dalam," ia menjelaskan situasi kerusakan kue tadi. "Tapi nggak apa-apa, gue bisa perbaiki. Makanya lo liatin di dalam juga, gue akan usahakan kuenya siap sebelum mepet."
Gilang tak memiliki pilihan selain menganggukkan kepala.
"Okay, Glad."
"Thanks, Lang."
"Any--"
Belum sempat Gilang menyelesaikan salam terakhirnya, Gladys sudah memindahkan posisi ponsel ke dalam saku apron bagian depan. Beralih untuk mengenakan sarung tangan, ia tersenyum saat mendapati Pak Darto sudah membawa semua bahan-bahan yang dimintanya tadi.
"Mbak, sudah di sini, ya."
Gladys mendekat.
"Thanks, Pak," ucapnya tulus. Bersiap untuk mengambil ancang-ancang, Gladys menoleh ke arah pria paruh baya itu. "Pak Darto boleh bantu yang lain, biar saya yang selesaikan ini. Setelah ini selesai nanti, minta tolong dipindahkan ke tempat yang aman ya, Pak."
Manik Pak Darto berbinar. "Baik, Mbak. Terima kasih banyak, Mbak."
Gladys mengangguk sekali lagi, bersamaan dengan berbaliknya tubuh Pak Darto dari kue yang menjulang tinggi tersebut. Meninggalkan Gladys yang kini menaruh perhatian penuh pada sang kue, yang kini diberinya senyuman lebih dulu.
"Hallo, Sweet." Semuanya juga tahu kalau Gladys selalu menyebut kue yang dihiasnya dengan sebutan 'sweet'. Karna menurut Gladys, semua kue memang manis.
"Izinkan aku memperbaikimu sebentar, ya," ucapnya lagi. Tangan perempuan itu terulur untuk mencelup krim yang tersedia, memastikan lebih dulu teksturnya cukup baik untuk digunakan. "Kau pasti merasa tak nyaman karena retakan ini, tapi tak apa. Biar aku membuatmu kembali sempurna."
Ucapan Gladys yang mengudara itu membuat beberapa pekerja dapur saling tatap dan menebar senyum, ikut merasa senang saat Gladys tampak mulai cekatan memoles kembali sisi kue yang tadinya benar-benar berantakan. Manik perempuan itu tampak melebar penuh minat, selaras dengan gerakan tangannya yang berputar sempurna.
Tanpa diketahui oleh perempuan berambut indah itu, seseorang sedang memperhatikannya dari ujung pintu. Tersenyum, lelaki itu memancarkan sinar pesona yang yang bisa dia sembunyikan.
Tubuhnya tak bergerak sama sekali, dan perhatiannya bahkan tak teralihkan meski sudah beberapa menit berlalu. Sebuah gantungan berwarna biru cerah berada di lehernya, yang menahan name badge lelaki itu di bagian bawah.
Gilang Andrian.
~Bersambung