25

1080 Words
Alena berusaha mengejar langkah Robert dengan cepat. Namun Robert tidak menoleh lagi ke belakang, langkah kaki Robert yang teratur dan terkesan bergerak lambat itu bahkan tidak mampu Alena kejar meski Alena berlari kencang sekalipun. Alena terus berlari mengikuti langkah kaki Robert hingga tanpa Alena sadari sebuah tangan terulur menarik Alena ke arahnya dan mengalihkan Alena dari kepergian Robert, di sisi lain sebuah tangan putih masih menanti balasan uluran tangan dari Robert dengan sabar. Robert yang berada di ujung jalan semakin mempercepat langkahnya saat melihat tangan itu. Alena yang hampir mencapai Robert merasa ada sesuatu yang menahan langkah kakinya, sekuat Alena mencoba melepaskan tangan tidak kasat mata itu sekuat itu pula kaki Alena tertahan. "Paman!" teriak Alena keras saat melihat Robert meraih tangan itu. "Paman jangan tinggalkan aku!" teriak Alena lagi dengan suara yang lebih keras. Tangah jahat itu menarik Alena dengan kuat hingga Alena terjatuh dan benar-benar tidak bisa lagi mengejar Robert. Alena berteriak kesakitan sembari memegang dadanya, saat Alena menangis tempat yang tadinya kebun bunga itu berubah menjadi tempat yang dikelilingi pohon mati. Batang-batang pohon terlihat mengering dengan ranting mencuat ke atas menunjukkan ujung tajamnya yang runcing. Daun-daun kering berguguran di tanah dan ada yang sudah tidak berbentuk lagi, Alena berteriak ketakutan namun tidak ada seseorang pun yang datang menolongnya. Alena berusaha menggeser tubuhnya dan bahkan Alena mencoba berdiri. Namun, saat ia sudah berhasil berdiri jalan di depan Alena tiba-tiba menghilang dan di depannya berganti dengan dinding tinggi tanpa bisa disentuh sama sekali. "Tolong, aku mohon tolong aku!" teriak Alena keras dengan air mata yang mengalir dengan cepat. Alena menangis sedih berusaha mencari jalan ke luar dari tempat itu, sesekali Alena akan melangkah dan menginjak ranting pohon patah yang sudah jatuh ke tanah. Alena semakin ketakutan saat melihat di depan mereka tidak ada lagi jalan yang terlihat di depan hanya kegelapan dengan awan gelap yang sebentar lagi akan menurunkan hujan. Alena memeluk tubuhnya dengan air mata yang semakin meleleh jatuh, Alena meringkuk di tanah karena merasa sudah tidak ada lagi harapan untuknya ke luar. Saat Alena jatuh terpuruk, sebuah pelukan menghangatkan tubuh Alena yang kedinginan. Alena terpaku dengan air mata seketika berhenti turun, Alena merasa pelukan itu bisa menenangkan jiwanya yang terluka. Alena mencoba untuk duduk agar bisa melihat wajah dari orang yang telah memeluknya. "Kau, siapa kau?" tanya Alena dengan suara serak. Getaran di dalam suara Alena masih bisa didengar akibat air matanya yang jatuh. Alena ingin melihat siapa yang bersamanya saat ia berada di titik terendah dirinya. "Kau milikku Alena, apapun yang terjadi aku akan selalu ada bersama dirimu." Suara itu meski terdengar dingin tapi terasa menenangkan bagi Alena yang terpuruk. Alena memegang tangan itu dan tidak lagi berbalik ke belakang untuk melihat. Tempat yang tadi kusam dan layaknya pemakaman berubah kembali menjadi taman bunga yang lebih indah. Kemuraman yang melanda Alena tadi berganti sejuk dengan suara musik merdu terdengar mengalun memasuki telinga. "Kau suka kan?" tanya pria itu dengan suara berubah lembut. Alena mengangguk mendengar pertanyaan pria itu. Meski terasa damai tapi hati Alena masih terikat pada seseorang yang meninggalkan dirinya untuk orang lain. Alena terbangun saat sesuatu menganggu tidurnya. Alena membuka mata dan menemukan Aleta berdiri di depannya dengan wajah muram penuh keluhan. Aleta melipat tangannya di d**a melihat Alena masih menatap dirinya dengan penuh kebingungan. "Aku kira kau mati, Kak! Sedari tadi aku membangunkan dirimu tapi kau bahkan tidak bergerak sedikit pun," keluh Aleta. Aleta masih tidak melepas tangannya meski Alena sudah bangun dan berusaha bangkit dari tidurnya untuk duduk. "Kenapa sih, Dek? Kakak lelah butuh istirahat, butuh asupan energi dan paling penting butuh ketenangan jiwa." Alena mengeluh pada Aleta, Alena menyampaikan kesengsaraan yang dialaminya. Bukan hanya perjalanan kerja kemarin tetapi perjalanan mimpi tadi masih membuatnya merasa letih. "Siapa yang menyuruh Kakak bekerja seperti itu, banyak pekerjaan yang bisa Kakak lakukan. Bekerja di perusahaan keluarga atau bekerja di perusahaan Paman Alvin Kakak juga bisa." Aleta bertindak tidak peduli. Terlihat jelas kalau Aleta sedang kesal dan butuh pelampiasan yang dijadikan Aleta sebagai penampung kemarahannya saat ini adalah Alena. Alena mendelik, bibirnya mencibir sebelum bergeser menjadi duduk di tepi tempat tidur. "Berbeda adalah jalan ninjaku," jawab Alena asal yang menyebabkan Aleta semakin muram dengan tingkah Alena. Kesal dengan jawaban asal Alena, Aleta memundurkan tubuhnya sembari memutar badan untuk ke luar kamar. "Hei, setelah membangunkan diriku kau kabur begitu saja?" "Ya, kabur adalah jalan ninjaku." Aleta mengangguk sebelum kabur melarikan diri dari kamar Alena. Melihat tingkah Aleta yang terkesan membalas apa yang ia lontarkan. Alena hanya mampu menggelengkan kepala dan melangkah untuk masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Alena melepas pakaian yang ia kenakan. Alena memasukkan air ke dalam bak mandi dan mengatur suhu air. Setelah suhu air sesuai dengan apa yang ia inginkan Alena baru berendam menenangkan sarafnya yang tegang. Mimpi itu terus berulang-ulang membuat Alena berharap untuk tinggal di dalam sana selamanya. 'Alangkah indahnya mimpi itu, sayang mimpi hanyalah mimpi dan tidak akan pernah menjadi kenyataan. Sekuat apapun aku menginginkannya terjadi hal itu tidak akan pernah bisa aku miliki.' Alena mengeluh dengan wajah sedih. Lama Alena berendam dan setelah suhu di dalam air kembali normal seperti biasa Alena memilih untuk mandi bersih dan ke luar. Alena lelah, tapi alasan lelahnya adalah cinta yang tidak mungkin menjadi kenyataan. Alena berdandan dengan cantik agar bisa ke luar dan bermain dengan teman-temannya. Alena butuh tempat untuk melampiaskan rasa sakitnya. Alena butuh ketenangan dan juga hiburan agar rasa sakit yang ada di hatinya. Alena mengemudikan mobilnya menuju ke restoran terdekat di mana di sana ada makanan kesukaannya, makanan yang telah lama tidak ia makan apalagi semenjak ia mengejar Robert. Alena lupa kalau dirinya butuh waktu untuk sendiri dan Alena seharusnya memanjakan dirinya tanpa memikirkan orang lain. 'Lupakan dia Alena! Kau hanya perlu mencintai dirimu sendiri maka kau akan memiliki kesempatan untuk dicintai oleh orang lain.' Alena mencoba menyemangati dirinya lagi untuk bangkit, rasa sakit akibat cinta yang bertepuk sebelah tangan dan juga mimpi buruk yang berkepanjangan membuat mood Alena benar-benar hancur dan tidak tersisa lagi. Alena makan sesuka hati untuk memenuhi rasa laparnya, sesekali Alena akan melihat ponselnya untuk mengecek ada pesan masuk atau tidak. Setelah merasa tidak lapar lagi, Alena meninggalkan restoran itu untuk berbelanja pakaian. Alena menghentikan mobilnya di sebuah mall yang cukup terkenal di kotanya, Alena turun dari mobil setelah berhasil memarkirkan mobilnya di parkir bawah tanah, ia berjalan masuk lalu mulai memilih apa saja yang dia inginkan di berbagai macam toko yang ada di mall itu. Saat Alena sibuk memilih, Alena menemukan di seberang jalan ada Robert dan Aleta tengah berbelanja juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD