Chapter 15 - Our Life Now (II)

1516 Words
"Sebab kutahu hidup akan terus berjalan. Bisakah kau melarikan diri dari masa lalu? Aku bisa, meski segalanya tak pernah mudah." ~Gladys Amara. *** "Kau ... apa kabar?" Sapaan yang keluar dari bibir indah Stephanie itu akhirnya berhasil memecah keheningan. Duduk berhadapan dengan Evander yang berada persis di seberang meja, perempuan itu menarik sudut bibir untuk melengkungkan senyum. Rasanya canggung sekali untuk memulai percakapan ini, padahal orang yang menjadi lawan bicaranya sudah lama berstatus sebagai tunangannya sendiri. Evander berdeham, namun hampir tak terdengar. Iris hitamnya sibuk memperhatikan dan menatap sosok Stephanie sejak tadi, selaras dengan pertanyaan yang terus muncul di kepala. 'Dia cantik dan menawan, Evan,' batin Evander dalam diam. 'Lantas, mengapa kau tak sama sekali melihatnya selama ini? Apa sih, yang kau pikirkan?' Evander terlalu dalam tenggelam pada dunia yang dia huni. Iris Stephanie masih berada di tempat yang sama, menatapnya dengan punggung tegak dan bahu tegas yang terlihat sempurna. Gaun halus sebatas lutut yang perempuan itu kenakan siang ini, sungguh membuatnya tampil memukau dengan kecantikan paripurna. Jika orang lain berpikir Evander sudah begitu banyak diberkati dalam hidup--termasuk untuk urusan perempuan yang akan menjadi pendampingnya, maka lelaki itu malah berpikiran berbeda. 'Bagaimana aku bisa menjalani rumah tangga dengannya, saat aku tak melihatnya dengan cara yang berbeda?' tanya Evander pada dirinya sendiri. 'Padahal dia secantik dan seindah ini.' "Evan?" Suara merdu Stephanie terdengar untuk yang kedua kalinya. Perempuan itu menunggu dengan mimik wajah yang lembut namun tegas, menantikan Evander untuk membalas dua sapaannya yang telah mengudara lebih dulu. Evander mengangguk samar. Tersadar dari lamunan, lelaki itu mengubah posisi duduk untuk kini semakin lebih tegak dengan d**a membusung. "Aku baik, Steph," tutur lelaki itu dengan nada suara seperti biasanya. "Dan kau? Bagaimana kabarmu?" Stephanie semakin membiarkan wajahnya dihiasi senyuman. Dia tahu Evander adalah salah seorang pembisnis yang semakin melebarkan sayapnya setiap waktu, dan perubahan yang terjadi untuk percakapan mereka ini cukup membuat Stephanie puas. Setidaknya, Evander mengambil peran untuk membuatnya berhasil. "Aku ... sangat baik," Stephanie balik membalas. "Maaf kalau aku mengganggu waktumu dan meminta bertemu. Hanya saja, inilah waktu libur yang aku miliki." Evander tentunya tahu bagaimana reputasi sang calon istri. Sejak pertama kali ayahnya memperkenalkan mereka beberapa tahun silam, perempuan itu masih berada di sekolah hukum saat Evander sudah lebih dulu terjun ke dunia bisnisnya. Tak lama kemudian, Stephanie yang memang memiliki kecerdasan itu akhirnya bergabung dengan salah satu firma hukum ternama, yang Evander yakini pastilah ada sangkut pautnya dengan Lionel Hartono, calon ayah mertuanya. Keberadaan mereka sebagai anak dari keluarga yang terpandang, sudah terlalu biasa untuk dijadikan bahan omongan. Bahkan tak sekali dua kali Evander mendapati dirinya dicemooh dan diremehkan, berikut tudingan bahwa seorang pewaris tahta hanya bisa meminta pada keluarga. Begitu juga dengan Stephanie. Begitu banyak pihak yang ingin menjatuhkannya, baik secara diam-diam atau terang-terangan di depan wajahnya sekalian. Selalu diremehkan karena dia memiliki backing keluarga yang kuat, namun itu malah menjadikan Stephanie semakin kuat berdiri tegak. Nyatanya, dia berhasil meniti karir yang kian hari kian cemerlang. "Tak apa-apa," Evander gantian tersenyum kali ini. "Maaf juga karena tak langsung mengabarimu, Steph. Aku tiba malam tadi dan yah, Jakarta membuatku kelelahan." Stephanie tertawa kecil. Tawa yang sekaligus membuat deretan gigi putihnya tampak sebagian, sebelum ia bersuara kembali. "Tak apa, Evan." Bagaimana namanya disebut oleh Stephanie membuat Evander menahan diam. Mendengarkan, seperti sedang mencari apa yang tidak biasa dari cara perempuan itu memanggil namanya. "Aku tahu kau sibuk," Stephanie melanjutkan. "Apa kau akan lama di sini? Om Tomi meneleponku beberapa hari yang lalu, by the way." Evander menaikkan alis. Kali ini bersedekap dengan dua tangan yang menyilang di bagian depan tubuh, lelaki itu terlihat tertarik. "Ayahku?" Evander menjeda. "Dia bilang apa?" "Tak banyak," Stephanie memutar bola mata. "Hanya pertanyaan seputar aktivitas dan bagaimana hidup berjalan." Ada nada senang yang dapat Evander tangkap dari bagaimana Stephanie mulai bercerita. Dia tak tahu seberapa dekat calon istrinya itu dengan Tomi Yudiswara--ayahnya, namun inilah kali pertama ia mendengar ayahnya berkomunikasi dengan Stephanie. "Om Tomi yang memberitahu kalau kau tiba kemarin," Stephanie masih melanjutkan. "Dia juga berpesan agar aku menghubungimu lebih dulu, khawatir kau sibuk untuk duluan menghubungiku, Evan." Namanya yang sekali lagi disebut oleh Stephanie masih terdengar sama, dan sepertinya tak ada yang berbeda dari itu semua. Segalanya terdengar ... biasa saja. Sama seperti bagaimana orang lain mengumandangkan namanya, seperti itu pulalah Stephanie mengucap nama Evander. "Ah, begitu." "Dia juga berpesan agar aku tak ragu bertanya, untuk hal-hal yang menyangkut tentang kita." Evander hampir terbatuk. Dua gelas minuman yang memang sudah mereka pesan sejak tadi masih belum tersentuh, dan inilah mungkin saat yang tepat untuk melakukan hal itu. Mengulurkan tangan, Evander meraih gelas kaca berbentuk panjang tersebut, yang berisi blue ocean di dalamnya. "Kau tak apa, Evan?" Dari nada suaranya, jelas Stephanie terdengar khawatir. Ia bahkan memperhatikan dengan lekat setiap gerak gerik Evander. Merasa cukup menyeruput minuman yang sekaligus menyegarkan tersebut, Evander mengangguk yakin. "Tidak, aku baik-baik saja." Meletakkan kembali gelas di atas meja, Evander kembali duduk tegak. "Hal-hal apa tentang kita yang kau maksud, Steph? Maksudku, hal-hal seperti ...." Stephanie mengerjap pelan. Bagaimana perempuan itu mengatur deru napasnya tampak begitu terlatih, yang lantas membuat Evander hampir merasa terintimidasi. Tatapan itu masih lekat, dengan ekspresi wajah serius yang mulai ditampilkan Stephanie untuk Evander. Dan dua detik kemudian, perempuan itu membuka bibir untuk bersuara. "Tentang kita," ucapnya lemah lembut. "Kita yang sudah tertunda setahun belakangan ini, Evan, jika aku tak salah mengingat." Evander terdiam. Kini dia tahu dari mana Stephanie mudah untuk meraih julukan sebagai pengacara paling ditakuti di persidangan, sebab hanya dari mimik wajah dan caranya berbicara saja, dia tampak mampu mengontrol orang lain. Stephanie tampak ... tegas dan menawan. "Bukankah kita seharusnya membicarakan hal ini segera?" tanya perempuan cantik itu lagi. "Bukankah kedatanganmu di sini sekaligus untuk memperbincangkan hal itu denganku?" Evander masih mencoba untuk berpikir jernih. Separuh dirinya memahami betapa Stephanie mungkin merasa demikian, meski sebenarnya ada begitu banyak hal yang ingin dia lakukan untuk tak meneruskan hal konyol ini. Konyol, namun ternyata cukup penting bagi kedua keluarga besar. "Steph, aku tahu hal itu," Evander berusaha masuk dan menimpali dalam pembicaraan. "Hanya saja, bisa kau beri aku sedikit waktu?" Stephanie membasahi bibirnya dengan lidah yang terjulur cepat. Lipstik berwarna nude yang ia kenakan membingkai wajahnya dengan sangat sempurna, saat inilah gilirannya untuk menikmati minuman. Keduanya belum memesan menu makanan, namun sepertinya itu tak akan terjadi. "Kuharap kau tak berlama-lama menggantungku seperti yang sudah-sudah, Evan," Stephanie terdengar berbicara. Separuh meminta, namun juga separuh mengingatkan. "Kita mungkin terlihat terlalu santai untuk hal ini, namun percayalah ada begitu banyak hal yang harus kita persiapkan." Tak perlu bertanya dua kali, Evander tahu ke arah mana pembicaraan ini bermuara. Namun satu hal yang dapat ia pikirkan adalah, betapa ia tak siap untuk mengikat dirinya dengan orang asing seperti Stephanie. Ini memang bukan pertemuan pertama mereka, namun Evander takkan sanggup memikirkan bagaimana jadinya jika Stephanie tahu bahwa calon suaminya mungkin takkan berhasrat dengan tubuh molek perempuan itu. Bagaimana Evander harus menaikkan gairahnya pada perempuan? Bisakah dia memberi nafkah lahir batin seperti yang dilakukan lelaki lain pada istri-istri mereka, setelah dia menikahi Stephanie nanti? Melirik ke arah arloji yang ia kenakan, Stephanie menarik sebaris senyum tipis. Hampir pukul dua kurang, dan sayangnya dia harus beranjak sebab sudah memiliki janji pertemuan dengan kliennya yang lain. "Evan, aku harus pergi," pamit perempuan itu dengan senyum yang kian merekah. Separuh menyesal karena pertemuan ini terasa amat singkat, namun dia tak memiliki pilihan. Merogoh ke dalam tas berukuran kecil yang ia pegang tadi, Stephanie mengeluarkan secarik kertas dari dalam sana. Tak hanya kertas saja, namun juga sebuah bolpoin yang bertinta biru. Menuliskan sesuatu pada kertas tersebut, Stephanie menaruhnya persis di hadapan Evander tak lama kemudian. Menarik perhatian lelaki itu yang kini sebagian menunduk, untuk membaca informasi apa yang sekiranya tertera di kertas itu. "Ini alamat di mana aku tinggal," Stephanie berucap. " Evander menaikkan kepala, membiarkan irisnya kembali bertemu dengan iris indah perempuan itu. Ia berani bertaruh bahwa tak ada seorang pun lelaki yang melihat Stephanie dengan cara biasa, sebab aura yang dimiliki perempuan itu sungguh jauh berbeda. "Hubungi aku jika kau berniat mampir, sesekali mungkin," sambung Stephanie lagi. "Atau sebaiknya kau menelepon lebih dulu, untuk memastikan aku ada di rumah. Jadi, aku bisa menyambutmu sebagai tamuku nantinya." Bagaimana Stephanie menatapnya membuat Evander mulai bergidik. Betapa perempuan itu memahami setiap cara untuk memperlakukan pria, yang kali ini menyiratkan senyum menggoda melalui tatapan mata dan lengkungan pipinya. "Hubungi aku, Evander." Bangkit lebih dulu, Stephanie tak menunggu Evander bersuara. Kepala lelaki itu terdongak seiring dengan tubuh sang tunangan yang kini tegak semampai, namun tak banyak hal yang dapat Evander sampaikan. "Sampai jumpa, hmm?" Mendaratkan sebelah tangannya di bahu Evander, Stephanie mengerling manja. Khas perempuan yang ingin menonjolkan sisi nakal dalam diri mereka, namun sialnya terlihat elegan dan begitu menggetarkan. Evander bisa menjadi saksi betapa beberapa pasang mata masih tertuju pada objek yang sama, selaras dengan langkah kaki dan ketukan heels 3 senti meter yang dikenakan Stephanie kian menjauh dari detik ke detik. Meninggalkan Evander yang berada di meja bundar tersebut, yang kini hanya bisa tertegun dan kembali terdiam. "Kau benar-benar aneh, Evander," gumam lelaki itu pada dirinya sendiri. "Bagaimana bisa kau tidak bereaksi apa-apa, untuk seorang perempuan panas seperti dia?" ~Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD