Chapter 11 - Am I Dreaming? (I)

2239 Words
"Bagaimana caraku menatap dunia kini tak lagi pernah sama. Di sebalik segala hal yang tampak sempurna, sebenarnya aku masih menyimpan luka." ~Gladys Amara. *** Bagi Gladys, hotel selalu sama saja. Bangunan megah dengan interior dan eksterior yang mungkin membuat beberapa orang berdecak kagum, yang tak jarang pula memiliki banyaknya fasilitas memadai. Berlomba-lomba untuk menjadi pilihan bagi para pengunjung, hotel tentunya juga terkenal dengan pelayanan yang sangat mumpuni. Dan memang seperti itulah, Hotel Yudiswara yang terkenal. Yang tiba-tiba saja masuk ke dalam percakapan yang sedang dimiliki Gladys dan timnya, yang lantas membuat gerakan tangan perempuan itu terhenti terulur. Tadinya sedang menikmati potongan kentang goreng yang tersaji di meja mereka, Gladys tiba-tiba saja hening dan memaku. "Itu beneran," celetuk salah satu staff pelaksana, yang bekerjasama dengan Gladys dan beberapa orang lainnya untuk perhelatan pernikahan megah baru saja. Gladys diam-diam memasang telinga, melebarkan radar indera pendengarannya tinggi-tinggi. "Hotel Yudiswara itu terkena dengan manajemennya yang sangat kuat," sambung Arisa, salah satu staf yang bertanggungjawab untuk dekorasi dan furniture. Menjatuhkan beberapa balok es batu pada birnya yang masih setengah dingin, perempuan berambut panjang itu melanjutkan. "Seorang temanku bekerja di sana baru-baru ini," ucapnya lagi. "Dia berkata dia menerima penawaran yang sangat bagus untuk rate gaji, ditambah lagi dengan banyaknya tunjangan yang diberikan pada karyawan. Tak main-main, kalian tahu apa reward mereka untuk pelayanan terbaik?" Gladys masih mengatupkan bibir rapat-rapat. Berakting seakan dia tak tertarik dengan obrolan malam ini, padahal dia berusaha menyerap informasi tanpa tertinggal satu pun. "Apa, apa?" Emil, staf yang bertugas untuk memastikan daya lampu dan sound system menyala, tampak begitu antusias. "Bonus jutaan?" Delapan pasang mata yang mengitari meja bundar tersebut tampak menunggu dengan tak sabar. Sebagai insan yang memang berkecimpung dalam urusan organizer dan perhotelan, sepertinya bahasan tentang benefit ini akan meningkatkan imunitas. Jika ada yang belum bersuara sejak tadi, maka dapat dipastikan itu adalah Gladys yang pura-pura polos, dan Gilang yang masih sibuk memperhatikan setiap gerak gerik perempuan itu. "Bonus mah lewat, Mil," Arisa menaikkan nada suara, semakin membuat penasaran dengan senyum misterius dan alis yang sengaja dinaikkan. "Bukan cuma itu, tapi juga liburan ke Eropa. Bahkan, mereka juga memberi opsi deposito atau emas, hingga satu unit rumah. Gila nggak, tuh?" Emilio Bari tampak tercengang. Tak hanya tercengang, namun juga tertegun bak kehilangan kata-kata. Benarkah ada hotel yang memberikan reward sebegitu banyaknya untuk karyawan? Saat yang biasanya ia dapatkan di hotel ini hanyalah bonus yang itu pun tak sampai dua bulan gaji. "Benarkah? Ah, gila bener!" Refleks meninju meja bundar itu, Emil mungkin baru saja berpikir untuk mencoba peruntungannya di hotel Yudiswara yang terkenal tersebut. "Iya, Mil," Arisa menyambung. Belum ingin berhenti membicarakan subjek yang sama, perempuan itu bahkan menyimpan sisa terbaiknya di belakang. "Ada lagi, nih! Denger-denger hotel itu bakal diambil alih sama pewaris tunggalnya yang masih lajang dan hot item banget! Dan yang lebih gila, dia seumuran sama kita, Man! Dunia emang sebercanda ini, Brow!" Saat Emil kembali membelalakkan mata, maka saat itu pula Gladys tersedak minumannya sendiri. Tadinya berniat untuk membasahi kerongkongan yang kering kerontang, perempuan itu malah hampir menyemburkan birnya saat mendengar apa yang Arisa ucapkan. 'Benarkah?' "Glad?" Menyodorkan beberapa helai tisu ke hadapan Gladys, Gilang sudah mendekatkan tubuhnya pada tubuh sang kolega. Duduk bersisian, keduanya tak sulit untuk memangkas jarak yang ada. "Thanks, Lang." Mengelap tepian bibirnya dengan tisu, Gladys mengerjap saat Emil dan Arisa pun ikut menatapnya. Mungkin, ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja. "Gue baik-baik aja," Gladys berinisiatif memberi tahu. "Beneran." Saling mengangguk, Emil dan Arisa pun melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda. "Eh sampe mana, Sa? Ayo, lanjut! Jadi, Hotel Yudiswara bakal punya pemimpin muda, gitu?!" Arisa sudah tersenyum dan mengangguk yakin. Rumor seperti ini sangat mudah tersebar, dan tentunya tak sulit bagi Arisa yang memang bekerjasama dengan banyak orang itu, untuk mendapat info paling update. "Denger-denger sih begitu," Arisa mengiyakan. "Katanya sih dia bakalan jadi the next hottest CEO di jaringan perhotelan, tapi sayang udah mau merried sama salah satu model juga." Tak ada yang lebih menyakitkan bagi Gladys, selain tenggelam dalam lamunan dan rasa sakit yang masih membelenggu di sana. Mungkin tak ada satu pun rekan kerjanya ini yang mengetahui perihal masa lalu yang pernah ia punya, bersama seseorang yang sedang mereka bicarakan sekarang. Jika pewaris hotel Yudiswara yang menjadi subjek pembicaraan Emil dan Arisa adalah orang yang sama, maka bukankah dia adalah seseorang yang pernah hadir di kehidupan Gladys bertahun yang lalu? Bertahun, saat lelaki muda itu bersikeras takkan mengambil alih sedikit pun perusahaan keluarganya. Bertahun, saat Gladys masih mengingat dengan jelas bagaimana lelaki itu menggenggam tangannya, lalu bertanya apa dia bersedia hidup pas-pasan karena telah meninggalkan segala aset yang menunggu di belakang sana. Sekaligus bertahun lamanya, saat peristiwa menyedihkan itu terjadi dan membuat Gladys sejenak lupa akan arti bahagia. Dunianya yang runtuh berkeping-keping saat itu, sungguh dia coba tata dengan tertatih-tatih hingga kini dia dapat dikatakan cukup memiliki pekerjaan yang baik. Hampir saja harapan itu menyeret Gladys dalam gudang kenistaan, saat syukurnya keberadaan Priscil di sisinya menjadi salah satu faktor yang menguatkan perempuan itu untuk tetap berdiri setegar karang. Dan kini, semesta dengan mudahnya membawa kabar mengenai seseorang itu kembali terdengar. Semudah bagaimana rekan Gladys membicarakan Evander, seperti itulah Gladys masih merasa denyutan di dadaanya. "Lo nggak apa-apa, Glad?" Sapaan Gilang membuyarkan lamunan, yang tak disadari Gladys telah dilakukannya untuk beberapa saat silam. Tersentak, Gladys memaksa senyum. "Eh? Nggak apa-apa, Lang," katanya cepat. "Kenapa?" Arisa dan Emil masih tenggelam dalam pembicaraan mereka tadi, saat Gilang-lah yang menangkap ekspresi hambar di wajah Gladys. "Kita pergi dari sini?" tawar lelaki itu perlahan, lembut sekali. "Nggak terasa udah semakin malam, Glad." Gladys melirik arloji yang ia kenakan di pergelangan tangan kanan. Memeriksa waktu, mendapati hampir tengah malam saat ia pun merasa tubuhnya sudah mulai keletihan. Segala rangkaian acara dari pernikahan tadi pastilah melelahkan, namun memang seperti itu pula kebiasaan para staff setelah menyukseskan sebuah acara. "Hm mh," Gladys berdeham. Meraih gelas bundar yang berisi sisa bir dinginnya tadi, ia menenggak cairan kecokelatan itu dalam beberapa tegukan. Berharap dia sebaiknya mabuk saja malam ini, agar dia tak perlu memikirkan tentang objek yang sama lagi. Lelaki itu. Lelaki yang pernah di sana. Samar-samar mendengar Gilang berpamitan pada Emil dan Arisa, Gladys turun dari kursi yang ia tempati. Melambaikan tangan, perempuan itu menyamakan langkah dengan langkah Gilang yang berada di sampingnya. Manik Gladys hampir berkunang, saat Gilang masih berada di sana untuk memastikan perempuan itu tak salah melangkah. "Lo bawa mobil, Glad?" Lagi-lagi Gilang yang menjadi pemecah kesunyian antara mereka. Melirik ke arah Gladys yang tampaknya menatap lurus ke depan, Gilang menduga perempuan itu mungkin sedang memikirkan sesuatu. "Iya, Lang," Gladys menjawab samar. "Sebenarnya kepala udah mulai berat, tapi nggak apa-apa nyetir sendiri ajalah, mau naik taksi besok pasti repot balik-balik sini lagi." Gladys menolehkan kepala. Mendapati Gilang--salah satu rekannya tersebut masih menatapnya dalam, perempuan itu tersenyum. "Gue udah bilang belom kalo gue bakal resign, Lang?" Gladys bertanya. Menghentikan langkah tiba-tiba, perempuan itu berbalik untuk berhadapan dengan Gilang sekarang. "Hm?" Gilang benar terkejut. "Resign? Kenapa, Glad?" Gladys terlihat menarik napas dalam-dalam. Beberapa tahun berada di industri seperti ini, Gladys sudah terlalu sering merasa keletihan hingga di ambang batasnya. Belum lagi percakapan serupa mengenai hotel Yudiswara yang bukan pertama kali Gladys dengar, membuat perempuan itu merasa semakin tak nyaman untuk tetap bertahan. Diam-diam, dia sudah menyiapkan rencana lain. Menabung bertahun belakangan, Gladys berencana untuk membuka toko roti dan restorannya sendiri. "Gue berencana untuk buka toko sendiri, Lang," ucap Gladys dengan senyum yang tiba-tiba merekah. Memikirkan akan memiliki sesuatu di bawah kendalinya sendiri, membuat dadaa Gladys berdebar-debar. "Temen gue nawarin untuk sharing modal dan profit, join gitulah. Cuma memang masih gue pertimbangkan, sekaligus ngumpulin modal punya gue." Gilang mendesah. Ada satu alasan yang membuatnya betah berada di tim EO yang bekerjasama dengan Gladys tersebut, yang salah satunya adalah karena keberadaan perempuan itu di sana. Gilang Andrian memiliki satu rahasia yang tak ia buka pada siapapun, termasuk pula pada Gladys, yang menyangkut tentang bagaimana hidup lelaki itu sebenarnya. "Lo serius? Hei, Glad please jangan bercanda?!" Gilang mundur dua langkah saat Gladys tampak mendekat ke salah satu kursi taman. Tadinya berencana untuk langsung menuju parkiran yang berada di sayap kiri hotel, tahu-tahu langkah keduanya terhenti persis di jalan yang menuju taman. Ditemani langit di atas sana yang kian menggelap, syukurnya masih ada tiga hingga lima bintang yang bersinar. Menghela napas, Gladys menengadahkan kepala ke atas. Memandangi langit yang sama, yang selama ini memayunginya dari segala rasa. "Tapi masih lama, mungkin," Gladys mendesah samar. Mengangguk pelan, seiring tatapannya yang kembali bertumbuk pada iris cokelat yang dibingkai kelopak mata cukup tegas milik Gilang. "Yah, butuh waktu untuk mengajukan itu semua, kan?" Gilang menanggapi. "Lo tahu sendiri gimana Bu Priska, Glad. Dia pastilah nggak bakal ngelepasin lo gitu aja. Iya, kan?" Gladys tersenyum tipis. "Coba lo pikir, Glad," Gilang menyambung. "Di mana lagi dia bakal dapatin staf yang ten in one kayak lo? Bisa-bisa dia nyari ke seluruh Jakarta pun, kagak bakal ketemu, sih." Tawa Gladys semakin terdengar menggema. "Eh, bener, kan?" Gilang menekankan. "Gladys Amara, yang sangat-sangat kompeten di setiap pekerjaan. Yang bisa ngurus klien, bisa ngurus dapur, bisa pula ngurus dekorasi dan pernak-perniknya, pokoknya lo serba bisa, kan, Glad? Gue yakin Bu Priska nggak akan semudah itu ngizinin lo pergi." Gladys menyisakan senyum kali ini. Tiga tahun sudah bergabung dengan tim di mana ia bekerja dan berkarya untuk mewujudkan fantasi banyak orang akan pernikahan megah, Gladys mulai merasa jenuh akan segala hal. Dia memastikan para calon pengantin itu bahagia, puas dengan setiap detail bahkan hal kecil yang dia dan timnya lakukan. Bahkan dia memilih sendiri pilihan hidangan yang harus disajikan, hingga memastikan rasanya takkan mengecewakan. Dan rutinitas seperti itu, ternyata sudah membuat Gladys mulai merasa lelah akan semuanya. "Gue mungkin akan pertimbangkan lagi, tapi sepertinya hasil akhir nanti nggak akan jauh beda, Lang," Gladys berujar. Menampilkan binar mata yang Gilang tatap dalam-dalam, Glayds berupaya untuk menahan diri dengan sangat baik. "Apa pun nanti keputusan dan hasilnya, Lang, doakan yang terbaik untuk gue, ya." Gilang belum berkata-kata, saat Gladys sudah kembali bangkit dari tepian kursi taman tadi. Meregangkan kedua tangan ke udara, ia layaknya seseorang yang sedang membuang sisa-sisa rasa penat. Mengikuti apa yang dilakukan Gladys, Gilang mau tak mau ikut bangkit pula. "We glad to have you, Glad," ucap Gilang tiba-tiba. Mengambil posisi tepat di sebelah Gladys, lelaki itu menampilkan senyum manis. "Tim takkan terasa sama kalo lo nggak ada, Glad, percayalah. Gue ingin yang terbaik, tapi mudah-mudahan keputusan lo ini bisa lo pertimbangkan kembali." Gilang tahu dia takkan mengubah apa-apa. Dia pun tak berhak untuk menahan perempuan itu pergi, saat Gladys tentunya memiliki hak pilih penuh atas kehidupan yang ia jalani. "Thanks ya, Lang," Gladys tersenyum sumringah. "It's also glad to have you as my friend, Lang." Mereka hampir tiba di area parkir, saat Gladys merogoh ke dalam tas sandangnya untuk menemukan kunci mobil. Gilang masih di sana untuk menunggu rekannya itu berlalu lebih dulu, saat suara desahan yang cukup mengganggu terdengar dari arah belakang mereka. Mengernyitkan dahi, Gladys mengedarkan pandangan. "Lang, suara apaan, sih?" Berputar tubuh keduanya untuk mencari ke sumber suara, saat kemudian siluet seorang wanita dari salah satu mobil terlihat oleh Gladys dan Gilang secara bersamaan. Kompak membelalakkan mata, Gladys dan Gilang bahkan kehilangan kata-kata. Ada yang make out di parkiran itu! Belum sempat mengambil tindakan untuk apa yang mereka saksikan kini, Gladys hampir saja tersentak saat pintu salah satu mobil yang terparkir itu tiba-tiba saja terbuka. Dua detik kemudian, seorang wanita dengan rambut blonde yang terurai sepanjang punggung tampak turun dari mobil tersebut, dengan gincu merah merona yang melapisi bibir tebalnya. Pakaian yang cukup terbuka menjadi outfit yang lantas membuat orang lain mudah menilai apa yang baru saja terjadi, saat Gladys dan Gilang pun masih terpaku dan terdiam di sisi yang lain. Tak mempedulikan keberadaan Gladys dan Gilang yang berada di parkiran serupa, perempuan itu membuang muka dan melangkah santai menuju arah pintu masuk hotel. Mendelik, Gladys hanya bisa menghela napas. "Astaga, bikin kaget aja," gumam perempuan itu pelan. Melanjutkan apa yang sempat yang tertunda, Gladys menemukan rentengan kunci mobil dan mengeluarkannya dari dalam tas. "Sampai jumpa lagi, Lang," Gladys berpamitan, bersiap untuk membuka pintu pengemudi saat Gilang membalas dengan anggukan. "Jangan lupa bawa report acara tadi ke meeting nanti, ya." Sekali lagi mengangguk, Gilang mengiyakan. "Beres, Glad. Hati-hati nyetirnya, oke?" Ia berpesan. "Kalo ada apa-apa telepon ya." Tersenyum, Gladys yang mengangguk kali ini. Menaikkan tangan untuk membalas lambaian Gilang, perempuan itu baru saja hendak menunduk masuk, saat sebuah mobil yang tadi dituruni oleh perempuan blonde itu, kini berhenti persis menghalangi mobil Gladys. Membuat perhatian Gilang teralihkan, saat Gladys pun menunggu di tempatnya dengan pintu mobil yang setengah terbuka. Menurunkan kaca, sang pengemudi memamerkan ketampanan yang memang dia miliki layaknya kado dari sang pencipta. "Sorry, tahu di mana pom bensin terdekat?" Merendahkan badan, lelaki itu terlihat berbicara pada Gilang yang berdiri tepat di depan mobil milik Gladys. Wajahnya yang terpahat sempurna kini benar-benar terlihat jelas, saat Gladys hampir saja menggigit lidahnya sendiri. 'Apa aku mabuk?' Gladys menggumam samar, tanpa suara. 'Lelaki itu....' Gilang memberitahu lokasi pom pada sang lelaki, dengan gestur tubuh yang paling sopan saat lelaki itu pun tampak tersenyum pada Gilang. "Thank you." Mengangguk, lelaki di dalam mobil tersebut kali ini tersenyum ramah. Hingga tak sengaja tatapan itu mengarah pada Gladys yang masih mematung di sana, sebelum lelaki itu benar-benar menginjak gas dan berlalu lebih dulu. Dan waktu yang dipunyai Gladys, hampir saja terhenti. Dia tak tahu apakah bumi masih berputar, atau dia sudah berada di neraka. Sebab lelaki itu, adalah lelaki yang pernah dia rindukan hingga hampir mati lemas. 'Evan?' ~Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD