Chapter 14 - Our Life Now (I)

2039 Words
"Tentulah begitu banyak hal yang baru dalam kehidupanku setelah peristiwa itu terjadi. Sesuatu yang ... terasa pas, namun tak sempurna." ~Evander Yudiswara. *** Di mata sebagian besar orang, kehidupan yang dimiliki oleh Stephanie Hartono mungkin nyaris sempurna. Cantik, tak perlu dipertanyakan lagi. Berasal dari kalangan keluarga yang cukup berada dan terpandang, itu juga sudah tak jadi rahasia umum. Dan kini, saat pertunangannya dengan salah satu putra pewaris jaringan hotel terkenal mengudara, tak ada yang dapat meragukan betapa kehidupan Stephanie benar-benar istimewa. Diberkahi dengan banyaknya hal yang sering kali dimimpikan banyak orang, Stephanie patut berbangga diri sebab dialah yang dipilih untuk mendapat kehormatan sebanyak ini. Pekerjaannya sebagai salah satu deretan pengacara muda kondang di firma hukum ternama, sekaligus menutup dengan sempurna sepenggal kisah yang dimiliki perempuan itu. Meski sebenarnya, tak seperti itulah yang sepenuhnya terjadi. Meringkuk, Steph--bagaimana dia biasa dipanggil, mencoba menarik selimut sekali lagi saat dering alarm terus memekakkan telinga. Tangan berbalut kulit halusnya terjulur, berupaya menggapai gawai yang berada di atas nakas. Dengan rambut panjang tergerai yang pagi itu separuh berantakan, Steph menggeser layar ponsel untuk membuat alarm berhenti. Masih memejam mata untuk beberapa menit kemudian, sebelum kali ini dering ponsel yang bergantian terdengar. "Astaga...." Dengan sisa kantuk yang masih menggelayut, Stephanie berusaha untuk membuka mata. Yang sayangnya, terlalu sulit untuk ia lakukan pagi itu. Sekali lagi menggapai gawai, perempuan itu memaksa kelopak matanya untuk terbuka sedikit demi sedikit. Mendapati nama seseorang tertera di sana dan berkedip, Steph akhirnya menggeser tombol telepon berwarna hijau. "Hmm?" Suara serak perempuan itu menjadi pembuka percakapan. "Halo, La?" "Steph? Lo udah siap-siap atau masih tidur?" Suara khas dari Lala Tzu membalas tanpa membuang waktu, dengan Steph yang hampir saja kembali terpejam. Tak peduli meski sebuah gawai berada di atas telinganya, sebab rasa kantuk itu masih terlalu besar menggoda. "Ha?" "Woy!" Lala menaikkan suara. Sedikit tidak matching dengan namanya yang terlalu feminin, Lala Tzu sebenarnya memiliki sisi tomboy yang malah membuatnya memesona. "Woy, Steph! Bangun! Ini udah jam berapa, ha? Bangun! Bangun! Bangun!" Teriakan Lala di ujung sana membuat Stephanie berjengit kecik, namun tak kunjung kantuknya hilang karena itu. Masih merem melek, Stephanie tahu ini adalah hari libur baginya dan dia tak seharusnya bangun sepagi ini. "La, please," Steph sebagian merengek. "Ini weekend dan gue masih butuh tidur. Bisa lo telepon balik empat jam lagi, oke?" Lala Tzu berdecak di seberang sana. Dia tahu Stephanie mungkin mengambil jatah libur yang telah belakangan ini tak diambilnya, oleh sebab sebuah kasus yang sangat memilin pikiran. Kasus tersebut baru saja usai beberapa hari yang lalu, dan sepertinya Steph layak untuk meliburkan diri barang sehari. "No, no, Steph!" Lala menahan sobatnya itu untuk memutuskan panggilan. "Oke, listen to me first. Mungkin lo akan bangun kalo denger kabar ini, ya. Ini benar-benar kabar yang penting buat lo, yang gue yakin bakalan buat lo nggak bisa tidur lagi. Mau denger, nggak? Heh, penasaran nggak?" Stephanie baru saja hendak kembali memasuki alam mimpi. Jika Lala Tzu tidak cepat-cepat berteriak di ujung telepon mereka, maka sudah dapat dipastikan Stephanie akan kembali tertidur. Kini merasa separuh kesal, Steph bahkan tak sadar meremas bantalnya. "Apaan, sih, La?" Ia bertanya ketus. "Gue ngantuk, please. Bisa kita sambung nanti?" "Denger dulu!" Lala tak ingin menyudahi ini, sebab dia sudah setengah jalan lagi. Tinggal separuh lagi. "Dengerin ya, Steph. Gue nggak bakal ngulang." Stephanie merasa semakin kesal akan waktu istirahatnya yang terpotong, tak peduli meski itu adalah Lala, sobat karibnya sendiri. Tidur tetap tidur, dan Stephanie memang tak berniat untuk pergi ke mana pun akhir pekan ini. "Gue matiin, La!" "Steph, tunggu!" Baru saja Stephanie hendak memencet tombol merah di layar, namun suara Lala sudah lebih dulu terdengar. Hanya tiga kata yang diucapkan perempuan itu, namun ternyata memang benar manjur untuk membuat Stephanie terbangun. Tidak. Tak hanya terbangun, namun perempuan itu juga membelalakkan mata dengan sangat lebarnya. Seakan tak percaya, saat dia pun begitu saja menarik tubuh untuk duduk tegak. "Evan di Jakarta," begitu ucap Lala beberapa detik lalu. Kabar yang membuat kantuk Stephanie tadi ngacir entah ke mana, yang kini tergantikan dengan kesadaran penuh. Benar-benar penuh. "Lo bilang apa, La?" tanya Stephanie dengan nada rendah, bersamaan dengan suaranya yang mulai berubah. Tak terdengar serak seperti kodok, kini suara khas itu mengalun lembut. "Evan di sini?" Lala Tzu menjentikkan jemarinya ke udara. Tersenyum bahkan hampir terkekeh, perempuan yang memiliki darah blasteran itu merasa bangga akan dirinya sendiri. Ternyata, tebakannya akan reaksi Stephanie ini memang benar adanya. "Lo belom tahu, Steph?" Lala bertanya. "Gue baru denger dari salah satu teman, katanya sih Evander udah tiba. Dia belum nelepon lo?" Stephanie mengusap surai indahnya yang kini terurai hingga menutupi pundak. Kabar ini cukup membuatnya terkejut, sebab jujur saja dia tak berpikir Evander akan datang secepat ini. "Belum." Menggeser tubuhnya untuk kini bersandar di headboard ranjang, Stephanie menyusun dua bantal besar sebagai sandaran. "Kapan dia sampe, La? Baru atau udah lama? Dia belum ada ngasih kabar ke gue, sih. Nggak tahu, ya." Lala terdengar mendesah pelan di tempatnya berada sana. Langit Jakarta tampak cerah dengan mentari yang masih bersinar malu-malu, saat Stephanie melirik sekilas pada jam yang terletak di atas nakasnya. Hampir pukul sembilan pagi. "Katanya sih malam tadi, Steph," Lala berujar yakin. "Tapi dia mungkin nggak mau ngeganggu lo, jadi dia belum nelepon. Eh, kepo nih gue. Jadi, pestanya akhir tahun ini jadi, ya? Astaga!" Stephanie sempat tersenyum tipis. Sangat tipis, sebab belum saatnya ia untuk tersenyum lebar sekarang. Memiliki status sebagai tunangan dari seorang Evander Yudiswara, Stephanie tahu itu sangat membuat banyak perempuan iri terhadapnya. Bagaimana perusahaan yang dikelola ayahnya dulu, yang kini diwariskan pada abang tertuanya berjalan, sungguhlah merupakan salah satu mitra bisnis terbaik yang dimiliki oleh hotel Yudiswara selama masanya berdiri. Tak hanya hotel Yudiswara yang harus berbangga, namun perusahaan keluarga Hartono Group juga mendapatkan banyak sekali kontrak kerjasama dan profit cerah dengan bekerjasama dengan hotel terkenal itu. Hingga muncullah ide yang awalnya dianggap Stephanie gila, saat ia mendengar dirinya berencana dijodohkan dengan sang pewaris tunggal dari hotel tersebut. Sempat menganggap pewaris itu mungkin cupu atau bujang tua, ternyata yang hadir di hadapannya adalah titisan dewa romawi yang bercampur dengan sultan. Benar-benar luar biasa. Dan Stephanie, tentu saja tak ingin melewatkan kesempatan emas dengan menjadi Nyonya Muda Yudiswara. "Eh, Steph?!" Suara Lala membuyarkan lamunan Stephanie yang mulai membumbung tinggi. "Lo masih di sana, nggak?" Menarik kembali kesadaran, Stephanie mengangguk samar. "Iya, La, gue masih ngedengerin suara lo yang cempreng ini, kok," ucap perempuan itu seraya tertawa. "Beneran, gue jadi bangun karena kabar itu, La." Gantian Lala yang tertawa senang di ujung sana. "Bener, kan? Yaudah tidur lagi gih, gue cuma mau ngasih tahu itu aja tadi, ahaha." Memang berniat untuk mengganggu sobatnya tersebut, Lala tak lama-lama hingga sambungan telepon mereka terputus. Tak membiarkan Stephanie melancarkan aksi maki-memakinya di pagi hari, Lala sudah lebih dulu menyelamatkan diri. Meninggalkan Stephanie kini yang memegangi gawai di genggaman, masih tak berubah posisi semenjak teleponnya tadi usai. Menggigit bibir, perempuan itu terlihat berpikir. Mengernyitkan dahi, dengan sebelah tangan yang mengusap dagunya tak sengaja. "Benar dia sudah di sini?" Stephanie bergumam sendiri. Membiarkan lampu kamar masih menyala terang, perempuan itu belum membuka tirai. "Jadi, kenapa tak memberitahuku?" Bertanya pada dirinya sendiri, Stephanie tahu rasanya tak aneh jika Evander--tunangannya itu, bersikap demikian. Sebab mereka sama sekali tak menunjukkan ketertarikan yang berarti, terlebih hanya Stephanie-lah yang menganggap pertunangan ini serius. Semenjak pertemuan pertama mereka beberapa bulan lalu, Stephanie sudah dapat mengambil kesimpulan betapa Evander dan dirinya belum berada di satu frekuensi yang sama. Belum, ya. Belum, bukan tidak. Dan belum, berarti bisa jadi akan segera berada di tempat serupa, bukan? Mengetuk-ngetukkan jemarinya ke dagu yang terbalut kulis halus nan mulus, Stephanie akhirnya memutuskan untuk menatap layar ponsel. Membuka room chatnya di salah satu aplikasi pesan instan bersama Evander, perempuan itu menghela napas. Terakhir, pesan yang dikirim Evander padanya sudah lebih dari sebulan yang lalu. Yang itu berarti, sebulan penuh keduanya tak saling mengirim kabar satu sama lain. Stephanie tahu kesibukan Evander sebagai seorang pebisnis muda, saat ia pun hampir tak cukup tidur setiap harinya karena seabrek kasus yang harus ditinjau dan dipelajari. Jadi kini saat kasus besarnya baru saja selesai dan Evander kebetulan sudah berada di tanah air, Stephanie berpikir mungkinkah ini saat yang tepat untuk memulai semuanya. Terkhusus, komunikasi dari dua tunangan yang tak berjalan lancar. Mengetikkan rangkaian huruf di room chat itu, Stephanie membaca sekali lagi sesaat sebelum menekan tombol kirim. Menunggu dengan d**a berdebar, perempuan itu mengerjap ketika pesannya tadi berubah dari centang satu menjadi centang dua. Namun masih abu-abu hingga semenit berlalu. 'Stephanie Hartono: Kudengar kau di Jakarta. Kau sudah tiba?' Satu pertanyaan yang berulang kali dibaca lagi oleh Stephanie. Bersamaan dengan hatinya yang mulai merasa galau, apakah ia akan menunggu pesan itu dibaca oleh Evan, atau sebaiknya dia hapus sekarang juga mumpung belum dibaca? Dan detik kemudian, dua centang itu berubah menjadi kebiruan dua-duanya. Stephanie menegang saat terlihat Evander sedang mengetik sesuatu di room chat mereka, menduga-duga apa kiranya yang akan dibalas oleh lelaki itu. Denting notifikasi yang masuk tiba-tiba membuat Stephanie berjengkit, lantas buru-buru menekan pop up untuk membuka pesan balasan dari Evander. Bola mata indah perempuan itu bergerak cepat, yang disusul dengan terbitnya senyuman kecil di sudut bibir. 'Evander Yudiswara: Aku tiba malam tadi. Maaf tidak memberitahumu. Kau baik-baik saja?' Pesan itu terdengar biasa saja bagi sebagian besar orang, mungkin, namun tidak sesederhana itu bagi Stephanie. Ia hampir saja meloncat dari tempat tidur sekarang juga, sebab rasanya Evander sudah benar-benar merespons apa yang dia lakukan. "Dia menanggapi pesanku dengan sangat baik," gumam Stephanie kali ini. "Apa dia baik-baik saja? Tidak biasanya dia seperti ini, kan?" Mengetikkan balasan kembali, Stephanie tak membuang waktu. 'Stephanie Hartono: Kau ada waktu? Mari bertemu siang ini. Kebetulan aku libur.' Menunggu hingga pesan itu kembali berubah centang biru, Stephanie sudah tak sabar. Rasanya ingin cepat-cepat siang menyapa, saat dia pun berdoa dalam hati agar Evander menyanggupi permintaannya kali ini. 'Evander Yudiswara: Datanglah ke hotel pukul 13.15 siang ini. Akan kutemui kau di restoran.' Tertawa senang, Stephanie menyimpulkan senyum di wajah. Terlalu senang sebab respons Evander terlalu baik baginya, perempuan itu mengepalkan tangan ke udara untuk membentuk 'yes'. Berteriak dalam nada suara sedang, Stephanie tahu ia sedang diliputi rasa senang. Saat perempuan itu sedang menikmati rasa bahagia yang begitu saja menyapa, seseorang di tempat berbeda baru saja menyodorkan ponsel pada seseorang yang lain. Menerima sodoran ponselnya yang ia cari sejak beberapa menit lalu, Evander memandangi Arendra dengan tatapan menuduh. "Kau memakai ponselku lagi, Are?" tanya lelaki itu dengan picingan cukup tajam. Namun Arendra hanya tersenyum tipis, tak begitu menanggapi saat ia malah mendaratkan satu tepukan di bahu tuan mudanya tersebut. "Temuilah tunanganmu di restoran hotel siang nanti, Evan," ucap Arendra. Separuh meminta, dengan separuhnya lagi memberi perintah. "Pukul 13.15. Kau punya lima belas menit untuk turun, setelah rapat yang akan selesai pukul satu siang nanti. Oke?" Masih mengernyitkan dahi, Evander baru saja hendak membantah. Namun langkah Arendra sudah lebih dulu terayun, meninggalkan lelaki itu di balkon apartemen yang mereka tempati. "Aku tak mau!" Suara Evander menggema, namun tak ditanggapi apa-apa oleh Arendra yang kian menjauh. "Arendra! Haish, sial, Are!" Mengulum senyum, Arendra sengaja tak berbalik badan hingga jarak benar-benar terbentang antara dia dan Evander. Mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, Evander memang berencana untuk menghisap tembakau tersebut di pagi hari ini. Sekaligus menikmati sinar mentari yang mulai bersinar lebih cerah, Evander ingin mencari angin segar. "Jangan terlambat, Evan!" Arendra berseru, yang begitu saja menarik perhatian Evander. Lelaki di balkon itu memutar badan, mendapati Arendra tersenyum ke arahnya dari depan sana. "Kau tahu perempuan pasti berisik jika disuruh menunggu," lanjut Arendra lagi, masih menyimpan senyum. "Kujemput kau setelah kau menemuinya nanti. Jadi, baik-baik dengannya, okay?" Evander hampir saja melepaskan sendal yang ia gunakan untuk dilemparkan kepada Arendra, jika lelaki jangkung itu tak lebih dulu berlalu. Syukurlah Arendra buru-buru ngacir dari hadapan Evander, yang kini hanya bisa mendesah putus asa. Memilih untuk menghisap kembali rokok dan mengembuskan asapnya ke udara, Evander berkacak pinggang. Menikmati angin yang tak kencang menyapa, lelaki itu membiarkan pikirannya mulai membumbung tinggi. Menghadirkan pertanyaan berbunyi sana, yang terus terngiang di telinganya bertahun belakangan ini. 'Segala hal yang kumiliki di hidup ini benar-benar terasa pas,' batinnya dalam hati. 'Namun mengapa masih saja terasa ... tak sempurna?' ~Bersambung Hii.. makasih sudah di sini ya, Kak. Ini alurnya maju-mundur dengan cukup banyak cast, wkwkwk. Semoga nggak bingung dan tetep nikmati ceritanya yaak~ sehat selalu, yeaay~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD