1. Pria Tampan Yang Malang
Nasib jadi orang miskin, tuh, begini. Setiap kali pendekatan dengan cewek, ujungnya gagal melulu karena si cewek malas jalan sama cowok miskin, katanya tidak bisa dimintain duit.
Semasa SMA, aku pernah mendekati anaknya Pak RT, namanya Leti Asih Sundari, alias Leticia. Anaknya lugu, cantik, pintar, dan ia merupakan kembang Desa. Banyak cowok yang mengantri untuk mendapat cintanya, namun tak ada satu pun yang menyantol, karena Leti terlalu berkelas untuk pemuda di kampung sini. Masa iya permata dilepas ke hamparan batu kerikil.
Keluarga Leti lumayan berduit, bapaknya punya kebun hektaran. Di kebunnya, banyak kayu siap tebang pulak. Itulah kenapa Pak RT dijuluki sebagai keluarga terkaya se-Desa Cintakarya.
Akan tetapi, Leticia pergi ke Jogja untuk melanjutkan pendidikannya, sementara aku merana seorang diri tanpa kepastian. Andai Leticia tidak buru-buru pergi kala itu, mungkin dia sudah menjadi pacarku. Sialnya, semesta tak merestui kami. Leticia pergi tanpa pesan, dan aku tak bisa menghubunginya. Nomornya tidak aktif.
Waktu itu aku datang ke rumah Pak RT untuk menanyakan kabar Leticia, tapi Pak RT malah mengusirku dan mengatakan bahwa masa depanku suram. Katanya, Leticia sudah dijodohkan dengan cowok di Jogja. Calon suaminya merupakan dokter umum di salah satu rumah sakit di sana.
Tak ada yang tahu kalau aku menangis semalaman lantaran sakit hati mengingat ucapan Pak RT. Malam itu, aku bertekad untuk menjadi orang kaya, tapi sampai sekarang aku masih miskin. Semesta tak mendukung dendamku yang membara. Semesta terlalu asyik menikmati drama yang aku perankan. Semesta senang saat aku berada di bawah dan dicaci oleh sesama mahluknya.
“Leticia, kenapa kamu meninggalkanku, padahal kita hampir jadian?” Aku memandang diriku sendiri pada pantulan cermin. Padahal wajahku sangat mirip dengan Bright Vachirawit, aktor Thailand yang lagi booming setelah bermain drama Boys Love itu.
Tentu saja Leticia tak butuh wajah gantengku. Yang dia butuh hanya duit, itu juga bukan duitku. Sadar, Dawala, duitmu cuma kelas UMR, dari baunya saja sudah bikin enek. Duitmu bau rayap. Beda sama duit Dokter yang wangi vitamin C.
“Dewa! Anterin gorengan emak ke warung Bi Eti, sana!” teriak emak dari dapur. Aku memejamkan mata sejenak. Rusak sudah reputasiku sebagai cowok tampan se-Desa Cintakarya. Apa yang akan cewek-cewek katakan saat melihat cloningan Bright Vachirawit nganterin gorengan ke warung?
“Dewa! Buruan, gorengannya keburu dingin!” teriak emak kembali.
Ingin sekali kumenolak, tapi Emak merupakan ras terkuat di muka bumi. Tak ada yang bisa membantah akan titahnya, kecuali kalau dia mau kelaparan seminggu penuh.
“Sebentar, Mak!” sahutku dari dalam kamar. Kucium kedua ketiakku untuk memastikan. Ternyata baju yang kupakai sudah agak bau. Lantas kuganti dengan pakaian baru dari dalam lemari, sementara baju bekasnya kulempar ke wadah cucian.
“Dibalik dulu sebelum menyimpan baju kotor, heh!” protes Emak. Aku mengangguk patuh. Dengan agak terpaksa, kuambil kembali baju kotor tadi, lalu membaliknya, dan menaruhnya kembali ke keranjang cucian di dekat mesin cuci. Omong-omong, mesin cuci punya Emak masih baru, hasil kreditan dari Mang Darso minggu lalu. Mesin cuci ini yang membuat Emak sedikit tidak akur dengan Bu Ado. Bu Ado panas sampai nyindir-nyindir Emak di status f*******:. Bunyi status Facebooknya begini; Barang hasil kreditan juga sombong benar, apa lagi kalau beli cash!
Aku, sih, ngakak-ngakak saja baca postingan para ibu-ibu komplek di f*******:. Namun, masalahnya ada di Emak. Emakku kalau lagi kesal ke tetangga, semua anggota keluarga di rumah kena batunya. Sewaktu Bu Ado nyindir-nyindir di f*******:, Emak langsung nggak masak seharian penuh. Untung saja di rumah masih banyak stok mie instan. Kadar mecin di tubuhku meningkat pesat karenanya.
“Gorengannya ada 150 biji. Semuanya 140 ribu. Buat emak 100 ribu, buat kamu 40 ribu, ya.” Emak mewanti-wanti. Beliau menyerahkan sekeranjang gorengan padaku, berikut petuah-petuah klisenya, “Kalau kata Bi Eti uangnya besok, jangan mau, ya. Bilang aja Emak lagi butuh buat bayar arisan,” bohongnya. Padahal baru kemarin Bapak transfer uang bulanan ke rekeningku, jadi nggak mungkin kalau Emak kekurangan. Bila sudah berurusan dengan uang, siapa pun akan terlihat serakah memang.
“Oke, Mak,” jawabku patuh. Kucomot tempe goreng di piring, kemudian melahapnya sambil berlalu. Kuyakin emak sedang ngedumel di belakang sana, lantaran tempe goreng di piring hanya tersisa empat potong. Itu pun jatah Gama, Adikku.
Hal yang paling menyebalkan saat keluar dari rumah adalah berpapasan dengan para tetangga. Aku tipikal orang yang suka bingung sendiri harus memulai pembicaraan dari mana. Aku tak pandai mencari topik obrolan. Omonganku akan terkesan garing, kecuali sang lawan bicara memang sefrekuensi.
Saat ini, aku melewati rumah Leticia. Kulirik sekilas ke halaman rumahnya, dan di sana hanya ada Aga, Kakaknya yang sedang pulang kampung. Dengar-dengar, Aga bekerja sebagai audit internal di sebuah perusahaan di Jogja.
“Mau ke mana, Wa?” tanya Aga. Sialan, padahal aku udah buang muka dan pura-pura tak melihatnya, tapi dia malah menyapaku duluan.
Dengan segaris senyum, aku menganggukan kepala sok ramah. “Biasa, nganterin gorengan,” jawabku agak kaku.
“Leti nitip salam katanya.” Aga berdiri untuk menghampiriku. Secara refleks mataku membola. Mimpi apa aku semalam, kenapa kabar barusan terdengar menyegarkan?
“Lebaran nanti Leticia pulang. Katanya dia kangen manjat pohon mangga sambil rujakan bareng kamu. Bisa kamu temenin Leti rujakan kalau dia pulang nanti?”
“Bisa dong!” Aku menjawab refleks. Segera kubungkam mulutku mengenakan telapak tangan, sekalian menyembunyikan senyum yang sedari tadi kutahan. Di balik mulut yang kubungkam, ada cengiran bahagia. Sekali pun Leti sudah jadi calon bini orang, rasanya bukan masalah besar bagiku. Semangatku untuk berjuang seakan menggebu kembali.
“Nggak mampir dulu?” tanya Aga basa-basi, jadi kutolak ajakannya seramah mungkin.
“Gorengannya keburu dingin,” tolakku.
“Oke, hati-hati, Wa!”
“Oke, salam balik buat Leti!”
***
“Uangnya besok aja, ya, Wa!” ucap Bi Eti. Refleks otakku berputar untuk kembali mengingat petuah emak. Ini tak bisa dibiarkan.
“Emak butuh buat bayar arisan, Bi,” bohongku. Di balik uang 140 ribu itu, ada uang jalan untukku, sehingga aku tak bisa merelakannya begitu saja.
“Oh gitu? Bibi malas ngitungin uangnya, Wa. Uangnya recehan semua, maklum uang warung,” jawab Bi Eti seraya menghitung jumlah stok barang dari kertas cek-cekan. Kelihatannya beliau sedang kerepotan. Kalau sudah begini, hatiku mendadak tidak tega, tapi di saat yang bersamaan, aku takut kena amukan Emak.
“Ya sudah, Bibi ngitung uang buat bayar gorengan kamu. Kamu bantu Bibi cek barang-barang kadaluarsa, ya. Sebentar aja, kok.” Bi Eti memasang wajah melas yang berhasil membuatku luluh seketika. Aku tertahan di warung ini dengan kertas cek-cekan di tangan.
Seperti pemilik warung pada umumnya, aku juga melayani pelanggan saat mereka berdatangan belanja. Sampai ada seorang gadis dengan tinggi sepundak datang menghampiri. Tubuhnya langsing, kulitnya cukup putih untuk ukuran orang timur.
Sejenak aku terpaku memandanginya, sampai perempuan itu memasang wajah tidak suka lantaran terus-menerus kupandangi.
“Baru liat cewek, Bang? Kenapa mukanya begitu?” cibirnya.