Alena yang takut ketahuan memilih untuk bergerak ke arah berlawanan dan berbelanja di toko lain. Sesekali Alena akan pergi ke toko pria melihat sesuatu yang bisa ia belikan untuk Alfred.
Alena memutari mall itu beberapa kali, terkadang Alena akan berhenti sebentar untuk melihat-lihat barang yang menurutnya bagus. Setelah tiga jam berada di sana, Alena memutuskan untuk pulang ke rumah.
Alena menaiki mobilnya, menghidupkan mesin mobil lalu meninggalkan lokasi mall menuju kediaman Alfred, Alena ingin memberikan langsung pada Alfred barang yang sudah ia beli tadi.
'Paman terlihat senang berbelanja dengan Aleta, mungkin sudah saatnya aku menyerah dan tidak lagi menaruh harapan pada hubungan yang tidak jelas ini. Lebih baik menyesal sekarang dan mundur daripada nanti ketika aku sudah tidak lagi memiliki harapan sama sekali dan hanya membuat malu diriku,' rintih Alena dalam hati.
Alena terkadang akan kehilangan fokus dalam mengemudi hingga tanpa pilihan, Alena menepikan kendaraanya dan menghubungi Alfred agar menjemput dia di tempat itu.
"Halo, bisakah kau datang ke jalan Tote sebelum persimpangan menuju ke jalan Aska, aku rasa aku tidak sanggup mengemudi lagi. Kepalaku sakit, aku takut akibat kelalaian yang aku lakukan akan terjadi kecelakaan nanti." Alena menghubungi Alfred dan berkata secara langsung.
Alena ke luar dari mobil untuk mencari udara segar hingga rasa pengap yang memenuhi hatinya bisa berkurang. Alena merasakan sakit yang luar biasa di dadanya tapi dia tidak tahu bagaimana menyalurkan rasa sakit itu.
"Tunggu di sana dan jangan ke mana-mana! Bersabarlah sebentar, akan aku usahakan secepat mungkin datang padamu." Alfred yang mendapatkan kabar dari Alena merasa cemas dan takut.
Terburu-buru, Alfred mengambil kunci mobil dan berlari ke luar apartemennya. Bahkan Alfred tidak sadar kalau ia masih memakai sendal rumah karena rasa takut yang tumbuh di hatinya. Alfred mengemudi dengan kecepatan tinggi agar bisa sampai di tempat Alena secepat mungkin.
Alena di sisi lain masih berdiri didekat mobilnya usai membeli minuman kaleng di tepi jalan. Rasa haus yang menyakitkan kerongkongannya butuh sesuatu yang dingin untuk menetralkan kembali.
Alena terkadang akan berjalan-jalan di sekitar sana tapi tidak jauh dari lokasi mobilnya terparkir bahkan terkadang ia akan duduk di kursi yang disediakan pemerintah di sekitar taman tepi jalan. Alena bermain dengan telepon selulernya untuk menghilangkan suntuk ketika merasa Alfred lama sekali.
Saat rasa bosan Alena semakin meningkat dan pusing yang menderanya kembali kuat hingga tidak mampu lagi menopang tubuhnya Alfred muncul, mobil yang ia kemudikan berhenti di belakang mobil Alena. Alfred ke luar dengan tergesa-gesa, cemas, khawatir dan kesedihan menyatu di wajah Alfred saat ia melihat wajah pucat pasi Alena.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Alfred lembut setelah ia sampai di samping Alena.
Alena mengangguk dengan pelan, ia memegang tangan Alfred yang sedang menyentuh bahunya. Alena tersenyum manis pada Alfred sebelum kemudian ia hanya bisa melihat kegelapan datang menjemput kesadaran yang ia pertahankan lima menit terakhir ini.
Mungkin karena rasa nyaman atau karena perlindungan yang selalu ia dapatkan dari Alfred, Alena menyerahkan dirinya yang diambang kehancuran pada lengan hangat Alfred yang kokoh. Alena menyerah pada rasa lelah dan sakit yang ia terima.
"Ale jangan menakut-nakuti aku!" Alfred mengangkat wajah Alena untuk menghadap dirinya karena Alena tidak lagi bergerak.
Takut terjadi sesuatu yang berbahaya atau tidak diinginkan pada Alena, Alfred mengangkat Alena ke mobil miliknya, ia membantu Alena memasang sabuk pengaman dengan tergesa-gesa. Alfred meninggalkan mobil Alena setelah ia berhasil mengunci mobil tersebut.
"Ale, kau harus bertahan! Tidak boleh ada hal buruk terjadi padamu, aku akan membawamu ke rumah sakit. Jangan membuatku takut Ale!" pinta Alfred memohon.
Alfred menuju ke rumah sakit terdekat, sesampai di sana dengan panik ia menggendong tubuh Alena ke ruang UGD. Alfred meletakkan tubuh Alena di ranjang rumah sakit di ruang itu lalu berteriak-teriak memanggil dokter untuk datang memeriksa karena ruangan itu terlihat sepi saat ia masuk.
Dokter yang bertugas untuk ruang UGD langsung datang memeriksa keadaan Alena. Hati-hati dokter itu memastikan apakah ada yang berbahaya pada Alena atau ada penyakit ganas yang bersarang di tubuhnya.
Alfred yang sejak tadi berada di sisi Alena terlihat cemas dan khawatir, terkadang ia akan mengigit kukunya yang merupakan kebiasaan kecil Alfred jika dirinya dilanda kekhawatiran mendalam.
"Tidak terjadi apa-apa pada pasien selain kelelahan dan mengalami tekanan. Apa dia pernah mengalami trauma atau sesuatu yang membuatnya cemas? Bisa seperti dia mengalami kekerasan atau pelecahan, penculikan atau kejadian berbahaya lain?" tanya dokter itu memastikan pada Alfred.
Alfred ragu-ragu untuk menjawab, biar bagaimanapun Alfred tidak ingin semua orang tahu masa kelam yang pernah dijalani oleh Alena. Siksaan fisik yang ia terima dari para penculik serta rasa sakit memendam kemarahan selama bertahun-tahun hanya untuk keluarga.
"Dia pernah diculik dan disiksa, dia juga memendam rasa sakit, kebencian serta tangis kesedihan di depan keluarganya agar semua orang tetap bahagia." Alfred akhirnya menjawab setelah berada lama-lama dalam keraguan yang berkepanjangan.
Alfred melihat ke dalam ruangan UGD di mana Alena tengah istirahat dengan nyenyak dan damai. Mata Alena terpejam serta wajah pucat pasi Alena terlihat begitu mencolok hingga menusuk hati Alfred.
"Lebih baik untuk menyembuhkan traumanya dulu, terkadang orang yang tersenyum belum tentu bahagia di dalam hati. Cobalah untuk memahami apa yang dia inginkan tanpa dia ucapkan. Sebagai lelaki kau harus paham terkadang untuk membuat wanita tersenyum bukan hanya dengan kata-kata romantis dan hadiah saja. Lakukan apa yang ingin dia lakukan bersama hingga hatinya tenang dan dia akan merasa dihargai."
Dokter itu menepuk bahu Alfred sebelum pergi, mungkin dia salah paham tentang hubungan Alfred dan Alena hingga berbicara seperti itu secara langsung.
"Anak muda zaman sekarang memang meresahkan. Mereka ingin menjalani sebuah hubungan tapi tidak mau memberikan kepastian, mereka ingin dipuja tetapi tidak ingin memuja. Mereka ingin dihargai oleh pasangannya tapi tidak pernah menghargai, sungguh sulit menjadi anak muda pada zaman seperti ini," keluh dokter itu sembari berbicara dengan perawat yang ikut masuk membantunya memeriksa keadaan Alena.
Alfred yang mendengar apa yang dikatakan dokter itu hanya bisa melongo dan akhirnya tertawa canggung. Alfred menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat tidak tahu harus bagaimana menanggapi kesalahpahaman itu.
"Hah, kau lihat Alena! Bahkan orang bodoh pun tahu kalau aku menaruh hati padamu, apa aku yang tidak bisa mengendalikan perasaan atau mereka yang terlalu pintar membaca raut wajah seseorang." Alfred mengeluh dengan nada suara nyaris hilang dibawa angin.
Alfred melangkah masuk secara perlahan, ia berdiri di sebelah kanan ranjang. Alfred memandang wajah pucat Alena dengan kasih sayang yang begitu besar tanpa ia sembunyikan sama sekali.