"Masih ada lubang yang menyisakan hampa di sudut hati ini. Hanya saja, tak mampu lagi kuisi dengan benar, sebab sepertinya masih ada bagian dari kehidupanku yang belum kembali." ~Evander Yudiswara.
***
Persis saat Gladys tenggelam dalam adonan krim dan potongan kacang almond, maka di belahan bumi lain ada seseorang yang baru saja terbangun dari tidur.
Menyingkap penutup mata yang membantunya terlelap untuk beberapa jam belakangan, Evander memaksa kesadarannya kembali saat suara khas milik Arendra samar-samar terdengar.
"Van."
Panggilan itu mengalun lembut, khas Arendra yang memang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi yang sangat baik. Semenjak pertemuan yang terjadi di rumah sakit enam tahun silam, saat Evander membuka matanya setelah sekian lama tertutup, Arendra resmi menjadi seseorang yang berada di sampingnya.
Menemaninya, mendampingi lelaki muda itu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Lingkungan yang, tanpa Evander sadari, adalah buatan yang dipersiapkan oleh Tomi Yudiswara sebaik mungkin.
"Kita sudah tiba?"
Suara parau milik Evander terdengar pelan. Menegakkan tubuh yang tadi sempat berbaring, lelaki yang telah bertransformasi menjadi salah satu pembisnis sukses itu pun semakin mendapat kesadarannya kembali.
"Hampir tiba," ucap Arendra yakin. Memeriksa waktu, dia berusaha untuk memberikan perkiraan waktu yang lebih akurat. "Dua puluh tiga menit lagi, Evan. Kau bisa bersantai sebentar lagi, sebelum acara panjangmu akan dimulai."
Penerbangan yang mereka tempuh ini adalah penerbangan cukup panjang yang dimiliki Evander dalam beberapa tahun terakhir. Tepat setelah ia tersadar di rumah sakit di kota New York kala itu, Evander kembali pada rutinitas yang "katanya" adalah kehidupannya dulu.
Meski merasa asing pada awalnya, namun lelaki muda itu berusaha sangat keras untuk menjalani setiap hari demi hari. Dengan terapi dan obat yang terus diresepkan dokter selama beberapa bulan pertama, Evander mencoba untuk mendapat ingatannya kembali.
Tak ada yang tersisa dari kecelakaan naas itu, selain ingatan Evander yang masih berupa kepingan tak berbentuk. Sekuat apa pun ia mencoba mengingat, mencoba menjelaskan potongan demi potongan itu, nyatanya segala hal masih tetap sama untuk Evander.
Dia masih tak mengingat apa-apa, saat akhirnya ia menyerah untuk mengembalikan ingatan itu. Hidup sebagai seorang Evander Yudiswara yang baru mungkin menjadi pilihan yang tepat, saat kemudian ia pun merasakan ritme hidup yang mulai teratur.
Menjadi pewaris jaringan hotel raksasa yang susah payah dibangun oleh sang ayah, yang sebentar lagi sudah berencana pensiun. Setidaknya, setelah Evander resmi menikahi tunangannya.
"Kita akan lama di sini, Are?" Sebelah tangan Evander terulur, menarik sebuah gelas bening berisi jus jeruk yang terasa cukup manis. Berada di kelas bisnis untuk tempuhan jarak yang terbentang ratusan kilometer, ternyata cukup membuat tenggorokan lelaki itu mengering.
"Mungkin sekitar ... setengah tahun?" Arendra menjawab. Duduk persis di sebelah tuan mudanya, Arendra sudah menganggap Evander sebagai adiknya sendiri. "Tapi bisa jadi lebih lama dari perkiraan kita, Evan. Atau mungkin, akan lebih cepat. Kenapa? Kau ingin kita segera kembali ke New York?"
Evander masih menyisip jus berwarna kekuningan itu di tepian bibir. Setelan kemeja berliris yang ia gunakan saat ini, sungguh berhasil membuat aura ketampanan lelaki itu terlihat sempurna memancar.
Dengan irisnya yang menatap lurus ke depan, Evander terlihat berpikir.
"Tidak," kata lelaki itu setelah beberapa teguk jus yang melewati kerongkongannya. "Hanya saja, yah, seperti yang kau tahu, Are. Aku tak ingin lama di sini, sebab khawatir dia akan mengganggu dan memintaku untuk bertemu dengannya terus. Dia terlalu ... berisik, kau tahu?"
Tawa kecil Arendra terdengar cukup renyah. Lelaki yang menuju usia matangnya itu masih betah sendiri, sebab dia terlalu dalam tenggelam dalam urusan pekerjaan.
"Astaga, Evan!" Arendra menaikkan nada suaranya tak sengaja. Memperbaiki posisi tubuh, ia bahkan menolehkan kepala untuk menatap Evander dengan sungguh-sungguh. "Hanya kau yang berpikir seperti itu untuk tunanganmu, Evander. Bukankah kau menyukainya sejak pertama kali kalian bertemu, hah? Benar, kan? Lantas, kini kau berkata dia berisik? Astaga."
Evander menaikkan bahu. Tadinya ia masih memegangi gelas berisi jus jeruk itu, namun kini sudah dikembalikannya ke meja di samping sana. Menyandarkan kembali tubuh gagah dan bidangnya ke kursi, Evander tampak tak ingin ambil pusing.
"Entahlah," ia separuh menggumam. "Hanya saja, yah, seperti itu, Are. Sulit untuk diungkapkan, meski aku tahu dia sebenarnya sangat tertarik dengan pertunangan ini."
Arendra masih terlihat menampilkan senyum. Mendapati ada sinar berbeda yang terlihat dari sorot mata Evander, seperti sesuatu yang tak bisa lelaki itu ungkapkan untuk dirinya sendiri.
"Kau tahu, Are?" Kali ini Evander yang menolehkan kepala ke arah sang asisten. Meski umur keduanya cukup banyak terpaut, namun kedekatan antara mereka sudah terlalu dekat bagaikan adik dan abang. "Tahukah kau apa yang tak kumiliki di dunia ini, Are?"
Arendra hening untuk beberapa detik pertama. Percakapan mereka tadi hanyalah percakapan umum seperti biasa, namun sepertinya kini Evander mulai mengarah untuk lebih serius.
"Hmm?" Hanya bisa berdeham, Arendra menunggu hingga Evander menampilkan senyum samar di sudut bibirnya.
"Ini mungkin berlebihan," ucap lelaki muda itu. Mengusap rambut yang sempurna tertata, Evander terbiasa untuk berpenampilan rapi sekarang. Sebab kini dia bukan hanya seorang lelaki muda yang tampan dan sibuk, namun juga salah satu pewaris yang cukup diperhitungkan di dunia bisnis.
"Aku hanya merasa masih ada sebagian dari diriku yang belum kembali," ucap Evander seraya menerbangkan pikirannya ke angan-angan. Setengah menerawang, lelaki itu bahkan melipat kedua tangan di depan dadaa. "Kau tahu? Aku memang tak mendapat sedikit pun ingatanku, setelah pertemuan kita pertama kali di rumah sakit kala itu. Dan kini, memang semuanya tampak baik-baik saja."
"Kau memang baik-baik saja, Evan," ucap Arendra menyela. "Segalanya yang kau dapatkan dan kau miliki saat ini, memang merupakan posisi dan tempat di mana kau seharusnya berada, bukan?"
Kembali lagi pada kebohongan yang telah terlanjur terucap selama bertahun lamanya, tidak ada satu celah pun bagi Evander untuk melihat sisi kehidupannya yang lain. Yang tersembunyi, yang belum terkuak tak peduli bertahun sudah berlalu di belakang sana. Tempat di mana kehampaan masih bersemayam, yang tak bisa Evander isi dengan apa pun.
Segalanya menghilang, tergantikan dengan hal-hal baru yang tidak dia inginkan dulu. Tidak, sebelum kecelakaan itu terjadi dan menghapus semua memori yang ia punya. Terlebih, memori tentang seseorang yang dia tinggalkan dalam kubangan kesedihan.
"Aku tahu," Evander menyahut, di sela-sela pengumuman dari sang pilot yang mengatakan bahwa pesawat mereka mulai bersiap untuk mendarat. "Segalanya tampak sempurna kini, Arendra. Kurasa ada banyak orang yang menginginkan tempat ini untuk menjadi tempat mereka, benar, kan?"
Anggukan Arendra menjadi balasan yang setimpal. Tentulah. Siapa kiranya yang tak ingin menjadi seorang Evander Yudiswara?
"Namun lagi-lagi, aku tak bisa membohongi diri sendiri, Are," Evander berbicara pelan sebelum mengela napas. "Dengan semua hal yang terasa baru ini, aku masih terus merasakan bahwa ada sesuatu yang belum kembali dari kehidupanku yang dulu. Sesuatu yang ... bagaimana ya mengungkapkannya?"
Arendra merasa tubuhnya menegang. Selain sang tuan besar yang melarangnya untuk mengungkap kehidupan lama Evander, dia pun menyadari betapa dia sudah terlanjur masuk dalam permainan kebohongan ini.
Sebagai seseorang yang sudah begitu lama mengabdikan diri pada keluarga Yudiswara, tentulah Arendra memahami setiap hal yang terjadi. Terutama, kejadian yang mengakibatkan perselisihan antara tuan besar dan tuan muda mereka.
Arendra menjadi saksi hidup tentang bagaimana Evander meninggalkan segala hal yang dia punya di belakang sana, hanya untuk mempertahankan cinta yang dianggap sepele oleh ayahnya sendiri. Kepergian yang ... akhirnya berujung dengan kejadian menyedihkan untuk banyak pihak.
Kini masih menjadi saksi untuk bagaimana Evander kembali ke tempatnya berasal, Arendra memegang kunci penuh. Sebab pastinya, segala hal itu tak luput dari ingatan sang asisten tampan pula.
"Evan."
Evander menyeringai. Memamerkan deretan giginya yang tertata rapi dan bersih, ia sungguh merupakan cerminan lelaki idaman bagi setiap wanita. Dan betapa beruntungnya salah satu perempuan di tanah air itu, yang memang sudah berstatus menjadi tunangannya.
"Aku tak ingin memperpanjang ini," Evander menarik napas. Menegakkan tubuh saat pesawat itu menukik untuk mengambil ancang-ancang pendaratan, Evander masih bersuara samar. Pelan, namun cukup jelas untuk ditangkap oleh telinga Arendra.
"Kepingan ini mungkin masih menginginkan aku agar tetap mencari, Are," bisik Evander lirih. Menatap pada bagian bangku penumpang yang sama-sama berada di kelas bisnis tersebut, Evan belum berhenti bicara. "Mungkin, suatu saat nanti kehampaan ini akan terisi. Entah oleh kenangan yang lebih baik, atau mungkin oleh kenangan itu sendiri, yang tiba-tiba kembali. Entahlah, aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa untuk mengatasi ini semua."
Dan Arendra memutuskan untuk tidak lagi menanggapi perkataan tuan mudanya yang terakhir kali, sebab dia memang sebaiknya memilih untuk mengatupkan bibirnya rapat-rapat saja.
Tak ada gunanya berbicara tentang masa lalu, bukan? Lagi pula, saat itu semuanya terasa tak benar dan terlalu naif. Jika dia menjadi Evander pun, Arendra mungkin berpikir akan melakukan hal yang sama.
Sebab segalanya tak dipikirkan matang-matang. Sebab keputusan itu hanya keputusan yang dilandaskan oleh emosi sesaat. Setidaknya, seperti itulah yang dianggap oleh Tomi Yudiswara pada sang putra.
Guncangan pelan akibat roda pesawat yang mengenai landasan membuat tubuh Evander bergoyang samar, saat lelaki itu pun tak sama sekali bersuara lebih lanjut.
Pengumuman melalui pengeras suara terdengar jelas, yang menandakan bahwa mereka baru saja mendarat dengan selamat di bandara internasional Soekarno Hatta di Jakarta. Ibukota dari Indonesia yang dipadati oleh banyaknya penduduk, dan di sanalah Evander harus menetap untuk minimal setengah tahun lamanya.
Pesawat udara itu belum sepenuhnya berhenti, tepat saat Arendra tiba-tiba mendekat untuk berbicara separuh lirih.
"Kuharap kau akan menemukannya, Evan."
Kalimat yang mengudara begitu tiba-tiba, hingga Evander yang mendengar pun terlihat tak siap. Hanya menolehkan kepala, lelaki itu menaikkan kedua alis tanda tak mengerti.
"Hah?"
Arendra tersenyum tipis.
"Kehampaan yang kau katakan tadi," ucap Arendra kini, lebih jelas terdengar. Raut wajahnya tampak serius, sekaligus menyimpan rahasia yang bisa saja sengaja ia sembunyikan. "Kuharap kau menemukannya kembali. Entah apa pun alasan dari kehampaan itu, aku berharap kau segera menemukannya. Jika itu tidak di New York, mungkin saja di sini."
Evander mengerutkan kening. Tak percaya dengan apa yang dia dengar, dia bahkan refleks menahan sebelah lengan Arendra saat lelaki itu hendak bangkit dari kursinya.
"Apa maksudmu, Are?" tuntut Evander tak sabar. "Di sini?"
Arendra menunduk, saat Evander tampak setengah mendongak. Pegangan tangannya di lengan Arendra belum sama sekali terurai, setidaknya hingga ia mendapat jawaban yang setimpal.
"Kau pernah di sini, Are," ucap Arendra begitu saja. Ia tak tahu apakah yang dia lakukan ini benar atau tidak, tetapi sebagian dari dirinya merasa Evander mungkin memiliki hak untuk mengembalikan kenangan yang tak lagi utuh tersebut.
Semakin kebingungan, Evander lantas menggeleng pelan.
"Katakan lebih jelas, Are," pinta lelaki muda itu, separuh menyimpan rasa sanksi dan tak percaya. "Apa maksudmu aku pernah di sini?"
Arendra bergerak seraya melepaskan cengkraman Evander dari lengannya, lantas menaruh tangan tuan muda tersebut kembali ke pangkuan dengan sangat sopan. Sorot mata Evander yang belum beranjak meminta agar Arendra menjelaskan lebih rinci, saat hanya ada satu fakta yang dapat Arendra berikan pada Evander kali ini.
Menganggukkan kepala, Arendra kembali membiarkan suaranya terdengar.
"Kota ini, Evan," katanya mengambil jeda dua detik. "Kau pernah hidup di sini. Dulu sekali. Tak bisa kujelaskan lebih banyak, tetapi kau terlihat bahagia kala itu."
Evander masih menyisakan beberapa kerutan di keningnya, saat Arendra sudah lebih dulu bergerak untuk menenteng backpack berwarna biru laut yang meneduhkan mata. Memutus kontak pandangan dengan sang tuan muda, Arendra berharap agar apa yang dia lakukan ini, tidak di luar dari batas yang dapat Evander terima.
Membiarkan Arendra lebih dulu bersiap daripada dirinya, Evander sudah tenggelam dalam lamunan.
'Aku pernah di sini?' Lelaki itu berbicara dalam hati pada dirinya sendiri. 'Kapan? Apa yang aku lakukan di kota ini? Dan kenapa ... aku terlihat bahagia?'
~Bersambung