Setelah mengkonfirmasi keberadaan Sherly dan Sisil, kedua wanita itu melangkahkan kaki menuju lift yang tersedia di rumah sakit. Lift itu memang dikhususkan untuk orang-orang yang ingin menuju ke lantai atas dan juga untuk mempermudah membawa pasien.
Ananta dan kakak tiri Sisil berjalan menuju ke arah yang ditunjukkan oleh perawat rumah sakit tadi. Ketika sampai di ruang yang disebutkan, mereka melihat empat orang pria tengah berjaga di depan ruangan.
"Minggir, aku mau masuk!" Tanpa malu, Ananta bergerak maju dan memegang handle pintu untuk membuka.
"Anda siapa?" tanya salah seorang pengawal yang berdiri paling dekat dengan pintu ruang perawatan Sherly.
"Aku ibu tirinya, minggir kalian atau aku akan membuat kalian menyesal." Ananta mencoba mengancam agar diizinkan untuk masuk ke dalam ruangan. Tangannya sudah gatal ingin memukul wajah Sisil sedari mendapatkan kabar tentang kehidupan Sisil saat ini.
"Maaf Nyonya, Anda sepertinya salah ruangan. Silakan Anda pergi dari sini!" usir pria itu dengan wajah datar.
"Apa kalian tidak tahu siapa aku? Aku ini istri pengusaha nomor tiga di daerah ini. Aku juga ibu tiri wanita yang tengah dirawat di dalam ruangan ini." Ananta berteriak dengan keras saat dirinya tidak diizinkan untuk masuk ke dalam ruangan. Jarinya juga menunjuk-nunjuk ke arah pintu yang tertutup rapat.
Padahal tujuan Ananta datang ke sini sudah jelas, ia ingin memaki dan menghina Sisil dan Sherly. Sekaligus ia ingin meminta Sisil memperkenalkan pria kaya yang mendukung Sisil saat ini. Ananta ingin pria kaya itu menikahi anak perempuan ke-duanya.
"Lalu apa hubungannya dengan kami?" tanya salah satu pengawal itu dengan wajah masam. Tidak pernah ada yang berani menentang mereka selama ini meski itu penguasa kota, tapi wanita di depannya dengan berani menghina dan memaki mereka.
"Buka pintunya! Aku ibunya dan aku berhak untuk melihat putriku," ujar Ananta dengan nada keras.
Di dalam ruangan Sisil yang baru saja berhasil membuat Sherly tertidur merasa jengah dengan suara keributan di luar. Sisil bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah pintu.
Perlahan Sisil membuka pintu dan kembali melihat ke arah Sherly, Sisil takut Sherly akan terganggu dengan suara keributan yang terjadi.
"Kenapa ribut-ribut seperti ini?" tanya Sisil dengan tangan terlipat di d**a. Sisil bersandar tidak jauh dari pintu masuk ruangan dengan gaya malas tapi terlihat sangat anggun.
"Kau biarkan aku dan ibuku masuk ke dalam ruangan. Sebagai adik, kau juga harus mengalah pada kami kakakmu," tuntut kakak tiri Sisil dengan suara keras saat ia melihat kehadiran Sisil di dalam ruangan itu.
"Apakah harus? Memangnya kalian siapa untukku? Selama ini kalian ke mana?" Sisil melontarkan pertanyaan demi pertanyaan dengan nada malas penuh kelembutan tapi siapa saja yang ada di sana sangat paham, ada kemarahan dalam setiap kata yang Sisil lontarkan.
"Anak durhaka! Jika bukan karena kebaikan kami, kau dan kakakmu pasti sudah mati dijalanan saat ini." Ananta berteriak dengan wajah beringas. Mata Ananta melotot dengan kebencian yang luar biasa.
"Ya, kalian terlalu baik pada kami. Buktinya, kau merebut kekasih kakakku. Membuatnya kehilangan bayi mereka dan bahkan membuat kakakku depresi. Dan bahkan, kau juga mengusir kami dari rumah." Sisil mengangguk mengiyakan tetapi kata-kata yang Sisil lontarkan jelas membuat Ananta makin melotot tajam. Bola mata Ananta bahkan terlihat hampir ke luar dari dalam tempatnya.
Mendengar kata-kata Sisil, Ananta menjadi sangat marah, wanita paruh baya itu melangkah maju hendak menerkam Sisil namun, langkahnya dihentikan oleh pengawal yang berjaga di depan ruangan.
"Kau w************n, setelah mendapatkan dukungan kaya sekarang kau berlagak sombong di depanku dan ibuku. Aku pastikan kalau aku akan merebut pria kaya itu darimu," ujar kakak tiri Sisil dengan kemarahan yang berapi-api.
"Rebut saja jika kau mampu! Apa yang kau banggakan? Tubuh, kekayaan atau ayahmu yang bodoh itu?" tanya Sisil dengan mulut ditutup dengan tangan. Sisil menutup mulut seolah sedang mengantuk dan bosan akibat mendengar ocehan kedua orang di depannya.
"Kau, sekarang kau memang bisa bersikap sombong tapi lihat nanti! Lihat, ketika aku mengambil dirinya darimu." Kakak tiri Sisil mengancam dengan nada keras penuh kebencian.
"Tidak akan ada air mata, tidak akan ada kecewa dan tidak akan ada kemarahan jika kau memang bisa mendapatkan dia," ejek Sisil bangga. Selesai mengucapkan itu Sisil langsung masuk ke dalam ruangan kamar tempat Sherly dirawat.
Pengawal yang berdiri langsung mengusir Ananta dan kakak tiri Sisil dari sana. Ke-dua wanita dengan pakaian mewah dan menor itu dengan langkah cepat dan wajah cemberut pergi dari rumah sakit menuju rumah mereka kembali.
"Bu, apakah kita akan menyerah begitu saja?" tanya kakak tiri Sisil dengan wajah masam.
"Tidak, kita akan melaporkan semua ini pada ayahmu. Aku sudah mengatakan kalau yang terbaik hanya bisa diperoleh oleh anakku bukan anak wanita sialan itu." Ananta mengepalkan tangannya dengan penuh kemarahan.
Saat kendaraan mereka sampai di rumah mewah yang mereka tinggali, ke-duanya langsung turun dan berlari masuk ke dalam rumah di mana ayah Sisil telah ternyata telah menunggu.
"Kemana saja kalian berdua? Ayo ganti pakaian kalian dengan yang lebih bagus dan berdandanlah dengan secantik mungkin." Ayah Sisil memberikan perintah, matanya menelusuri pakaian yang dikenakan Ananta dan putrinya.
"Kita akan kemana suamiku?" tanya Ananta dengan nada manja, Ananta melangkah mendekat ke arah Adnan Wardoyo, suaminya dengan p****t yang melenggak-lenggok.
Sesampai didekat Adnan, Ananta langsung duduk dan menggesek-gesek bukit kembarnya pada lengan Adnan. Tujuan Ananta jelas, kalau dia ingin mengajak Adnan berbicara di ranjang.
"Ada pertemuan penting dengan seorang klien sekaligus sahabatku yang juga membawa anaknya. Aku akan memperkenalkan Ananda padanya." Adnan menatap Ananda, putri ke-duanya dengan Ananta yang sekarang memakai pakaian ketat dan seksi.
"Suamiku, mari ikut aku sebentar! Ada hal yang lebih penting yang ingin aku katakan padamu." Ananta mencoba bersikap selembut mungkin. Dengan kedipan mata, Ananta akhirnya berhasil membawa Adnan ke lantai dua rumah mereka tepatnya menuju ke kamar mereka.
Ketika pintu tertutup, Ananta langsung memberikan Adnan ciuman penuh gairah sembari mendorong Adnan ke ranjang. Ananta menaiki tubuh Adnan dan berpose layaknya wanita malam yang begitu berpengalaman.
"Aku baru saja dari rumah sakit tempat Sherly dirawat. Ternyata Sisil memiliki kenalan yang kaya raya melebihi temanmu itu." Ananta melepas gaunnya dan memperlihatkan dua gundukan bukitnya yang masih terlihat kenyal itu.
Jelas, kalau Ananta melakukan perawatan mahal untuk tetap mempertahankan bentuk tubuhnya agar tetap ideal. Ananta juga melepas pakaian yang Adnan kenakan satu-persatu dengan cekatan.
"Maksudmu?" Adnan juga terlihat penasaran, saat ini bagi Adnan adalah peluang yang menguntungkan, baru saja dia mendapat kabar jika perusahaan yang dijalaninya sejak lama mengalami masalah. Dia membutuhkan dana segera agar bisa membeli saham untuk tetap bisa bertahan di posisi paling tinggi.
"Sisil memiliki dukungan kaya, aku hanya ingin kau mengambil dukungan Sisil dan membuat pria itu menikahi Anandita dengan begitu, pria itu pasti akan membantu perusahaan kita." Ananta memegang senjata Adnan dan berusaha membawa senjata itu ke sangkar miliknya.
Adnan terlihat berpikir lama meski ia tengah menikmati goyangan Ananta yang berpengalaman. Ananta pun pantang menyerah, merasa akan gagal Ananta kembali menggoda Adnan dengan lidahnya yang menjulur panjang ke luar.
"Kau tahu bukan, Sayang! Jika Sisil yang menikah dengan pria itu maka kau tidak akan mendapatkan keuntungan apapun. Sisil pasti akan memperhitungkan semua yang kau lakukan padanya." Ananta berbisik di telinga Adnan sembari menjilat telinga Adnan dengan penuh gairah.
Adnan pun dibuat berpikir oleh perkataan Ananta yang memang tepat sasaran. "Kau mengusir Sisil dan kakaknya dari sini, mereka juga tidak kau berikan biaya dan kau bahkan berpura-pura tidak mendengar saat ia meminta bantuan untuk perawatan Sherly."
Ananta dengan gencar terus membujuk Adnan agar menyetujui keinginannya. Ananta tidak ingin Sisil berhasil menikah dengan pria kaya itu dan menginjak harga diri mereka nanti.
"Baiklah, aku akan mendatangi anak durhaka itu dan memintanya menyerahkan kekasihnya itu pada Ananda." Akhirnya Adnan berbicara.
'Apa yang Ananta katakan benar, jika Sisil berhasil menikah dengan pria kaya itu maka aku dan keluargaku akan mengalami masalah. Sisil pasti tidak akan melepaskan kami sama sekali,' pikir Adnan dengan seksama.
Mereka akhirnya terus memuaskan diri hingga Ananta mendapatkan tiga kali pelepasan sedangkan Adnan hanya mendapatkan sekali. Adnan tampak tidak puas sedangkan Ananta telah tertidur dengan lelap karena apa yang dia inginkan dipenuhi oleh Adnan.
Adnan mengambil pakaian tidurnya dan bangkit dari tempat tidur, perlahan Adnan bangkit dari ranjang dan berjalan mengendap-endap ke arah pintu. Adnan memperhatikan apakah Ananta terbangun atau tidak sebelum dengan tergesa-gesa ke luar kamar. Adnan berjalan ke bagian paling ujung lantai dua rumahnya di mana ada sebuah kamar dengan pintu coklat di sana.
Adnan membuka pintu itu setelah memastikan kalau tidak ada orang di sekitar dan melihat apa yang dia lakukan. Adnan pun masuk dan mengunci pintu setelah memastikan semuanya aman.
"Ayah, bukankah ibu ada di rumah?" Suara lembut itu masuk ke dalam telinga Adnan saat dia berhasil masuk dan berjalan mendekat ke arah ranjang di kamar itu. Di atas ranjang ada seorang wanita dengan pakaian seksi sedang berbaring terlentang.
"Ibumu sudah tidur sedangkan adikmu di kamarnya di lantai bawah." Adnan menaiki ranjang dan membuka pakaian tidur yang tadi dikenakannya, Adnan juga langsung menindih tubuh molek itu untuk mencari kepuasan.
"Ayah, pelan-pelan sedikit dan jangan terburu-buru ya. Pintu kan sudah Ayah kunci jadi kalau ada yang mau masuk pasti akan mengetuk dulu," ujar Amanda dengan nada genit.
Adnan tidak peduli yang terpenting saat ini baginya adalah kepuasan. Ya, Adnan langsung menaikkan ke atas gaun yang Amanda kenakan dan langsung memasukkan senjata miliknya ke sarang Amanda. Amanda sendiri terlihat senang karena ia memang sudah menunggu Adnan sedari tadi.
"Ayah! Apa Ayah kurang puas lagi dengan ibu?" Amanda bertanya dengan suara serak penuh gairah saat Adnan menghujam miliknya dengan keras dan cepat.