Pelayan melepaskan tali yang mengikat tangan wanita itu dan menarik tubuhnya dengan paksa turun dari tempat tidur. Yang lain dengan sigap membersihkan ranjang sekaligus mengganti seprei yang terkena darah.
Semua bekerja dengan cekatan dan hasilnya seperti yang biasa, ruangan kembali bersih, aroma percintaan yang tadi tercium kuat tidak lagi menyeruak masuk ke dalam hidung.
Setelah selama setengah jam membersihkan diri dari aroma percintaan, Farrel ke luar dengan wajah segar dan rambut yang masih basah.
"Tuan, bagaimana dengan wanita yang satu lagi?" Kepala pelayan langsung mengajukan pertanyaan saat melihat kemunculan Farrel.
"Biarkan dia, oh persiapkan dia kamar khusus dan beri pelayanan yang baik. Aku ingin wanita itu nyaman di sini," ujar Farrel dengan wajah datar tanpa ekspresi miliknya.
Farrel yang mengingat manisnya rasa gadis tadi memilih ke luar kamar menuju kamar tamu yang ditempati oleh Sisil. Farrel merasa Sisil mirip dengan Angela tetapi dia tidak ingin menghabisi Sisil sama seperti korbannya yang lain.
Sepanjang jalan menuju kamar tamu Farrel terus memikirkan kenapa dia tidak membenci Sisil dan kenapa dia tidak ingin menghabisi Sisil seperti yang lainnya. Farrel merasa Sisil berbeda dengan korban-korban yang telah ia habisi dan korban yang telah ia bunuh di rumah ini.
"Kenapa aku tidak ingin membunuhnya?" tanya Farrel bingung. Farrel terus melangkah hingga akhirnya ia sampai di depan kamar tamu. Perlahan Farrel memutar handle pintu dan menengok ke dalam ruangan yang memberinya perasaan ketika menghirup angin segar.
"Tuan, apakah aku boleh pergi? Aku harus pulang terlebih dahulu dan membawa kakakku ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan secepatnya." Sisil langsung berdiri saat melihat kedatangan Farrel.
"Apa penyakit yang diderita kakakmu?" tanya Farrel berjalan mendekat ke arah tempat Sisil duduk.
"Kakak dulu dipaksa aborsi oleh seseorang yang ia cintai, kakak sempat depresi hingga akhirnya sakit-sakitan. Sekarang kakak mengalami pembengkakan pembuluh darah di otak dan harus segera menjalani operasi," keluh Sisil dengan wajah menyedihkan.
"Kenapa kau begitu peduli dengan kakakmu?" tanya Farrel dengan wajah berubah sedih saat melihat wanita di depannya menunduk dengan wajah murung.
"Semenjak Ayah menikah lagi dan ibu meninggal tidak lama setelah itu, hanya kakak yang merawat dan menjagaku. Kakak yang membiayai semua kebutuhan hidup dan biaya sekolahku," ujar Sisil lagi.
Kali ini ada tetesan air mata yang jatuh dengan lembut di pipinya yang cantik dan putih. Sisil menggepalkan tangan ketika kebencian menyala-nyala di mata indahnya yang berkilau akibat air mata.
"Apa ayahmu tidak memberi kalian uang sama sekali hingga kakakmu yang harus bekerja?" Farrel bertanya lagi dengan wajah bingung. Apakah ada seorang ayah yang tidak peduli pada anaknya, darah daging yang ia bawa ke dunia ini.
"Tidak pernah, ternyata wanita yang dinikahi ayah adalah wanita yang dia cintai sebelum Ayah dijodohkan oleh orangtuanya dengan ibu." Sisil menangis sedih, air matanya jatuh mengingat betapa sakit dan hancur perasaan ibunya ketika mengetahui perselingkuhan ayahnya.
"Lalu siapa pacar kakakmu yang menyuruh dia aborsi dan memaksanya seperti itu?" Farrel kembali bertanya, matanya menatap wajah lembut Sisil yang masih menunduk dengan air mata yang mengalir.
"Saudara tiriku merebut pacar kakak, dia mengatakan pria itu seharusnya menjadi miliknya bukan milik kakak." Sisil menangis dengan tangan terkepal. Air mata Sisil jatuh semakin deras kala mengingat rasa sakit yang keluarga mereka terima.
Farrel mengangguk, segera Farrel mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kepala pelayan untuk membawakan sebuah cek dengan harga fantastis.
Tidak lama pintu diketuk dari luar, Farrel yang tahu siapa orang itu langsung berjalan ke arah pintu dan membukanya. Benar saja, di luar sana sudah ada kepala pelayan yang menunggu dengan cek di tangannya dengan jumlah nominal yang fantastis.
"Ambillah, kau harus kembali ke sini dua hari lagi." Farrel mengingatkan dengan tangan terulur menyerahkan cek itu pada Sisil.
"Terima kasih, aku janji padamu kalau aku akan kembali lagi ke sini dan itu pasti." Sisil berdiri, dengan cepat ia membungkuk pada Farrel dan berjalan tertatih ke luar dengan senyum sumringah di bibirnya.
Sisil merasa senang karena akhirnya dia dapat menolong kakaknya meski dengan tubuhnya. Sisil menganggap itu sepadan karena dengan itu ia dapat membayar jerih payah kakaknya selama ini.
"Kau cari tahu tentang keluarga gadis itu, aku akan membantunya membalas dendam." Farrel memberi tahu kepala pelayan yang selama ini menjadi kaki tangannya.
"Baik, Tuan!" jawab kepala pelayan dengan tenang dan cepat.
"Oh, apakah mobil yang aku suruh kau persiapkan untuk mengantarnya pulang juga sudah disediakan?" tanya Farrel lagi.
"Sudah juga, Tuan!" jawabnya kembali dengan sigap.
Mendengar ucapan kepala pelayannya Farrel mengangguk dan ke luar dari kamar itu. Ia melihat ke bawah tapi sudah tidak lagi menemukan keberadaan Sisil di sana.
Kepala pelayan menyuruh anak buah yang ada di sana untuk mencari keberadaan keluarga Sisil. Hanya butuh waktu dua jam saja, semua data tentang anggota keluarga Sisil sudah ada di genggaman tangan Farrel.
Setelah mengumpulkan data itu kepala pelayan berjalan cepat menuju ke ruang tempat Farrel duduk, Farrel saat ini tengah sibuk membaca laporan masuk dari bisnis ilegal yang tengah mereka jalani.
"Tuan," sapa kepala pelayan dengan hormat. "Ini semua adalah data tentang keluarga wanita Anda tadi." Sigap, ia menyerahkan dokumen itu pada Farrel dan melangkah mundur dari meja kerja Farrel.
Farrel melihat data itu dengan cepat dan entah kenapa dia tidak marah sama sekali saat mendengar kepala pelayan berkata tentang wanita anda padanya. Malah di bibir Farrel ada senyuman saat mendengar kata itu.
"Dia memiliki tiga saudara tiri, dua perempuan dan satu laki-laki. Ibu tirinya adalah wanita matre dengan uang yang menjadi prioritas hidupnya. Ayahnya adalah pria yang tidak peduli dengan kelangsungan hidup Nona Sisil dan kakaknya." Kepala pelayan itu menjelaskan dengan cepat.
"Yang merebut kekasih kakaknya adalah kakak tirinya yang pertama dan atas perintah ibu tirinya. Yang melakukan aborsi juga ibu tiri dan kakak tirinya juga, Tuan!" Lagi, kepala pelayan mengucapkan dengan cepat lagi.
"Kau undang ibu tiri dan kakak tirinya yang pertama untuk datang ke rumah ini. Kalau bisa besok mereka sudah harus berada di sini, kau buat bangkrut perusahaan ayahnya dan untuk kekasih kakak Sisil biarkan dia menghirup udara segar dulu." Farrel mengetuk meja dengan ritme teratur.
Banyak ide jahat berputar-putar di otaknya dengan rincian yang menakutkan. Farrel tersenyum senang ketika mengingat bagaimana dia akan membuat dua wanita itu menyesal telah menyakiti Sisil hingga menangis.
***
Sisil yang diantar oleh sopir suruhan Farrel telah sampai di rumahnya dengan selamat. Rumah tempat tinggal Sisil terlihat begitu sederhana.
"Bapak tidak mampir dulu?" tanya Sisil dengan ramah pada pria yang mengantarnya pulang. Sopir pilihan kepala pelayan adalah sopir dengan umur yang masih muda, dia takut jika tua maka Sisil akan dianggap sebagai penggoda suami orang.
"Saya tunggu di luar saja, Nona Sisil! Saya di sini diperintahkan untuk membantu mengantar kakak Anda yang sakit." Sopir itu menunduk hormat.
Rumah sederhana tempat Sisil tinggal terlihat begitu miris, ada beberapa kayu lapuk di sana-sini yang meminta untuk diganti. Si sopir terlihat mengerutkan kening ketika melihat keadaan menyedihkan itu.
Sisil yang masuk ke dalam rumah tidak lama ke luar, dengan hati-hati Sisil membimbing sang kakak untuk masuk ke dalam mobil dan mereka pun pergi dari sana.
"Halo Nyonya Wardoyo, saya melihat Sisil membawa kakaknya menaiki mobil mewah. Tampaknya Sisil akan membawa kakaknya untuk berobat." Salah satu tetangga Sisil memberitahu ibu tiri Sisil saat melihat kepergian Sisil dan sang kakak.
Tidak ada jawaban dari seberang, tapi si tetangga yakin kalau orang yang dihubunginya mendengar ucapannya.
Di jalan, Sisil berusaha meyakinkan sang kakak untuk berobat dan menyembuhkan diri.
"Kakak harus yakin kalau Kakak kuat, Sisil yakin kita mampu melewati ini semua. Sisil janji sama Kakak kalau Sisil akan membiayai semua pengobatan Kakak sampai Kakak sembuh." Sisil tersenyum.
Jemarinya yang lembut dan putih memegang tangan kakaknya yang pucat dan kurus. Di dalam mata yang dulu indah dan bersinar terang itu tidak ada lagi kebahagiaan.
"Jika Kakak seperti ini terus mereka akan senang Kak, kita harus bangkit dan memberi orang-orang jahat itu pelajaran. Kita buat mereka mengerti kalau kita juga tidak mudah untuk ditindas." Sisil terus berusaha meyakinkan sang kakak.
Sepanjang jalan Sisil terus mengajak kakaknya berbicara meski mereka tidak mendapatkan respon yang baik sama sekali. Sisil terkesan berbicara sendiri daripada berbincang.
Mereka akhirnya sampai di rumah sakit, setelah mencari dokter dan menyelesaikan prosedur untuk perawatan. Sisil baru bisa bernafas dengan lega, dia merasa sedikit tenang setelah kakaknya memasuki ruang perawatan.
"Nona, mereka berdua adalah dua orang pengawal yang dikirim oleh Tuan untuk menjaga Anda di sini." Sopir tadi menunjuk dua orang pengawal wanita dengan pakaian serba hitam yang ada di belakangnya.
"Di luar juga ada empat pria lagi yang bertugas untuk mengawasi orang-orang yang ingin berbuat kekacauan. Jadi, Anda bisa tenang dan fokus dengan perawatan kakak Anda saja."
"Eh, apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Sisil dengan canggung. Sisil merasa apa yang diberikan Farrel padanya bukan hanya cuma-cuma saja meski semua itu dibayar dengan tubuhnya.
"Tidak, menurut tuan ada seseorang di lingkungan tempat tinggal Nona yang dibayar oleh ibu tiri Anda untuk menyampaikan informasi padanya." Sopir itu menjawab lagi dengan cepat.
"Baiklah, sampaikan pada tuanmu terima kasihku. Aku akan datang dua hari lagi, aku janji!" Sisil tersenyum, bagaimana pun dia berterima kasih pada Farrel yang bersedia membantunya sampai seperti ini.
"Kalau begitu saya pamit dulu Nona," ujar sopir itu dengan kepala menunduk dan langsung pergi dari sana dengan segera.
Selepas kepergian si sopir tadi, Sisil menyandarkan tubuhnya lada sofa rumah sakit sekedar melepas lelah tubuhnya. Apalagi rasa sakit akibat kehilangan kehormatannya masih begitu terasa walau tidak sesakit pertama tadi.
Kedua pengawal wanita itu juga melangkah ke luar ruangan dan berdiri di depan bersama empat orang lainnya.
Malamnya, sesuai prediksi Farrel memang ada dua orang wanita dengan pakaian mewah datang ke rumah sakit.
Wajah cantik namun penuh kebencian dan tipu muslihat itu dengan segera melangkah maju ke bagian administrasi menanyakan ruangan tempat di mana kakak Sisil dirawat.
"Permisi Sus, saya ibu tiri dari Sherly ingin mengunjunginya. Kalau boleh tahu dia di ruangan berapa ya?" tanya wanita dengan pakaian mewah itu.
Wajahnya terlihat bangga dengan senyum penuh cemoohan masih terpatri jelas di sana.
"Oh, Nona Sherly yang baru masuk hari ini itu ya, Bu! Dia dirawat di ruang VIP kelas satu di lantai empat rumah sakit. Anda bisa bertanya pada perawat lain agar mau mengantar Anda ke ruangannya." Resepsionis yang menjaga bagian administrasi menjawab dengan lembut.
"Loh, bukanya tadi dia dirawat di ruang biasa saja?" tanya ibu tiri Sisil dengan wajah tidak percaya.
"Iya, memang benar, Bu! Tapi tidak lama sopir mereka mengurus administrasi lagi dan meminta pindah ke ruang VIP kelas satu, Bu!" Tetap dengan keramahan si resepsionis menjawab ucapan ibu tiri Sisil.