29

1096 Words
Aleta takut Alena tidak ingin bangun lagi, tangis Aleta kembali jatuh begitu kenangan buruk menusuk ingatannya tentang masa lalu yang menimpa Alena. "Bangun, Kak! Buka matamu sekarang juga, Kak! Jangan sampai kau seperti dulu, aku benar-benar takut kejadian buruk itu terulang lagi." Aleta terisak dengan menyedihkan, air matanya jatuh mengenai tangan Alena. "Sudahlah, Leta! Jangan menangis lagi! Dia tidak apa-apa, tidak ada masalah yang akan terjadi padanya. Bukankah kau sudah mendengar apa yang dikatakan dokter tadi kalau dia baik-baik saja hanya mengalami tekanan saja." Robert berusaha membujuk. Aleta mengangguk sebagai jawaban, saat Robert tengah membujuk Aleta dengan kasih sayang pintu ruang rawat inap Alena dibuka. Adera muncul dengan seseorang pria di belakangnya dengan langkah terburu-buru, Adera bahkan mengabaikan keberadaan Robert yang berdiri di sisi Aleta. "Kau kenapa, Sayang? Ini tante, Tante datang melihatmu. Katakan pada tante masalah apa yang menimpamu hingga kau bisa seperti ini." Adera mengusap rambut Alena dengan penuh kasih sayang. Cinta yang luar biasa di mata Adera membuat pria yang datang bersamanya terkejut bukan main. Pasalnya sejak pertama bertemu dengan Adera mata itu hanya memancarkan dingin serta aura permusuhan yang kuat. Merasakan kepedulian Adera yang begitu besar pada Alena, Aleta merasa sedikit cemburu. Adera memang memberikan mereka kasih sayang yang sama tapi kepedulian Adera pada Alena terlihat begitu tulus melebihi kasih sayang orang tua mereka. "Aku akan pergi dulu, nanti malam aku akan datang ke sini membawakanmu makanan." Pria itu meminta izin pada Adera. Adera yang ditanya hanya mengangguk lalu tanpa mengubah arah pandangannya dari Alena yang masih sibuk dengan alam mimpi, melihat jawaban Adera yang tidak begitu peduli pria itu hanya mendesah lalu pergi menjauh meninggalkan kamar inap Alena. "Kalian berdua bisa pulang! Aku dan Alfred yang akan menjaga Alena di sini," usir Adera pada Robert. Sama seperti tadi Adera tidak melihat pada Robert dan juga Aleta. Dia duduk di sisi Alena memegang tangan Alena dengan kuat berusaha menyalurkan kekuatan serta kesabaran miliknya. Aleta menggeleng, "tidak, Tante! Aku tidak akan meninggalkan Kakak lagi, sudah cukup terakhir kali aku meninggalkannya." Aleta menolak untuk pergi, dia bersikukuh untuk tinggal di rumah sakit menemani Alena. Di sisi lain Alfred kembali memasuki ruangan kamar, kali ini dia datang membawakan pakaian Alena serta beberapa makanan di tangannya. Melihat hal ini Robert mendengus tidak suka, dia lupa kalau Alena membutuhkan semua ini setelah bangun karena Alena sangat mencintai kebersihan. "Eh ... ada Tante! Kapan Tante datang?" sapa Alfred ramah pada Adera. Alfred meletakkan semua itu ke dalam lemari kecil yang ada di dalam kamar rawat lalu berdiri di sebelah Adera dengan sikap hormat yang membuat Adera merasa geli. "Belum lama ini, kukira kau tidak peduli padanya. Semua yang kau bawa adalah keperluan Alena kan? Apa kau tahu ukurannya?" tanya Adera setengah bercanda secara asal namun pandangan geli di matanya serta ucapan yang disampaikan memiliki makna tersembunyi. "Hem ... yang membawanya ke rumah sakit aku tadi, Tan! Katanya dia merasa pusing, mual juga napasnya sesak. Gara-gara itu aku hanya memakai sendal rumah saja dan itupun ternyata belang sebelah." Alfred mengeluh dengan nada menyedihkan tapi tidak menjawab tentang ukuran tubuh Adera sama sekali. "Alasanmu terlalu banyak," tukas Adera diiringi senyum masam. Alfred ikut tersenyum lalu beralih melihat Alena yang masih tidur dengan nyenyak. Alfred mendekat lalu mengusap kepala Alena lembut penuh kasih sayang, cinta yang dia miliki tidak disembunyikan sama sekali membuat Robert semakin kesal. "Dia masih belum bangun ya, Tan?" tanya Alfred. Wajah cerianya berubah sedih saat melihat rona merah di pipi Alena tidak lagi ada. Senyum ceria Alena juga tidak terlihat, bahkan suara tawanya yang manis tidak terdengar lagi. "Belum, tampaknya dia masih betah dalam mimpinya." Adera menjawab dengan nada sendu. "Sepertinya Alena masih butuh waktu untuk melupakan semua kenangan buruk itu, Al! Bagaimana kalau kalian pergi ke luar negeri untuk bersenang-senang, Tante yakin dia akan baik-baik saja setelah kembali." Sebuah ide terlintas di benak Adera dan dia langsung mengutarakan niatnya pada Alfred. Alfred tampak berpikir sejenak, pekerjaan mereka yang masih segunung tahun ini tampaknya memaksa mereka untuk tidak bisa pergi kemanapun. "Kalau tahun ini kita enggak bisa pergi, Tan! Banyak hal yang harus kita persiapkan, pekerjaan kami juga terlalu banyak. Tidak mungkin semua itu diberikan kepada pekerja kami karena mereka tidak terlalu cakap dalam menangani sesuatu seperti Alena." "Huh ... jika seperti itu kapan usaha kalian akan berkembang, hanya mengandalkan Alena saja tidak akan mampu membuat usaha kalian membaik. Lambat laun Alena akan menikah, dia pasti akan mengikuti suaminya belum tentu suaminya mengizinkan dia bekerja nantinya." Robert menimpali dengan raut wajah datar tanpa ekspresi miliknya seperti biasa. "Siapa yang menyuruhmu ikut campur, Kak? Ini urusan kami sebagai orang terdekat sekaligus paling mengerti Alena, kau yang bertugas sebagai paman sebaiknya diam saja disudut." Adera mencibir marah. Saat mereka berdebat rintihan Alena terdengar pelan, seolah dirinya tengah mengalami penyiksaan itu lagi. Alena menangis, air matanya jatuh perlahan padahal dia masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. "Jangan ku mohon! Itu menyakitkan, jangan sakiti aku lagi, kumohon!" pinta Alena dengan suara mengiba. Saat ini Alena berpindah tempat setelah mengalami penyiksaan berat dari Agata, ia kali ini berada di sebuah tempat aneh yang belum pernah dia datangi, dia melihat berbagai macam foto Angela dipajang di dinding ruangan itu namun anehnya ini bukan rumah Angela. "Di mana ini?" tanya Alena bingung, dia terus berjalan hingga sebuah tangan menariknya untuk pergi dari ruangan itu. Dia tidak bisa melihat siapa yang menarik tangannya namun tangan itu bukan tangan dari orang-orang yang ia kenali. "Kau siapa?" tanya Alena bingung, Alena mengikuti langkah kaki orang itu tanpa bisa melawan sama sekali, dia bahkan tidak bisa melihat wajah orang yang membawa dirinya pergi. "Aku adalah orang yang akan memperlakukan dirimu dengan baik, aku akan menjagamu, merawatmu, memberimu cinta dan tidak akan menyakiti dirimu sama sekali." Ujar orang itu dengan suara serak. Alena langsung menjadi takut, dia sungguh tidak mengenali siapa pemilik suara di depannya. Alena mencoba menarik tangannya agar bisa terlepas namun semakin Alena berjuang semakin erat tangannya dipegang oleh si pria. Dia dibawa ke depan sebuah kamar dengan cat pintu bewarna biru, saat pintu akan dibuka seorang wanita cantik muncul dari kamar sebelah. Perutnya terlihat membuncit seolah dia tengah hamil beberapa bulan. "Istrimu melihat kita," bisik Alena lembut takut terjadi salah paham di antara pasangan itu. Akan tetapi pria itu bahkan tidak melirik pada wanita yang muncul tiba-tiba itu, si wanita juga terlihat tidak peduli. Dia hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan langkahnya untuk menuruni tangga seolah hal ini sudah biasa terjadi. Alena menjadi heran dan ingin menanyakan semuanya tapi si pria tampaknya tidak mengizinkan itu terjadi, saat pintu terbuka pria itu mendorong Alena masuk ke dalam lalu ia menutup pintu dari luar membuat Alena ketakutan bukan main.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD