Robert yang telah selesai menemani Aleta berbelanja akhirnya pulang menuju ke rumah keluarga besar mereka yang kebetulan melewati arah apartemen Alfred, saat kendaraan Robert melaju dengan kecepatan sedang mata Robert tiba-tiba saja melirik mobil Alena yang terparkir ditepi jalan.
"Paman berhenti! Itu mobil kakak, kalau mobilnya di sini kakak di mana? Tumben kakak meninggalkan mobilnya sembarangan, ini bukan ciri-ciri kakak." Aleta tampak khawatir.
Saat Robert berhasil menepikan mobilnya, Aleta langsung berlari ke luar menuju ke arah di mana mobil Alena terparkir. Aleta mencari ke sekeliling, bahkan mengetuk mobil Alena yang diberi kaca hitam tapi tidak ada tanggapan sama sekali.
"Coba kau hubungi dia!" bujuk Robert untuk menghilangkan kekhawatiran Aleta.
Aleta mengangguk dan kembali ke mobil Robert untuk mengambil telepon seluler miliknya. Aleta menekan nomor Alena lalu meletakkan ponsel di telinganya menggunakan tangan kanan.
Saat panggilan terhubung yang terdengar adalah suara Alfred yang terasa cukup lelah.
"Halo Aleta!" sapa Alfred lembut.
Alfred berjalan menuju ke arah luar ruangan takut menganggu tidur nyenyak Alena. Alfred melirik Alena sekali lagi sebelum menutup pintu dengan pelan dan penuh kelembutan.
"Kenapa kau yang mengangkat panggilanku? Kakak mana? Apa yang terjadi pada kakak? Kenapa mobilnya terparkir sembarangan?" tanya Aleta bertubi-tubi tanpa menyembunyikan kecemasan dalam suaranya.
"Hah, Alena pusing dan sakit kepala saat sedang berkendara tadi. Dia menghubungiku, menyuruh aku menjemputnya di jalan, saat ini dia sedang di rumah sakit. Alena mengalami kelelahan dan tekanan akibat trauma yang didapatnya dulu meningkat lagi. Alena terlalu banyak berpikir dan itu menyebabkan masalah ini terjadi."
Alfred menjelaskan pada Aleta sesuai apa yang dikatakan dokter tadi padanya. Aleta semakin cemas mendengar penuturan Alfred, apakah ini disebabkan oleh beban yang selama ini dipikul Alena di dalam hatinya? Aleta memikirkan semua kemungkinan penyebab Alena menjadi seperti ini.
Kekhawatiran yang tertulis jelas di wajah Aleta membuat Robert mengernyit tidak suka. Wajahnya berubah masam lalu mengambil telepon seluler itu dari tangan Aleta.
"Di rumah sakit mana dia dirawat sekarang?" tanya Robert datar tanpa ekspresi sama sekali.
"Didekat daerah itu hanya ada satu rumah sakit bukan? Dia dirawat di sana," balas Alfred kesal lalu memutuskan sambungan.
Alfred masuk ke dalam ruangan, ia melihat Alena dengan wajah sendu seperti tahu penyebab Alena menjadi seperti ini. "Aku ingin mengatakan pada pria itu kalau kau menyukainya tapi lebih baik begini. Bukan karena aku tidak peduli pada perasaanmu Alena, tapi ini yang terbaik untuk kalian." Alfred mendesah.
Dia pergi ke luar ruangan menuju bagian administrasi untuk memindahkan Alena ke ruang VIP agar bisa dirawat dengan baik di sini. Setelah selesai mengurus semuanya Alfred kembali masuk ke dalam UGD untuk memeriksa bagaimana keadaan Alena.
Lima belas menit setelah Alfred masuk dua perawat mendorong sebuah ranjang dorong untuk memindahkan Alena ke ruang rawat, hati-hati mereka memindahkan tubuh Alena lalu membawa Alena menuju ruangan yang telah dibayar oleh Alfred. Alena dirawat di ruang paling ujung dengan ranjang tambahan untuk keluarga yang menemani dirinya bermalam.
Ada juga kulkas mini di sebelah ranjang tambahan itu yang diisi beberapa minuman kaleng serta buah-buahan segar yang tampaknya diganti secara berkala oleh pihak rumah sakit. Di meja tepat di sebelah kiri ranjang rawat Alena ada meja mini dengan ukuran tinggi sepinggang, di atasnya ada bunga segar mengeluarkan aroma lembut ke seluruh ruangan.
Tidak lupa pula ada pengatur suhu yang ditempatkan di dinding ruangan, di sebelah pintu ke luar toilet ada sofa hitam serta meja yang digunakan untuk menyambut tamu datang berkunjung, setelah Alena diletakkan di ranjangnya Alfred meraih kursi yang disediakan di dalam ruangan duduk di sebelah Alena dengan nyaman.
Satu tangan Alena dipegang Alfred dengan erat, merasakan kehangatan tubuh Alena barulah Alfred menjadi tenang. Kegelisahan yang ditumpuk di hatinya perlahan berkurang menyisakan noda kecil.
"Kau membuatku takut Alena, kau sungguh hampir saja membuatku mati dalam kecemasan ini. Jangan melakukan hal ini lagi, ku mohon! Kau mungkin tidak berpikir kalau kau itu penting, kau mungkin berpikir jika kau menghilang maka tidak ada yang kau rasakan tidak berarti bagi orang lain tapi semua itu salah Alena." Alfred menggenggam erat tangan Alena mencoba menyalurkan kekuatan miliknya.
"Kau penting, kau sesuatu yang sangat berharga bagi kami. Kau adalah permata serta kebahagian kami, jangan menyakiti dirimu sendiri lagi! Jangan hanya memikirkan perasaan kami tapi cobalah memikirkan perasaanmu juga." Alfred meneteskan air mata putus asa.
Meski kedekatan mereka lebih dari persahabatan namun tidak semua hal dibagikan Alena padanya, masih ada banyak hal yang Alena tutupi membuatnya harus membongkar semua itu satu-persatu dengan menggunakan bantuan orang lain. Alfred merasa putus asa, kali ini dia sungguh tidak tahu hal apa yang menyebabkan Alena bisa merasakan perasaan aneh seperti itu.
Alfred mendesah berulang-ulang kali lalu mengambil ponsel milik Alena menghubungi Aleta menyebutkan nomor kamar tempat Alena dirawat. Setelah melakukan semua itu Alfred mengambil minuman kaleng yang ada di dalam kulkas meminumnya segera setelah dibuka.
Tidak lama, pintu ruang rawat Alena dibuka dari luar, Alfred membalik tubuhnya menemukan kalau yang ada di belakangnya adalah Aleta dan Robert. Alfred berdiri dari duduknya menyambut kedatangan keduanya sebelum berdiri di sebelah kanan ranjang Alena.
Aleta duduk di sebelah Alena, hatinya hancur saat melihat wajah pucat Alena serta cairan infus yang masuk ke tangan kanannya, air mata Aleta jatuh saat melihat Alena tidak merespon kedatangannya seperti biasa.
"Kak! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa menjadi seperti ini? Apa semua yang terjadi membuatmu lelah?" tanya Aleta bertubi-tubi.
Hening, tidak ada jawaban yang dia dapatkan dari mulut Alena. Dia masih sibuk dengan alam mimpinya, Alena masih diam tanpa sepatah kata meski Aleta menggenggam erat tangannya. Aleta akhirnya menangis tersedu-sedu saat Alena mengabaikan dirinya, melihat itu Robert tidak tega lalu berjalan mendekat menghapus air mata Aleta.
Melihat itu, Alfred menggenggam tangannya kuat. Pantas saja Alena mengalami tekanan, di lain sisi dia diberi harapan di lain sisi dia dicampakkan. Alfred menekan emosi miliknya lalu berjalan ke luar ruangan untuk menenangkan emosi, Alfred bersandar di dinding luar ruangan Alena sembari menghembuskan napas lelah.
'Aku hanya berharap hatimu mati untuk pria itu Alena. Aku hanya ingin kau bahagia, aku hanya ingin kau tersenyum dengan bahagia.' Alfred berdoa di dalam hati sembari memejamkan mata.
Adera di sisi lain tengah duduk di sebuah restoran, kaki panjangnya terlihat menggoda mata karena ia memakai gaun seksi bewarna merah terang. Rambutnya digerai hingga memberikan kesan nakal karena lipstik yang ia gunakan juga bewarna merah menyala.
"Maaf aku terlambat!" Suara merdu seorang pria mengalihkan Adera, membuat ia mengalihkan kepala ke asal suara.
Di depan Adera berdiri seorang pria tampan yang masih menggunakan setelan kerja dengan jas berwarna hitam. Ada kacamata yang menutupi matanya, namun kecerahan di dalam mata itu tidak bisa disembunyikan sama sekali.
Pria itu menggeser kursi yang ada di seberang Adera merapikan bajunya lalu duduk menyilangkan kaki dengan santai. Ia memanggil pelayan restoran untuk memesan minuman serta makanan untuk mereka.