Adera memandang pria di depannya dengan tampilan menelisik, ia mencoba mencari tahu kepribadian pria di depannya namun sekuat apa pun Adera memeriksa ia tidak menemukan kesalahan.
"Tidak apa-apa! Aku sudah terbiasa menunggu," jawab Adera asal namun pria di depannya tidak merasa tersinggung sama sekali.
Pelayan datang mendekat, ia menyerahkan kertas menu ke atas meja lalu menyiapkan kertas untuk mencatat apa saja yang dipesan oleh pelanggan yang ia layani. Pria itu mengambil menu sebentar melihat apa yang akan dipesannya lalu menyerahkan menu itu ke Adera.
Adera mengambil menu itu lalu melihat apa saja yang ada di daftar, ia menyebutkan beberapa pesanan lalu menyerahkan menu itu ke tangan si pria kacamata itu lagi.
"Kau memiliki selera yang bagus, semua menu yang kau sebutkan adalah andalan restoran ini." Pria ity tersenyum, ia membaca daftar menu sekali lagi lalu menyebutkan menu yang sama dengan yang diminta Adera membuat Adera cemberut tidak suka.
"Kau tampak seperti pria yang terpelajar tapi kenapa aku merasa kalau kau seperti preman pasar yang tidak tahu malu ya," sindir Adera tanpa mengubah ekspresi wajahnya sama sekali seolah orang yang menjadi pembicaraan mereka adalah orang lain.
Pria itu tidak marah sama sekali, dia hanya tertawa menanggapi ucapan Adera. Ia memperbaiki rambutnya seolah memang bukan dia yang menjadi bahan sindiran.
Adera melipat tangannya di d**a, ke-duanya memilih diam tapi pandangan mata mereka beradu. Adera akhirnya menunduk, pria di depannya pantas menjadi CEO sebuah perusahaan besar karena tidak terintimidasi oleh mata tajam Adera yang menakutkan.
Makanan yang mereka pesan datang, ke-duanya memilih makan dalam diam. Denting sendok yang beradu dengan piring yang menandakan di meja itu masih ada orang duduk, setelah makan kenyang meja dibersihkan oleh pelayan.
Ke-duanya memilih minuman yang bisa dihabiskan secara santai.
"Jadi ... apa kau menerima perjodohan ini?" tanya si pria pelan.
Adera mengangkat kepala, dia menatap langsung pada pria itu dengan wajah masam. Perjodohan, ya kata itu yang menyebabkan dirinya harus berdandan layaknya perempuan seutuhnya lalu duduk di sini menunggu pria itu dengan musik yang begitu membosankan.
"Bisakah aku menolak?" tanya Adera dengan bibir mengerucut membuatnya tampak lucu.
Mendengar ucapan Adera yang tanpa filter sama sekali pria tampan itu tertawa dengan tangan mengambil gelas minuman, menyesap minuman itu perlahan lalu meletakkan gelasnya dengan hati-hati. Ia menatap Adera sebentar dengan senyum manis sebelum berkata dengan lantang, "tentu saja kau tidak bisa menolak karena aku sendiri juga tidak bisa menolaknya."
Pria itu merapikan rambutnya yang tidak berantakan, ia bersandar pada kursi dengan mata tidak pernah melihat ke arah lain selain pada Adera sendiri. Dia juga tidak peduli pada lingkungan sekitar, pada wanita yang melihatnya dengan tatapan memuja.
"Ibuku sangat menginginkanku menikahimu, bahkan dia memintaku memberikannya cucu sebanyak tim sepakbola." Lagi, pria itu melanjutkan ucapannya.
Adera mendelik, matanya semakin menatap tajam pria di depannya yang tengah duduk dengan angkuh. Dagu pria itu terangkat, berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO sebuah perusahaan wajar jika pandangan matanya bisa seperti itu.
"Tapi aku belum ingin menikah, aku masih ingin bekerja menghasilkan uang sendiri dan tidak terikat dengan hubungan sekarang." Adera berkilah, sungguh saat ini Adera belum ingin menikah.
Dia masih ingin memastikan kehidupan Alena, ingin Alena mendapatkan kebahagiaannya.
"Aku tidak melarangmu bekerja, aku juga tidak mencegahmu untuk menghasilkan uang tapi pernikahan ini memang harus terjadi cepat atau lambat." Pria itu menegaskan, matanya menatap tajam Adera penuh peringatan.
Biasanya tatapan itu akan membuat takut karyawan serta anak buahnya tapi bagi Adera hal itu hanyalah tatapan anak-anak biasa. Saat mereka saling tatap ponsel Adera berdering dengan keras, Adera mengalihkan pandangannya dari depan ke meja melihat siapa yang memanggilnya di saat seperti ini.
Melihat nama Aleta tertulis di telepon selulernya, Adera langsung mengangkat panggilan tersebut. Dengan santai Adera meletakkan telepon seluler itu ke telinga menunggu Aleta mengucapkan kata-kata yang ingin disampaikan.
Saat mendengar penuturan Alena mata Adera membesar sempurna, dia bangkit dari duduknya karena terkejut mengabaikan pria di depannya yang tengah mengernyit tidak suka melihat sikapnya.
"Tante akan ke rumah sakit sekarang! Kalian jaga dia sementara waktu! Jangan biarkan Alena sendiri karena Alena butuh teman saat keadaannya seperti itu." Adera mengambil tasnya tanpa melihat, dia akan pergi begitu saja jika tangannya tidak dipegang oleh pria yang duduk dengannya tadi.
"Kau mau kemana? Pembicaraan kita belum selesai," cegahnya dengan ekspresi tidak bersahabat.
Adera dengan kasar mencibir, dia melepas tangannya sekuat tenaga meninggalkan jejak merah di kulit putih Adera. "Lepaskan! Keponakan kesayanganku masuk rumah sakit, aku harus melihatnya segera."
"Aku akan mengantarmu ke sana! Aku tahu kau ke sini menggunakan taksi bukan?" Pria itu menarik tangan Adera agar mengikuti langkah kakinya, Adera yang tidak bisa melawan hanya mampu mengikuti sambil mendesah di dalam hati karena kelemahan dirinya.
Mereka menuju sebuah mobil sport hitam yang terparkir tidak jauh dari restoran tempat mereka makan. Adera dipaksa duduk di bagian kemudi oleh pria itu tanpa bisa membantah sama sekali.
"Rumah sakit mana?" tanya pria itu dengan wajah datar.
"Ah, aku lupa menanyakan tempatnya." Adera menepuk keningnya keras meninggalkan jejak merah di sana.
Adera tertawa canggung lalu mengeluarkan telepon selulernya lagi dari dalam tas jinjing yang dia bawa. Adera mengirim pesan pada Aleta menanyakan alamat tempat Alena dirawat, segera Adera mendapatkan balasan pesan yang baru saja dikirimnya.
"Rumah sakit Permatasari," ujar Adera sembari memiringkan wajahnya ke bagian arah kemudi tapi bukan pada wajah datar yang duduk di sampingnya.
Pria itu mengangguk, dia menghidupkan mesin mobil itu lalu bergerak menjauh dari restoran tempat mereka janjian tadi menuju rumah sakit yang disebutkan oleh Adera.
Alfred memutuskan berjalan menuju ke kantin untuk membeli minuman dingin agar hatinya bisa ikut mendingin juga. Saat Alfred pergi, Robert muncul dari dalam ruangan. Ia melihat ke segala arah berharap bisa menemukan Alfred namun sejauh ia memandang ke arah depan tidak tampak batang hidung Alfred sama sekali.
"Kemana anak itu pergi? Padahal ada beberapa patah kata yang ingin aku sampaikan padanya." Robert mendesah kesal, ia mengacak-acak rambutnya hingga berantakan lalu kembali masuk ke dalam ruang rawat Alena.
Di tempat tidur, Alena masih berbaring dengan nyaman. Detak jantungnya yang stabil serta napasnya yang teratur membuat Aleta tidak khawatir lagi. Alena tampak damai, jika bukan karena wajah pucatnya mungkin dia hanya akan seperti orang yang tidur saja.
"Kak! Bangunlah! Aku ingin bicara denganmu, aku ingin bertanya kenapa kau bisa menjadi seperti ini, Kak?" Aleta masih mengajak Alena berbicara meski kata-kata yang dia sampaikan tidak bermakna sama sekali.
"Aku tadi bertemu pria tampan, Kak! Dia tinggi, putih, bertubuh tegap seperti yang kau impikan. Dia tampan bahkan saat tersenyum dia terlihat gagah sekali, ayolah, Kak! Jika kau ingin mengenalnya maka aku akan mengajakmu bertemu dengannya." Lagi, Aleta terus membujuk agar Alena mau bangun.
Aleta takut, kejadian ini akan membawa Alena pada tragedi beberapa tahun silam. Kejadian saat dia diculik hingga dipukuli sampai babak belur tanpa bisa dikenali lagi oleh anggota keluarganya.